Presiden dan Para Pengolok
Ahmad Sihabudin - Dosen Komunikasi Lintas Budaya FISIP UNTIRTA: Bagi bangsa ini, memilih presiden hanyalah babak pembuka, dam babak sesungguhnya dimulai setelah pelantikan: mencari bahan olok-olok.-dok disway-
Sementara warga republik modern lebih sibuk memperdebatkan bentuk senyum presiden dan warna bajunya.
Mungkin Plato tidak pernah membayangkan bahwa peradaban manusia akhirnya mencapai tahap ketika meme memiliki pengaruh lebih besar daripada buku. Namun, tentu saja presiden harus dikritik.
Justru karena kekuasaan itu berbahaya, ia harus diawasi. Karena kekuasaan dapat menyimpang, ia harus dibatasi. Karena kekuasaan bisa salah, ia harus dipertanyakan.
Tetapi kritik yang sehat memerlukan kerja berpikir. Ia membutuhkan argumen, data, dan keberanian intelektual. Sedangkan olok-olok hanya memerlukan jempol dan koneksi internet.
Kritik berusaha memperbaiki. Ejekan hanya berusaha menghibur. Kritik melahirkan warga negara.
Olok-olok melahirkan penonton. Dan mungkin di situlah tragedi terbesar republik ini. Kita ingin memiliki presiden yang hebat, tetapi terlalu malas menjadi rakyat yang dewasa.
Kita menuntut negarawan, tetapi lebih menikmati badut. Kita meminta kepemimpinan yang bermartabat, sambil bertepuk tangan pada penghinaan yang murahan.
BACA JUGA:Tren Wisata Bahari 'Open Trip' Lombok–Komodo Makin Diminati Wisatawan Domestik dan Mancanegara
Lalu ketika kualitas percakapan publik menurun, kita bertanya-tanya dengan wajah polos: "Mengapa bangsa ini sulit maju?"
Padahal jawabannya mungkin sedang tertawa bersama kita. Sebab republik ini, tampaknya, bukan kekurangan presiden. Republik ini hanya terlalu kaya akan penggemar olok-olok.
Dan seperti semua penggemar hiburan, mereka memiliki satu ketakutan terbesar. Bukan takut kehilangan demokrasi. Bukan takut kehilangan keadilan. Melainkan takut kehabisan bahan lelucon.
Karena bagi sebagian orang, nasib bangsa memang penting. Tetapi bahan meme jauh lebih mendesak.##AS@@.
by: Prof DR Ahmad Sihabudin - Dosen Komunikasi Lintas Budaya FISIP UNTIRTA
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: