Melihat Forward P/E & Potensi Re-Rating

Melihat Forward P/E & Potensi Re-Rating

Mulyani - Research Analyst INFOVESTA--

Katalis yang terukur adalah pertumbuhan volume yang kembali positif, perbaikan gross margin, dan revisi naik estimasi EPS setelah stabilisasi biaya bahan baku serta nilai tukar. Risiko utamanya adalah pelemahan daya beli yang berkepanjangan, down-trading konsumen, kenaikan harga bahan baku, depresiasi rupiah, dan persaingan harga yang menekan margin.

Infrastructure: diskon terhadap mean besar, tetapi belum ekstrem secara statistik

Infrastructure diperdagangkan pada forward P/E 12,7 kali, dibandingkan rata-rata lima tahun sebesar 20,3 kali. Sektor ini mencatat diskon 37,8%, tetapi z-score hanya -0,97, atau kurang lebih berada pada minus satu standar deviasi. 

Perbedaan antara diskon yang besar dan z-score yang relatif moderat menunjukkan bahwa historical P/E Infrastructure memiliki volatilitas tinggi.

Rentang valuasi lima tahunnya sangat lebar, mencerminkan perbedaan model bisnis, tingkat leverage, durasi aset, dan volatilitas laba antarperusahaan.

Sektor ini menjadi murah karena tingginya cost of capital, kebutuhan capex, risiko pelaksanaan proyek, dan kekhawatiran terhadap leverage. Pada subsector telekomunikasi, potensi pertumbuhan didukung kenaikan konsumsi data, perluasan fixed broadband, serta upaya perbaikan monetisasi jaringan.

PwC memperkirakan pendapatan layanan telekomunikasi Indonesia mencapai sekitar US$17–18 miliar pada 2025 dan berpotensi tumbuh dengan compound annual growth rate menengah satu digit hingga 2030, didukung pertumbuhan penggunaan data, perluasan jaringan, dan penetrasi broadband rumah. Sektor informasi dan komunikasi sendiri tumbuh 8,35% pada 2025 dan menyumbang 4,40% terhadap produk domestik bruto.Dengan demikian, diskon 37,8% belum otomatis menunjukkan bahwa Infrastructure berada pada valuasi ekstrem. 

Risiko sektor ini adalah kegagalan price repair, biaya spektrum yang tinggi, kebutuhan capex yang tetap besar, serta tekanan ARPU. Sekitar 97% pelanggan seluler Indonesia masih menggunakan layanan prabayar, yang cenderung memiliki churn lebih tinggi dan sensitivitas harga lebih besar. (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: