Kereta Trans Kalimantan Mulai Dibangun, China dan Rusia Tertarik

Jumat 07-08-2026,09:24 WIB
Kereta Trans Kalimantan Mulai Dibangun, China dan Rusia Tertarik

Prabowo Uji Coba KA Nusantara Explorer: Kereta Sleeper Mewah Berstandar Internasional -Biro Pers-bakom ri

JAKARTA, DISWAY.ID-- Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkapkan pemerintah mulai membangun proyek kereta Trans Kalimantan untuk menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Dudy, Kementerian Perhubungan telah berkoordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk menyiapkan peta jalan (roadmap) pengembangan kedua proyek tersebut.

“Apa yang disampaikan Presiden, kita sudah berkoordinasi dengan KAI, sudah menyiapkan roadmap-nya. Nanti kemudian dari situ kita berharap ada investasi, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menggarap Trans Sumatera dan Trans Kalimantan,” kata Dudy di Istana Kepresidenan, Kamis (6/8/2026).

BACA JUGA:Di Stasiun Tawang Prabowo Singgung Pembangunan Kereta Jalur Trans Sumatera dan Kalimantan Railway

Ia menjelaskan pembangunan Kereta Trans Sumatera relatif lebih mudah karena sebagian jaringan rel telah tersedia sehingga tinggal disambungkan.

“Kalau Trans Sumatera kan sebagian memang sudah tersedia, tinggal kita sambung-sambungkan,” ujarnya.

Berbeda dengan Sumatera, Dudy mengatakan pembangunan Kereta Trans Kalimantan harus dimulai dari awal karena hingga kini belum memiliki jaringan rel.

“Kalau Trans Kalimantan memang kita harus mulai,” jelasnya.

Dudy mengungkapkan pemerintah telah menjajaki peluang kerja sama dengan sejumlah investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Untuk proyek Trans Kalimantan, China dan Rusia disebut menjadi negara yang menunjukkan minat.

BACA JUGA:Menhub Targetkan Perpres Ojol Terbit Sebelum 17 Agustus

“Sudah kita jajaki dengan dalam negeri maupun dengan luar negeri, di antaranya China dan Rusia,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah belum menghitung nilai investasi proyek tersebut. Menurut Dudy, calon investor masih melakukan kajian kelayakan bisnis sebelum menyampaikan proposal kepada pemerintah.

“Belum, kita juga harus lihat perhitungan bisnisnya mereka,” ungkapnya.

Ia menambahkan komunikasi dengan Rusia merupakan kelanjutan dari pembahasan yang pernah dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan kini kembali dibuka.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait