20 Tahun

20 Tahun

--

Hari ini –tepat 20 tahun yang lalu– saya di antara hidup dan mati. Di bagian lain di bawah tulisan ini ada tulisan Robert Lai untuk mengenang apa yang terjadi hari ini 20 tahun lalu itu.

Robert adalah sahabat yang menemani saya berobat di Singapura, di Yantai, di Beijing, dan di Tianjin. Robert, warga Singapura kelahiran Hong Kong, lebih tahu apa yang terjadi hari ini 20 tahun lalu: ia yang menyaksikan. Sedang saya tidak ingat apa-apa setelah dibius total.

Robert-lah yang ke Tianjin lebih dulu: untuk melihat apakah RS yang dicalonkan akan mengoperasi saya itu ''layak''.

Di zaman itu Tiongkok belum semodern sekarang. Banyak fasilitas umum yang masih kotor, kumuh, dan berbau WC. Apalagi kota Tianjin termasuk yang lebih belakangan dibenahi.

Robert jugalah yang harus memastikan apakah RS itu punya kemampuan melakukan transplantasi hati –yang masih jarang terdengar kala itu. Kalau pun ada berita tentang transplantasi hati yang terbaca adalah kisah kegagalan: meninggal setelah transplant.

Tulisan asli Robert dalam bahasa Inggris. Saya memasukkannya ke penerjemahan Google. Hasil terjemahannya sudah sangat bagus meski tetap harus saya perbaiki sedikit-sedikit.

Harus: saya undang Robert untuk ke Surabaya hari ini. Bisa makan bersama dengan Melinda dan Alex Tedja. Juga dengan Galuh Banjar, anak-anak, menantu, dan cucu saya. Anggap saja itu reuni peristiwa 20 tahun lalu.

Robert, seorang corporate lawyer, nyaris dua tahun penuh menemani saya. Ups...bukan hanya menemani. Juga menjaga. Merawat. Me-manage organisasi kecil penyelamatan nyawa saya. Mengatur dokter, perawat, obat, istri, anak, menantu, dan cucu tunggal saya kala itu.

Robert juga mengontrol apakah petugas kebersihan rumah sakit itu cukup baik dalam menjaga kebersihan dan kesehatan ruangan saya –termasuk toilet dan kamar mandinya.

Ia yang belanja handuk, sikat gigi, dan beli buah-buahan. Ia yang atur saya dan keluarga ke restoran mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak. Ia ikut tidak pernah makan babi selama bersama saya.

Kadang ia juga yang mendorong kursi roda.

Semua itu ia kerjakan dengan sepenuh hati. Secara probono. Ia tidak perlu dapat apa-apa dari saya. Rasanya tabungan uang Robert lebih banyak dari tabungan saya. Persahabatan kami sangat murni. Saya sering minta maaf ke Dorothi, istrinya, yang begitu lama ditinggalkannya untuk saya.

"Ia sudah biasa lama meninggalkan saya," ujar Dorothi lantas tertawa kecil seperti kebiasaannya.

Robert memang menjadi komisaris di beberapa perusahaan Hong Kong. Harus sering ke Hong Kong. Juga ke negara-negara di mana perusahaan itu punya wilayah operasi. Juga untuk main golf.

"Sudah main golf di negara mana saja?" tanya saya suatu saat.

"Sebut saja negaranya. Lalu saya jawab sudah atau belum," jawabnya.

Bahkan Robert pernah ''sekolah'' manajemen lapangan golf dengan cara magang di lapangan golf terbaik di dunia: St Andrews, Skotlandia. Yakni saat Robert mendapat tugas dari perdana menteri (waktu itu) Lee Kuan Yew untuk mengelola lapangan golf di Singapura.

Sejak pandemi Covid-19 hubungan saya dan Robert renggang. Ia tidak mau lagi ke Surabaya. Ke Jakarta. Ke Beijing. Ke Tianjin. Amerika. Tidak mau diajak ke mana saja. Padahal, sejak 30 tahun lalu, ke mana pun saya pergi ada Robert di sebelah saya.

"Saya harus menjaga istri," ujar Robert. "Saya tidak mau lagi meninggalkan Dorothi sendirian," tambahnya.

Dorothi memang kurang sehat. Tiga anak mereka sudah mandiri --satu di Kuala Lumpur satunya lagi di California. Yang di Amerika itu, Michelle, beberapa kali tampil di podcast diwawancara soal bitcoin dan artificial intelligence.

Sesekali saya-lah yang menengoknya di Singapura. Saya berhutang nyawa kepadanya. Saya juga sering melankolis kalau ke luar negeri sendirian. Tidak ada lagi Robert bersama saya. Pengetahuan Robert sangat dalam. Kami sering bicara filsafat bersamanya. Filsafat hidup. Juga filsafat bisnis.

Dari Robert saya tahu perbedaan antara bisnis bersama orang Hong Kong dan orang Singapura. Di Hong Kong, bos bertemu bos untuk menyepakati bisnis baru. Anak buah mencarikan jalan agar kesepakatan itu bisa terwujud. Kalau ada aturan yang menghalanginya tugas anak buah untuk mencarikan jalan keluar. Termasuk mencari terobosan.

Di Singapura, anak buah masing-masing bos yang bicara lebih dulu. Detail. Semua hambatan dibicarakan. Setelah semua clear barulah bos bertemu bos.

Sepanjang perjalanan di luar negeri pembicaraan kami selalu berisi. Semua hal, semua topik kami bisa membicarakannya dengan asyik. Hanya satu yang tidak bisa nyambung: kalau ia mengajak bicara soal golf. Saya gagal memahami golf. Ia juga gagal mendakwahi saya soal golf. Saya tidak pernah bisa jadi mualaf golf.

Ke mana-mana ia membawa majalah golf terbaru. Atau membawa buku. Saya sering pinjam bukunya tapi tidak pernah mencoba melihat majalah golfnya.

Suatu malam saya masuk kamarnya: pinjam majalah golf. Robert tampak senang melihat saya mulai ingin tahu soal golf. "Alhamdulillah," ujar Robert yang bisa mengucapkan beberapa istilah dalam Islam.

"Bukan. Saya bukan mulai tertarik golf. Saya lagi sulit tidur. Saya harus cari bacaan yang membuat saya cepat tidur," jawab saya.

Beberapa tahun lalu, ketika saya ke Edinburgh sendirian, saya perlukan naik mobil dua jam ke luar kota. Saya sengaja tidak kabari Robert. Saya ke sana hanya ingin tahu lapangan golf tempat Robert pernah sekolah manajemen di dalamnya. Tiba di sana saya berfoto. Di lapangannya. Di museumnya. Di restorannya. Lalu foto-foto itu saya kirim kepadanya.

"Hahaha...St Andrews!!!" komentarnya.


--1

Lima hari lalu saya minta dengan sangat agar Robert ke Surabaya. Bersama Dorothi. Saya belum berani menghubungi Melinda dan Alexander Tedja sebelum ada kepastian Robert bisa datang.

Melinda dan Alex, pemilik Pakuwon Group itu, lebih dua minggu meninggalkan bisnis mal-nya untuk tinggal di Tianjin menemani saya. Termasuk menjadi ''tuan rumah'' ketika lebih 50 pengusaha besar Surabaya ke Tianjin menengok saya. Dari Jakarta, Jenderal Hendropriyono juga datang. Presiden SBY menengok lewat zoom.

Kemarin –dua puluh tahun yang lalu– di H -1 Melinda dan Alex ikut tidak tidur. Mereka menunggu kepastian datangnya hati milik anak muda yang meninggal dunia yang akan dipasangkan di tubuh saya. Itulah hati yang akan menggantikan hati saya yang sudah hitam terkena kanker dan sirosis.

Maka saya ingin untuk bisa bereuni di tahun ke 20 peristiwa itu.

Robert tetap tidak bisa datang. Ia tidak mau meninggalkan istrinya sendirian.(Dahlan Iskan)

------

Hari H, 6 Agustus 2007

Bagaimana saya bisa melupakan hari ini, khususnya apa yang saya alami di Tianjin, Tiongkok? Pada hari inilah sahabat saya, Dahlan Iskan, mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup dengan menjalani transplantasi hati –untuk menggantikan hatinya yang terkena kanker dan sirosis parah.

Tanpa transplantasi, ia hanya akan memiliki waktu hidup paling lama 6 hingga 12 bulan. Sudah beberapa bulan pula sudah sangat menderita: ia habiskan hidupnya untuk keluar masuk rumah sakit. Ia harus menjalani perawatan agar kondisi badannya tidak lebih parah dalam kesakitan dan penderitaan.

Bagaimana Anda, sahabatku, bisa sampai pada hari yang menentukan ini, 6 Agustus 2007?

Saya tahu itu adalah perjalanan panjang penuh perjuangan. Dahlan didiagnosis menderita sirosis dan kanker hati pada pertengahan tahun 2006. Saya selalu bersamanya sejak saat itu, sering pergi-pulang ke Singapura dan Tiongkok untuk perawatan dan mencari pengobatan. 

Kami menghabiskan beberapa bulan di tahun 2006 itu di sebuah rumah sakit pengobatan tradisional Tiongkok di Tianjin untuk membantu menunda pecah limpa-nya yang kian membesar, membengkak, (sudah sekitar 3 kali ukuran normal).

Pembesaran limpa itu akibat tekanan balik darah dari hatinya yang menderita sirosis parah. Di rumah sakit pengobatan tradisional itulah limpanya dipotong sepertiga: sebuah operasi yang sangat riskan tapi harus dilakukan.

Kemudian pada Februari 2007 ditemukan benjolan baru di hatinya. Dari semula satu benjolan kanker muncul 2 benjolan lagi yang lebih besar. Ini merupakan perkembangan kritis untuk kanker hatinya. Kami kemudian pergi ke kota Yantai, Tiongkok, untuk menemui dokter pengobatan tradisional Tiongkok khusus untuk penyembuhan kanker. Saat itu adalah masa-masa yang sangat sulit.

Pengobatan di Yantai berlangsung lebih dari satu bulan, Maret 2007. Setelah menjalaninya selama bulan itu, kami menemukan bahwa pengobatan tersebut gagal. Hasil MRI menunjukkan bahwa 3 benjolan kanker tersebut tidak mengecil, apalagi hilang. Bahkan ukurannya telah lebih membesar lagi, dua kali lipat.

Saat berada di Yantai itulah kami diberi tahu oleh seorang teman di Tianjin bahwa ada sebuah rumah sakit di sana yang telah sukses melakukan banyak transplantasi hati.

Saya lebih dulu ke Tianjin, melalukan pengecekan ke rumah sakit itu. Saya temui profesor yang memimpin rumah sakit itu. Saya diskusikan banyak hal. Termasuk sudah seberapa banyak pengalamannya di bidang transplantasi dan kemungkinan berhasilnya.

Saya pun merasa mantap. Saya segera balik ke Yantai. Kami segera meninggalkan Yantai menuju Tianjin. Melalui perkenalan dari seorang teman, kami berhasil diterima untuk dimasukkan ke dalam daftar tunggu transplantasi hati.

Penantian itu berlangsung sekitar 6 bulan. Pada tanggal 5 Agustus 2007 kami diberi tahu oleh rumah sakit bahwa transplantasi akan dilakukan keesokan harinya, Senin, 6 Agustus.

Setelah menunggu dengan sabar dan susah payah selama 6 bulan untuk mendapatkan organ yang cocok, saya tidak dapat membayangkan emosi yang dialami Ibu Dahlan dan putranya, Azrul, serta putrinya, Isna. Baik Azrul maupun Isna telah mengambil cuti dari pekerjaan mereka dan bersama keluarga mereka tinggal di Tianjin selama 6 bulan penuh sambil menunggu organ donor untuk ayah mereka.

Ketika Minggu 5 Agustus diberi tahu tentang adanya organ dan karena itu operasi akan dilakukan keesokan harinya, 6 Agustus, saya rasa kami semua menjadi gila dengan berbagai macam emosi.

Penantian telah berakhir, tetapi tahap selanjutnya sangat berbahaya dan kritis. Akankah operasi berhasil? Apa yang terjadi jika gagal? Dan semua pertanyaan dan kekhawatiran lainnya.

Bagaimana kami semua di Tianjin menghabiskan waktu penantian 24 jam berikutnya? 

Setelah hampir 20 tahun berlalu, kenangan 24 jam itu masih segar dalam ingatan saya!

Momentum puncak terkait transplantasi hati yang menyelamatkan nyawa Pak Dahlan terjadi saat saya makan siang bersama Melinda dan Alex Tedja, pemilik Pakuwon Group dari Surabaya. Itu hari Minggu. Di sebuah restoran di atas toko serbaada Isetan di Tianjin.

Melinda dan Alex sudah berada di Tianjin selama beberapa minggu untuk membantu merawat Pak Dahlan di saat krisisnya. Saat makan siang itu, saya menerima telepon penting dari direktur rumah sakit: mereka akan mengoperasi Pak Dahlan besok, 6 Agustus.

Kami semua segera menghentikan makan siang dan bergegas kembali ke rumah sakit untuk memberi tahu Pak Dahlan dan keluarganya. Semua orang berkumpul di kamar Dahlan dalam waktu 30 menit. Kami membahas panjang lebar semua persiapan yang perlu dilakukan untuk mendukung para dokter dan perawat yang menangani kasus ini.

Semua staf di rumah sakit ini sangat kompeten dalam tugas profesional mereka dan kami telah menjalin ikatan yang sangat dekat dengan mereka. Mereka tampak lebih sigap dalam mempersiapkan transplantasi Dahlan. Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan profesionalisme mereka.

Tentu saja Ibu Dahlan menangis sejak pengumuman itu. Apakah itu air mata kegembiraan atau ketakutan? Sebenarnya itu tidak terlalu penting. Azrul dan Isna diam dan khawatir karena tidak ada yang namanya keberhasilan 100 persen dalam operasi apa pun, sekecil apa pun. Ini adalah operasi yang sangat berbahaya dan apa pun bisa salah.

Setelah menerima pengarahan dari perawat dan dokter tentang operasi besok, kami memutuskan untuk membiarkan Dahlan beristirahat sendiri untuk hari itu. Keluarga Dahlan berkumpul untuk makan malam sederhana berupa steamboat (seperti biasa disiapkan oleh asisten lokal kami, Yang Sifu) di kamarnya di rumah sakit.

Melinda, Alex, dan saya kemudian meninggalkan keluarga sendirian untuk malam penting mereka bersama sebagai keluarga; Ibu Dahlan, Azrul dan istrinya Ivo, Isna dan Tatang, serta putri mereka yang cerdas berusia satu tahun, Icha, cucu pertama Dahlan. Melinda, Alex, dan saya pergi makan malam di luar rumah sakit.

Sekitar pukul 9 malam, kepala perawat menyuruh semua orang untuk kembali beristirahat karena besok akan menjadi hari yang sangat panjang dan melelahkan. Tentu saja Ibu Dahlan tetap tinggal di rumah sakit untuk merawat Dahlan, seperti yang telah dilakukannya sejak Dahlan dirawat di rumah sakit ini pada awal April.

Kurasa tidak ada yang tidur nyenyak malam itu.

Pukul 8 pagi, tanggal 6 Agustus, semua orang berada di rumah sakit untuk hadir dan membantu menjaga semangat dan kepercayaan diri Dahlan. Kami semua mengobrol ringan untuk menyembunyikan kekhawatiran dan ketakutan kami. Tapi Anda bisa melihat ketegangan yang tinggi di sekitar kami. Kami semua tahu bahwa transplantasi akan memakan waktu sekitar 10 jam. Dokter akan mengiris sekitar 36 cm di perut Dahlan membentuk bekas luka yang terlihat seperti tanda segitiga Mercedes. Dengan sayatan ini mereka akan membuka perut selama 10 jam berikutnya, pertama untuk mengangkat hati yang terkena kanker, kemudian mentransplantasikan hati donor untuk menggantikan hati yang sakit dan dibuang. Ini adalah proses yang sangat rumit. Pada saat itu di tahun 2007, kurasa operasi seperti itu tidak bisa dilakukan di Indonesia.

Kemudian kami menunggu kabar kedatangan organ hati donor. Menunggu dengan cemas. Sekitar pukul 2 siang kami diberi tahu bahwa organ sedang dalam perjalanan. Dari mana dan dari donor mana, kami tidak akan pernah tahu. Itulah aturannya saat itu di Tiongkok. Dan penantian terus berlanjut…. Sementara itu, tepat setelah pukul 2 siang, ketika operasi dipersiapkan, Ibu Dahlan, anak-anak, dan pasangan mereka, serta saya, berjalan di sebelah kereta yang membawa Dahlan ke ruang operasi. Kami dibawa menyusuri koridor rumah sakit. Sampailah kami ke pintu masuk ruang operasi di lantai 13.

Dahlan pun bertanya kepada saya, "Bagaimana menurutmu?" Saya menjawab, "99%. Kita memiliki dokter terbaik di dunia untuk transplantasi hati, di rumah sakit yang telah melakukan ribuan operasi semacam itu; Anda berada di tangan yang aman. 1% sisanya adalah area yang tidak bisa saya akses…." 

Setelah itu, Dahlan mengacungkan jempol dan Ibu Dahlan memanjatkan doa Islami dalam bahasa Arab.

Tim operasi terdiri dari dr Shen, direktur rumah sakit transplantasi ini, dan tim dokter serta perawat terbaiknya.

Organ yang akan dipasang menggantikan hati Dahlan tiba sesuai jadwal. Operasi panjang pun dimulai. Antara pukul 2 siang sampai tengah malam hari itu adalah hari yang sangat lambat bagi kami semua; menunggu, berdoa, berharap, khawatir,.... Satu jam berlalu, lalu jam berikutnya, dan seterusnya. Sungguh hari yang sangat panjang.

Kemudian tengah malam kami mendapat kabar dari dr Shen bahwa operasi telah selesai dan berhasil.

Dahlan tetap berada di ruang ICU untuk selama beberapa hari sebagai masa pemulihannya… dan sisanya adalah sejarah. Itulah hari yang menentukan di Tianjin, Tiongkok, pada 6 Agustus 2007. Hari ini 20 tahun lalu. (Robert Lai)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 5 Agustus 2026: Enak Busuk

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

LIDAH ADALAH "AUDITOR" PALING JUJUR.. Anak-anak itu unik. Mereka tidak pernah belajar audit. Tidak mengerti ISO. Apalagi KPI. Tapi begitu satu suap terasa aneh, vonisnya langsung keluar: "Tidak enak." Sidangnya selesai dalam tiga detik. Banding ditolak. Justru karena itu, lidah anak adalah alat kontrol mutu yang murah dan sulit disuap. Tentu tidak semua yang tidak enak berarti gagal. Selera memang berbeda. Tetapi kalau satu sekolah kompak membawa pulang lauk utuh, mungkin yang perlu diperiksa bukan selera muridnya, melainkan dapurnya. Dalam statistik, itu sudah mulai disebut pola. Dalam kehidupan sehari-hari, itu disebut "ada yang tidak beres". ### MBG adalah program besar. Maka jangan takut pada kritik kecil. Sebab kritik yang didengar hari ini bisa mencegah krisis yang lebih besar besok. Lagi pula, lebih baik dapur berkeringat karena memperbaiki resep daripada pejabat berkeringat karena menjawab pemeriksaan.

riansyah harun

Kalau mahasiswa yang kantong orang tuanya amat sangat pas Pasan, mungkin hanya mereka saja yang perlu diberi MBG. Sehingga anggarannya tidak perlu "wah" seperti saat ini. Sayapun bukan ahli gizi, yang bisa menghitung apa kalau di beri Gizi yang layak, anak anak itu akan menjadi tokoh di kemudian hari..???? Toh zaman kakek nenek kita dulu, banyak juga yang pintar pintar. Nyatanya hanya dengan makan telur sebutir yang dibagi berempat atau berenam sesuai jumlah anaknya, mereka bisa menjadi orang orang pintar. Tanya saja ke Kakeknya Ayrton, beliau bisa menjadi sesuatu, dan selalu di undang dalam berbagai forum dalam mencerdaskan bangsa..????

Ahmed Nurjubaedi

PEDAS KARENA-- Makanan apa yang tidak Indonesia punya?/ Bergizi dan lezat semuanya/ Urap-urap, pecel, lodeh, tumis tempe/ Lapis daging, ayam lengkuas, balado telur/ Dan ratusan lagi yang anak-anak juga suka// Lihat saja, adakah keracunan terjadi di warung atau kaki lima?/ Ini bukan perkara ketidakmampuan/ Tapi rakus yang dibungkus ketololan// Kalimat pedas-pedas itu/ Yang selalu dikoarkan Pak Klimis/ Aktivis anti korupsi yang biasa muncul di TV/ Namun sejak minggu lalu nadanya jadi kalem/ Setelah ia pulang dari desa/ 3 keponakannya jadi kepala dapur SPPG/ 3 lagi baru selesai diklat manajer KDMP//

Jokosp Sp

Seorang Accounting profesional jelas akan protes keras dengan program yang mengatasnamakan Makan Bergizi Gratis. Kata awalnya saja sudah salah. Di mana gratisnya?. Itu uang milik negara, atau bisa diakui sebagai uang rakyat, karena hasil dari pajak yang ditarik dari rakyat. Jadi ada pertanggung jawaban setelah uang (dana) itu dikeluarkan. Ada hasil yang dicapai. Ada keuntungan jangka panjang yang didapat (benefit). Ada efisiensi dalam prosesnya. Nah sekarang malah jadi kasus, karena proses dari awal yang salah. Lagi-lagi jadi ladang korupsi. Seorang Accounting juga memberi saran: Kenapa tidak disalurkan melalui transfer ke rekening bank ke anak didik miskin itu?. Jawabannya sangat mudah: Proses transfer ke rekening anak didik miskin mudah sekali diaudit prosesnya, karena melalui bank dan tercatat transaksinya. Maka pikiran seorang Accounting: Jelas kalau otaknya korup, maka lebih menyukai proses yang tidak tercatat. Suka proses-proses manual dan banyak proses yang berbelit agar korupsinya tidak mudah dideteksi. Dan proses ini bisa dilakukan secara berjamaah dari atas sampai ke level yang paling bawah. Kesimpulannya: MBG ini memang disetting dari awal untuk ladang korupsi. Saya yang bukan seorang accounting membenarkan kesimpulannya.

Jokosp Sp

Kesimpulan saya dari beberapa kali catatan di CHDI adalah: Pak DI masih sangat menyetujui adanya MBG, padahal prosesnya masih sangat korup. Kenapa yang dibahas justru masalah enak dan tidak enaknya?. Persoalan dasarnya adalah : Sistem yang korup. Terus pertanyaannya: Kenapa tidak diselesaikan proses korupsinya?. Dari data awal saja sudah sengaja dipelintir untuk dibenarkan: Data anak didik miskin yang benar 7.000.000 anak, tetapi dipaksakan untuk mendapatkan MBG justru 83,000.000 anak. Ini artinya: Sengaja menggelambungkan data tetapi tidak mengakui kalau anak miskin Indonesia itu 83.000.000. Belum lagi sekarang sudah dikembangkan di beberapa wilayah ke Ibu Hamil. Artinya angka 83.000.000 ini sudah tidak murni sesuai tujuan awal: Memberi makan anak didik miskin agar meningkat IQ nya. Korupsi jelas bukan dari bawah mulainya, tetapi dari atas yang dicontohkan oleh pemimpin pusatnya, dan itu sudah terbukti. Ini penggarongan dana negara yang sangat masif dan nilainya ratusan triliun. Yang menyebabkan negara bangkrut, tetapi fokusnya malah ke masalah selera makan. Ini fatal buat masa depan sebuah bangsa dan negara kalau cara berpikirnya seperti ini. Ngenes, bahkan sampai ngeres saya melihatnya.

Way aja

MBG itu barang busuk sejak awal, sejak perencanaan. Mau dibenerin kayak apa, ya bakal tetap busuk. Harus dirombak desainnya. Terutama ide untuk utang dapur ke investor, dan memberi profit besar ke investor, yaitu pengusaha kroni prabowo dan kader partai. Tapi saya amati sejak lama Dahlan Iskan selalu membela investor MBG secara halus maupun terbuka, maklum banyak temannya investor MBG yg sudah cuan banjak

Sadewa 19

Minggu kemarin saya telat makan siang. Karena kejebak macet saya baru sampai resto padang langganan sekitar jam 14:00 WIB. Setelah masuk dan disambut pegawai resto, semua masakan pun dihidangkan di meja. Gulai otak, tunjang, rendang, ayam pop, ayam rock, semua menggugah selera. Jam segitu harusnya lagi lapar laparnya. Ini restauran padang paling enak di daerah saya, langganan turis asing dan influencer. Saya makan gulai otak, kerupuk jangek, telur gulai dan sayur nangka saya jg ingin nambah rendang. Hmm...harusnya enak, tapi kayak ada yg kurang. "Saudara - saudara" tiba tiba ada suara yg saya kenal. "Saudara - saudara" , waduh semakin kencang saja suara itu. Ternyata benar, persis jarak 5 meter dari meja tempat saya makan.Resto padang itu sedang menyetel siaran langsung pidato presiden di depan kadin dari seluruh indonesia. "Saudara - saudara, saudara- saudara", yg saya inget banyak kata kata itu, sama terkait nuklir Iran dan perang dan ketidakpastian global. Dan berita berita menakutkan lainnya. Hmm pantes nggak seenak biasanya. Rasanya jadi sedikit hambar. Ternyata ada banyak faktor yg menentukan makanan jadi enak. Selain bumbunya, tempatnya, suasananya dan yg terakhir informasi dan berita yg kita tonton. "Saudara - saudara" ...."saudara-saudara"....

Jhel_ng

Satu kata terkait kuliner ini bisa mewakili semua permasalahan di MBG: Porsi. Satu, Porsi kewenangan, sebagaimana yang ditulis oleh Satpam MBG. Kedua Porsi pembagian keuntungan. Baik antara mitra, kepala sppg, koki, akunting, dan relawan. Ketiga, Porsi prioritas kebijakan. Jika ada kekurangan guru di sekolah dari SD sampai SMA, MBG dianggap solusi? Kata kepala sekolah, "Kami tidak tahu harus bagaimana, semua menunggu rekrutmen ASN. Saat kita memakai guru bantu, semua serba salah. Menggaji pakai dana BOS, salah. Meng-SK-kan sebagai guru honorer, juga salah." Tapi kalau untuk SPPI MBG dan Kopdes... Bisaaaaa.... Kenapa pemerintah bisa "outbreak" pengangkatan ASN untuk MBG (kepala, akuntan, dan ahli gizi mempunyai ikatan kerja PPPK dengan pemerintah) tapi tidak untuk Guru dari SD sampai SMA? Untuk dosen juga di beberapa kampus negeri? Bagaimana kesejahteraan mereka? Padahal kalau diadakan CASN pasti lowongan itu bisa terpenuhi.

istianatul muflihah

The Emperor's New Clothes Cerita anak karya Cristian Andersen tahun 1837, masih sangat relevan di dongengkan pada anak anak sekarang.

Herry Isnurdono

Abah DI bahas MBG cuma rasa makanannya enak atau tidak enak. Terlalu garing dan tidak berisi sama sekali selevel jurnalis veteran. Kenapa tidak bahas Kepala BGN kembalikan Rp.300 an Milyar, dana yang 'ngendon di rekening VA (Virtual Account) di BRI, BMRI, BSI. Dana2 itu milik SPPG. Rata2 per SPPG ada Rp. 500 juta. Total 600-700 SPPG. Kepala BGN Sudaryono mengembalikan dana tsb ke Kejagung. Kerja keras Wakil Kepala BGN yg baru, yg dulu pejabat karier di BPKP, benar2 menguliti aliran dana BGN. Kejagung sudah mendapatkan bukti pimpinan BGN yg lama (yg sudah ditahan), melakukan pemborosan dana Rp. 10 Trilyun per tahunnya. Anggaran BGN th. 2026 hampir Rp. 300 Trilyun. Jadi jika ada keracunan di MBG tidak terlalu kaget. Apalagi rasa makanan MBG tidak enak. Asal Abah DI tahu, cucu saya saat ini masuk TK kecil, disekolah sudah ditawarkan mau pilih MBG atau makanan dari katering. Resiko bayar sendiri. Akhirnya orang tua si cucu, ikut katering utk makanan di TK kecilnya. Biar tidak keracunan dan makanannya dijamin enak.

Siswanto Elha

Betul enak ga enak itu soal selera, saya pernah kerja di 2 tempat kerja yg memberi karyawan MSG Makan siang gratis. Yg pertama disediain catering yg tiap jam 11 udah nganter nasi kotak biasanya seporsi nasi, 1 sayur dan 2 jenis lauk, 1 lauk yg tidak pernah ketinggalan adalah ikan kakap meski dlm kondisi masih anakan (baca:teri)nah soal ini ada saja satu karyawan yg protes tiap hari ikan kakap terus. Sedangkan yg kedua karyawan hanya diberi budget 8rb rupiah, dimana teknisnya OB yg akan nyatet 1per1 pesanan karyawan bebas beli apa saja hanya saja klo harga makanan lebih dr 8rb maka si OB akan minta kekurangan ke yg pesan makanan. sedangkan untuk 8rb akan minta reimbuse ke finance sesuai jumlah karyawan yg masuk. untuk ini jelas saya merasa enak metode yg kedua

Tivibox

"Kita sudah terbiasa tidak meritokrasi." "Korupsi di BGN tidak hanya terjadi di pucuk pimpinan, tetapi juga di akarnya" "Kalau korupsi di akarnya terus meluas, nilainya bisa sama dengan 74 kg emas." lalu..... "Terima kasih Abah DI sudah mengingatkan hal tersebut. Selanjutnya kami akan lebih berhati-hati dalam mengelola uang rakyat ini. Kami sadar ini bukan uang kami, jadi kami tak akan mengambilnya sembarangan. Kami tak akan mengambil yang bukan hak kami." kata Kapur (kepala dapur) Saya mengucek ngucek mata. Semoga saya tak sedang bermimpi.....

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@pak Runner.. @pak Tani.. Saya juga ingat lho. Malinda Dee adalah Relationship Manager Citigold di Citibank yang menangani nasabah prioritas. Selama beberapa tahun, ia menyalahgunakan kepercayaan sejumlah nasabah dengan memindahkan dana tanpa izin. Nilai yang terungkap di awal sekitar Rp17 miliar, meski kemudian penyidikan menemukan nilai transaksi yang lebih besar. Uang hasil kejahatan digunakan antara lain untuk membeli mobil-mobil mewah, apartemen, dan membiayai gaya hidup glamor. Dan juga untuk "anu". Kasus ini mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan. Padahal jutaan transaksi perbankan setiap hari berjalan dengan benar. Namun satu kasus besar cukup membuat banyak orang bertanya, "Apakah uang saya aman?" Malinda akhirnya diproses hukum dan dijatuhi hukuman penjara serta denda...

pak tani

Karena nila setitik, rusak susu se Malinda. Malinda siapa yang dimaksud? Kemungkinan yang dimaksud pak Bos adalah Malinda Dee, nama lengkapnya Melinda Gedee :) Pesan tersiratnya adalah : Jadilah nila, masalah sebesar apapun bisa diatasi :)

Murid SD Inpres

kemarin sore saya ke wartel, menelfon seorang kerabat. koin logam Rp50 dan Rp100 saya masukkan. saya tekan enam angka. tuuut. tuuut. tuuut. saya tunggu telfon tersambung sembari mengunyah permen pagoda pastilles. telfon pun kemudian tersambung. kami baru bercakap 4-5 menit haha hihi, sudah diketuk oleh pengunjung wartel yang lain yang sudah antri. yahh, cukup lah. semoga dalam waktu dekat, keluarga saya bisa pasang telfon dial-up sendiri di rumah. atau mudah-mudahan segera hadir teknologi telfon genggam, untuk memudahkan komunikasi.

Muh Nursalim

Nabi pernah disuguhi roti keras. Tanpa lauk. Terus beliau tanya ke sang istri, "Apa tidak ada lauknya ?". Sang istri menjawab. "Ada tapi hanya cuka". "Ya sudah, lauk peling enak itu cuka". Komen nabi. Begitulah cara meredam emosi istri. Kadang harus pura2 enak. Untuk menjaga stabilitas rumah tangga.

pak tani

Koreksi MBG? Mau banget. Jangankan MBG. Semua kebijakan pemerintah, kita mau banget untuk memberi masukan. Tapi, apakah pemerintah mendengar? menampung? mengkoreksi? melaksanakan? Mengumpulkan asiprasi rakyat itu hal yang sangat mudah di era digital sekarang. Lha, lewat kolom komen CHDI saja bisa kan? Mau diregulasi seperti apapun, saya rasa perusuh siap saja. Ayo, saya tantang balik CHDI eh, pemerintah. Kita mau nih kasih masukan buat MBG. Admin siap ngga? Pejabat mampu ngga? Atau cuma omon2 saja? Khas politikus jual kecap? Kalau cuma lapor, cuap2, netijen kita juaranya. Masalah utamanya kan justru tindak lanjut. Laporan kita cuma kaya angin lalu, Boro2 masuk telinga kiri, mungkin malah dianggap kaya kentut. Pejabat langsung kabur dan saling tunjuk begitu mendengar ada suara. Kecuali saat menjelang pemilu. Mulai deh manis2 dan sedikit berbenah seolah yang paling kerja, demi mendulang suara. Jadi, masukan untuk pemerintah buat MBG? Perbaiki saja dulu 'DAPURMU'

pak tani

Nih masukan lagi. Gampang banget. Jalan rusak! Mau foto lengkap? lokasi akurat? ukuran yang bolong? material? suhu? iklim? preman setempat? Kita kasih lengkap. Kalau perlu kita buatkan RAB sekalian fotokopi 100 lembar ( khas birokrasi kita ) Diperbaiki? Boro2. Yang ada saling lempar wilayah perbaikan. Giliran pajak STNK, sampai di razia dan kejar2 untuk bayar. Perbaiki 'DAPURMU' wahai antek2 .......

Akem SNJ

Belum lama ketemu dengan seorang perempuan 5i yang baru lulus kuliah dengan gelar sarjana hukum. Iseng tanya: T: Sekarang apa aktivitasnya? J: Ikut kerja di SPPG. Jadi admin. T: Apa tugasnya? J: Banyak. Tapi yang paling bingung tugas bikin menu. T: Kanapa gak pakai bantuan AI? J: Belum pernah. Kuatir tidak pas. T: Gimana kalau saya coba buatkan prompt trus kita lihat bersama bagaimana hasilny? J: Boleh.. Setelah prompt dibuat dengan berbagai cara, akhirnya dapat hasil prompt yang cukup menarik. J: Saya nanti coba. Kalau berhasil, saya kirim fotonya. Selang dua hari, dia kirim foto menu dan contoh sajiannya. Sangat menarik dan sangat layak. Ini contoh nyata yang saya tahu persis dan saya alami. Teknologi kalau dimanfaatkan dengan baik, hasilnya juga baik. Semoga semakin banyak SPPG yang berbenah dan program yang triliunan ini benar-benar bermanfaat. Jangan sampai karena nila setitik, rusak susu SEBELAHNYA. Wkwkwkwk..

Asep Sumpena

Mengkambinghitamkan MSG sebagai zat yang tidak baik / tidak sehat adalah keliru. Sebab semua otoritas kesehatan dunia dan nasional menyatakan bahwa MSG itu tidak berbahaya apabila dikonsumsi dalam jumlah wajar. MSG juga bukan karsinogenik. Bahkan garam dapur bisa dikatakan lebih berbahaya dari MSG kalau dilihat dari kandungan Natrium (sodium) per satuan beratnya.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

"MBG Jemaah Haji" Di saat ibadah haji kemarin, saya sempat bertemu dengan beberapa teman dan saudara yang berangkat haji melalui ONH reguler. Mereka semua bercerita bahwa pelayanan haji tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Salah satu penilaiannya adalah: makanan tidak sampai kekurangan. Berbeda jemaah haji plus yang prasmanan, makanan jemaah haji reguler sudah dijatah di sebuah nampan aluminium foil hampir mirip ompreng MBG, hanya saja lebih kecil. Saya sempat beberapa kali melihat foto "MBG" jemaah haji itu. Saya melihat penampilannya sangat layak dan terlihat higienis. Hampir mirip makanan yang bisa kita beli di dalam pesawat terbang. Menurut saya, "SPPG"-nya pasti profesional. "BGN"-nya pun pasti nggak berani "macam-macam" karena Pemerintah Saudi ikut mengawasi segala pelayanan haji. Kalau boleh usul, MBG di negara kita belajar ke Muasasah (perusahaan penyelenggara haji) di Arab Saudi dalam hal memyajikan makanan. Mereka bahkan 3 kali sehari lho masak dsn distribusinya. Dan nggak ada kabar ada jemaah haji yang keracunan.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

PRIORITAS DULU, RASA MENYUSUL.. Saya setuju dengan pak Dahlan. Yaitu bahwa pembahasan MBG itu enak atau tidak enak memang belum menjadi prioritas utama. Yang lebih mendesak justru fondasinya. Ada tiga hal. 1) Pertama, mutu dan keamanan pangan. Standar gizi, kebersihan, serta pengawasan harus seragam di seluruh daerah. 2) Kedua, tata kelola rantai pasok. Bahan baku harus tersedia, berkualitas, tepat waktu, dan harganya efisien agar program berkelanjutan. 3) Ketiga, sistem monitoring dan evaluasi. Harus ada data yang cepat, akurat, dan terbuka, sehingga setiap keluhan dapat ditelusuri penyebabnya dan segera diperbaiki. Usulnya pun sederhana. BANGUN standar operasional nasional yang disiplin. PERKUAT sistem digital untuk pengadaan, distribusi, dan pelaporan. LIBATKAN ahli gizi, akademisi, pemerintah daerah, serta masyarakat dalam evaluasi berkala. Jika tiga fondasi itu sudah kokoh, kualitas menu akan semakin baik, variasi rasa akan berkembang, dan penerimaan anak-anak akan meningkat secara alami. Program sebesar MBG tidak boleh dinilai hanya dari rasa hari ini, tetapi dari kemampuannya membangun generasi yang lebih sehat dalam jangka panjang.

Juve Zhang

Ketua Textile Mesir :" Sepuluh tahun lalu Afrika perlu Dunia.... sekarang Dunia perlu Afrika"....keren sekali... walaupun bagi yg ditinggalkan pabrik garmen nya tutup serasa sombong..... Mbak Isti perusuh muda dibawah nulis :_ Embgge Bukan program tapi proyek"....Jelas mbak Isti sudah matang jalan pikirannya karena baca Disway setiap hari tahu beda program dan Proyek .....program itu Misal program Dua Anak....Proyek itu setiap Tahun harus masuk rekening bankku minimal 100 ember Pertamax..... Ayahanda Don Dahlan:_ Dakelan proyek itu apa toh?".....jelas beliau orang jujur gak ngerti korupsi uang proyek....kadang kita menemukan kalimat spontan tapi bagus silakan anda kutip ulang dan tulis lagi.....

Juve Zhang

Susu 30%...70% air singkong....konon jos buat tenaga nyabut panen singkong kelak sudah gede....anda jangan anggap remeh nyabut pohon singkong sangat sulit perlu tenaga raksasa....singkong di kebun saya gak pernah dicabut .. tetangga saja disuruh ambil gratis banyak yg gak kuat.....nyabutnya....wkw

pak tani

Salah satu yang menarik dari MBG adalah susunya. Lho lho beneran? Iya, MBG mengeluarkan 'produknya' sendiri, terkenal dengan nama susu sekolah. Menggandeng ultrajaya dan sukanda djaya. Kekurangannya, komposisi susunya hanya 30-50%. Tentu hal tersebut menuai banyak kritik. Solusinya bagaimana? Terpikir mengganti kemasan kotak menjadi bulat, tentu menarik. Tapi apalah saya yang bukan ahli nyusu.... anu ahli gizi. Kita serahkan saja pada sang empu sebenarnya... Jokowi? bukan... Malinda Dee? bisa jadi... Tapi saat ini Malinda Dee sedang sibuk berkasus, Tebak kasus nya? kasus penggelapan dana pembangunan dapur MBG. Haha tulisan pak Bos hari ini saya sangat suka sekali. Makin di ulik makin banyak fakta membagongkan... plot twist yang sangat keren pak DI :)

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

BISNIS KOK PAKAI NGATUR-NGATUR: TIONGKOK BALAS AROGANSI EROPA.. Semuanya bermula ketika Uni Eropa menjatuhkan sanksi kepada 14 perusahaan Tiongkok. Alasannya, perusahaan-perusahaan itu diduga membantu Rusia dalam perang Ukraina. Brussel berharap tekanannya cukup membuat Beijing mundur. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Dalam waktu sangat singkat, Tiongkok membalas dengan memasukkan 14 organisasi pertahanan Eropa ke daftar hitam. Sasarannya bukan sembarang perusahaan, tetapi jantung industri pertahanan Eropa. Bisnis seharusnya mencari untung. Bukan mencari lawan. Ketika perdagangan berubah menjadi alat politik, balas-membalas sanksi menjadi sulit dihindari. Eropa merasa berhak mengatur. Tiongkok merasa berhak membalas. Akhirnya, yang menjadi korban adalah rantai pasok global. Dunia kembali diingatkan bahwa ketergantungan pada satu pemasok memang mengandung risiko besar. Dalam bisnis, tekanan hampir selalu melahirkan tekanan balasan. Berdagang semestinya membangun nilai tambah, bukan memperbanyak daftar hitam. Referensi: SindoNews.

Murid SD Inpres

MASUKAN PEMASUKAN tulisan @pak tani hari ini bikin saya bergidik ngeri. suram negeri ini kalau beneran terjadi. "pemerintah tidak butuh masukan, tapi pemasukan!" gila! betapa intuitifnya komentar tersebut! jika benar demikian, maka terjawab sudah, mengapa seabrek solusi, masukan, saran, dari berbagai elemen masyarakat, seperti tidak pernah digubris! hipotesanya hanya satu: pejabat yang paling punya power decision making, maling semua! jika hipotesa ini akurat, maka memberikan solusi dan masukan serta perbaikan yang bisa memberi surplus pemasukan bagi mereka, itu sama saja dengan kita memberi pipa pipa rezeki yang lebih deras bagi pejabat pejabat maling tersebut! cilaka dua belas! komentar @pak tani hari ini benar-benar lebih ngeri dibanding narasi apocalyps NKRI bubar 2030

Denny Herbert

Ada satu kebanggaan besar yang patut kita selipkan untuk anak-anak bangsa di PT PAL Indonesia: keberhasilan mereka membangkitkan kembali KM Umsini. Kapal legenda milik PELNI ini adalah urat nadi pelayaran Indonesia Timur, yang menghubungkan Jakarta hingga Merauke. Musibah kebakaran hebat di Makassar sempat merenggut nafasnya, melumpuhkan armada pelayaran vital, dan menyisakan bangkai kapal yang hangus berjelaga. Menarik KM Umsini dari Makassar menuju markas PT PAL di Surabaya saja sudah menjadi perjuangan luar biasa. Kondisinya sangat parah—ruang mesin hangus, sistem kelistrikan blackout, dan tanpa didukung dokumen teknis original. Secara matematis, membangun satu kapal baru rasanya jauh lebih mudah ketimbang merajut kembali rongsokan pascakebakaran. Namun, dedikasi total insan PT PAL membuktikan sebaliknya. Dengan kesabaran tinggi, ribuan jalur kabel dari ukuran 1 mm hingga 200 mm ditelusuri satu demi satu, lambung dibongkar, dan mesin diatur ulang. KM Umsini dan PT PAL adalah sama-sama milik negara. Demi konektivitas rakyat di kepulauan Nusantara, kapal ini berhasil dihidupkan kembali dengan gagah. Hormat untuk kerja keras anak bangsa!

Juve Zhang

Pak Pur :" Rakyat Malaysia beli mobil lebih banyak dari Rakyat Indonesia padahal Rakyat Indonesia 5 kali lebih banyak dari Malaysia".....gimana Om Pur ngitung penduduk Tetangga saja gak bisa Penduduk Indonesia itu Sekitar 9 kali lebih banyak dari Malaysia....Malaysia Cuma 34,5 juta jiwa ...P.Jawa 158 juta jiwa mungkin maksudnya 5 kali Malaysia itu penduduk P Jawa....om Pur kapan Dolar 10 ribu Rupiah?

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 52

  • Surja Wahjudianto
    Surja Wahjudianto
  • Milyarder Setia
    Milyarder Setia
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Alamsta Suarjuniarta
    Alamsta Suarjuniarta
  • Ahmad Zuhri
    Ahmad Zuhri
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Ahmad Zuhri
      Ahmad Zuhri
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
  • my Ando
    my Ando
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • my Ando
    my Ando
  • my Ando
    my Ando
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • my Ando
      my Ando
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • hewriy hewriy
    hewriy hewriy
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • DeniK
    DeniK
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • rid kc
    rid kc
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Ahmad Zuhri
      Ahmad Zuhri
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Mada Suradi
    Mada Suradi
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • alasroban
    alasroban
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
    • ra tepak pol
      ra tepak pol
    • bitrik sulaiman
      bitrik sulaiman