Teknokrat Plus
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di tengah media-ist-
PENDEK sekali umur kebijakan ''baru'' di bidang keuangan kita: hanya satu tahun. Walhasil setidaknya satu teori ''baru'' sempat dicoba di Indonesia: kebijakan memompa peredaran uang di masyarakat.
Tokoh uji coba itu Anda sudah tahu: Purbaya Yudhi Sadewa. Yang setahun lalu dipercaya oleh Presiden Prabowo untuk menjadi menteri keuangan di kabinetnya. Ia menggantikan ''ratu'' fiskal Indonesia, Sri Mulyani. Senin kemarin, tak disangka-sangka Purbaya diberhentikan dari jabatannya.
Tokoh terdepan pengkritik Purbaya, Anda sudah tahu: Ferry Latuhihin. Ia pernah sama-sama Purbaya 25 tahun bekerja di perusahaan keuangan Danareksa. Ia sampai menantang Purbaya berdebat soal kebijakan-kebijakannya.
Latuhihin pun merasa ''dikerjai'' ketika ada petugas pajak ingin mengusut ketaatan pajaknya. Ada sangkaan Latuhihin tidak bayar pajak mobil-mobil mewahnya. Akan diusut. Latuhihin tidak gentar. Tetap sangat kritis kepada Purbaya.
"Purbaya tidak layak menjadi menkeu," katanya. Ahli pasar modal dan pasar uang ini ternyata sudah lama menjual mobil-mobil mewahnya. Ia pernah mengaku kini lebih sering naik busway atau taksi aplikasi.
Setidaknya pula kita pernah punya menteri keuangan yang ''riuh bergemuruh''. Di mana-mana seorang menteri keuangan itu orang yang pelit bicara. Kata-kata seorang menteri keuangan bisa diterjemahkan oleh pelaku ekonomi sebagai ''kebijakan''. Kalau banyak omong bisa berarti begitu banyak kebijakan.
Setidaknya lagi kita pernah punya menteri keuangan yang mencoba memerankan diri sebagai ''superminister'': tidak segan secara terbuka mengkritik menteri lainnya. Bahkan mengancam menteri itu dikenai kebijakan yang akan ia lakukan.
Era Purbaya adalah era gemuruh. Ia begitu yakin bisa dengan mudah membuat pertumbuhan ekonomi tinggi. Caranya: gelontorkan uang kontan ke masyarakat agar di lapisan bawah cukup uang untuk transaksi ekonomi.
Purbaya pernah membeberkan data berulang kali sampai Anda pun mestinya hafal kesimpulannya: kenapa pertumbuhan ekonomi turun di awal masa jabatan Presiden Prabowo? Itu, kata Purbaya, akibat ekonomi sengaja dicekik oleh kebijakan menteri keuangan waktu itu. Paparan data Purbaya begitu meyakinkan: uang beredar terlihat sengaja dibatasi waktu itu. Orang seperti Prabowo pun bisa terprovokasi: mungkin saja antek asing bermain untuk menjatuhkan namanya. Sabotase.
Maka Purbaya punya resep ampuh untuk memuaskan ambisi Presiden Prabowo yang menginginkan pertumbuhan ekonomi sampai delapan persen. Semua ahli pesimistis dengan keinginan itu –kecuali Purbaya.
Maka siapa yang tidak terpikat oleh teori Purbaya yang ia serap dari gurunya, seorang profesor ekonomi dari Purdue University, Indiana: John A. Carlson itu.
Purbaya tidak hanya bicara teori. Ia juga memaparkan data masa lalu, pun data pengalaman di Amerika.
Purbaya seorang peneliti ekonomi. Ibarat seorang dokter ia ahli patologi yang hidupnya di lab penyakit. Ia bukan seorang dokter klinis yang tiap hari menangani pasien.
Maka Purbaya bergegas melaksanakan teori ''gelontor uang'' ke pasar. Bank-bank ia tekan habis. Uang harus deras mengalir ke masyarakat.
Purbaya sangat jeli mengintip slempitan-slempitan di mana saja ada uang disimpan. Termasuk slempitan-nya Bank Indonesia.
Ia ambil uang-uang itu. Ia paksa salurkan ke bank pelaksana. Ia tidak peduli mana uang mati dan mana uang cadangan. Pokoknya uang harus beredar.
Hasilnya: mengecewakan. Pertumbuhan ekonomi memang sempat 5,6 persen (kuartal pertama 2026) tapi kemudian turun lagi jadi 5,3 persen (kuartal kedua).
Padahal ia sangat optimistis tahun 2026 ekonomi bisa tumbuh 6 persen, lalu tahun 2027 bisa 7 persen dan di tahun terakhir kepresidenan Prabowo bisa seperti yang diambisikan: 8 persen. Melihat perjalanan tahun 2026 angka-angka itu kian seperti fatamorgana.
Presiden Prabowo kehilangan waktu lagi satu tahun untuk mengejar target-targetnya. Tapi setidaknya kita pernah berjudi dengan teori ''gelontor uang''-nya.
Orang juga masih akan mengenang Purbaya sebagai yang sangat serius melakukan de-bottle necking untuk macetnya persoalan-persoalan riil di masyarakat akibat birokrasi yang ruwet.
Saya belum tahu akan ke mana Purbaya setelah ini. Yang jelas harus memperhatikan kesehatannya –agar kalau ada kesempatan lagi kelak gula darahnya bisa diajak kerja keras lagi. Kesempatan Purbaya bisa jadi apa saja pernah terbuka lebar: angka popularitasnya sempat mengejar Kang Dedi Mulyadi, gubernur Jabar.
Setidaknya pula ITB boleh bangga: pernah satu kali alumnusnya menjabat menteri keuangan. Tidak dari Universitas Indonesia melulu.
Mulai kemarin kursi menteri keuangan itu kembali ke UI: Presiden Prabowo melantik Prof Suahasil Nazara, alumnus UI, sebagai menteri keuangan yang baru. Teman-temannya memanggilnya Prof Sua: asli Nias. SMA-nya di Pangudi Luhur, Jakarta --satu sekolahan dengan mantan Menkeu-Gubernur BI Agus Martowardojo dan CEO Danantara sekarang ini: Rosan Roeslani. Dan yang paling senior Prof Satryo Soemantri Brodjonegoro, mantan menteri pendidikan tinggi, sains, dan teknologi.
Mungkin era gegap gempita di Kemenkeu ikut berakhir. Prof Sua adalah anak buah andalan Menkeu Sri Mulyani yang tidak banyak cakap. Mungkin juga, karena pernah dekat dengan Sri Mulyani, Prof Sua kurang terlihat di mata Purbaya. Meski Pror Sua saat itu wamenkeu kepercayaan Purbaya lebih pada wamenkeu satunya: Juda Agung.
Prof Sua boleh dikata seorang teknokrat murni. Tidak terlihat arah politiknya ke mana. "Saat saya aktif di Dewan Ekonomi Nasional, Prof Sua adalah tim ''Dapur DEN'' yang andal," ujar Prof Dr Didik J. Rachbini, rektor Universitas Paramadina. Itu di era kepresidenan SBY periode kedua yang ketua DEN-nya pengusaha besar Chairul Tanjung. "Beliau juga pernah menjabat di bidang fiskal tapi keahlian beliau yang terutama adalah ahli pengentasan kemiskinan. Itu dekat juga dengan fiskal," ujar Prof Rachbini.
Prof Sua, menurut sumber Disway, sebenarnya tidak ingin jadi menteri. Dan itu wajar. Menjabat menkeu saat ini apa enaknya. Beban bayar bunga saja Rp 600 triliun setahun. Subsidi energinya bisa Rp600 triliun juga. Belum lagi bagaimana bisa ''melayani" keinginan Presiden Prabowo yang serbabesar dan serbacepat.
"Yang diperlukan saat ini bukan hanya teknokrat. Tapi teknokrat-politisi," ujar Prof Rachbini. Yakni teknokrat yang teguh dengan prinsip keteknokratannya tapi lentur dalam menyikapi keinginan politisi (baca: presiden).
"Lentur" yang dimaksud adalah mampu meyakinkan atasannya untuk disiplin fiskal tapi tidak terlihat menolak, melawan atau menggurui. Ibarat "iya, iya, tapi tidak iya". 'Tidak iya'-nya itu harus tanpa terasa ''tidak iya''.
Prof Sua bisa belajar dari mentor lamanya: Sri Mulyani. "Di akhir-akhir karir beliau Sri Mulyani bisa berubah dari hanya teknokrat menjadi teknokrat-plus seperti itu," ujar Prof Rachbini.
Mungkin tidak hanya menkeu yang harus bisa ''iya tapi tidak iya''. Ajaran itu tidak bisa dipelajari di Cornell atau Harvard University sekali pun. Itu hanya bisa dipelajari di Universitas Kehidupan Orang Jawa. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 14 September 2026: PISA BBM
Ahmed Nurjubaedi
Hulunya memang mutu guru: 1. Dan ini sungguh berat. Apakah sekolah Abah DI tega memutus 50% gurunya? 2. Guru sudah jadi alat politik praktis. Melalui sertifikasi, juga PPPK. 3. Yang radikal: tes ulang semua guru. Pensiun dinikan yang sudah PNS tapi masuk kategori mutu kurang. Yang non PNS, tidak perlu diperpanjang kontraknya. Hanya yang benar-benar qualified yg diangkat jadi guru. 4. Buka lowongan guru baru: gaji minimal 15 juta per bulan. Dengan asumsi jumlah guru 3,47 jt orang (jumlah guru 2026) HANYA perlu 52 T per tahun. Tidak sampai seperempat anggaran MBG. 4. Tutup jurusan PGSD atau PGTK. Guru SD atau TK harus guru bidang studi seperti SMP dan SMA. Agar kemampuan penguasaan mata pelajaran benar-benar top. Ngajar anak SD itu sulit. Gurunya harus top dibidangnya. 5. Kampus pencetak guru harus dibatasi dan diawasi ketat mutunya. Termasuk hanya mahasiswa yang benar-benar potensial yang diterima. Tirulah Singapura. Hanya ada 1 kampus keguruan. Tidak seperti kita, kampus pinggiran yang tidak jelas diberi ijin buka jurusan keguruan. 6. Monggo teman-teman perusuh menambahkan...
Momon Atun
Satu lagi fenomena aneh di jaman saya kini,, sekolah negeri sepi peminat.. Sejak mentri pendidikan si CEO gojek ituh yg bikin kurikulum wajib naik kelas ndak peduli anak itu bisa atau tidak,, sekolah negeri jadi di hindari krn terbukti membuat anak gk memaksimlkan kecerdasanya, sekedar sekolah saja absen. Makanya di daerah saya sekolah negeri belum buka pendftran sekolah swasta sudah menutup pendaftran di tahun itu, klw mau ya masuk daftar tunggu tahun depan. Toh di hitung2 sekolah swasta sm negeri ndak jauh beda "biayanya". Karena sekolah swasta kalau menetapkan angka misal 500k biaya sekolah perbulan ya 500k. Kalau nagari terlihat murah di awal tapi nanti ada saja pengeluaran yg kalau di total total sm kyk negeri. Oh iya belum saya ngomong in universitas negari, yg mana sekarang biayanya 11:12 sm swasta krn dana yg biasa buat univ negeri di sunat, konon katanya buat MBG... Jadi kejauhan ngomongin sekor PiSA (ng) semua kembali kepada "duitnya dari mana??? "
Sri Wasono Widodo
PERMASALAHAN SISTEMIK Hasil PISA 2025 yang dirilis awal September 2026 menunjukkan kenaikan dibandingkan PISA 2022 yaitu Sains naik 6 poin dari 383 menjadi 389; Literasi membaca naik 6 poin dari 359 menjadi 365. Sedangkan Matematika mengalami penurunan 2 poin dari 368 menjadi 364. Hal ini kontradiksi dengan trend global yang menunjukkan penurunan 28 poin negara OECD, sains turun 7 poin sedangkan Matematika turun 20 poin. Untuk peringkat Indonesia turun dari 68 ke 74 namun memang ada penambahan jumlah peserta dari 81 menjadi 91 negara. Penyebab rendahnya skor PISA Indonesia antara lain: 1. Kebiasaan gaya mengajar "menghafal" diwariskan dari generasi ke generasi. Mengubah gaya ke "bernalar" perlu waktu. 2. Assessment juga menuntut hafalan, bukan bernalar menguji critical thinking. 3. Di beberapa daerah "oknum guru dan pengawas sekolah" merampas hak guru membuat bahan ajar dan asesmen secara mandiri dengan mewajibkan pembelian LKS (Lembar Kerja Siswa) dan pelaksanaan Tes Sumatif bersama (versi cetak) yang celakanya juga bersifat hafalan bukan bernalar. Beberapa PEMDA melarang keras hal ini karena bahkan era digital semuanya dapat dibuat online yang lebih efisien. Ada optimisme dibalik keprihatinan, yaitu anak-anak Kita sudah terbiasa menggunakan AI untuk belajar. "Perubahan harus dari diri sendiri" Nak!!!
riansyah harun
Dulu ada "Petir" di Koperasi Desa Merah Putih, karena mobil impor itu. Dan ada pula "halilintar" saat pengadaan sepeda motor listrik bagi petugas MBG. Saat ini, ada "gemuruh puting beliung" di setiap SPBU karena antrian yang semakin mengular. Mungkin supaya "adil", para guru guru yang masih antri di SPBU padahal besok paginya harus naik sepeda motor untuk penunjang mengajarnya, diberi saja sepeda motor listrik...??? Jam mengajar terpenuhi, guru semakin semangat, anak didik semakin pintar, dan masa depan anak didik pun tidak akan kalah bersaing dengan negara maju lainnya. Kapan bisa terwujud...??? Pun kalau belum terwujud, pakai jalan pintas saja. Banyak dijual yang palsu palsu, termasuk ijazah.
Bahtiar HS
Mengapa PISA kok merusak esensi sekolah? Gara2 biar dianggap modern, berskala global, tdk kalah di panggung internasional, kita mengubah haluan kurikulum nasional agar sejalan dengan kisi-kisi dan visi-misi seperti PISA. Akibatnya, pelajaran spt seni budaya, olah raga, moralitas, budi pekerti, keterampilan, vokasi, dll jadi dianggap tidak penting. Siswa didorong hidup dg standar negara orang lain, yg blm tentu sejalan dengan tuntutan keterampilan dan kecakapan yang kita butuhkan sendiri. Siswa tidak dibekali dg kemampuan untuk leading di lingkungannya sendiri. Kenapa kita tidak buat standar sendiri saja? Misalnya: coba buat standar PPSA (Programme for Pesantren Student Assessment). Yg ditest soal Alfiyah, Imrithi, Jurumiyah, hafalan Quran, dan Nahwu Shorof. Yakin Indonesia akan berada di peringkat nomer satu di dunia! Jadi ini soal: the winner takes all. Sing menang, sing nyirik. Sayangnya, negara kita msh puas menjadi pecundang dan pembebek. Dan semua itu, dimulai dari atas. Dari kepala! Dari pemimpin. Nek gak enthos: ganti bae! Setidaknya: Aja keliru dipilih maneh!
Bahtiar HS
Itulah fenomena yg disebut "The winner takes all". Sang pemenang mengambil semuanya. Istilahe Cak Mul: bandar ngono nyirik kabeh. Ambil semuanya. Yang menang yang raksasa. Microsoft, Google, Amazon, IBM. Yg mereka memiliki sertifikasi tertentu. Yg mau terlibat dlm bisnis itu mesti certified ini itu. Jadi sertifikasi boleh jadi bukan untuk menstandarisasi, melainkan untuk mematikan kompetisi. Tdk memberi kesempatan orang lain masuk dlm pasar. PISA pun bs jadi sama saja. Ia jebakan batman dunia pendidikan kita agar mengikuti standar global yg OECD tetapkan. Jika ISO mendikte industri lewat kertas kerja manajemen mutu, maka PISA mendikte negara2 lewat skoring peringkat literasi, matematika, dan sains anak2 Indonesia. Wis ta titenono: Indonesia tidak bakal bisa meraih standar PISA tertinggi sampai kapanpun. Bukan tidak bisa, tp mmg dibuat tidak akan bisa! Coba pikir: mrk mengasumsikan kecerdasan anak seluruh dunia bs diukur dg alat ukur yg sama. Realitasnya: soal2 PISA sering menggunakan standar kehidupan, budaya, infrastruktur masy kelas atas negara maju. Anak2 pelosok negara berkembang suruh ngejar ini, ya akan selalu timpang dan bias. Tiap tahun negara2 ini stres, krn peringkatnya nggak naik2. Bahkan turun. Terus panik. Terus membuang kurikulum sendiri dan mengadopsi kurikulum negara2 maju. Pdhl blm tentu cocok diterapkan di sini. Ini lbh merupakan kolonialisme intelektual. Penjajahan bidang pendidikan. Bahkan para pakar mengkritik, PISA telah merusak esensi sekolah.
ahtiar HS
Secara netral, standarisasi diciptakan mungkin untuk menyelesaikan masalah trust/kepercayaan. Tanpa adanya standar, maka dunia mungkin akan kacau. Dan konsumen/pemakai akan berada dlm bahaya. Namun ketika standarisasi berada di pusaran ekonomi modern, maka ia bisa menjadi komoditi. Ia bukan lagi penjamin mutu, melainkan instrumen geopolitik dan ekonomi utk mendominasi pasar. Hanya yg memenuhi standar ini yg layak dipercaya produk/jasanya. Yg lain mutunya "rendah" krn tdk memenuhi standar. Tp ini bs menjadi batman trap. Jebakan batman. Utk memenuhi standar, perlu sertifikasi. Nah sertifikasi sering "dijual" sbg peningkatan standar mutu, keamanan konsumen & akses pasar global. ISO, IEEE, ITU, HACCP, IFRS, ICAO, IMO, dll. Kalau gak certified itu nggak bs diterima pasar. Padahal, sertifikasi bs menjadi tembok pembatas yg tinggi (barrier to entry) bagi pemain kecil/pemain baru shg kompetisi menjadi tdk setara sejak awal. Pemimpin pasar (korporasi raksasa/negara maju) menguasai hampir seluruh pangsa pasar dan keuntungan, smtr yg lain dapat sisanya atau tdk dpt apa2. Sertifikasi memperkuat ini dg bbrp cara: Pertama, penciptaan aturan main/standar baru oleh sang pemenang. ISO 9001 saja sdh 6 kali update sejak 1987 (v1) hingga 2026 (v6). Kedua, biaya kepatuhan standar yg mencekik. Audit, konsultasi, sertifikasi bernilai puluhan/ratusan juta. Tiap tahun bahkan. Ketiga, sentralisasi otoritas, dimana sertifikasi menyalurkan biaya sertifikasi/audit ke lembaga auditor di negara maju.
heru pujihastono
Anak tdk sekolah belajar dr lubang dinding sekolah. Dia berpikir , menganalisa ketemu jawaban. Sedang yg di dalam kelas gagal menjawab. Berarti sekolah tp TDK belajar. Mirip pintar matematika tapi gagal memahami soal cerita. Atau pintar fisika - kimia tp gagal menjawab IPA terpadu. Keahlian sintesis perlu dibenahi. Faktor genetik juga perlu. BJ Habibie, penemu CRack pesawat, kakeknya saja sdh dokter spesialis mata di zaman itu. Gus - Gus itu genetik nya sdh hebat.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
UMAR BAKRI, GURU YANG TIDAK PUNYA SKOR PISA.. Namanya, anggap saja Umar Bakri. Guru laki-laki. Pak Umar, setiap hari ke sekolah naik sepeda. Bajunya sederhana. Tasnya pun sederhana. Tetapi galaknya luar biasa. Anehnya, semua murid menyukainya. Begitu Pak Umar datang, murid berebut membawa sepedanya ke tempat parkir. Berebut pula membawa tasnya. Yang tidak kebagian, ramai-ramai mengikuti dari belakang menuju kelas. Pak Umar masuk. Semua murid langsung duduk. Bel belum berbunyi. Mereka takut? Mungkin sedikit. Tetapi yang lebih besar adalah hormat. Pak Umar keras soal disiplin. Tetapi ia juga tahu murid mana yang belum sarapan. Ia tahu siapa yang tidak punya uang membeli buku. Ia membantu tanpa banyak bicara. Puluhan tahun kemudian, murid-muridnya mungkin lupa berapa hasil 17 × 18. Tetapi mereka tidak lupa gurunya. Di sinilah saya teringat PISA. Pendidikan memang perlu angka. Perlu evaluasi. Perlu standar. Tetapi ada sesuatu yang sulit diberi skor: karakter yang ditanamkan guru. Pak Umar mungkin tidak pernah mengenal PISA. Tetapi murid-muridnya belajar sesuatu yang tidak tercantum dalam tabel skor. Bahwa guru yang baik tidak hanya membuat murid pintar menjawab soal. Ia membuat murid ingin menjadi orang baik. Dan mungkin, itulah nilai pendidikan yang paling mahal. Sayangnya, sampai hari ini belum ada lembaga yang menemukan cara menghitungnya.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
BU IMA LAWARU: UMAR BAKRI PEREMPUAN.. Namanya Bu Guru Ima. Lengkapnya, Ima Lawaru. Guru SD. Orangnya sederhana. Pakaiannya sederhana. Tasnya sederhana. Hidupnya juga sederhana. Tetapi begitu masuk kelas, suasananya berubah. Bu Ima galak luar biasa. 1) Murid ribut, matanya sudah bicara. 2) PR tidak dikerjakan, ceramahnya panjang. 3) Terlambat, jangan berharap lolos begitu saja. Namun justru di situlah keanehannya. Murid-murid menyayanginya. Bu Ima seperti Umar Bakri. Hanya saja Umar Bakri perempuan. Setiap pagi, begitu Bu Ima datang, murid berebut membawakan tas dan buku-bukunya. Yang tidak kebagian, mengikuti dari belakang sampai ke kelas. Bel belum berbunyi. Bu Ima masuk. Semua murid sudah duduk. Mereka takut kepada Bu Ima? Ya. Tetapi mereka juga merasa aman bersamanya. Sebab setelah memarahi murid yang malas, Bu Ima bisa menjadi orang pertama yang mencari makanan untuk murid yang belum sarapan. Setelah menghukum yang nakal, ia diam-diam memastikan anak itu tidak pulang membawa perasaan terhina. Galaknya untuk mendidik. Sayangnya untuk menguatkan. Itulah rahasianya. Guru yang paling dikenang bukan selalu yang paling lembut. Kadang justru yang paling galak. Karena di balik suara kerasnya, murid tahu: Ada hati yang sangat menyayangi mereka. ### Di mana bu guru Ima mengajar? Mungkin di Solo. Mungkin di "Solo"-wesi. Yang pasti, di hati murid-murid kecilnya.
Ahmed Nurjubaedi
1 tahun lalu, sudah 6 bulan Jack nganggur setelah lulus kuliah. Orang tuanya jual mracang di pasar desa. Hasilnya cukup untuk membiayai ia dan adiknya sekolah sampai SMA di kota kecamatan. Untuk kuliah di kota kabupaten atau provinsi? Tak mungkin. Selain mahal, Jack juga tak begitu encer punya otak. Kalau ulangan matematika, nilainya mentok angka 6. Begitu juga dengan pelajaran lain. Yang paling bagus adalah pelajaran sejarah, dapat 7. Tapi nilai rapornya rata2 8. Jack menganggap guru2nya baik hati. Menjelang lulus SMA dulu, Jack sempat gundah. Cari kerja sulit, kuliah rasanya tidak mungkin. Lalu Pak Carik membawa berita baik kepada bapaknya. Nanti Jack setelah lulus langsung kuliah saja. PGSD. Hari Sabtu minggu ke kota kabupaten. Gratis pakai KIP. Begitulah. Jack akhirnya wisuda setelah 4 tahun. Ia mendengar banyak kaka kelasnya yang langsung jadi guru SD. Guru Bantu. Tapi Jack sendiri kurang yakin dengan kemampuannya. Jadi ia tak melamar kemana-mana. Orang tuanya juga tak pernah protes. Sampai satu pagi, Pak Carik datang lagi membawa kabar baik. Jack, mulai besok kamu jadi guru bantu di SDN 3 Sidopintar, ya. Kamu temui Pak Kepsek dan ikuti saja petunjuknya..... Sejak 6 bulan lalu, Jack memu harinya dengan kebingungan: bagaimana aku mengajari murid-muridku hari ini?
Warok Ponorogo
Guru, siswa, sarana belajar adalah ekosistem untuk berlangsungnya proses pembelajaran. Sarana belajar, selain bentuk fisik seperti bangunan sekolah, alat tulis menulis ada juga non fisiknya. Kurikulum merupakan sarana non fisik penting yang berfungsi sebagai SOP sistem pembelajaran. Guru, berperan penting dalam proses ini. Program sertifikasi profesi guru diadakan untuk memenuhi tuntutan kwalitas guru menghadapi tantangan dunia pendidikan yang semakin komplek seiring pesatnya AI. Peringkat skor PISA tahun 2025 untuk Indonesia adalah, peringkat Science 73 dari 90 negara, Literasi atau membaca 74 dari 90 negara sedangkan matematika 78 dari 90 negara. Dari data ini peringkat PISA Indonesia masuk peringkat bawah. Mengamati program sertifikasi profesi guru dimana tujuannya adalah meningkatkan kwalitas guru dimana kebetulan istri berprofesi ini, ada beberapa catatan. 1. Sertifikasi dijalankan secara profesional. Artinya, sewaktu ujian sertifikasi yang dinyatakan lulus bener2 sudah memenuhi kriteria kelulusan. 2. Selain ujian sertifikasi, syarat administrasi berupa dokumen pendukung, seperti sertifikat seminar online dan offline baik sebagai peserta atau pembicara jangan sekedar numpang nama. Program sertifikasi guru secara ide bagus karena meningkatkan mutu kwalitas guru dan kesejahteraan dengan "tunjangan gaji sertifikasi" cuma pada pelaksanaanya kadang jauh panggang dari api. #Salam Akal Waras#
satrio prayogo
Benar. Malah miris banyak sekolah Islam mahal & bermutu, gaji gurunya jg msh dibawah umr dgn capaian kpi mengajar sebagus itu dibandingkan guru sekolah negeri. Jd uang mahal yg dibayarkan orangtua siswa tyt lbh banyak masuk ke kantong pengusaha sekolah dibandingkan kesejahteraan gurunya. Agar tdk seperti itu terus, saya tdk memasukkan anak saya ke sekolah yg hanya orientasi bisnis, Dan tyt msh ada sekolah Islam yg seperti itu, menghargai guru dgn gaji yg pantas. Pilih2 lah dgn cermat kita sbg ortu, dimulai Dr kita sdr agar kita secara tdk lgsg ikut zholim kpd guru
Muh Nursalim
mau ditambah 4 kali gaji tetep saja begitu. Guru negeri sudah nyaman. Ngapain pula ngejar skor pisa. Serius ngajar gaji segitu santai juga segitu. PNS tidak mungkin dipecat. Asal tdk fatal2 amat. Mau sekolah SD habis murid juga ndak mereka pikirin. Nanti juga dipindah yang ada muridnya. Kepala dinas pasti pusing dengan model guru2 seperti itu. Ndak semua sih. Hanya beberap[a tetapi kawannya buanyak. Beda dengen guru yayasan. Ngajar ndak serius ya pecat. Meski gaji tdk seberapa dibanding guru negeri. mereka lebih serius dan tanggung jawab. Maka di mana2 sekolah swasta lebih maju. seperti data abah.
Jokosp Sp
Seorang guru "Sekolah Rakyat" memberikan tugas ke murid-muridnya yang sudah digolongkan tidak bisa disebut anak-anak lagi. Tolong kerjakan soal pengurangan di papan tulis ini. 129 119 -------- - Hasil pengurangannya tolong ditambahkan 6 ........ 6 -------- + ........ Guru coba mengecek hasil semua pekerjaan muridnya : 129 - 119 = 10 dan 10 + 6 = 16. Tiba-tiba presidennya berdiri dan mengkoreksi kalau itu salah, harusnya 10 + 6 = 17, Dan 1 + 7 = 8. Semua murid pada bingung karena hasil akhirnya sama, adalah 16. Lebih bingung lagi Peserta Musyawarah Nasional ke XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia yang ikut hadir di peresmian Sekolah Rakyat tanggal 10 Juni 2026 di Bandar Lampung itu. Saya lebih bingung lagi yang nonton lewat live di TV. Muncul pertanyaan : Kok tidak ada yang berani mengkoreksi presidennya yang salah?. Berarti kesalahan-kesalahan yang terjadi saat ini gegara tidak ada yang berani mengkoreksi. Ternyata benar : "Siap Komandan" apapapun yang disampaikan bawahannya. ABS ( Asal Bapak Senang ). Ambyar negarane............kalau isinya golongan penjilat yang ada di sekelilingnya.
Jokosp Sp
Ini hasil "Kurukulum Merdeka". Merdeka bisa diartikan sak karepe....merdeka kok. Target SD adalah "Anak wajib naik kelas", dan yang ke dua adalah "Anak wajib lulus". Artinya biar kemampuan dan nilainya tidak masuk standard kenaikan dan kelulusan, terpaksa guru-gurunya menaikkan dan meluluskannya. Caranya bagaimana?. Ya mengkatrol nilainya. Masalah kemampuan anak sampai tidak bisa baca dan tidak bisa berhitung sampai kelas tiga, guru jadi tidak mau pusing lagi. Murid tidak naik jadi beban guru dan nilai gurunya jadi masalah. Padahal masalah gaji dan lainnya sudah jadi baban tersendiri. Apalagi yang statusnya masih P3K dan Honorer lebih pusing lagi. Buat makan dan beli bensin untuk transportnya saja sudah luar biasa menguras isi dompet. Guru tahu kalau embege bukan faktor penentu murid jadi tambah pinter. Kepintaran itu hasil dari genetik orang tuanya.
Herry Isnurdono
20 % APBN utk Pendidikan. Itu kita tahu, dulu Wapres JK dan Menkeu SMI betul2 mewujudkan di anggaran negara. Kenyataan sampai sekarang dana trilyunan tidak berdampak sama sekali. Baik utk kesejateraan guru, mutu pendidikan dan peringkat pendidikan kita. Ada satu, dua atau lebih pendidikan yg sudah dilevel Internasional, baik yg berafilasi dengan agama Katolik, Kristen, Islam dll. Sepertinya tiap2 pemerintahan bermanuver dan berinovasi utk sektor pendidikan. Sekolah Rakyat oleh Kemsos, Sekolah Taruna Nusantara dibeberapa kota dll. Konsep dasar dari realisasi 20 % APBN itu bisa diterjemahkan beda2. Ada perbaikan sekolah2 dari anggaran tsb dll. Sertifikasi Guru sebetulnya salah satu dari realisasi anggaran pendidikan juga Diluar dana LPDP yg merupakan dana abadi jaman era SBY dan Menkeu SMI utk program bea siswa S2 & S3 di LN dan dalam negeri. Jadi jika mau peringkat pendidikan kita mau mengejar negara Singapura, China dan Jepang sepertinya masih jauh. Kita masih berkutat pada MBG, pemberian makan/perbaikan gizi anak sekolah. Jadi seperti poco-poco, maju mundur. Ada dana yg sejak lama dipersiapkan utk membenahi dan meningkatkan pendidikan, tetapi dialihkan utk mengenyangkan anak2 sekolah dan kepada para penyelenggara makan gratis utk anak2 sekolah.
sinung nugroho
Yang punya target Pemerintah cq Presiden. Giman bisa terpilih lagi ke periode ke 2 dan bagaimana modal bisa kembali + keuntungan (finansial dan peluang lainnya)
mario handoko
selamat pagi bp thamrin, bp agus, bp haji jokosp, bp bahtiar, bp em ha, bp mul, bp jo dan teman2 rusuhwan. tokoh kunci pengembangan program skor pisa adalah andreas schleicher. beliau pakar pendidikan dari jerman yg menjabat sebagai director for education and skill di oecd. walaupun diprakarsai oleh orang jerman. namun selama ini. negara yg memimpin dunia dalam skor pisa. ternyata tiongkok. bukan jerman. negeri kita? skor pisanya selalu di bawah nilai rata rata global. kita lihat saja skor pisa 2025 untuk subjek matematika. china 612, singapura 563, jerman 464, kamboja 366, indonesia 364. total anggaran pendidikan 2025 di indonesia 724 ton. setara 86% pdb kamboja. namun skor matematika indonesia bisa di bawah kamboja. entahlah apakah hal ini disebabkan oleh hobby kita yg suka mistifikasi angka, togel, neptu, weton. atau karena kita tidak terbiasa dengan penalaran kuantitatif modern (satuan jarak, waktu, skala dsb). maka tak perlu heran jika pejabat dan politisi negeri ini menyebut angka dan data serba abu abu. 10 + 6 = 17/ 200 juta x 50 rb = 11 ton / jika petinggi negara saja punya rumusan sendiri dalam ber matematika. apa yang bisa diharapkan dari pemborong proyek jalan agar hasil kerjanya datar, rata tidak bergelombang cekung ataupun cembung?
MULYADI PEGE
Membaca chdi hari ini, bulu kuduk saya berdiri. Bagaimana caranya mencapai skor PISA 3. Ngga usah 6 dulu seperti jepang. Kalau kondisi hari ini dan 10 THN kebelakang, siswa kita (khususnya sekolah yg 1000 terbawah) semakin mundur kemampuan membaca, matematik dan sains nya. Saya seperti berada di lingkaran se***n,, dan semakin hari lingkaran itu semakin seram.
Irary Sadar
Dengan begitu carut marutnya pelaksanaan EMBGEH saat ini, menurut pemikiran saya yang fakir ini, saya lebih setuju dana 335 Triliun pertahun itu dipindah-aloksikan ke membangun pabrik-pabrik skala menengah. Lupakan PISA itu sejenak. Lupakan EMBEGEH. Saya tanya ke AI, akan ada 350 pabrik baru skala menengah yang bisa dibangun dengan karyawan 500an orang per perusahaan, dari dana 335 Triliun tersebut. Memang ini seperti bertolak belakang dengan keinginan CEO MBGEG, tapi jika memilih 'berjudi' antara nyawa anak-anak sekolah dengan membangun pabrik-pabrik skala menegah, menurut saiya, saya akan memilih membangun pabrik.
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Skor PISA Indonesia di tingkat ASEAN saja mengenaskan. Kita diburutan 6 dari 8 negara. Urutannya: Singapura, Vietnam, Brunei, Thailand, Malaysia, Indonesia, Kamboja, dan Filipina.
Liam Then
Yang saya ingat waktu SMP dulu, sekitar kelas 2 SMP di pelajaran matematika. Saya ingat sekali bertanya-tanya dalam hati, ketika sudah masuk bagian bahan ajaran sin, tang ,cos : "ini sebenarnya untuk apa?" tidak dijelaskan oleh guru matematika saya waktu itu, cuma dijejalkan begitu saja. Sekolah saya, itu katanya termasuk yang terbaik di kota. Bayangkan, jika yang terbaik saja sudah model begitu pengajarannya. Saya tidak bisa membayangkan, yang biasa-biasa saja bagaimana. Saya juga masih ingat sekali, guru saya tertengun di kelas 6 SD. Ketika saya tanya di pelajaran IPA : "Ibu, apakah UFO itu ada " Saya tanya begitu, akibat setelah mendengar cerita kawan tentang banaspati mampir di pohon rambutan di belakang rumahnya. ah, saya sekarang membayangkan, bagaimana lembaga pendidikan di negara maju, guru-guru mereka memberikan pengertian tujuan ilmu-ilmu pelajaran yang disampaikan kepada para siswa. saya rasa itu sangat penting sebagai fondasi.
daryono eska
Hasil belajar siswa sangat terkait dengan kinerja/aksi guru di kelas. Saat ini tidak ada perbedaan yang signifikan antara guru berprestasi baik, dengan guru yang bekerja biasa atau bahkan di bawah standar terhadap besar penghasilan. Yang baik tidak serta merta mendapat tambahan finansial, yg buruk tidak ada pengurangan penghasilan. Guru yg berprestasi memang mendapat kesempatan naik karir menjadi Kepala sekolah atau pengawas sekolah. Ini sebuah ironi, guru yang cakap mengajar justru meninggalkan kelas. Posisi mereka sebaga KS/Pengawas tidak otomatis bisa mengubah orang di sekitar menjadi baik. Kalau kita masuk kelas, akan menjumpai gaya mengajar guru tahun 2026 tidak berbeda jauh dengan guru tahun 1980 -an kecuali adanya penggunaan projektor atau papan digital interaktif. Kalau dulu rendahnya mutu pendidikan dianggap karena faktor latar belakang pendidikan guru yang belum sarjana, saat ini semua guru sudah S1, bahkan banyak yang S2 dan mengikuti Pendidikan Profesi Guru. Dan semua itu tidak membawa perubahan yang berarti pada peningkatan mutu pendidikan, lantas apa lagi yang kurang? Mengubah wajah pendidikan sama dengan mengubah karakter manusia sebagai pelakunya. Sesuatu hal yang sangat sulit dan melelahkan.
Juve Zhang
Belum ketemu korban anak Krakatau long boat hilang 8 anak manusia belum jelas nasibnya.....ingat angka korban Long boat ada 8 orang ternyata 8 angka bencana berturut-turut..... sekarang kapal Virgo Transport 8 ......lagi lagi angka 8 .....entah kebetulan angka 8 membawa bencana kematian.....konon 140 penumpang masih dicari karena Kapal nomor 8 ini posisi Tengkurap....oh sinyal kurang bagus Angka 8 akan tengkurap....entah kapan.... mungkin 8 Agustus kapan kapan.....ternyata 8 korban Long boat belum ketahuan hidup atau mati..... sekarang Kapal no.8 terbalik belum tenggelam di laut Jawa.....ternyata Angka 8 angka kematian.... bagaimana menghindari angka 8 angka kematian rupanya harus BERTOBAT KORUPSI....Alam Semesta Ngamuk marah korupsi terus menerus saling susul menyusul maka Bau Kematian tercium tajam begitu cerita silat Kho ping ho....bau kematian di angka 8......
memo kukuk
Setifikasi guru bagusnya jangan berlaku terus menerus, tapi ada waktunya buat reakreditasi, dan tiap tahun diuji apakah masih layak atau tidak sertifikatnya, masih ingat saat anis jadi Mendikbud guru guru ada namanya Ujian Kompetensi Guru, (untuk semua guru baik yg sertifikasi atau belum) yang dinilai selain teori mengajar juga materi pembelajarannya, sekarang mah sudah ga ada lagi, guru yang nilainya kecil terpacu memperbaiki nilainya di tahun berikutnya
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
MALAYSIA BATAL BANGUN PABRIK BYD.. Kemungkinan akan mengimpor BYD dari pabrik BYD yang di Subang.. ### Begitu kata berita. (Nderek bingah)..
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Di Surabaya, bahkan di Jawa Timur, setahu saya belum ada sekolah yang melabeli dirinya sekolah Islam, tapi tidak mewajibkan siswinya berjilbab. Yang saya tahu hingga saat ini sekolah Islam yang tak mewajibkan siswinya berjilbab adalah Al Jabr Islamic School, Jakarta. Selain Al Jabr, sebenarnya ada juga, tapi "label Islam-nya" tidak ditonjolkan. Saya temukan 2 sekolah lain yang berasaskan Islam tapi tak mewajibkan siswinya berjilbab yaitu: Bakti Mulya 400 International School Jakarta dan Budi Mulia Dua International High School Yogyakarta. Jadi, total "baru ada" 3 sekolah (yayasan) yang merupakan sekolah Islam tapi tak mewajibkan jilbab. Ada 2 sekolah di Jakarta dan 1 di Yogyakarta. Ketiga yayasan itu didirikan oleh 3 tokoh yang cukup terkenal. 1. Al Jabr Islamic School, didirikan oleh Mohamad Riza Chalid. 2. Bakti Mulya 400, didirikan oleh Sudwikatmono, Subagdja Prawata, dan tokoh Ikatan Keluarga Batalyon 400. 3. Budi Mulia Dua Yogyakarta, didirikan oleh keluarga Amien Rais. Apakah Anda setuju sekolah Islam tak mewajibkan siswinya berjilbab? Kalau saya sih setuju, kan saya termasuk yang meyakini bahwa jilbab itu tidak wajib.
heru santoso
Mbak Isti—perempuan Ponorogo yang ikonik itu—memang pantas menyandang julukannya. Menghabiskan waktu mengobrol dengannya selalu menyenangkan karena ia penikmat percakapan yang penuh perhatian. Wawasannya luas, merentang dari karya Ahmad Tohari hingga Andrea Hirata. Namun di balik itu, ia adalah seorang penulis sejak muda. Beberapa cerpennya pernah bertengger di media cetak. "Lumayan waktu itu dapat 100 ribu Rupiah. Tapi bukan masalah rupiahnya saja. Proses menulis itu sendiri sudah sesuatu," tuturnya santai. Hari ini, Mbak Isti berencana menyusuri trotoar Kota Malang. Ia ingin merekam ritme kota dan setiap pernik kehidupannya untuk dituangkan ke dalam kolom tulisan esok hari. Menariknya, saya tak perlu menunggu sampai besok untuk menikmati "hasil" tulisannya. Hari ini saja, saya sudah mendapat oleh-oleh segar yang katanya dipetik langsung dari kebun Mas Novri. Sebuah perjumpaan singkat yang hangat, penuh cerita, dan tentu saja... buah tangan: sekantong kresek jeruk nipis.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
MENKU GANTI LAGI.. Purbaya diganti Suahasil Nazara. Menarik. 1) Bukan sekadar ganti orang. 2) Bisa jadi ganti gaya. ### Suahasil adalah teknokrat Kemenkeu. Pernah memimpin BKF. Lama menjadi Wamenkeu. Gaya kerjanya lebih dekat dengan Sri Mulyani: 1) Hati-hati, 2) Terukur, dan 3) Sangat memperhatikan disiplin fiskal. Maka jangan heran kalau Kemenkeu kembali terasa lebih “Sri Mulyani”. A) Lalu Whoosh? Purbaya baru saja menyiapkan restrukturisasi utang hingga 80 tahun. Cicilannya sekitar Rp1 triliun setahun. Bahkan utang dan pengelolaannya hendak ditarik ke Kemenkeu. Apakah Suahasil akan meneruskan? Kemungkinan besar iya. Tetapi mungkin dengan kalkulator yang lebih dingin. Perpanjangan Whoosh ke Surabaya juga menarik. Purbaya sudah membuka wacana itu. B) MBG lain lagi. Anggarannya besar. Manfaat sosialnya juga besar. Tantangannya: memastikan setiap rupiah benar-benar menjadi gizi. C) Kopdes Merah Putih pun begitu. Pemerintah bahkan menyiapkan pembayaran kewajiban langsung ke Himbara. ((((Jadi, Menku baru mungkin bukan rem. Bukan pula gas. Lebih tepat: Gas, tetapi sambil melihat speedometer.))))..
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 253
Silahkan login untuk berkomentar