6.747 BTS BAKTI Tembus Wilayah 3T, Daerah yang Dulu Blank Spot Kini Terhubung
Melalui BAKTI Media Connect 2026 bertema “Memeratakan Akses Informasi ke Penjuru Negeri”, Bakti memaparkan sejumlah pencapaian dan dampak nyata yang dihadirkan dari infrastruktur telekomunikasi yang selama ini dibangun di daerah terpencil. --istimewa
JAKARTA, DISWAY.ID – Akses internet di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) terus diperluas untuk memangkas kesenjangan digital.
Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Komdigi mencatat telah membangun 6.747 BTS di berbagai titik 3T, membuka konektivitas bagi daerah yang sebelumnya masih mengalami blank spot.
Melalui BAKTI Media Connect 2026 bertema “Memeratakan Akses Informasi ke Penjuru Negeri”, Bakti memaparkan sejumlah pencapaian dan dampak nyata yang dihadirkan dari infrastruktur telekomunikasi yang selama ini dibangun di daerah terpencil.
Direktur Utama BAKTI, Fadhilah Mathar, mengatakan bahwa BAKTI telah membangun akses internet di lebih dari 31.000 lokasi, yang sebagian besar berada di sektor pendidikan yakni sekitar 68%, sektor kesehatan sebesar 5,89% untuk mendukung e-government.
BACA JUGA:Alamak! RRU Tower BTS di Bandara Soetta Dicuri, Kerugian Capai Rp 700 Juta
Kemudian sekitar 19,9% lokasi yang merupakan kantor pemerintahan, pusat kegiatan masyarakat, misalnya pasar-pasar tradisional, kemudian tempat ibadah, pos-pos pertahanan dan keamanan, lokasi usaha dan pelayanan usaha, serta transportasi publik.
Wanita yang akrab disapa Indah ini menegaskan bahwa BAKTI bukan operator. BAKTI merupakan agensi yang melakukan dan mengelola pembiayaan.
Core network seluruhnya dimiliki oleh operator seluler di Indonesia.
BACA JUGA:Modul Tower BTS di Bandara Soetta Digasak Maling, Pelakunya 3 Orang!
"Prinsip pembangunan di BAKTI itu seperti kaki meja tenis meja. Ada empat kaki. Pertama adalah keberlanjutan masyarakat karena hal ini akan membantu adopsi dan inklusi. Kedua, kualitas layanan. Ketiga, mendorong skalabilitas UMKM. Keempat, dan tidak kalah penting, adalah keberlanjutan industri. Jangan sampai pemerintah hadir justru mematikan lahan komersial,” ujarnya, Rabu 12 Agustus 2026.
“Oleh karena itu, berkaitan dengan hal yang keempat ini, BAKTI sedang mempersiapkan, dan sudah berlangsung sejak 2024, apa yang kami sebut sebagai exit strategy. Jadi, wilayah-wilayah dengan kriteria tertentu dan tingkat maturitas tertentu akan kami tawarkan kepada vendor, operator, atau mitra kami yang lain, misalnya tower provider, untuk diambil alih. Keberhasilan pemerintah dalam Universal Service Obligation bukan diukur dari seberapa lama kami berada di sana, tetapi seberapa cepat kami bisa melakukan exit dari lokasi tersebut. Artinya, masyarakat sudah bisa mandiri,” ujarnya.
Dalam menghadirkan infrastruktur internet hingga pelosok negeri BAKTI Komdigi mengoperasikan sejumlah aset infrastruktur strategis nasional secara terintegrasi.
Di segmen ruang angkasa, Satelit Republik Indonesia (Satria 1) yang berkapasitas 150 Gbps mengorbit untuk menjangkau fasilitas sekolah, puskesmas, kantor pemerintah daerah, hingga pos perbatasan TNI/Polri sejak 2024. Satelit multifungsi terbesar di Asia ini menjadi penopang utama daerah yang terisolasi dari jalur darat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: