Payung Debu
Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka disiapkan sebagai salah satu bandara alternatif untuk menampung penerbangan yang terdampak gangguan operasional akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.-Istimewa-
Bandara "dibuang sayang" Kertajati akhirnya ada gunanya. Pesawat Garuda dari Jeddah akan mendarat di Kertajati lantaran Soekarno-Hatta ditutup akibat abu letusan gunung Anak Krakatau kemarin.
"Bandara Jakarta tutup" adalah bencana tersendiri. Indonesia terlalu tergantung pada Jakarta. Lebih 300 penerbangan batal mendarat di Jakarta (Cengkareng dan Halim). Itu adalah berita duka yang mendalam. Utamanya dilihat secara ekonomi.
Bertubi-tubi bencana datang: kebakaran hutan, gempa bumi dan kini debu vulkanik. Nilai kerugian ekonomi semua itu ratusan triliun rupiah.
Debu vulkanik memang sangat dihindari penerbangan. Beda dengan asap. Debu vulkanik bisa membuat mesin pesawat tiba-tiba mati.
Anda sudah tahu: debu vulkanik halus sekali. Keras sekali. Seperti batu. Begitu masuk mesin-pesawat benda keras itu mencair --terkena suhu yang sangat panas. Lalu mengganggu sistem udara. Mesin mati. Itu pernah dialami pesawat Boeing 474 British Airways di saat Gunung Galunggung di Jabar meletus. Pesawat itu jurusan Sidney-London. Melintas di atas Jabar. Tinggi sekali: 47.000 kaki.
Tentu arah angin juga menentukan bandara mana saja yang terimbas kali ini: Lampung, Cengkareng, Halim, Pondok Cabe dan Bandung.
Semoga Kertajati benar-benar aman. Tapi karena Garuda dari Jeddah itu datang dari arah barat jangan sampai tidak aman. Mungkin saja jalur terbangnya diubah sedikit, melengkung ke utara dulu, tidak melintas di utara Jakarta.
Tentu banyak orang Jakarta yang mau mendarat di Kertajati --daripada tidak bisa pulang. Dari Kertajati hanya perlu dua jam pakai mobil ke Jakarta. Maka bisa jadi Kertajati jadi tujuan darurat semua penerbangan domestik menuju Jakarta.
Saya sendiri langsung batal ke bandara Cengkareng. Begitu selesai olahraga saya putuskan ke Surabaya jalan darat. Kemarin saya senam bersama Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) di Bundaran Hotel Indonesia Jakarta.
Saya pun pamit ke Gubernur DKI Jalarta Pramono Anung dan Ketua Umum PSMTI, Willianto Tanta yang jadi tokoh sentral kemarin pagi. PSMTI memang sedang Munas di Jakarta.
Tim sepakbola Persebaya juga harus meninggalkan Lampung lewat jalan darat, naik feri, sambung bus.
Salah satu daya tarik jalan darat adalah: lewat Tegal. Berarti bisa mampir sate kambing muda 'Cempe Lemu'. Mudah. Praktis. Tidak jauh dari mulut exit tol.
Setiap kali mampir Cempe Lemu selalu saya lihat kemajuannya. Awalnya dulu hanya kecil, tidak ber-AC. Lalu buka yang baru: tidak sampai 100 meter di timurnya. Bangunannya bagus. Pakai AC. Dua lantai.
Mampir lagi kemarin, yang baru itu sudah punya lahan pakir luas. Kelihatannya Cempe Lemu baru saja membeli tanah parkir itu. "Cabangnya yang di tengah kota Tegal lebih mewah lagi," ujar Mas Syukron, pimpinan Radar Tegal yang menemani saya makan sate, sop, dan krengsengan serba kambing.
Cempe Lemu adalah kisah sukses Tegal.
Usai makan, kami harus memutuskan: di mana tambah listrik. Sisa listrik Denza tinggal 31 persen. Kang Sahidin mau aman: isi di rest area Pemalang. Tinggal 30 km lagi. Kang Sahidin tahu persis ada stasiun pengisian listrik yang 100 kW --fast charging di Pemalang.
Saya pilih isi di rest area yang lebih jauh: Pekalongan. Masih 62 km dari Cempe Lemu. Sekalian ujicoba apakah dengan 31 persen masih bisa mencapai Pekalongan.
Tiba di rest area Pekalongan tinggal 19 persen. Ups... SPKLU PLN di situ tidak jalan. Masuk aplikasinya gagal terus. Lalu datang mobil Wuling yang juga ingin charging. Juga frustasi. Gagal.
Padahal listrik Denza tinggal 19 persen. Ups... Internet menyebutkan ada SPKLU lagi tidak jauh di timurnya. Hanya berjarak 5 km.
Benar. Tidak ada rest area tapi ada charging station. Dari jauh terlihat ada mobil ION yang sedang charging. Berarti kami pun tidak akan gagal.
Awalnya agak sulit masuk aplikasinya. Saya ketok kaca ION itu. Yang keluar seorang wanita muda, modis, pakai short, sendirian. Saya minta diajari masuk aplikasinya. Berhasil.
Tentu saya bertanya dari mana dan akan ke mana. Dijawab: dari Merbabu akan pulang ke Pekalongan. Ternyata dia baru pulang dari lari 50 km di kaki gunung Merbabu. Sudah sering ikut lari melebihi jarak marathon seperti itu. Dan masih akan lari seperti itu lagi bulan depan.
Ternyata dia seorang dokter gigi. Alumnus UGM. Asal Yogya. Ambil spesialisnya pun di UGM. Kini tugasnyi di RSU Pekalongan.
Saya ucapkan terima kasih pada dokter gigi modis itu.
Kami meneruskan perjalanan. Berarti harus charging sekali lagi. Kami pilih akan isi listrik di rest area Sragen. Sekalian ke toilet.
Ternyata di SPKLU Sragen muncul kesulitan lagi. Setiap kali masuk aplikasi selalu terbaca "tunggu antrean". Diulangi beberapa kali terus saja dijawab "tunggu antrean". Semua statiun di situ dicoba. Jawabannya sama: tunggu antrean.
Gak masalah: listrik masih 50 persen. Masih bisa sampai Saradan.
Benar. Sampai Saradan masih 27 persen. Masuklah kami ke rest area-nya: sudah ada tiga mobil listrik yang sedang charging. Masih ada dua yang kosong. Keduanya juga fast charging.
Yang kami pilih ternyata punya problem yang sama: setiap kali masuk aplikasi dijawab: "tunggu antrean". Lalu pindah sebelahnya: berhasil.
Dengan sisa 27 persen sebenarnya saya ingin berspekulasi: toh sudah sampai Saradan. Cukup nggak sampai Surabaya.
Kang Sahidin lebih hati-hati: lebih baik sedia payung sebelum ada debu vulkanik.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Edisi 6 September 2026 Berjudul Desil Kuantil
Agus Suryonegoro III
JANGAN SAMPAI DESIL MENJADI LABEL..
Saya menangkap satu hal penting dari tulisan pak Dahlan hari ini: Desil seharusnya bukan sekadar alat membagi bantuan.
Ia mestinya menjadi cermin untuk melihat wajah ketimpangan Indonesia.
Di sinilah persoalannya. Ketika desil dipakai menentukan siapa mendapat apa, angka bisa berubah menjadi nasib.
Orang yang berada di batas desil 8 dan 9 mungkin hanya terpaut sedikit dalam pengeluaran.
Tetapi perlakuannya bisa berbeda. Angka 5,9 dan 6 memang hanya berbeda 0,1. Namun dalam birokrasi, selisih sekecil itu bisa terasa seperti jurang.
Karena itu, "kualitas" data menjadi lebih penting daripada istilahnya.
Desil bagus dengan data buruk tetap menghasilkan kebijakan buruk.
Sebaliknya, data yang akurat...
Agus Suryonegoro III
DESIL: ANGKA YANG BISA BIKIN ORANG DEG-DEGAN..
Dulu orang takut kalau namanya masuk daftar hitam.
Sekarang mungkin lebih deg-degan kalau masuk desil yang "salah".
Bayangkan dua tetangga. Yang satu desil 8, yang lain desil 9. Rumah bersebelahan. Motor sama-sama parkir di depan rumah. Bahkan sama-sama sering pinjam garam. Tetapi ketika bantuan pemerintah datang, nasib mereka bisa berbeda.
Masalahnya, kesejahteraan manusia tidak selalu mengenal garis batas. Statistik mengenalnya.
Dalam ilmu statistik, desil hanya menunjukkan posisi relatif dalam distribusi. Ia bukan stempel “miskin”, apalagi sertifikat “kaya”. Tetapi birokrasi memang senang pada kotak. Lebih mudah mencentang kotak daripada memahami kehidupan manusia.
Agus Suryonegoro III
DESIL: ALAT UKUR, BUKAN LABEL..
Dalam ilmu statistik, desil sebenarnya sederhana:
Populasi diurutkan, lalu dibagi menjadi 10 kelompok yang sama besar.
Desil 1 adalah 10% terbawah, desil 10 adalah 10% teratas.
Untuk apa? Terutama untuk melihat posisi relatif seseorang atau keluarga dalam distribusi kesejahteraan.
Bukan untuk mengatakan: “Desil 1 pasti miskin” atau “Desil 10 pasti kaya.”
Pemerintah kini memakai desil dalam DTSEN.
Metodenya sudah jauh lebih ilmiah: tidak hanya melihat pendapatan, tetapi banyak karakteristik sosial-ekonomi dan menggunakan Proxy Means Test (PMT).
rid kc
Sudah lama saya menulis tentang desil. Itu hanya akal-akalan Kemensos agar tingkat kemiskinan di negara ini menurun. Desil itu hanya dilihat besaran pengeluaran warga negara. Indikator desil tidak memasukkan kebutuhan sandang (pakaian) dan papan (tempat tinggal). Desil murni mengukur tingkat masyarakat hanya berdasarkan pengeluaran.
Bayangkan penduduk yang pengeluarannya sebulan Rp. 1.500.000 bisa dikategorikan mapan. Makan sehari 3 kali jika per makan Rp. 15.000 maka dalam sehari membutuhkan Rp.45.000. Dalam sebulan butuh Rp. 1.350.000. Kebutuhan lainnya tidak dihitung semisal pakaian, sandal, rumah dan lain sebagainya.
Artinya orang mapan di Indonesia itu hanya bisa makan sehari 3 kali tanpa rumah, tanpa pakaian, tanpa sandal, tanpa sepeda motor dan tanpa lainnya. Parameter yang tidak masuk akal.
Momon Atun
Desil buah dari sensus ekonomi, sensus ekonomi hasil dr bertakin takon ke masyarakat, yg mau saya protes pertanyaan sensus ekonominya..
Masak cuma di tanya penghasilanya? Tidak di tanya hutangnya atau tanggunganya?
Itu pertanyaan yg lucu sekali, hanya di tanya darimana uangmu? Gak peduli berapa hutangmu?
Desil ini juga ambigu, gak jelas.. Klw berdasarkan gaji, semua warga diy jateng yg gajin UMR (dibawah 3juta) y masuk desil misqueen (krn daerah lain UMRnya lebih dr itu) tapi di berita malah masuk desil atas wkwkw
La kalo warga gaji 3jt masuk desil atas, lalu abah pemilik disway ini desil mana? Wkwkwk Apa ada desil 10+ ? Atau desil 1000?
Momon Atun
Petugas sensus: sebulan pengeluaran berapa pak?
Yg disensus: sepuluh jutaan lah mas.
Petugas sensus: penghasilan berapa pk?
Yg disensus: UMR aja mas.
Petugas sensus: Hah..?!
Yg disensus: hah..?!
Eyang Sabar56
Yang kasihan Desil, tetangga saya.
Akhir akhir ini jadi sorotan warga sekitar bersebab pindah kelas desil 1. Padahal selama ini orang juga tau jadi langganan bansos. Sumber pencaharian tidak tetap, kerja serabutan dari dulunya.
Ibarat pepatah bilang "sengsara membawa duka".
Jokosp Sp
Pemicu kontroversi besar di masyarakat karena penerbitan berdasarkan desil dalam DTSEN disebabkan anomali data yang tidak sesuai dengan realitas ekonomi warga di lapangan. Penyebab dasarnya:
1.Kesalahan kenaikan desil mengancam kehilangan penyaluran jaring pengaman sosial, karena itu tujuannya pemerintah (KIP Kuliah, KJP, Bansos (PKH, BNPT, PBI-JK_BPJS Kesehatan Gratis)).
2.Masuknya data baru 12 juta dari BKKBN yang belum diverifikasi dan divalidasi lapangan.
3.Terjadi kesalahan input administrasi fatal, seperti aset yang dimasukan dan pemasukan pendapatan data tidak dilaporkan dengan sebenarnya. Sebaliknya status pengangguran desilnya meningkat.
4.Sifat desil yang berupa "Kemiskinan Relatif", bukan absolut. BPS menegaskan desil adalah pemeringkat relatif tingkat kesejahteraan penduduk. Sementara masyarakat menyamakan dengan sertifikat patokan nominal.
Jokosp Sp
Kelompok Anak SD disingkat KASD memberikan solusi, bagaimana kalau hitungan desil dari 1 sampai 10 berdasarkan penghasilan bulannya. Murni dari penghasilan atas kerjanya. Dan penerimaan bansos tidak dihitung termasuk penghasilan. Apalagi sampai kena pajak. Kenaikan desil dilipatkan 10 kali saja (x10) dari pengasilan seperti contoh.
Harusnya fokus pemerintah (penguasa) itu ke "Penghasilan per bulan" yang diterima masyarakat. Dari desil 1 ke desil 2 saja sudah bagus. Apalagi bisa dari desil 1 ke 2 ke 3 ke 4 agar bisa naik dari kelas miskin ke kelas menengah. Jangan malah fokusnya ke "Bantuan Sosial".
Ini "cara-cara lama penguasa" yang dipakai per 5 tahunan untuk mendapatkan suara. Duh....kacian-kacian hidup di negara "Wani Piro" ini.
-
1.000.000/bln
-
10.000.000/bln
-
100.000.000/bln
-
1.000.000.000/bln
-
10.000.000.000/bln
-
100.000.000.000/bln
-
1.000.000.000.000/bln
-
10.000.000.000.000/bln
-
100.000.000.000.000/bln
-
1.000.000.000.000.000/bln --> UP
sinung nugroho
Dengar kata desil kok jadi ingat Desi Ratnasari, Desi Anwar, Desi Berlina, Desi Lestari, Desi Puspita, Desi Rahma dan Desi-desi yang lain
WASITH channel
Tujuan negara dengan melakukan pendataan rakyat perdesil untuk memetakan tingkat kemakmuran rakyat. Jika data sudah beres, tentu harus ditindaklanjuti dengan langkah dan program mengangkat setidaknya desil 1-3 agar naik taraf hidupnya dengan menggunakan dana anggaran negara.
Namun, jika perilaku korupsi masih masif dan merata di semua level birokrasi jadinya percuma.
Ibarat punya lumbung padi tapi banyak tikusnya, janganlah terus-terusan berharap kenyang.
dabudiarto71
Mbok ya digodog dulu..
Ini kok sistem bikin heboh krn banyak mudaratnya
Saripuddin Muhammad Jamil
Sepertinya yang tidak kalah penting untuk di perhatikan oleh pembuat data kemisikinan itu adalah ada atau tidaknya utang seseorang yang di data.
Murid SD Inpres
sudah bahasnya telat momentum, isinya tidak memberi gebrakan solusi sistemik pula.
haduh, mandul. benar benar mandul. padahal dekat dengan mensos sebagai sesama anasir NU. mandul. benar benar mandul.
mestinya isi chd kali ini tuh begini.
anda sudah tau: netizen heboh perkara desil. saya kemarin telfon gus ipul, mensos. saya ingin konfirmasi. kenapa seheboh ini. pun saya kontak kepala bps. ternyata banyak yang belum tersampaikan dengan proporsional ke publik. inilah reportase dari saya untuk para perusuh. sekaligus saya tambahkan di akhir, gagasan bagaimana pemetaan pengelompokan ekonomi bisa lebih akurat, tanpa membebani apbn.
itu baru nendang.
itu baru produk kognitif seorang mantan ceo jawa pos + mantan dirut pln + mantan menteri bumn.
Murid SD Inpres
jika anda hanya sebatas pengusaha, dan anda memilih diam fokus menjaga bisnis, itu hak anda.
tapi begitu anda punya power berupa akses ke petinggi DPR RI dan akses ke Kementerian, dan ternyata anda tidak berbuat banyak ketika satu kebijakan menghasilkan output kacau amburadul dan berdampak devastating bagi jutaan rakyat kecil, maka ketahuilah, sejatinya anda telah menjadi passive evil.
seorang bijak pernah berkata begini: "the only thing necessary for systemic evil to triumph is powerful good men doing nothing". salah satu hal yang paling dibutuhkan kejahatan sistemik untuk berhasil, adalah diamnya orang orang baik yang punya power.
dan anda, anda memilih menjadi partly evil. punya power, tapi memilih jadi bystander.
dalam esensi buddhisme, pilihan sikap anda ini akan berbalas karma: karma, karena memilih tidak berbuat, ketika anda jelas jelas punya power. karma, karena anda punya kesempatan untuk mengurangi penderitaan jutaan kelas proletar,
Murid SD Inpres
oh, mungkin itulah kepanjangan yang tepat untuk jenama "disway"?
diam is my way.
hm?
Leong Putu
Cak Mul jika cari mantu, wajib cek calon mantu dikategori desil berapa.
MULIYANTO KRISTA
Mosok iyo koyok ngunu?
Leong Putu
Yoi....
Cek gak ngutangan... Kokyok aku iki, desil 2.
MULIYANTO KRISTA
Berarti dijaluki no NIK, trs dicek ng laman cek desil ngunu yo?
Leong Putu
Iyo lah....
MULIYANTO KRISTA
Dirimu tumben kok cerdas ngunu mas.
Thamrin Dahlan YPTD
Ukur mengukur urusan si tukang jahit /
Ukur yang benar agar baju celana pas /
Kehidupan saat ini sudah sangat pahit /
Kenapa kopi pahit masih ditawarkan, Mas /
Salamsalaman
Echa Yeni
Guwe juge baru ngreti/lagi ngeh sakwise moco iqih.
Sakjannya oppo too desilDesil kii,sebelume selama igi ane aydontker n aydontwontukenow. blome. Untung onok wong apik'an yg gelem njelasne opoto desil kui.
Mojo Sugiarto
juaranya brati Hamdan ATT dong, beliau masuk desil 1, termiskin didunia
Sugian Noor
Saya cek desil saya 6-10
Rumah yang saya tempati sudah jalan 4 tahun di pinjami sama teman rasa saudara (nggak bayar sewa/kontrak)
Saya ada mobil toyota calya lunas tahun 2022 ada tunggakan denda keterlambatan angsuran 14juta dan belum saya bayar... Jadi BPKB nya masih di leasing.
Tahun 2022 saya ambil rumah jokowi kredit 10 tahun dengan angsuran 1.620.000/bulan pakai nama teman karena saat itu saya nggak bisa kredit BI checking dan sudah 2 bulan ini belum saya bayar cicilannya... Sudah saya tawarkan take over tapi belum ketemu yang minat...
Sudah 2 tahun ini 2 sepeda motor saya dan 1 mobil saya nggak sanggup saya bayar pajak nya
Sudah 3 bulan ini saya kerja bantu teman di proyeknya... Honor 2jt/bulan dengan catatan nanti kalau ada profil bakal di bagi.
Johannes Kitono
Safari Durian Badui.
Sabtu kemarin beta bertingkah anomali. Jam 7 di wa call bro Hendro. Ajak lihat Mahkota Estate di Pondok Gede. Padahal tadi malam baru tiba dengan Citilink Pontianak - Jakarta. Dan pagi ini belum sempat mandi. Setelah selesai keliling Mahkota mendadak diajak hunting Durian di Badui. Berita dan vdo di Medsos. Saat ini badui sedang panen Durian dan petai. Hendro langsung cari Toll yang tidak macet walakin mahal.
Singkat cerita setelah habis Toll lebih 200 ribu tiba juga di lokasi Badui. Ternyata duriannya kecil kecil seperti jalan kesana yang berliku. Tidak terlihat orang Badui panggul Durian seperti di Medsos. Ada beberapa kios jual Durian dan cempedak. Semuanya bilang Durian jatuhan kalau ditanya.
Tentu saja pakar Durian asal Pontianak lebih tahu. Dari mobil saja hidungnya bisa cium. Itu Durian jatuhan atau petik dari pohon. Harga cukup murah. 3 buah hanya Rp 100 rb dan diborong semuanya.
Benar kata Hendra, hopengnya dari Pontianak. Kalau ada pilihan antara cewek cantik dan Durian. Bro Hendro pasti pilih dulu durian. Dan itu sudah terbukti. Baik ketika MCU di Kuching dan now di Badui. Safari Durian kali ini lebih...
Juve Zhang
Waktu backpacker keliling Tiongkok dulu semua rakyat miskin dan melarat masuk desil 1....rata rata hanya punya sepeda kayuh butut....
sebagai karyawan di Indonesia saya merasakan sebagai warga desil 6 di Tiongkok....tapi Tiongkok keajaiban dunia ke 15 sekarang kalau saya kesana masuk desil 1 dan rakyat Tiongkok desil 6 berbalik sama dulu....
itulah Zhu Rong Ji Jenius 3 Digit level Suhu.... beliau yg sekuat tenaga menjaga kurs tukar Yuan stabil 1:7....dan itu tak mudah di kala Tiongkok merangkak dari miskin ke Kaya Raya beda sama sekarang mudah bagi PM siapapun menjaga kurs Yuan stabil....tapi dulu Zhu Rong Ji yg setengah mati berjuang agar nilai tukar Yuan stabil....
buah nya sekarang mereka makmur kaya raya bareng bareng.... Indonesia sama jika mampu jaga kurs Rupiah stabil Rp 2500 per 1 Dolar sekarang Siapa pun presiden nya akan senang karena rakyat makmur kaya raya....tapi sayang tak ada jenius jenius 3 Digit level Suhu akhirnya nilai tukar Rupiah jatuh 600% inilah mengapa susah membuang kemiskinan selain faktor korupsi yg mewabah....
kombinasi kurs anjlok plus wabah kolera eh korupsi membuat desil tambah gemuk di bawah tambah runcing
Juve Zhang
Obrolan santai rakyat kecil....enak kerja seperti pak Agus.( Bukan pak Agus $3.) .....ini Agus MBG....dikenal karena Agus MBG kerja di dapur Sppg sebagai karyawan biasa....yg hebat Agus MBG bisa utuh gaji nya setiap bulan....
obrolan tetangga makin melebar ....kemarin waktu agustusan Pak Agus MBG nyumbang 1,5 juta sedang pemilik Rumah makan nyumbang 20 ribu....jelas Agus MBG unjuk Gigi...pekerja di dapur espppge tapi bisa nyumbang kelas Taipan...
Posisi Agus MBG bukan kepala dapur yg konon bisa dapat jatah 5 juta sebulan....posisi Agus MBG karyawan biasa tapi anehnya gaji bisa utuh sebulan gak kepotong Beaya hidup ..... begitu moncer nya status pegawai espppge di masyarakat kecil sampai ketika ada dapur espppge baru lamaran yg ingin kerja menumpuk tinggi.....
ternyata status guru PPPK kalah jauh sama pekerja espppge....rupanya bukti kesuksesan Agus MBG masih hangat dibicarakan dikalangan rakyat jelantah....apa susah nya kerja di dapur kata mereka cuma tumis sayur ....potong daging ayam yg sudah daging semua....rebus telor....orak Arik....tapi gaji bisa utuh sebulan bisa nyumbang Agustusan kemarin ke...
Juve Zhang
Letusan anak Krakatau dentumannya getarnya konon sampai Bandung kaca rumah bergetar......hebat sekali kalau efeknya sampai Bandung....abu sudah sampai Jakarta.....om raja Gareng baru satu tahun lebih naik sudah berbagai bencana alam saling susul menyusul....
Alam semesta gak suka kalau banyak uang rakyat di sunat....di korupsi akhirnya alam semesta menghukum dengan berbagai bencana saling susul menyusul....
bertobat lah kita semua dari perbuatan tercela entah korupsi entah beli Mark up entah beli yg gak perlu LAyar LED entah apapun yg gak diperlukan tapi sengaja dibeli dengan motif korupsi....
Alam semesta benar benar marah....Jakarta pun diberi abu vulkanik....peringatan yg harus dicermati fenomena alam yg lagi ngamuk konon api belum puncaknya...NASA bilang tunggu musim hujan baru reda,.. Desember baru akan hujan....
mario handoko
selamat siang bp thamrin, bp agus, bp haji jokosp, bp pege, bp mul, bp em ha, sobat irary, sobat murid dan teman2 rusuhwan.
"erupsi gunung anak krakatau. bandara soetta masih ditutup sementara."
demikian berita di disway.id.
erupsi anak krakatau ini sudah rutin. sebab lubang aliran lava dari dalam perut gunung tidak pernah tersumbat massif.
berbeda dengan erupsi krakatau di thn 1883. begitu dahsyat sampai dua per tiga bagian krakatau runtuh dan menimbulkan tsunami setinggi 42 meter di pantai barat jawa.
ketika energi lava rutin tersalur keluar. tak akan timbul letusan dahsyat.
sama halnya dengan don dahlan. karena powernya tiap hari tersalurkan dengan mindo. eh, dengan rutin senam DI, dengan menulis catatan harian. terjadilah apa yang terjadi. seperti komen sobat murid. disway menjadi diam is my way.
sebaliknya. bila aspirasi sobat murid dan aspirasi rahayat tersumbat secara massif. maka berjaga jaga dan bersiap sedialah kita semua. akan terhimpun kekuatan dahsyat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 27
Silahkan login untuk berkomentar