Mereka Punya Cerita, Tapi Takut Menulis Buku, Hingga Akhirnya Berani Menerbitkan Karya

Selasa 15-09-2026,12:43 WIB
Mereka Punya Cerita, Tapi Takut Menulis Buku, Hingga Akhirnya Berani Menerbitkan Karya

Kisah Inspiratif Penulis Buku---Dok. Istimewa

JAKARTA, DISWWAY.ID - Menulis buku masih menjadi impian banyak orang. Pengalaman hidup, perjalanan, pemikiran, maupun cerita personal sering kali ingin dituangkan dalam bentuk tulisan.

Namun, tidak semua orang berani mengambil langkah pertama. Keraguan terhadap kemampuan menulis, kekhawatiran terhadap respons pembaca, hingga perasaan belum pantas disebut sebagai penulis sering membuat seseorang menunda menghasilkan karya.

Hal tersebut juga dialami oleh Bangkit Zumarowski atau Zuma dan Baaltelier. Keduanya memiliki latar belakang berbeda, tetapi sama-sama menghadapi tantangan ketika mulai menulis buku.

Zuma merupakan mahasiswa doktoral Teknik Nuklir di POSTECH, Korea Selatan, sedangkan Baaltelier berprofesi sebagai desainer arsitek yang kemudian mencoba memasuki dunia penulisan.

Keraguan tidak menghentikan keduanya. Dari proses yang berbeda, keduanya akhirnya berhasil menghasilkan buku yang diterbitkan melalui Penerbit Buku Bukunesia.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa proses menjadi penulis tidak selalu dimulai dari rasa percaya diri yang besar. Terkadang, sebuah buku justru lahir dari keputusan sederhana untuk mulai menulis.

Ragu Menulis Bisa Dialami Siapa Saja, Bahkan Mereka yang Memiliki Banyak Cerita

Latar belakang akademik Zuma tidak serta-merta membuat proses menulis menjadi mudah. Ketika mengerjakan memoar Persimpangan Langit: Perjalanan Mencari Rumah, ia justru menghadapi tantangan yang bersifat personal.

Buku tersebut mengangkat perjalanan Zuma dalam mencari makna rumah. Rumah dalam cerita tersebut tidak hanya dipahami sebagai tempat untuk kembali, tetapi juga berkaitan dengan rasa diterima, dipahami, dan memiliki ruang untuk menjadi diri sendiri.

Berbagai pengalaman di sejumlah tempat, pertemuan dengan orang lain, kehilangan, kegagalan, serta harapan kemudian menjadi bagian dari cerita yang dituangkan dalam buku.

Namun, menuliskan pengalaman pribadi berarti membuka kembali berbagai kenangan yang selama ini tersimpan. Pada beberapa kesempatan, Zuma bahkan memilih berhenti sejenak karena merasa terlalu dekat dengan pengalaman yang sedang dituliskannya.

Tantangan yang dihadapi bukan hanya soal waktu di tengah kesibukan sebagai mahasiswa doktoral, tetapi juga keberanian untuk menceritakan pengalaman pribadi secara jujur.

Keraguan serupa juga dialami Baaltelier saat menulis 365 Hari Melupakanmu. Meski telah menyukai kegiatan menulis sejak lama, ia sempat mempertanyakan apakah tulisannya akan diterima oleh pembaca.

Sebagai seseorang yang belum memiliki audiens besar, muncul pertanyaan apakah karyanya mampu mendapatkan respons positif. Hal tersebut menunjukkan bahwa tantangan dalam menulis tidak selalu berasal dari keterbatasan ide, tetapi juga dari kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri.

Memulai Meski Belum Merasa Siap Menjadi Langkah Penting Seorang Penulis

Keputusan untuk mulai menjadi titik penting dalam perjalanan kedua penulis tersebut.

Zuma menyampaikan pesan kepada orang-orang yang masih merasa takut untuk menulis agar tidak menunggu sampai benar-benar siap.

“Jangan menunggu sampai merasa sepenuhnya siap karena keberanian sering kali baru muncul setelah kita mulai.”

Menurut Zuma, sebuah buku tidak lahir dalam satu malam. Sebuah naskah terbentuk melalui proses panjang, mulai dari keberanian menuliskan satu kalimat hingga menyelesaikan halaman demi halaman.

Pesan serupa disampaikan Baaltelier melalui kalimat singkat, “Mulai dulu!”

Baginya, potensi seseorang tidak akan pernah diketahui apabila rasa takut terus menjadi alasan untuk berhenti mencoba.

Kedua pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa tahap awal menulis tidak selalu membutuhkan kondisi yang sempurna. Keputusan untuk memulai justru menjadi bagian penting dalam membangun proses hingga sebuah tulisan dapat selesai menjadi sebuah buku.

Setiap Buku Memiliki Perjalanan yang Berbeda

Perjalanan kedua buku tersebut juga menunjukkan bahwa setiap penulis memiliki waktu dan proses yang berbeda.

Draft awal Persimpangan Langit mulai ditulis Zuma ketika berada di Polandia pada 2018. Setelah itu, naskah tersebut sempat tersimpan dan berkembang secara perlahan seiring bertambahnya pengalaman hidup.

Proses penulisan secara intensif hingga naskah selesai berlangsung sekitar lima hingga enam bulan. Namun, jika melihat keseluruhan perjalanan, buku tersebut terbentuk dari pengalaman yang jauh lebih panjang.

Berbagai kota yang didatangi, pertemuan dengan orang lain, perpisahan, serta pengalaman hidup menjadi bagian yang membentuk isi memoar tersebut.

Sementara itu, Baaltelier mulai menulis 365 Hari Melupakanmu pada akhir 2023. Proses tersebut berjalan di tengah kesibukannya sebagai desainer arsitek.

Pekerjaan membuat proses menulis beberapa kali tertunda dan terdapat jeda sebelum akhirnya naskah kembali dilanjutkan. Setelah melalui proses panjang, buku tersebut akhirnya terealisasi pada 2026.

Perbedaan waktu tersebut menunjukkan bahwa tidak ada standar pasti mengenai kapan seseorang harus menyelesaikan sebuah buku. Setiap penulis memiliki perjalanan dan ritmenya masing-masing.

Cerita Sederhana Bisa Memiliki Arti Besar Bagi Pembaca

Zuma menulis tentang perjalanan mencari makna rumah sekaligus mengolah kembali pengalaman mengenai keluarga, persahabatan, cinta, identitas, dan berbagai persimpangan kehidupan.

Bagi dirinya, proses tersebut menjadi bagian dari upaya memahami perjalanan yang telah dilalui.

Sementara itu, 365 Hari Melupakanmu berangkat dari pengalaman mengenai kenangan dan kehilangan. Buku tersebut juga menjadi bentuk pembuktian atas keyakinan seseorang yang sejak 2021 telah mendorong Baaltelier untuk percaya bahwa dirinya mampu menulis dan menerbitkan buku.

Cerita personal yang dianggap sederhana oleh penulis dapat memiliki makna berbeda bagi pembaca.

Pengalaman mengenai kehilangan dapat menjadi teman bagi orang yang sedang menghadapi situasi serupa. Begitu pula cerita tentang perjalanan dan pencarian makna rumah dapat membuat pembaca kembali memikirkan arti pulang bagi dirinya sendiri.

Karena itu, nilai sebuah cerita tidak selalu ditentukan dari seberapa besar pengalaman tersebut terlihat dari luar. Cara penulis mengolah dan menyampaikan cerita dapat membuat sebuah karya memiliki arti bagi orang lain.

Pelajaran dari Perjalanan Penulis Buku untuk Pemula

Kisah Zuma dan Baaltelier memberikan beberapa pelajaran penting bagi siapa pun yang ingin mulai menulis buku.

Pertama, jangan menunggu sampai merasa benar-benar siap. Banyak penulis memulai perjalanan mereka dengan berbagai keraguan, tetapi proses menulis membantu membangun kepercayaan diri secara perlahan.

Kedua, setiap pengalaman memiliki potensi untuk menjadi sebuah cerita. Sebuah buku tidak selalu harus berasal dari pengalaman besar. Cara seseorang melihat, mengolah, dan menyampaikan pengalaman tersebut dapat membuatnya memiliki nilai bagi pembaca.

Ketiga, proses menerbitkan buku dapat dipelajari secara bertahap. Selain menyelesaikan naskah, penulis juga perlu memahami proses penyuntingan, penerbitan, hingga bagaimana karya dapat sampai kepada pembaca.

Dua Jalan Berbeda, Satu Keberanian yang Sama

Zuma dan Baaltelier menempuh perjalanan berbeda sebelum akhirnya menerbitkan buku.

Zuma datang dari lingkungan akademik dan pengalaman perantauan, sedangkan Baaltelier berangkat dari profesi desain arsitektur dan ketertarikannya terhadap dunia menulis.

Keduanya sama-sama menghadapi keraguan, keterbatasan waktu, serta pertanyaan mengenai kemampuan diri. Namun, keputusan untuk tetap memulai membuat proses tersebut terus berjalan hingga menghasilkan karya.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa menjadi penulis bukan persoalan siapa yang paling cepat menghasilkan buku. Proses setiap orang dapat berbeda, termasuk dalam menentukan kapan mulai menulis dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya.

Dalam perjalanan tersebut, penulis tidak hanya membutuhkan keberanian untuk menyelesaikan naskah, tetapi juga pemahaman mengenai proses pengembangan naskah hingga menjadi buku.

Pendampingan dari penerbit dapat membantu penulis melewati berbagai tahapan, mulai dari persiapan naskah hingga proses penerbitan.

Bagi orang yang masih menyimpan cerita dan belum berani menuangkannya dalam bentuk buku, salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah Layanan Collaborative Publishing Bukunesia, yang membantu penulis melalui proses penerbitan hingga naskah menjadi buku.

Pada akhirnya, sebuah cerita tidak akan diketahui nilainya sebelum seseorang berani menuliskannya.

Tidak perlu menunggu sempurna untuk memulai. Sebab, satu halaman pertama yang ditulis hari ini bisa menjadi awal dari sebuah buku yang kelak dibaca dan memiliki arti bagi orang lain.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: