Anak Transmigran Senggi Ikut Petakan Kampung dan Titip Harapan Pembangunan
Pembangunan kawasan transmigrasi tak hanya membutuhkan peta infrastruktur dan data ekonomi, suara anak-anak ikut dimasukkan dalam cara melihat masa depan kampung mereka.-ist-
JAKARTA, DISWAY.ID – Pembangunan kawasan transmigrasi tak hanya membutuhkan peta infrastruktur dan data ekonomi. Di Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, suara anak-anak ikut dimasukkan dalam cara melihat masa depan kampung mereka.
Sebanyak 20 siswa SD Negeri Soom di SP 2 Woslay diajak memetakan lingkungan tempat tinggal sekaligus menggambarkan kondisi kawasan yang mereka harapkan di masa mendatang.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pemetaan partisipatif dan Gambar Harapan yang dilakukan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (Undip).
Para siswa tidak sekadar melihat peta, tetapi turun langsung mengamati lingkungan, mengenali berbagai objek, kemudian menuangkannya dalam bentuk peta dan gambar.
Kepala SD Negeri Soom Sri Muryani mengatakan metode tersebut membuat proses belajar lebih dekat dengan kehidupan anak.
“Selama ini anak-anak hanya belajar di kelas, tetapi melalui kegiatan ini mereka langsung keluar dan belajar dari lingkungan. Mereka jadi mengenal hal-hal baru,” katanya.
Bagi siswa, kegiatan itu sekaligus menjadi ruang untuk menyampaikan cara mereka melihat kampung. Dari proses tersebut, muncul gambaran mengenai lingkungan yang mereka anggap penting dan kondisi yang ingin mereka lihat pada masa depan.
Ketua TEP Undip Dr. Sariffuddin mengatakan anak-anak memiliki pengetahuan tersendiri mengenai wilayah tempat mereka tumbuh sehingga perlu diberi ruang untuk menyampaikannya.
BACA JUGA:Era Bagi-bagi Lahan Transmigrasi Sudah Selesai, Kini Fokus Bangun Potensi Ekonomi
“Kalau biasanya belajar peta itu melihat gambar yang sudah ada di buku, hari ini adik-adik membuat petanya sendiri,” katanya.
Menurut dia, perspektif anak dapat melengkapi cara pandang orang dewasa dalam memahami sebuah kawasan. Hasil pemetaan dan Gambar Harapan juga dapat menjadi bahan awal untuk melihat kebutuhan lingkungan yang lebih ramah anak.
Pendekatan ini menempatkan anak bukan hanya sebagai penerima manfaat pembangunan.
Mereka juga diberi kesempatan mengenali persoalan lingkungan dan membayangkan perubahan di wilayahnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: