Hari Paru Sedunia, Prudential Dorong Kesadaran Kesehatan dan Perlindungan Finansial

Jumat 02-10-2026,13:53 WIB
Hari Paru Sedunia, Prudential Dorong Kesadaran Kesehatan dan Perlindungan Finansial

Kesehatan Paru dan Biaya Pengobatan Jadi Sorotan di Hari Paru Sedunia---Dok. Istimewa

JAKARTA, DISWAY.ID - Batuk atau sesak napas yang dianggap ringan kerap membuat seseorang memilih menunda pemeriksaan kesehatan. Padahal, kebiasaan tersebut dapat membuat suatu penyakit baru diketahui ketika kondisinya sudah lebih serius.

Keterlambatan diagnosis masih menjadi salah satu tantangan dalam penanganan berbagai penyakit di Indonesia. Lebih dari 80 persen pasien kanker disebut baru mendapatkan diagnosis ketika telah memasuki stadium tiga atau empat.

Hal serupa juga terjadi pada tuberkulosis atau TBC. Keterlambatan menemukan penyakit dapat berdampak pada tertundanya pengobatan sekaligus memperpanjang potensi penularan.

Momentum Hari Paru Sedunia yang diperingati setiap 25 September menjadi pengingat mengenai pentingnya menjaga kesehatan paru. Pemeriksaan secara berkala dan deteksi dini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan pada setiap tahap kehidupan.

Alasan Masyarakat Menunda Perawatan

Kebiasaan menunda pemeriksaan kesehatan juga tergambar dalam studi Prudential plc bertajuk “Suara Pasien Indonesia” yang dilakukan bersama Economist Impact.

Dalam studi tersebut, sebanyak 9 dari 10 responden mengaku pernah menunda perawatan. Hampir separuh responden bahkan mengatakan penundaan tersebut dilakukan lebih dari sekali.

Keputusan untuk menunda perawatan tidak selalu berkaitan dengan sikap mengabaikan kesehatan. Sejumlah faktor dapat menjadi pertimbangan, mulai dari keterbatasan informasi kesehatan yang mudah dipahami hingga kebutuhan keluarga yang dianggap lebih mendesak.

Persoalan biaya juga menjadi salah satu hambatan yang perlu diperhatikan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 26,6 persen masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan dalam membiayai layanan kesehatan pada 2025.

Pengeluaran kesehatan yang harus dibayar langsung masyarakat atau out-of-pocket diperkirakan mencapai sekitar Rp175 triliun. Beban tersebut juga disebut berpotensi membuat sekitar 12,8 juta penduduk jatuh miskin akibat pengeluaran kesehatan.

Kondisi itu menunjukkan bahwa biaya satu kali rawat inap atau tindakan medis dapat memberikan tekanan cukup besar terhadap kondisi keuangan keluarga apabila tidak dipersiapkan.

Karena itu, perlindungan kesehatan dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang. Persiapannya dapat ditempatkan dalam satu perencanaan bersama kebutuhan lain, seperti pendidikan maupun masa pensiun.

Biaya Perawatan Penyakit Pernapasan Meningkat

Perhatian terhadap kesehatan paru semakin relevan di tengah meningkatnya kasus penyakit pernapasan dan kenaikan biaya layanan kesehatan.

Kementerian Kesehatan mencatat adanya kecenderungan peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama di Banten, Lampung, dan Jawa Barat pada September 2026.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait