Said Abdullah Usul Wajib Militer Terbatas, Sasar Anak Usia 18 Tahun
Anggota DPR RI sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan Said Abdullah mengusulkan penerapan wajib militer secara terbatas sebagai bagian dari upaya memperkuat konsep pertahanan semesta di Indonesia.-Disway/Anisha Aprilia -
Said mengusulkan agar Indonesia mempertimbangkan penerapan wajib militer terbatas yang tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan Komcad, tetapi juga membangun kultur pendukung pembangunan semesta, khususnya di kalangan generasi muda.
"Mungkin kita perlu wajib militer terbatas, yang ditujukan bukan hanya semata kebutuhan Komcad pertahanan, tetapi untuk membangun kultur pendukung bagi pelaksanaan pembangunan semesta, terutama dari kalangan generasi muda," tulisnya.
Ia mengusulkan anak berusia 18 tahun diperkenalkan dengan pendidikan kedisiplinan, budi pekerti, dan pemahaman bela negara melalui pendidikan terpadu.
BACA JUGA:KDKMP Pangkas Rantai Distribusi dan Perkuat Ekonomi Desa
Pendidikan tersebut, kata dia, dapat melibatkan sekolah, TNI, Kepolisian, serta para praktisi dalam pelatihan dan pembinaan jangka panjang.
Tujuannya, lanjut Said, bukan semata untuk kepentingan pertahanan, tetapi juga membangun budaya baru yang lebih produktif, meningkatkan inovasi, serta memperkuat budi pekerti di kalangan generasi muda.
Selain generasi muda, Said menilai pelatihan rakyat terlatih perlu diperluas kepada kalangan profesional. Ia mengusulkan konsep peer mentoring di antara masyarakat di bawah pembinaan TNI.
Konsep tersebut memungkinkan masyarakat saling berbagi keahlian dan kapasitas masing-masing sehingga dapat meningkatkan kemampuan rakyat sekaligus mendukung kesiapan pertahanan negara.
"Tujuannya untuk mengajarkan keahlian satu sama lain. Dengan meningkatkan kapasitas rakyat, mendorong produktivitas dan inovasi, serta dalam kerangka memastikan kesiapan pendukung untuk pertahanan negara, khususnya dalam menghadapi perang asimetri dan hibrid," ujarnya.
BACA JUGA:Prediksi Ketua MPR Ahmad Muzani Skor Final Timnas Indonesia vs Thailand: Garuda Menang 3-2
Said menilai ancaman pertahanan saat ini tidak hanya berasal dari ancaman militer konvensional. Perang asimetris dan perang hibrida dapat berlangsung dalam situasi tertib sipil sehingga menimbulkan tantangan tersendiri bagi TNI.
Karena itu, menurutnya, perpaduan antara TNI dan rakyat menjadi penting untuk menghadapi bentuk-bentuk ancaman nonkonvensional.
Ia menilai rakyat terlatih tidak hanya terbatas pada mereka yang tergabung dalam Komcad.
Kesadaran untuk membantu menghadapi ancaman pertahanan nasional, kata Said, perlu melekat pada setiap warga negara, baik secara personal maupun kelembagaan, sesuai keahlian dan kapasitas masing-masing.
BACA JUGA:Susdev-BC SPPB UI Dorong Muaragembong Lebih Tangguh melalui Konservasi Air dan Penataan Sungai
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: