IHSG Rebound 0,82 Persen ke 5.974, Analis: Peluang Rebound Sementara Terbuka

Rabu 14-10-2026,15:38 WIB
IHSG Rebound 0,82 Persen ke 5.974, Analis: Peluang Rebound Sementara Terbuka

Papan informasi perdagangan di IHSG-Bianca-

JAKARTA, DISWAY.ID– Setelah kian terpuruk selama dua hari berturut-turut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali sukses bergerak menguat dalam perdagangan Rabu (14/10/2026).

IHSG menutup sesi I perdagangan dengan menguat sebanyak 48,31 poin atau 0,82 persen ke level 5.974,29.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai kondisi ini turut dipengaruhi oleh tekanan penurunan IHSG yang diperkirakan mulai terbatas karena indeks telah mencapai area wave (X), dengan level support paling krusial berada di 5.851.

BACA JUGA:Dua Mesin Pertumbuhan Baru Ekonomi Global: AI dan Inovasi Kesehatan

“Dengan demikian, peluang terjadinya rebound sementara mulai terbuka,” ucapnya kepada media, Rabu, 14 Oktober 2026.

Selain itu, Nafan menambahkan, para pelaku pasar juga lebih memperlihatkan kecenderungan rotasi ke sektor-sektor defensif dan komoditas.

Dari sisi domestik, perubahan metodologi High Shareholding Concentration (HSC), transparansi kepemilikan saham, dan rencana peningkatan batas minimum free float masih menjadi faktor penting bagi persepsi risiko investasi di Indonesia.

Sementara dari segi eksternal, sikap para investor global cenderung prudent terkait laporan inflasi AS per September, terutama Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan rilis pada Rabu, 14 Oktober, serta Producer Price Index (PPI) dan data penjualan ritel yang menyusul.

“Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk mengukur persistensi tekanan harga dan kekuatan konsumsi domestik AS, sekaligus memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed,” tegas Nafan.

BACA JUGA:IHSG Tutup Sesi I Menguat 0,82 Persen ke Level 5.974

Pelaku investor juga akan mencermati apakah reformasi tersebut mampu meningkatkan kredibilitas pasar atau justru memicu penyesuaian portofolio lanjutan. Keputusan FTSE Russell untuk mempertahankan Indonesia dalam kategori Secondary Emerging Market merupakan sentimen positif, tetapi belum otomatis menghilangkan kekhawatiran terkait evaluasi MSCI dan potensi perubahan alokasi dana asing.

Adapun sektor consumer noncyclicals, komoditas, dan properti mencatatkan daya tahan relatif lebih kuat dibandingkan sektor-sektor lainnya yang sempat mengalami profit taking.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: