Camino Nakasendo
--
Haha...akhirnya saya Camino! Bukan di Santiago, Spanyol, tapi Camino-nya Jepang: Camino Nakasendo.
Di hari ketiga di Nagoya, Selasa kemarin, kami ke Tsumago. Yakni bersama teman-teman yang ikut program lima hari di Inuyama, satu jam dari kota Nagoya.
Lihatlah papan petunjuk di dekat saya berdiri itu: bunyinya Tsumago-juku. Bagi yang bisa bahasa mandarin dua kata terakhir itu dibaca ”ru kou” --orang Jepang membacanya dengan ”juku”. Artinya sama: jalan masuk.
Anda sudah tahu: saya pernah siap berangkat Camino di Spanyol. Dua tahun lalu. Batal. Teman yang akan bersama saya Camino tiba-tiba sakit. Kanker. Itulah James F. Sundah --sang pencipta lagu Lilin Lilin Kecil. Lia, istrinya, juga sudah beberapa kali Camino. Rencana itu kami tunda setahun. Ternyata James meninggal dunia (Disway 9 Mei 2026: James Freddy Sundah).
Saya tidak menyangka dalam perjalanan ke Nagoya ini ada acara ke Tsumago. "Kita Camino di sini saja," ujar teman yang pernah Camino di Spanyol dan sudah tiga kali ”Camino” di Tsumago. Ia seorang pengusaha besar. Besar luar biasa.

--
Camino di Jepang ini disebut Nakasendo. Sedang Camino di Spanyol, Anda sudah tahu: untuk mengenang perjalanan suci Santo Yakobus. Yakni satu dari 12 rasul Yesus yang di Inggris disebut Saint James. Nama perjalanan kaki di Spanyol disebut Camino de Santiago --berakhir di kota Santiago, di sebuah Katedral yang dianggap suci di dunia Katolik.
Camino Nakasendo? Ini untuk mengenang masa silam Jepang --sebelum ada mobil Toyota dan kereta Shinkansen. Rute Nakasendo menghubungkan dua ibukota Jepang masa lalu: Kyoto dan Tokyo --dua nama yang hanya dibalik suku katanya. Ibarat Batavia dan Viabata --seandainya ada IKN di zaman Batavia.
Itu tahun 1603. Zaman Edo. Ibu kota Kekaisaran Jepang mulai dipindah dari Kyoto ke Edo --sekarang disebut Tokyo. Ini tidak semudah pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Viabata. Waktu itu tidak ada jalan dari Kyoto ke Edo. Jauhnya lebih 500 km. Yang ada hanya gunung dan gunung dan gunung. Kata ”gunung” saya tulis tiga kali bukan saja untuk mengindari penyebutan dua gunung juga karena saking banyaknya.

--
Tidak mudah membangun jalan di medan seperti itu. Ups... tidak sulit. Yang dibangun hanya jalan untuk kaki --kaki manusia dan kaki kuda. Cukup jalan setapak. Naik gunung dan turun jurang.
Sebenarnya dibangun juga jalan alternatif. Lewat pantai timur. Persoalannya: banyak muara sungai. Belum ada jembatan. Belum ditemukan teknologi jembatan besar di Jepang. Kalau lewat pantai perjalanan Kyoto-Edo bisa lebih lama --getek harus menunggu banjir reda.
Maka yang lebih dipilih adalah jalan yang di pegunungan. Karena itu disebut 中山道 -- Nakasendo dalam bahasa Jepang atau zhong san dao dalam bahasa Mandarin --artinya: rute di tengah gunung.
Sebenarnya rute itu juga tidak hanya di tengah gunung. Bisa juga disebut di tengah hutan. Manusia masih sedikit. Gunung dan hutan belum ada yang menjarah. Juga tidak ada yang membakarnya.
Tentu kami tidak camino sampai 530 kilometer. Waktunya tidak cukup. Juga otot kakinya. Enaknya di rute Nakasendo 530 km itu dibagi atas 69 etape. Kami dipilihkan dua etape saja. Satu stop. Yakni etape yang terbaik, terfavorit dan tertinggi nilai sejarahnya. Yang memilihkan adalah si pengusaha sangat besar yang sudah tiga kali melakukan Nakasendo.

--
Kami diminta memulai dari Tsumago. Pagi-pagi kami berangkat dari hotel di Inumaya naik mobil ke Tsumago. Setelah berkendara setengah jam masuklah ke keindahan alam pegunungan Jepang. Naik. Turun. Berliku. Ikut aliran sungai. Bersih. Jernih.
Setelah berkendara 1,5 jam tibalah di titik awal camino. Begitu turun mobil di Tsumago waktu terasa diputar balik dengan kecepatan cahaya: begitu cepat tiba ke masa lalu nan lampau. Itulah istimewanya ruas Tsumago-Magome. Kita serasa mendadak berada di tahun 1600-an.
Mulailah kami menapaki jalan tanah, batu dan cadas. Naik. Turun. Naik. Naik. Naik. Belum juga turun. Etape pertama mungkin hanya 1,5 km atau kurang. Tapi kami harus menempuhnya 1,5 jam.
"Kuat pak?" sapa seorang CEO muda dari perusahaan fintech. Ia bertanya begitu sambil memandang tanjakan di depan di tengah hutan momiji --pohon mapple khas Jepang.
"Saya coba," jawab saya.
Kian lama anak muda yang bertanya tadi kian tertinggal di belakang. Dari jauh saya dengar temannya, juga seorang CEO bank digital, bertanya kepadanya: "kuat?". Orang itu menjawab "kalau tidak kuat malu dengan orang tua di depan itu". Ia menjawab dengan suara agak keras seperti ingin memompa semangat saya.
Saya tersenyum mendengar percakapan itu. Saya mencoba tidak menoleh ke kelakang. Saya sudah kenal suara siapa itu. Sudah dua hari kami bersama mereka. Sudah mengenali suaranya satu dengan lainnya.
Saya tersenyum bukan mengejek mereka. Saya tersenyum untuk mengejek diri sendiri. Percakapan seperti itulah yang pernah terjadi 40 tahun lalu. Ketika saya masih semuda mereka. Waktu itu saya memutuskan agar rombongan berjalan kaki saja: dari Makkah ke Arafah. Di musim haji untuk rute itu naik mobil pun tidak akan lebih cepat.
Kami berangkat dari Masjidilharam di Makkah pukul 17.00 --setelah salat asar. Tiba di Arafah pukul 00.00. Di tengah jalan, setiap kali terasa putus asa saya selalu melihat orang yang berjalan di depan saya. Tua. Wanita. Tertatih. "Dia saja kuat. Saya juga harus kuat," kata saya dalam hati.
Teman-teman saya, para manajer saya, tidak ada yang mengeluh. Langkahnya pasti. Kelak, setelah tiba di Arafah saya bertanya mengapa mereka kuat sekali. Padahal saat memutuskan jalan kaki tadi saya punya niat menguji fisik para manajer itu.
"Saya biasa ikut lomba jalan Mojokerto-Surabaya," salah seorang menjawab. Sialan. Saya kecele. Ia manajer untuk perusahaan provider internet. Zaman itu saya sudah mendirikan usaha internet di saat mencari calon konsumen yang mau memiliki email saja sulitnya bukan main. Setelah lima tahun rugi terus, dan terjadi krisis moneter, perusahaan itu saya jual ke manajer tersebut. Harga jualnya seingat saya, Rp1.- Yang penting ia tidak minta pesangon.
"Saya biasa ikut maraton," ujar manajer satunya lagi.
Ternyata justru saya sendiri yang tidak pernah olahraga.

--
Di Nakasendo ini CEO muda yang bilang malu tadi kelihatannya juga jarang olahraga --lebih sering main golf. Di akhir Nakasendo ia berseloroh sambil termehek-mehek "sampai akhir tahun saya sudah tidak perlu lagi olahraga," katanya. Maksudnya, dengan Nakasendo ia sudah ”mendeposito” kan olahraga dalam jumlah besar yang bisa dianggap sudah olahraga sampai akhir tahun. Ia seorang top manajer bank digital yang olahraga bisa dianggap seperti tabungan.
Akhirnya saya tahu, sepertiga rombongan memutuskan Nakasendo sampai stop pertama saja. Mereka meneruskan perjalanan lewat rute mobil. Kami masih bersemangat. Pemimpin tur kami yang memberi semangat. Pengusaha luar biasa besar dengah badan ramping tadi, mengatakan di akhir etape kedua nanti akan ada air terjun di tengah hutan.
Ia seorang pemimpin sejati. Bisa membangkitkan semangat anggota tim yang sudah hampir putus asa. Saya mencatat ucapan itu sebagai motivasi untuk yang lain.
Saya sendiri tidak begitu percaya akan ada air terjun yang menakjubkan di kawasan itu. Sudah banyak objek air terjun kelas dunia yang saya datangi --mana mungkin di situ lebih istimewa. Memang, untuk menjaga kebahagiaan biasanya saya tidak pernah berharap banyak pada apa pun dan pada siapa pun. Takut kecewa.
Maka di akhir etape kedua saya tetap bahagia --meski air terjunnya kalah jauh --pun oleh air terjun Mata Jitu di pulau Moyo, Sumbawa, yang pernah dikunjungi rocker Mick Jagger dan bangsawan Inggris Putri Diana.
Secara keseluruhan saya puas dengan Camino di Nakasendo ini. Inilah peninggalan tahun 1600-an yang di banyak bagiannya masih dipertahankan keasliannya. Khususnya di dua etape yang dipilih tadi. Bangunan-bangunan kayunya masih asli --arsitekturnya maupun kayunya. Jalan setapaknya masih tidak banyak berubah.
Di setiap stop-nya ada kampung kuno. Jepang asli. Di situlah dulu pelancong Kyoto-Tokyo beristirahat. Ada penginapan. Ada restoran. Ada stasiun kendaraannya: stall kuda.
Saya bersyukur diajak Camino di Nakasendo. Sama dengan bersyukurnya saat dua tahun lalu diajak naik gunung Huang Shan --setelah dua gunung sakti lainnya saya daki: Tai Shan di Shandong dan Wuyi Shan di Fujian.
Saya sudah ke Jepang begitu banyak kali. Mulai dari yang paling selatan di Okinawa, Nagasaki, Fukuoka, sampai yang paling utara di Nemuro-nya Hokkaido. Tapi Camino Nakasendo tak kan terlupakan. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Ediai 14 Oktober 2026: Warisan Sumbu
Momon Atun
Sejak ekonomi makin sulit (saya gk sebut nama pleciden lo, anda pasti sudah tahu) karakter orang jawa (Indonesia) berubah.. Haha
Mpok Dipa
MAN 2 Jogyakarta salah satu sekolah fav, tempat anak saya sekolah dulu sebelum pindah kuliah ke Malang. Lokasinya tinggal jalan kaki ke Jogya. Kalau masuk sekolah telat tak boleh masuk ke sekolah menunggu jam pelajaran pertama selesai. Kalau sudah begitu, jalan satu satunya pergi ke alun² sarapan soto semangkuk 8k ditambah 1 mendoan 2k plus gratis teh tawar anget. 10k bisa menahan lapar sampai waktu makan siang tiba he he he
Mbah Mars
Koneksi Abah ke segala komunitas kita acungi jempol. Apalagi dengan komunitas Tionghoa dan NU. Namun, koneksi dengan Muhammadiyah serasa masih minim. Dulu, di Jawa Pos, bisa dieliminir dengan adanya para wartawan top seperi Joko Susilo yg juga aktif di Muhammadiyah. Sekarang rasanya belum tampak dari Disway. Sebenarnya kalau mau, Abah bisa mampir shalat di Kantor Pusat Muhammadiyah Jl. Cik Di Tiro. Bangunan dekat kampus UGM ini menempati tanah wakaf KH. AR. Fahrudin, ketua Muh 20 tahun. Abah bisa mengulik persiapan Muktamar Muh yg akan diselenggarakan di UMSU Medan. Sudah menjadi tradisi dekade akhir ini, muktamar selalu meninggalkan bangunan ikonik seperti gedung Sportorium di Kampus UMY yg bergaya mohak. Pada muktamar ke49 thn depan sedang bangunan ikonik seperti itu sudah dlm tahapan finishing. Abah juga bisa bertanya tentang dinamika kegiatan ekonomi di Muh. Atau jika suka bisa mampir di Musium Muh di kampus UAD. Karena Abah wartawan bisa menginap di SM Tower milik majalah Suara Muhammadiyah. Majalah ini merupakan majalah tertua yg masih eksis hingga sekarang. Atau...Abah mungkin bingung mau menulis yg kontroversial di Muh ya. Nah, kalau yg bikin heboh-heboh seperti itu memang sulit diperoleh di Muh. Oia Bah, seandainya Abah kemarin mampir ke kantor Muh, pasti akan mendapat info tentang Tanwir yg akan diselenggarakan di UM Palu pada 19-21 Nop 2026. Di tanwir inilah ditetapkan nama2 yg akan dipilih menjadi pimpinan Muh (13 orang)
djokoLodang
-o-- *) Di kota Bandung juga ada sumbu Selatan-Utara. Yang menghubungkan Gedung Sate --pusat pemerintahan Prov Jawa Barat-- dengan Monumen Perjuangan dekat kampus Unpad. https://www.google.com/maps/@-6.896953,107.617903,15.42z?entry=ttu&g_ep=EgoyMDI2MTAxMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Seseorang yang sedang berdiri di Gedung Sate menghadap ke utara bisa melihat dengan jelas sumbu itu hingga Monumen Perjuangan, serta gunung nun jauh di baliknya, yaitu Tangkuban Perahu. Kawasan ini sedang dibenahi oleh KDM, Gubernur Jawa Barat. --0-
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
WARISAN FILOSOFI, UJIAN IMPLEMENTASI.. Menarik. Yogyakarta bukan sekadar mewariskan bangunan bersejarah. Ia mewariskan cara pandang tentang kehidupan. Dari lahir, menjalani hidup, hingga kembali kepada Sang Pencipta. Tetapi, melestarikan warisan dunia memang tidak cukup dengan memasang papan bertuliskan UNESCO. Filosofi harus diterjemahkan menjadi kebijakan. Lalu diuji dalam pelaksanaannya. Malioboro menjadi contoh nyata. Menata kawasan pejalan kaki ternyata bukan sekadar melarang mobil masuk. Ada jalan-jalan yang memotong kawasan, sekolah yang harus tetap berfungsi, serta aktivitas ekonomi dan sosial yang tidak bisa dihentikan begitu saja. Di sinilah tantangan sesungguhnya. Bagaimana menjaga nilai sejarah tanpa mematikan kehidupan kota? Mungkin Shanghai bisa menjadi referensi. Tetapi Yogyakarta tidak harus menjadi Shanghai kedua. Karakter kota, pola jalan, dan perilaku masyarakatnya berbeda. Saya kira, ukuran keberhasilan pak Hasto bukan berapa banyak kendaraan yang berhasil disingkirkan. Melainkan berapa banyak kepentingan yang bisa diakomodasi tanpa mengorbankan nilai filosofisnya. Sebab, warisan dunia bukan hanya untuk dipamerkan kepada wisatawan. Ia harus tetap hidup bagi warganya. Filosofi boleh berusia ratusan tahun. Namun, pengelolaannya harus selalu relevan dengan zaman. ### Ssst. Yogya, kotaku..
DeniK
warisan sampai sekarang kelompok supporter PSIM Yogja tidak pernah akur dengan supporter Persis Solo itu juga warisan budaya .mungkin .
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Jokosp Sp.. ANTARA MITOS DAN KENYATAAN.. Keluarga saya tinggal di dalam beteng Keraton Yogyakarta. Tapi di lapis kedua. Saat SMP di SMP Negeri 3 Yogyakarta, saya sekelas dengan tiga putra HB IX dari selir berbeda. Sejak kecil saya sering ke keraton, ke tempat kerja Bapak, seorang abdi dalem rendahan. Saya tahu gerbang menuju terowongan bawah tanah. Konon, tembus ke istana Kanjeng Ratu Kidul. Gerbangnya setiap saat, dijaga abdi dalem. Tetapi, yang menjaga pun belum pernah masuk ke dalamnya. Orang tua saya percaya hubungan spiritual itu raja dengan Kanjeng Ratu Kidul. Kalau saya tidak. Menurut saya, mitos itu sengaja dihembuskan. Agar rakyat percaya, bahwa selain pengawal yang kelihatan, raja juga punya pengawal tak kasatmata. Bahasa sekarang: pengawal virtual. Jadi, jangan coba-coba melawan raja! Buktinya, seorang putra HB IX pun tidak percaya begitu saja. Bersama tim pencinta alam, pada tahun sekian, terowongan tua itu ditelusuri. Membawa peralatan pencinta alam lengkap, termasuk gas dan persiapan menghadapi ular dan binatang lainnya. Ternyata, lorongnya bercabang. 1) Satu menuju gudang senjata kerajaan. 2) Satunya menuju rumah pangeran, yang dahulu menjadi panglima prajurit. Jadi, lebih masuk akal jika lorong itu, dan juga mitos-mitosnya, adalah bagian dari sistem pertahanan kerajaan.
ALI FAUZI
Pembangunan Keraton Yogyakarta memang berdasarkan prinsip kosmologi Jawa. Yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta. Bersumbu utama Laut Selatan - Gunung Merapi. Apakah Gunung Merapi - Tugu - Keraton - Panggung Krapyak - Laut Selatan berada dalam satu sumbu (sebaris lurus}? Secara geographi ternyata tidak. Gunung Merapai - Laut Selatan itu cuma sumbu imajiner. Sumbu nyatanya yang sepanjang 6 km itu: Tugu - keraton - Panggung Krapyak.
Turrachman Rachman
Yang pasti di Nanjing Dong Lu. ”Malioboro”--nya Shanghai. Tidak ada bolo sego. Yang harus ketemu Mr. Parkir. Saya kira itu juga problem yang tidak kalah rumit dengan jalan kecil yang "memotong " Malioboro .
Momon Atun
Kelemahan paling utama di Yogyakarta menurut saya (sebagai penikmat trasportasi umum) adalah trasportasi umumnya.. Trasjogja tidak menjangkau semua pusat pusat kabupaten di jogjakarta. Tidak punya jalur sendiri, yg membuat klw macet ikut macet. Jalur yg di lalui trasjogja macam penyanyi dangdut saja, ruwet gk simple, klw gk biasa bingung transitnya, misalnya mau muter ringroat saja harus gonta ganti bus padahal itu jalan cuma muter doang. Padahal daerah wisata tapi trasportasi umumnya berantakan.. Haaddduuwwhh Ada potensi di KRLnya, tapi sejuta syang stasiun2 kecil dr jaman belanda yang tersebar di sepanjang rute malah tidak berhenti, semua numpuk di tugu lempuyangan, yg sudah crowdit ruwet seruwet kabel internet tiang listrik. Padahal klw itu di kembangkan bisa meringankan beban jalan jogja yg sudahlah kecil kendaraanya banyak sekali. Bagus lagi jalur kreta bisa di tambah sampai pusat2 kabupaten, seperti jepang.
Ahmad Zuhri
Yg kurang asyik menikmati Malioboro adalah bau pesing yg menyengat, itu akibat kuda Andong yg pipis sembarangan.. kl untuk kotoran nya mmg udah ada wadah nya, tapi untuk pipis nya kayaknya kok blm ya.. Mungkin perlu dipikir solusinya bagaimana, apakah perlu dipasang semacam kateter gitu, atau mungkin kantong wadah pipis, bisa jg pampers teknologi terkini.. Itu pengalaman 2/3 tahun yg lalu, entah kl sekarang..
djokoLodang
-o-- *) Mengapa Krapyak --tempat perburun rusa-- bisa diartikan sebagai asal-mula kehidupan? (bagi keluarga Hamengku Buwono). ~ Ada sudut pandang lain --selain yang sudah diuraikan Kangmas Agus Suryono. Bukankah disway bukan sekedar berita, melainkan sudut pandang? *) Dalam hati kecilnya, Hamengku Buwono merasa bukan manusia lumrah, melainkan sebagai manusia "linuwih", keturunan dewa. Sebagaimana kaisar Jepang dipercaya sebagai anak-cucu Amaterasu. Begitu pula raja di Mesir, keturunan "Ra". Bahwa raja jawa adalah keturunan dewa, itu terkait kisah Prabu Pandu --maharaja Hastina dalam cerita wayang-- yang memanah rusa jantan yang sedang memadu kasih di hutan hingga tewas. Muncullah kutukan sang rusa, (yang sebenarnya jelmaan dewa dari kayangan), bahwa Prabu Pandu akan menemui ajalnya saat nanti berkasih-kasihan dengan Dewi Madrim, istrinya. Dan itu lah kemudian yang terjadi. Syahdan, setelah Prabu Pandu mangkat saat memadu-asmara bersama Madrim, permaisuri Dewi Kunthi yang punya ajian ajaran gurunyi dulu, bisa memanggil/mendatangkan dewa. Dan, ternyata bukan hanya satu dewa yang datang. Sehingga lahirlah Pandawa Lima --Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa. Mereka sejatinya bukan putera Pandu. Ironisnya, kata 'pandawa' secara harfiah artinya putra Pandu. --0-
Kujang Amburadul
Sudah saatnya pemerintah berfikir untuk sedikit merubah arah, mengembalikan jatidiri bangsa kearah agraris dan maritim. Mulai perkuat kembali industri pertanian, perikanan, kehutanan sebagai industri utama yang produktif dan ramah lingkungan. Setidaknya kalau itu sudah menjadi ketahanan pangan kita, baru AI boleh masuk untuk mendukungnya. AI bukan makanan manusia. Membiarkan AI duluan menguasai ekonomi kita sebelum ketahanan pangan, bisa habis bangsa ini. Impot-impor terus bahan pangan padahal SDA masih bisa dikelola. Bereskan dulu kutu-kutu di bidang pangan, basmi dulu oligarki yang menguasai bidang ini, preman-preman, tengkulak, pengijon. Perbaiki tata kelola agar petani kecilpun ikut untung dan memberikan partisipasi penguatan pangan di tingkat bawah. Pemerintahlah yang harus menguasai semuanya (tentu saja harus membersihkan dulu pejabat2 korupnya). Tiongkok teknologi AI-nya bisa maju dan berkembang, tetapi mereka kan tidak lupa dan sudah kuat pada industri ketahanan pangannya.
Juve Zhang
IMF peringatkan AI membunuh pekerja muda yg diganti oleh otomatis AI....sangat tepat sekali peringatan IMF.... begitu lah kemarin saya komentari panjang bahwa pembangunan Data center AI di Jatiluhur dan Batam dll akan sangat berbahaya bagi Indonesia karena ini wujud "tenaga kerja asing" milik Meta Amazon Microsoft google yg ikut mengambil pekerjaan lokal di seluruh dunia....mereka akan menyebabkan pengangguran membludak di seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia....mereka merebut gajian pekerja muda dengan otomatisasi pekerjaan oleh AI.... artinya sejatinya Meta Amazon Microsoft google dll itu akan merebut gajian pekerja lokal masuk kantong mereka ....jadi penyerbuan oleh pekerja asing masuk ke Indonesia dalam wujud software super canggih dan sarana nya ya pusat data center AI di Jatiluhur di Batam di Mana saja akan dibangun...mereka lah "Tenaga Kerja Asing" yg wujudnya software super canggih bukan manusia asing ....tapi mereka akan bekerja di Indonesia secara "legal" tak melanggar aturan....ini sangat berbahaya bagi Indonesia dan seluruh dunia serbuan AI super canggih buatan Meta Amazon Microsoft google tak bisa dibendung...jika mau bendung maka harus di stop pembangunan Data center AI di Jatiluhur...bilang saja air Jatiluhur untuk minum saja gak cukup...maka proyek di stop..
heru santoso
Seandainya saya Gibran, saya tidak akan buru-buru keluar istana. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Tamiya yang dikirim dari Balai Kota Solo masih tersimpan dalam beberapa kotak. Merakit Tamiya itu mengasyikkan. Ada teknik, seni, sekaligus filosofi. Part-nya kecil-kecil dan presisi. Bodinya aerodinamis, lekukannya indah. Tenaga listrik harus disalurkan secara tepat agar seimbang menanggung beban dan menghasilkan kecepatan optimal. Saya akan tetap di dalam istana ini beberapa hari kedepan. Saya memikirkan beban yang begitu kompleks, dan perlu disalurkan kepada banyak pihak. Ada yang dibagi ke parpol, ada yang diserahkan kepada pakar, ada yang dibawa ke Senayan. Anda sudah tahu, sebagian beban, entah bagaimana, mengalir ke Solo. Maka, hari ini saya memilih berkonsentrasi merakit Tamiya di dalam istana. Supaya bisa berjalan dengan kecepatan optimal dan tidak oleng hingga 2029.
Jo Neka
2014 sampai 2024 di suatu kolam juga ada warisan "Sumbu"..Ya anda benar.Sumbu panjang dan sumbu pendek.Mungkinkah warisan itu masih ada.Anda lebih tahu.
my Ando
namanya 'cocoklogi' atau di Jogja dikenal sbg 'othak athik mathuk' Krapyak tepatnya adl simbol sebelum kelahiran yaitu perburuan (jodoh), yaitu rusa diburu utk disantap atau kalo sayang dipelihara dan beranak pinak, hehe gathuk ora son ? nek ora yo skip
Er Gham 2
Kalo musim liburan, dan malioboro sangat padat, maka itu wisata 'orang lihat orang'. Bukan semisal wisata lihat pemandangan, hewan, atau bangunan artistik.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Wilwa.. Suksesi Raja Jawa, baik Mataram, Yogya dan Solo ternyata banyak yang tak mulus.. ### Sampai sekarang..
Wilwa
Setiap kali melewati Kali Angke, Tanah Abang, Kampung Bugis, Kampung Bali, Glodok, seperti melihat puzzle sejarah Jakarta yang rumit. Geger Pacinan terjadi 9 Oktober 1740 terkait dengan wilayah-wilayah di Jakarta tersebut yang kini sudah berubah total demografinya. Bermula dari turunnya harga gula yang berdampak pada pabrik-pabrik gula di sekitar Batavia hingga ke pedalaman Surakarta. VOC pening akibat krisis harga gula mulai membatasi buruh imigran pabrik gula dari Tiongkok. Bahkan mendeportasi mereka ke Srilangka. Namun konon mereka tak pernah sampai ke Srilangka karena di tengah perjalanan dibuang ke laut. Begitu desas-desus yang meresahkan puluhan ribu bila bukan ratusan ribu Tionghoa di sekitar Batavia. Kerusuhan meledak dan VOC bertindak tegas dengan membantai minimal 10 ribu Tionghoa di sekitar Kali Angke. VOC mengerahkan tentara lokal dari Bugis dan Bali yang bermukim di Kampung Bugis dan Kampung Bali tak jauh dari Tanah Abang dan Kali Angke. Disebut Tanah Abang / Tanah Merah konon terkait dengan genosida 1740 tersebut. Merah oleh darah. Dan disebut Kali Angke (logat Hokkien) karena kanal 渠 itu berwarna merah 红 oleh darah. Hong/Ang 红 Qu/Ke 渠. Beberapa dekade setelah kerusuhan, Tionghoa yang selamat dikumpulkan VOC di Glodok dan diawasi dengan ketat. Geger tersebut juga merembet ke Surakarta (Perang Jawa 1741-1743). Persekutuan Tionghoa-Jawa melawan VOC & Pakubuwono II, yang menyebabkan Kartasura runtuh. VOC menumpasnya dengan bantuan dari Madura (Cakraningrat IV).
Macca Madinah
Moga-moga wawali-nya (wakil wali kota) juga cemerlang, minimal di sosmed tidak menghimbau jangan asal viral terkait pungutan sejuta sehari di alun-alun kidul yang diakui jukir sebagai "kesepakatan" dengan foodtruck umkm-nya. Duhhh. Malah walkot (bukan wawalkot) yang sudah menyiapkan mou maupun pks dengan keraton menanggapi kasus pungli dibungkus kesepakatan itu. bravo memang walkotnya cemerlang, semoga ke depannya tetap amanah, fathonah, tegas.
Langlang Turker
Kemarin sudah laporan Senin sore berlanjut antra BBM mengular sampai kilometeran... Dan pagi ini selasa, sampai jam 9an, teman sudah antre beberapa jam cari solar, kehabisan. hampir seluruh bali kehabisan BBM. permainan macam apa ini? pak boss koar-koar stock aman, nyatanya? klo yang subsidi habis, Pertamax dan Dexlite mestinya ada, nyatanya entah sembunyi dimana...... 80 than Indonesia Merdeka...... makin kesini makin kacau negara ini, ngurus BBM saja begini....1000 alasan...
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 28
Silahkan login untuk berkomentar