James Freddy Sundah
--
"Jenazahnya dibawa ke Jakarta?"
"Tidak. Ia dimakamkan di New York. Senin lusa".
Anda sudah tahu: Musisi terkemuka Indonesia, James F, Sundah, meninggal di New York. Kemarin malam (WIB). Atau 7 Mei 2026 pukul 11.00 waktu setempat.
Berarti James hanya bertahan dua tahun sejak ditemukan kanker pada paru-parunya. Pengobatan terbaik sudah didapat. Rumah sakit terbaik sudah merawatnya. Penanganan terbaik sudah dilakukan. James juga sudah berhenti merokok. Kemo sudah dijalani. Semula seperti membawa hasil, akhirnya diketahui: kanker sudah menjalar ke liver dan ke tulang.
Berarti sudah dua tahun lamanya Lia Sundah Suntoso merawat suaminyi. Sepenuh hati.
Awal saya tahu James sakit datang dari tangis istrinya. "Saya belum siap ditinggalkan James," ujar Lia saat itu sambil meraung-raung di telepon jarak jauh.
Hari itu Lia diberi tahu dokter: di paru James ada semacam kabut. Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan kabut itu menjadi jelas: kanker. Stadium tiga.
Sejak itu Lia melakukan riset mengenai penyakit sang suami. Termasuk mencari tahu siapa dokter ahli di bidang itu. Di mana rumah sakit terbaik.
Biaya tidak jadi persoalan. Asuransi yang diikuti pasangan ini menanggung segalanya. Sebagai pemegang status permanent residence James dan Lia punya hak pengobatan sama dengan warga negara Amerika pada umumnya.
Selama dua tahun itu dua kali saya ke New York: tinggal di rumah mereka. Saya melihat begitu banyak obat yang harus diminum James. Kadang James merasa itu terlalu banyak. Saya pernah menghitung: 17 macam, termasuk berbagai vitamin dan suplemen. Kadang Lia sambil mencium James untuk bisa memasukkan obat itu satu per satu.
Saat kedua kali saya New York, James sudah seperti orang sehat. Saya sempat diajak jalan-jalan –James yang pegang kemudi. Rambutnya panjang seperti di masa lalu tapi sebenarnya itu adalah wig. Rambut aslinya rontok akibat kemoterapi.

Saya dan keluarga (Azrul Ananda, Ivo Ananda, dan Andretti Ananda) saat bertemu James Sundakh serta Lia di Katz Deli New York, 2024 silam.--
Optimisme James juga tampak meningkat. Ia sampai membeli peralatan podcast. Lewat podcast ia ingin membahas banyak hal tentang musik.
James juga mengisi waktu dengan menonton TV: mengikuti perkembangan politik Indonesia. Pengetahuannya tentang perkembangan terakhir di tanah air mengalahkan Anda –setidaknya mengalahkan saya.
Yang paling berharga bagi Lia adalah: James masih bisa berkonsentrasi untuk menciptakan lagu khusus bagi sang istri: Seribu Tahun Cahaya. Lagu itu sudah dirilis tahun lalu dengan penyanyi Claudia Emmanuela Santoso.
STC, katanya, mungkin baru akan meledak beberapa tahun ke depan. Itu karena corak lagu Seribu Tahun Cahaya mendahului zamannya.
Lilin Lilin Kecil masih menjadi lagu terbaik ciptaan James. Itu lagu abadi. Hidup dari zaman ke zaman.
James telah menciptakan begitu banyak lagu untuk begitu banyak penyanyi terkemuka. Sebut saja Vina Panduwinata, Chrisye, Krisdayanti, Ruth Sahanaya, Sheila Majid, Nicky Astria, dan siapa saja.
Bahkan James pernah menciptakan lagu bersama kelompok musik dunia, Scorpions.
Kemampuan James berbahasa Inggris membuatnya punya jaringan yang sangat luas dengan musisi dunia. Termasuk dengan lembaga lembaga musik Amerika.
Di Amerika pula James mendalami masalah hak cipta. Utamanya hak para pencipta lagu untuk mendapat royalti. Ia berada di garis depan dalam memperjuangkan hak cipta itu.
Akhir Juli nanti sebenarnya saya berencana menengok James lagi. Sekalian melihat Piala Dunia sepak bola di sana. Saya juga ingin tahu bagaimana Wali Kota baru New York, Zohran Mamdani, memanfaatkan event dunia itu untuk ekonomi lokalnya. Rasanya hanya Mamdani pejabat Amerika yang sangat antusias menyambut Piala Dunia. Ia pernah nonton Piala Dunia saat event itu diselenggarakan di Afrika Selatan. Ia masih bisa menirukan lagu Waka Waka yang dipopulerkan Shakira di sana saat itu.
Dengan meninggalnya James saya belum tahu apakah akan tetap ke Amerika. Saya tidak menyangka di negeri yang serbabisa tidak bisa menyembuhkan kankernya James.
Kian lama sikap Lia sendiri sudah semakin realistis: dia tahu kanker James sudah ke mana-mana. Maka Lia merawat James di rumah saja. Yakni di rumah mereka yang di Queen. Mereka masih punya satu rumah lagi di bagian lain New York. Saya pernah diajak ke rumah itu.
Sehari sebelum meninggal James minta es krim. Lia membawanya ke depot es krim tidak jauh dari rumah. James dinaikkan kursi roda. Lia yang mendorong. Udara Mei masih sangat sejuk.
James memang sangat suka es krim. Utamanya jenis rum raisin dan cokelat. Lia memesannya satu gelas. Dimakan berdua. Itu agar James tidak terlalu banyak makan es krim.
Besok paginya Lia masih memasakkan sarapan untuk James: jevity with egg whites –jevity ditambah putih telur.
Jevity adalah makanan bagi orang yang sakit berat dan sudah sulit makan. Makanan itu produk pabrik makanan bergizi dengan kandungan lengkap: kalori, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan serat.
Lia lantas menyuapi James dengan sabar –satu suapan diselingi satu jenis obat. Sangat pelan dan lama. Belum lagi selesai sarapan Lia harus ke kamar mandi. Kembali dari kamar mandi Lia akan menyuapi James lagi. Tapi Lia melihat James menarik satu napas panjang...lalu lemas. Lia menjerit dan memanggil stafnya yang ada di rumah itu. James meninggal dunia. New York, 7 Mei 2026, pukul 11.28.
Dua staf Lia ada di rumah itu saat James meninggal. Lia adalah pengacara imigrasi di New York. Saya pernah ke kantornya yang strategis. Juga pernah diajak ke pengadilan imigrasi di New York.
Hari itu juga jenazah James disemayamkan di rumah duka tidak jauh dari rumahnya. Di situ akan dilaksanakan doa dari berbagai agama: Katolik, Protestan, Islam, dan Buddha. James dikenal dekat dengan kelompok berbagai agama di New York.
Para pelayat diminta untuk tidak mengenakan pakaian hitam atau putih –yang biasa untuk melambangkan duka. Pelayat diminta untuk berpakaian warna merah, biru, ungu, oranye atau yang mengandung unsur warna itu. Pokoknya tidak hitam putih.
James akan dimakamkan di St. John Cemetery –sekitar 20 menit dari rumah mereka. Ini adalah pemakaman yang istimewa. Dibuat tahun 1932. Banyak tokoh terkemuka dimakamkan di situ: Mario Cuomo dan beberapa wali kota New York.
Sebenarnya masih ada satu acara yang ingin kami lakukan bersama James dan Lia: Camino. Yakni perjalanan suci ke Katedral St. James di Santiago di Spanyol barat laut. Mestinya kami lakukan dua tahun lalu. Tertunda. Kini tidak mungkin lagi.
James Freddy Sundah sudah tiada. Tapi Lilin Lilin Kecil akan terus menyala. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 8 Mei 2026: MBG
Laksana DedeS
MBG mungkin bagus, tapi sistem yang dibangun sangat rentan dan tergantung program, kebijakan, dan instruksi pemerintah. artinya kalau pengambil kebijakan berganti kebijakan anggaran (anggaran MBG di stop) semuanya bubar. Dampak ikutan yang di klaim dan dibangga-banggakan ikut terhenti. Lain halnya kalau sistem yang dibangun sekolah disiapkan untuk penyediaan makanan bergizi secara mandiri. Anggaran yang dikucurkan untuk membangun sekolah secara mandiri menyiapkan makan bergizi dan rantai pasoknya. Suatu saat anggaran pemerintah berhenti sekolah dengan dapur yang siap beserta rantai pasoknya sudah terbentuk. Anggaran operasional bisa dari orangtua atau cukup subsidi sebagian untuk sektor pendidikan.
Gregorius Indiarto
Kalau harus memilih. MBG atau KMP. Saya pilih MBG. MBG langsung menyentuh rakyat, meski sentuhannya hanya sedikit. Tapi jadilah, sedikit sentuhan bagi yang tidak pernah mendapat sentuhan, akan terasa lebih bermakna. Sementara KMP, yang juga menyentuh rakyat, tapi (saya menduga) hanya rakyat "pilihan", terutama yang sealiran. Kelak pasti akan banyak dana yang menguap, sekarang sedang dalam proses diuapkan. Atau lagi, jangan jangan malah sudah ada yang menguap.
Udin Salemo
perpindahan duit dari orang banyak (pedagang depan sekolah) ke satu orang (pemilik mbg). amsiong.
ikhwan guru sejarah
Kalau mau hitung-hitungan MBG, Hitung berapa yang dibuagn sebagai sampah karena tidak termakan. Hitung berapa uang yang turun ke dapur, berapa yang nyangkut di perantara yg kebanyakan adl anggota dpr dprd, berapa yang menguap ke kantong para pengurus , berapa yg terselip dari pengadaan barang yang gak perlu macam motor trail. MBG adalah korupsi di bawah terik matahari siang bolong .. terang benderang.
Udin Salemo
bahkan pemilik mbg dan pemasok bahan makanan pertumbuhan usahanya mungkin lebih dari 5,61%. tapi usaha kecil yang jualan di sekolah jangankan tumbuh tapi nyungsep. bahkan gulung tikar. kasihan sekali. amsiong, kata "wakhaji" JZ.
gubernur kota
Tanpa Lebaran, Imlek dan MBG, ekonomi kita tumbuh 6%.
djokoLodang
-o-- Barusan baca berita, PT KAI resmi mengganti nama K.A. Argo Bromo Anggrek menjadi K.A. Anggrek. Konon kabarnya, karena inngin buang sial. Disertai daftar kecelakaan hebat K.A Argo Bromo Anggrek: 200-2010 4 kecelakaan 2010-2014 3 kecelkaan 2025 1 kecelakaan 2026 yang baru saja terjadi di Bekasi Timur. Semua kecelakaan di atas termasuk hebat: beberapa kali tabrakan dengan truk dan mobil, kecelakaan k.a Argo Bromo sendiri--anjlok--, dan bahkan tabrakan yang melibatkan k.a Senja Utama di Pemalang, 2 Oktober 2020. Peresmian penggantian nama pakai upacara mirip ritual yang dilakukan di depan lokomotif. *) Apa keberatan nama? Berani-beraninya pakai nama Argo Bromo? --0-
Wilwa
@KoJo. Hmmmm. Bromo itu bahasa Jawa untuk Brahma. Sebutan dalam Hindu yang setara dengan Allah dalam Islam. Hanya saja karena mayoritas rakyat Jawa ganti agama dari Hindu menjadi Islam maka mereka mende-sakral-isasi istilah Bromo. Bayangkan bila kelak Islam diganti agama lain, lalu ada kereta api dinamakan K.A. Allah? Apakah akan terjadi kecelakaan karena “keberatan nama”? Kalau saya pribadi berdasarkan pikiran “non-klenik” berpendapat kecelakaan kereta api itu tak ada korelasi dengan nama “tuhan” tertentu tapi faktor human error adalah faktor utama.
Taufik Hidayat
Keren sekali MBG ini bisa menaikkan pertumbuhan ekonomi pada kwartal pertama 2026 menjadi lebih besar dari 5 persen. Bagus sekali Bua dikembangkan terus . Buka cuma anak sekolah yang dapat MBG, tapi mahasiswa , ASN, pegawai swasta, TNI POLRI, dan semua masyarakat dapat MBG, dijajah pertumbuhan nak 4 x lipat jadi 20 persen. Dalam waktu 5 tahun PDB kita akan melesat jadi salah satu negara terkaya di dunia . Gak perlu industri, gak perlu macam macam . Cukup MBG. Betul atau salah? Bermanfaat atau tidak ?
Er Gham 2
Pernah ketemu dua petugas sppg yang antar makanan. Ternyata mereka benar pakai sepatu pantofel. Pakai celana panjang hitam kain -- bukan jeans-- dan batik lengan panjang. Model batiknya seragam. Pakai sarung tangan dan masker. Mobil grandmax nya bersih. Sepertinya harus dicuci setiap pagi. Mungkin begitu SOP nya sekarang. Ada famili pernah dikasih satu rantang makan MBG saat kebetulan ada acara di suatu sekolah. Oleh seorang guru. Dari stok rantang yang tersisa karena beberapa anak tidak masuk sekolah. Disuruh coba. "Enak juga. Pas rasa nya", begitu katanya. MBG ini mungkin bagus kalo tepat sasaran. Dan jangan dikorupsi. Anggaran nya besar yang mengucur tiap hari. Ibarat kue, kemungkinan ada 'oknum' dan 'bandit' yang ingin juga menikmati kucuran kue yang besar dan lezat itu.
Er Gham 2
Kalo punya atasan yang eks militer, mungkin bawahan lebih nyaman terbiasa jawab saat diskusi dengan jawaban, "Siap, Pak". Atau menjawab, " Siap, nDan". Padahal atasan baru sekedar ajak diskusi. Mungkin karena takut, jadi selalu jawab, "Siap". Prajurit selalu jawab, " Siap". Walau tidak setuju. Berbeda dengan prajurit di Amrik sana, jika prajurit ditanya namun dia tidak setuju, dia bisa jawab, "Sir, No Sir". Bukan, " Sir, Yes Sir". Jadi punya alternatif jawaban dan tetap hormati atasan dengan kata "Sir". Di sini, gak ada pilihan. Jadi selalu jawab, " Siap". Atasan: "Bagaimana sanggup 25.000 dapur sampai akhir tahun? ". Bawahan, " Siap, Pak". Akhir nya dibuat secara tergesa. Di kota kota besar. Bukan di pelosok atau daerah minus. Yang penting bangun dulu.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Liang.. LILIN KECIL YANG ABADI.. James F. Sundah telah pergi. Maestro itu menutup usia, namun melodinya menolak sunyi. Kita mengenangnya lewat lagu "Lilin-Lilin Kecil". Sebuah lagu yang lahir dari kompetisi, lalu menjadi nyawa bagi musik Indonesia. Liriknya sederhana. Baris-baris kalimatnya puitis tapi tidak pretensius. Itulah kekuatan James. Ia mampu memotret harapan dalam kegelapan hanya dengan denting piano dan narasi yang tulus. Gaya menulisnya mirip cara ia bicara: tenang namun berisi. James bukan sekadar pencipta lagu hits. Ia adalah kurator rasa. Di tangannya, musik pop naik kelas menjadi karya sastra yang populer. "Lilin-Lilin Kecil itu masih memberi seberkas cahaya," tulis pak Liang, penggemarnya. Benar adanya. Lagu itu melampaui zaman, melampaui suara Chrisye yang melambungkannya. Dunia musik kehilangan arsitek harmoni yang rendah hati. James mengajarkan kita bahwa karya besar tidak butuh teriakan. Cukup keikhlasan dan sedikit kepekaan menangkap keresahan jiwa. Kini, sang lilin memang padam secara fisik. Namun, sinarnya sudah terlanjur meresap ke dalam sanubari setiap pendengar setianya. Selamat jalan, James. Istirahatlah dengan tenang di antara simfoni surgawi. Teruslah bercahaya di sana.
Muh Nursalim
Saya pernah memulung. Ya, bener2 menjadi pemulung. Mencari sampah limbah MBG. Lumayan juga. sisa2 makanan itu cukup kenyang saya bagi ke 20 kambing. Ada nasi, sayur, kulit semangka dan tentu plastik2 n sendok yang hrs saya singkirkan dulu. Padahal hanya dari satu dapur. Mendekatlah para peternak. Bebek, ayam, mentok dan kambing. Di dapur MBG banyak pakan organik yang lumayan. Jijik. Tapi kambing dan entok senang.
pak tani
MBG akan terus berjalan. Dengan atau tanpa dukungan anda. Oops, apakah terlalu vulgar? Mari kita tela'ah dengan kepala dingin. Setiap Program tentu ada pro dan kontra. Siapa bisa sebutkan program pemerintah yang tidak ada kontra? Toh. selama ini pemerintah terus memacu program2 nya. Tanpa meminta persetujuan rakyat kan? Apalagi MBG. Super program yang ternyata juga menjadi 'senjata' pemerintah untuk mengerek PDB kita. Kritikan kepada MBG tidak akan membuat programnya berhenti. MBG Disempurnakan? masih mungkin, semoga pemerintah mau dan berusaha. Sekaligus jawaban untuk kritikan masyarakat. Lalu bagaimana? Kalau tidak bisa dihindari, maka sebaiknya dinikmati. Bagi pelaku usaha yang sedang surut, jangan lawan arus. Saat Ini memang masa nya MBG, jika bisa cari peluang usaha dengan pihak2 yang ada hubungan dengan MBG. Itu salah satu jalan keluar. Jika tetap ngotot kritik membabi buta pun, saya rasa pengaruh ke dompet anda tetap 0. Tidak mungkin tiba2 besok pemerintah menghentikan MBG karena banyak yang mengkritik kan? Silahkan kritik terus dengan keras. Tapi jangan membenci hingga buta nurani. Kalau yang dikritik tidak berubah, jangan sampai terbawa emosi dan berubah menjadi negatif di kehidupan sehari2. Ingat. Kesehatan anda dan dompet anda nomor 1 :)
zuliati zaeni
Awall Februari kDMP mulai dibangun ditanah bengkok didesa saya. Sementara Akhir Februari xxxxmart MBK(Merah Biru Kuning) bangun toko kedua berjarak 200 m dari toko pertama yg ramai sekali. Yg saya amati: 1. lokasi 2 xxxxMart tersebut di jalan besar yg ramai. Sementara KDMP dibangun di jalan kecil ditengah persawahan. 2. xxxxMart dibangun super cepat 24 jam non stop dan sekarang sudah di buka minggu lalu. 3. KDMP dibangun super siput, tukang dan kulinya ogah2an, jam 8 baru datang dilokasi duduk dulu rokoan, duhur istirahat kerja lagi sebentar jam 4 pulang. Sampai sekarang progress isik 30%. Saya grisihen nguwasno. Melihat ini saja masa depan KDMP bisa dilpastikan dari sekarang.
DeniK
kemarin menonton sidang the bottlenecking seru .para pejabat adu argumen masalah penghambat investasi .mereka merasa benar tdk mau di salahkan . yang jadi hakim sang Menkeu dengan gaya khas nya . cuma sayang yang menonton sedikit , rakyat kita lebih suka nonton drama setingan mama gufron hahahaha.
Tiga Pelita Berlian
Kalimat "Saya lebih memperhatikan mimik Menkeu Purbaya.. dst " Hmmmm... Menilai orang dari "mimiknya" sangat patut diragukan objektivitas nya .. hehehe Seklangkong
Tiga Pelita Berlian
Alhamdulillah.. pagi tadi sempat nonton Chanel yutub nya Pak Fery Irwandi yg menjelaskan ttg pencapaian pertumbuhan ekonomi 5,61% tsb. Bagi yg awam ilmu ekonomi seperti saya, penjelasan beliau bisa saya cerna. Seklangkong
Achmad Faisol
apa perbedaan utama mbg dan hilirisasi...? pegawai mbg, bahkan sppg, digaji pemerintah lewat apbn... hilirisasi lebih ke peran swasta, apbn ga terkuras... jika nanti kdmp berjalan, siapa yang menggaji pegawainya...? dua tahun pertama adalah agrinas pangan nusantara (bumn)... masalahnya sebagian dana desa untuk kdmp... berarti apbn lagi... bisakah upaya pemerintah -- mbg dan kdmp -- tidak membebani apbn...? mengapa penting...? karena apbn bersumber dari: anda sudah tahu...
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Ssya mau buat komentar CHDI yang mungkin akan terus saya kirim secara berulang. Isinya: CHDI seharusnya dibuatkan mobile apps. Sehingga mempermudah Perusuh untuk komentar, nge-tag Perusuh lain, dapat notifikasi, bagi foto, bagi link, dll, seperti ketika berkomentar di Facebook. Di HP saya ada 3 apps buatan mas Azrul Ananda yaitu: Persebaya, DBL Play, dan Main Sepeda. Sang anak punya 3 apps, tapi sang bapak nggak dibuatin. Tega banget sih mas Azrul ini. Apps bisa dinamakan Disway. Tapi isinya ada CHDI, ada berita Disway lainnya, ada Disway daerah, dan bisa juga ada Happy Wednesday juga biar mas Azrul kembali aktif menulis juga.
riansyah harun
5,61 % sudah bisa membuat Pak Purbaya sedikit tersenyum dari "kesedihan wajahnya" akhir akhir ini. Optimis harus tetap ada. Mungkin saja Pak Purbaya yang doa doanya paling sering dan paling besar sampai membuatnya kurang tidur itu.., telah membuat hati Om Trump di gerakkan oleh Yang Maha Kuasa, dan menjadi luluh. Sehingga "Project Freedom" nya pun menjadi batal untuk sementara waktu, hanya dalam hitungan jam setelah diumumkan. Mudah mudahan kapal kapal pengangkut BBM milik Indonesia pun, bisa keluar dari sana, dan stock BBM kita menjadi stabil. Sehingga uang Pak Purbaya, ekh salah.., uang negara.., bisa dialihkan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi lainnya.
riansyah harun
Zaman 10 tahun lalu, hilirisasi menjadi topik yang paling menarik, dan nyaris tidak ada yang berteriak. Belakangan ini, MBG kembali menjadi topik menarik, namun setelah berjalan sekian waktu, mulai banyak yang sangsi sehingga menimbulkan berbagai macam tanggapan antara yang pro dan yang kontra. Kata Pak Dahlan, hilirisasi "hanya" di nikmati oleh kalangan tertentu, sedangkan MBG, dinikmati sampai lapisan bawah. Uppsss..., pasti terbelah pertanyaan yang menggantung. Kalau hilirisasi.., modalnya mungkin dari investor sendiri dan tingkat kerugian negara "hanya" sedikit jika itu gagal. Namun kalau MBG itu gagal (menunggu hasil studi dari kalangan yang kontra), siapa yang mengganti uang Negara..??
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Sejelek-jeleknya pelaksanaan proyek tol di zaman Presiden Jokowi, hasilnya bisa kita nikmati selamanya. Bahkan kita sekarang tak bisa membayangkan masa mudik Lebaran tanpa jalan tol. Sebenci-bencinya pembenci Jokowi pasti menikmati jalan tol. Sedangkan MBG? Apa yang kita dapat dari situ jika dibanding besarnya pengeluarannya? Saya yakin tak sebanding karena: salah sasaran. Kalau memang mau kasih makan pelajar yang BENAR-BENAR MISKIN, tidak masalah. Tiga kali sehari pun tak apa-apa. Mungkin biayanya cuma 20% dari MBG sekarang. Tapi jelas MBG ini salah sasaran. Makanya di Twitter ada yang bilang: Makan gratis hasilnya tai. Kalau SPP yang gratis hasilnya tau. Negara kita tak punya skala prioritas.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
PAK PRABOWO ADALAH ANAK PAK SUMITRO.. Beberapa bulan terakhir banyak yang menganggap Prabowo terlalu ngeyel. 1) MBG jalan terus. 2) KDM didorong terus. 3) Growth delapan persen disebut terus. Seolah ekonomi bisa dipacu hanya dengan kemauan keras dan pidato penuh tekanan suara bass. Tetapi setelah angka pertumbuhan 5,61 persen diumumkan, mulai muncul bisik-bisik baru: jangan-jangan “kengeyelannya” memang ada hitung-hitungan ### Prabowo bukan lahir dari ruang kosong. Ia anak Prof. Sumitro Djojohadikusumo. Salah satu begawan ekonomi Indonesia. Orang yang sejak era awal republik sudah bicara industrialisasi, pembangunan, dan strategi ekonomi negara. Mungkin ada warisan cara berpikir yang menempel. Feeling politik bercampur insting ekonomi. Bahwa pertumbuhan tidak cukup hanya dijaga stabil. Kadang harus diguncang dengan program besar yang langsung menyentuh rakyat bawah. Tentu satu triwulan belum cukup menjadi bukti. Ekonomi bukan sulap. Tetapi angka 5,61 persen membuat tuduhan “asal ngeyel” mulai kehilangan tenaga. Kadang sejarah memang lucu. Anak ekonom bisa memilih jalan tentara. Tetapi urusan pertumbuhan ekonomi, darah akademiknya mungkin tetap bekerja diam-diam.
Er Gham 2
Masukan untuk MBG, antara lain: a. target penerima dievaluasi. Yang harus diutamakan adalah anak anak yang sebelumnya hanya bawa bekal nasi putih tanpa lauk. Bukan anak anak yang uang jajannya saja 50 ribu, 100 ribu, sehari. b. SPPG bentuknya yayasan sejak awal. Harus ada juga jiwa sosial dari SPPG untuk terkadang 'keluar uang sendiri' demi kinerja dan kualitas makanan. Bukan profit center untuk menangguk cuan. c. Dapur yang di suspend, cabut insentif nya. Atau minimal hanya diberi 1 juta per hari. Harus ada mekanisme hukuman. d. Dirikan dapur di pelosok terpencil dan daerah 3T. e. Pengadaan barang barang 'aneh' agar menjadi tanggung jawab pemilik dapur. Kan yayasan, dengan tujuan sosial sejak awal. Itu pun sudah dibantu 6 juta sehari. f. Insentif dibagi beberapa layer, jangan semua 6 juta. Sesuaikan dengan prestasi, kinerja, lokasi dapur di daerah tertentu --- karena berpengaruh pada kesulitan akses ke sekolah yang dituju. g. Jangan libatkan PTN buat dapur. Nanti rektornya tidak independen. Tidak bisa kritik. h. Dapur belanja di pasar lokal dan utamakan belanja di pasar rakyat. Bukan distributor besar demi harga miring. I. Setiap ada kasus keracunan, harus diberitakan secara transparan. Tidak boleh ada larangan ke sekolah untuk menutupi kasus.
wirasathya ngurah ray
Suatu waktu ngobrol sama kawan tentang mbg. Saya bilang mbg sangat bermanfaat buat saya, saya sering dikasi nasi dan lauk mbg yang tersisa atau mungkin ndak kemakan oleh tetangga saya yang jaga kantin sekolah, untuk makanan ternak saya ayam dan bebek.
Wilwa
Ryu Hasan selalu menekankan pada “latihan”. Anak “dilatih” antre, “dilatih” tak membuang sampah sembarangan, “dilatih” gotong royong membersihkan kelas, “dilatih” tidak mengambil barang orang yang ketinggalan, dll. Apa maksud “kebodohan” juga hasil latihan? Misalnya begini. Ini terjadi di Amrik, guru biologi di sekolah Kristen “konservatif” sebelum mengajar teori evolusi bilang: “Disclaimer ya, teori evolusi ini sekedar pelajaran, jangan dipercaya.” Lha gimana mau mendorong orang “berpikir”? Atau Ryu mengambil contoh di pesantren mengenai ilmu mantiq yang bertujuan membimbing orang berpikir secara logis / rasional agar menghindari kesalahan berpikir (fallacy) dan mencapai kesimpulan yang benar. Ryu bilang “Gimana mau berpikir rasional kalau di halaman depan buku ilmu mantiq tertulis peringatan ‘yang memakai akal masuk neraka!’ “ Ilmu Mantiq adalah ilmu yang diturunkan dari filsafat Aristoteles. Ketika “agama” menjadi tembok tebal anak untuk belajar science atau filsafat maka dapat dipastikan apa pengaruhnya pada IQ. Lebih kurang begitu.
Wilwa
Yang paling menggelitik adalah ketika Ryu Hasan diskusi dengan Gita Wiryawan di suatu forum yang dihadiri ribuan orang. Ryu bilang tahun 1986 rerata IQ Indonesia 109,6 dan sekarang 78,4, kalau turun 8 point lagi setara IQ Gorila. :). Pendidikan dan pengasuhan sangat mempengaruhi tingkat IQ. Jelas ada yang salah dalam PROSES pendidikan dan pengasuhan anak di Indonesia selama 40 tahun belakangan ini sehingga IQ melorot dari 3 digit ke 2 digit.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
DUDUNG, MBG DAN UANG Rp 6 JUTA PER HARI.. Presiden Prabowo tampaknya mulai serius mengawasi program prioritasnya. Kepala Staf Presiden Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman mendapat tugas langsung: mengecek SPPG yang sudah dinonaktifkan tetapi masih menerima insentif Rp 6 juta per hari. Angka itu membuat publik cepat bereaksi. Bukan karena terlalu besar untuk ukuran negara. Tetapi karena rakyat sedang sensitif terhadap kebocoran program sosial. Apalagi MBG kini sudah diposisikan sebagai wajah pemerintahan baru. Dudung menjanjikan sesuatu yang menarik: bila menemukan penyimpangan, ia akan buka langsung ke wartawan. Nada bicaranya khas tentara. Langsung. Tidak muter-muter seperti kabel proyek. Selain MBG, Dudung juga akan mengawasi Koperasi Desa Merah Putih. Dua program ini memang sedang dipersiapkan menjadi mesin ekonomi bawah. Karena itu pengawasannya menjadi krusial. Program populis tanpa disiplin bisa berubah menjadi ladang rebutan. Publik kini menunggu satu hal sederhana: apakah pengawasan ini benar-benar sampai ke bawah, atau berhenti di konferensi pers dan spanduk sosialisasi. Di republik ini, kadang kebocoran paling deras justru terjadi setelah acara launching selesai.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Wirasathya.. MBG JUGA BERMANFAAT PADA "AYAM" DAN "BEBEK": POTENSI EKONOMI BERPUTAR MAKIN KENCANG.. Komentar Pak Wirasathya menarik. 1) Sangat lapangan. 2) Sangat Indonesia. Dan justru di situ sering letak ekonomi riil bekerja. Sisa MBG yang tidak termakan ternyata tidak berhenti di tong sampah. Il Ia pindah menjadi pakan ayam dan bebek. Mungkin juga babi. Dari situ muncul "rantai" ekonomi baru. Telur bertambah. Bebek gemuk. Ayam senang. Pemilik ternak lebih hemat biaya pakan. Ekonomi bawah memang sering bergerak lewat jalur yang tidak masuk seminar hotel berbintang. Tidak tercatat rapi di powerpoint. Tetapi nyata terjadi di kampung-kampung. Dalam ilmu ekonomi modern, itu disebut efek turunan atau spillover effect. Satu program memunculkan manfaat tambahan di luar tujuan utamanya. MBG awalnya untuk gizi anak. Ternyata ekornya bisa sampai ke peternakan kecil. Tentu tetap harus dijaga soal higienitas dan pengelolaan sisa makanan. Jangan sampai niat baik berubah jadi masalah kesehatan. Tetapi cerita Pak Wirasathya menunjukkan satu hal: uang dan barang yang terus berputar akan menciptakan ekonomi yang hidup. Bahkan kadang ayam dan bebek lebih cepat membaca peluang dibanding ekonom di televisi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 113
Silahkan login untuk berkomentar