PLN Transisi

PLN Transisi

Dirut baru PLN, Suroso Isnandar.--

Ketika beberapa bulan lalu RUPS mengangkat kembali Dr Darmawan Prasojo tetap sebagai dirut PLN ia tampak orang yang sangat kuat: sejak lama baru ada kali itu dirut PLN dapat masa jabatan kedua.

Ternyata periode kedua itu hanya berumur 699 hari. Rabu malam kemarin RUPS PT PLN mencopotnya: diganti tokoh internal PLN, Suroso Isnandar.

Yang banyak diperbincangkan di medsos bukan soal penggantiannya, tapi caranya. Yakni dilakukan hanya dalam sebuah RUPSLB via Zoom. Maka penggantian pejabat via telpon, via utusan, dan via Zoom menjadi sudah biasa.

Negara kita kelihatannya kian efisien.

RUPS via Zoom sebenarnya tidak aneh. Terutama sejak ada pandemi Covid-19. Setelah Covid berlalu pun RUPS via Zoom masih sering dilakukan. Memang lebih praktis. Terutama di perusahaan yang tidak mementingkan hubungan antar manusia lagi.

Apalagi di PLN. Sahamnya 100 persen masih milik negara. Belum berstatus go public pula. Maka pada dasarnya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT PLN cukup dihadiri satu orang saja. Yakni yang mewakili pemegang saham satu-satunya: negara.

Dulu yang disebut "negara" di situ adalah menteri keuangan yang dalam praktiknya dikuasakan ke menteri BUMN.

Kini "negara" itu diwakili oleh Danantara. Ups... masih ada satu pemegang saham lainnya: Badan Pengelola BUMN --d/h kementerian BUMN. Meski kepemilikan saham "Badan" itu hanya satu persen sebutannya "saham merah putih": tidak boleh ada keputusan tanpa persetujuan yang satu persen itu. Ia negara juga.

Walhasil RUPS PT PLN sebenarnya tidak perlu juga lewat Zoom. Cukup diputuskan oleh Danantara dan "Badan" itu lewat satu lembar dokumen diberi judul keputusan RUPS. Selesai. Tidak boleh ada yang keberatan.

Bahwa harus ada RUPS itu semata karena di dalam AD/ART perseroan disebutkan penggantian direksi harus dilakukan oleh RUPS. Tapi, ya, itu tadi. Keputusan RUPS ditentukan oleh kehendak suara mayoritas. Sedang di PLN negara bukan saja mayoritas melainkan pemilik tunggal.

Jabatan Dirut PLN memang salah satu kursi panas di negeri ini. Satunya lagi Dirut Pertamina. Tapi tetap saja banyak yang ingin merasakan seberapa panas kursi itu. Jangan-jangan ternyata sejuk dan empuk.

Panasnya kursi itu juga lantaran begitu banyak yang ingin memanfaatkan PLN. Mereka lupa bermain di PLN itu sama dengan main api: misalnya byar-pet di Jawa dan Sumatra belum lama ini. Korbannya rakyat. Korban lainnya: perekonomian negara.

PLN sebenarnya tahu apa penyebabnya, tapi takut membicarakannya: kelangkaan pasok batu bara untuk kebutuhan dalam negeri sendiri.

Minggu lalu terjadi lagi yang lebih fatal-jenderal: black out listrik di seluruh Batam. Malu. Mati lampu di depan hidung Singapura yang bermandi cahaya.

Untung tidak ada yang bilang itu sabotase yang dilakukan antek asing sebagai balasan atas kiriman asap dari kebakaran hutan di Indonesia.

Anda sudah tahu: listrik di Batam sebenarnya bukan urusan langsung PLN. Itu urusan PT PLN Batam. Itu anak perusahaan PLN khusus membawahi Batam dan Bintan. Punya direksi sendiri. Jadi yang layak diganti pertama-tama sebenarnya Dirut PT PLN Batam.

Tapi untuk menggantinya perlu RUPS PT PLN Batam. Yang harus berinisiatif melaksanakan adalah PLN Pusat sebagai pemegang saham mayoritas. Rupanya belum lagi dirut PLN memutuskan mengganti dirut PT PLN Batam sudah lebih dulu diganti.

Kenapa ada PT PLN Batam?

Zaman dulu memang ada ide agar tiap satu pulau berdiri PT PLN sendiri. Ada direksinya sendiri. Agar kemampuan memikirkan listrik di satu pulau bisa lebih fokus. Tidak lagi menunggu keputusan PLN Pusat.

"Satu PLN" untuk seluruh Indonesia memang terlalu besar. Apalagi Indonesia negara kepulauan: tidak bisa punya jaringan listrik yang tersambung secara nasional. Tidak bisa seperti Tiongkok atau negara Eropa. Amerika saja, yang satu daratan, perusahaan listriknya banyak.

Anda sudah tahu: di Indonesia kebutuhan setiap pulau berbeda jauh. Di Jawa jaringannya sudah harus 500 kva. Di Sumatera masih 275kva. Kalimatan dan Sulawesi 150 kva. Banyak pulau yang langsung 20 kva.

Pemikiran punya banyak PLN itu rupanya berhenti. Hanya sempat punya dua PLN saja: PT PLN Batam dan PT PLN Tarakan. Belakangan PT Tarakan dianggap terlalu kecil. Dirutnya hanya selevel kepala cabang di PLN. Sekarang PT PLN Tarakan sudah tidak ada. Listrik di sana kembali diurus oleh PLN Cabang Tarakan.

Sebaliknya, "men-Tarakan-kan": PT PLN Batam rupanya sulit. Mungkin saja banyak kepentingan yang berbenturan. PT PLN Batam sudah cukup seksi untuk jadi rebutan.

Padahal, akhirnya kelak, PT PLN Batam juga harus "hilang". Bukankah Presiden Prabowo sudah menegaskan BUMN dan anak cucunya akan dijadikan tinggal 200 perusahaan saja.

Ide membuat banyak "PLN" dulu itu urung karena terlalu banyak kritik. Itu dicurigai sebagai langkah awal menuju swastanisasi dan liberalisasi PLN. Berarti ide itu lahir di sekitar tahun 1990-an --saat Indonesia harus tunduk pada IMF.

Seandainya ide itu terlaksana; apakah kelistrikan sekarang lebih baik? Sampai saat ini tidak ada yang melakukan kajian akademisnya.

Di Nagoya saya baca: salah satu tugas dirut PLN yang baru adalah membuat konsep struktur PLN ke depan. Terutama berkaitan dengan transisi energi --dari fosil ke green energy.

Tentu itu pekerjaan berat. Apakah PLN akan membangun solar sel sendiri? Atau diserahkan ke swasta? Atau kombinasi?

Harus jelas. PLN tidak boleh lagi ragu-ragu.

Untuk tidak ragu jelas perlu dukungan penuh pemerintah: politik dan permodalan. Tanpa itu PLN akan terus termangu di persimpangan transisi.

Dukungan politik itu, misalnya, soal kebijakan subsidi. Kalau memang tarif listrik masih harus bersubsidi maka pemerintah harus jelas: kapan membayar uang subsidinya ke PLN.

Selama ini PLN, sebagai perusahaan, terus menalangi uang subsidi itu --sambil menunggu kapan ada pencairan dari pemerintah. Yang seperti itu membuat ruang gerak PLN sempit. Terutama untuk ekspansi ke green energy.

Atau diserahkan saja ke swasta? Untuk itu PLN harus membeli listrik swasta (dari solar cell). Harganya lebih mahal dari harga jual PLN ke masyarakat.

Yang paling krusial adalah soal pemanfaatan lahan strategis untuk solar cell. Yakni atap pabrik, atap gedung, permukaan air, yang semuanya luas-luas itu.

Belum ada ketegasan di sini: apakah PLN akan dengan antusias membelinya. Kenyataannya di satu pihak PLN enggan membelinya. Di lain pihak swasta tidak bisa jualan listrik tanpa menggunakan jaringan milik PLN.

Maka salah satu jalan keluarnya adalah: PLN harus rela menyewakan transmisi listriknya. Dengan demikian pabrik tekstil yang atapnya luas bisa dipasangi solar sel. Kelebihan listriknya dijual ke pabrik lain lewat jaringan PLN --dengan sistem sewa. Di banyak negara itu biasa.

Presiden kelihatannya sangat gemes akan seretnya pelaksanaan transisi energi. Tapi dirut PLN memang juga harus memikirkan agar PLN tidak jadi korban transisi energi. Ini sungguh agenda yang menantang. Terutama kalau pencairan uang subsidi sangat seret --yang membuat PLN pusing memikirkan cash flow-nya.

Jangan-jangan kepusingan cash flow itu yang membuat konsep transisi energi tidak kunjung jadi. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 15 Oktober 2026: Camino Nakasendo

Mpok Dipa

Abah jangan gitu doong, menulis daftar kota mana saja yang sudah di singgahi sudah seperti modelan gerbong KRL yg isinya super padat karena pengurangan jumlah gerbong aja. Banyak yang baper ntar, kita kan di sini lagi in this economy. Ha ha ha, semangat Kamiiiisss, lanjutkan sampai Jumat. :)

Jo Neka

Di negaranya sementara sangat sulit mendapat BBM..Si bapak kaya ini pamer pelesiran tak kira²..Tidak ada sense of crisis..Hahahaa lu kali yang sulit.Gue ma kagak.Minjam gaya warga Mpok Dipa.Pasrah saja.Kapan mau bubar..2030 kah

Ismail Lutan

Menarik sekali camino Jepangnya. "Di setiap stopnya ada penginapan dan terminal "stall ". Saya ingin tambahkan. Ada 'judi dan pelacurnya". Soalnya saya sedang kerajingan nonton film Jepang "The Tales of Zatoichi". Pendekar Pedang Buta, yang dalam setiap episodenya sering menampilkan pelacuran dan judi di zaman Edo.

Ahmed Nurjubaedi

Wah! Abah DI napak tilas Tokyo Kyoto tahun 1600an. Berarti se-zaman dengan masa penyatuan kembali Jepang setelah tercerai berai akibat perang antar klan. Orang Jepang memang hobi perang. Sampai sekarang.... Eiji Yoshikawa menulis novel epik yang memukau di jaman itu: Taiko. Menjelang 1600, Hideyoshi -biasa dipanggil si monyet sebab wajahnya yg sama sekali tak ganteng, dari keluarga jelata- mulai berkarir menjadi pembawa sandal Nobunaga, penguasa Owari -sekarang Perfektur Aichi, Jepang tengah. Dalam waktu 24 tahun, Hideyoshi lantas menjadi penguasa yang diakui setelah menumpas Mitsuhide yang membunuh Nobunaga, sang pembuat fondasi Jepang bersatu. Kepiawaian Hideyoshi menjadi legenda hingga sekarang. Keberanian dan kelihaiannya membuat kawan dan lawan segan. Sampai Ieyasu sang pangeran darah biru harus menunggu Hideyoshi meninggal baru melakukan pemberontakan. Nobunaga membuka jalan, Hideyoshi menyatukan, dan Ieyasu menjaga stabilitas hingga lebih dari 250 tahun. Restorasi Meiji yg akhirnya merontokkan keshogunan yg dibangun Ieyasu. Mungkinkah orang desa yang tak ganteng itu akan mengikuti jejak Hideyoshi? Yang juga dengan mudah menodongkan pedang di leher para jenderal? Yang jelas, banyak rakyat bawah yg kapan hari sempat benci, kini kembali merindukannya: ternyata si tukang kayu memang lebih hebat dari sang jendral...

Juve Zhang

Batam listrik mati total.... Kalimantan asap masih pekat lebih pekat dan tentara Jepun sudah pulang mau ikut Camino...tentara Jepun tugas ada batasnya 21 hari full.... selebihnya emang saya yg bakar kata sensei Jepun ini urusan anda semua kami bantu sayonara.. ...laskar Malaysia masih berjibaku...Bali tak ada BBM....75 % rakyat kerajaan Singosari stress....semua stress listrik Batam mati total semua stress....asap pekat ber bulan bulan semua stress....Bali tak ada BBM semua stress....ada yg happy Cuan saham tambang sudah kumiliki....

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

NAKASENDO: JALAN KAKI, MENEMPUH SEJARAH.. Yang menarik dari Camino Nakasendo bukan sekadar menguji kekuatan kaki. Tetapi juga menguji kemampuan manusia membaca sejarah melalui ruang yang masih tersisa. Dulu, perjalanan Kyoto–Edo sepanjang lebih dari 500 kilometer bukan perkara ringan. Jalan kaki menjadi pilihan karena kondisi geografis dan keterbatasan teknologi transportasi. Kini, ketika Shinkansen mampu melesat ratusan kilometer per jam, kita justru rela berjalan berjam-jam untuk menikmati rute yang sama. Ironis, sekaligus menarik. Teknologi membuat perjalanan semakin cepat. Tetapi kecepatan kadang menghilangkan kesempatan untuk memahami tempat yang kita lewati. Nakasendo juga mengajarkan bahwa pelestarian sejarah bukan sekadar menyimpan bangunan tua di museum. Jalan setapak, rumah kayu, penginapan, hingga bekas kandang kuda tetap bermakna karena berada di lingkungan aslinya. Sejarah terasa hidup, bukan sekadar menjadi tulisan di buku. Dan soal usia, ternyata ukuran kemampuan bukan semata-mata angka pada KTP. Anak muda bisa tertinggal, orang tua bisa terus melangkah. Tentu, jangan lantas menjadikan itu alasan untuk menguji semua CEO dengan jalan kaki. Bisa-bisa rapat direksi berubah menjadi rapat evaluasi kebugaran.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

CAMINO SANTIAGO, CAMINO NAKASENDO, CAMINO MAJAKERTO.. Camino Santiago, berjalan menyusuri jejak Santo Yakobus. Camino Nakasendo, menyusuri jejak sejarah Jepang. Lalu Camino Majakerto? Ini bukan salah ketik. Ini gagasan baru. Berjalan kaki menyusuri jejak kejayaan Majapahit. Kalau Santiago punya katedral, Nakasendo punya jalan kuno. Majakerto punya apa? Punya Trowulan. Bekas ibu kota kerajaan besar Nusantara. Ada jejak istana, candi, kolam, dan kanal kuno. Sayang, sebagian kejayaan tinggal menjadi nama jalan dan bahan pidato. Bayangkan kalau ada rute Camino Majakerto. Etapenya dari Trowulan ke situs-situs peninggalan Majapahit. Peserta bukan hanya mengukur kekuatan betis, tetapi juga mengukur seberapa jauh kita mengenal sejarah sendiri. Di Santiago, orang mencari makna spiritual. Di Nakasendo, orang merasakan masa lalu. Di Majakerto, siapa tahu kita menemukan kembali kebanggaan yang lama tersimpan di antara batu bata merah. ### Meski kebenaran kebesaran Majapahit ada yang mempertanyakan, bagi Camino Majakerto - yang penting adalah: Olahraga..!! Olahkesehatan..!! Olahkebugaran..!! Gak ada urusannya ama MK!!

Ahmed Nurjubaedi

Tulisan Abah mengingatkan ketika jaman kuliah dulu, saya dan teman-teman penghobi naik gunung, bisa tiap 2 bulan sekali mendaki. Awal 2000 itu, gunung2 masih sepi dan cukup pekat aura angkernya. Para pendaki umumnya adalah mereka yang kurang kerjaan dan suka sok puitis jika ditanya alasan mendaki: Ingin kupeluk dinginnya malam/ Sambil menatap rembulan yang hanya sejengkal di langit penuh bintang/ Dan mengingat senyum manismu// Di ujung hari yg mulai temaram, biasanya tenaga tinggal sisa-sisa, satu teman kami bernama Jon sering bikin guyonan absurd. Berada 100 meter di depan kami ia akan teriak: Ayo, rek cepet! Iki ono lontong lodeh! Atau jika ada pendaki pemula yang bergabung bertanya: Masih jauh, ta, pos istirahat? Ia akan menjawab: kurang dikit, sekitar 150 meter lagi. Dan setelah 30 menit berjalan, pos itu juga belum kelihatan! Jalan setapak itu harum pinus/ Angin sepoi-sepoi membasuh tubuh yang lelah/ O, malam, dekaplah aku dengan mimpi indahku//

Juve Zhang

Empat dekade lalu Camino adalah kebiasaan hidup manusia pegunungan....itu obrolan sama semua generasi tua ...kami subuh berangkat ke gunung siang turun bawa kayu bakar zaman belum ada elpiji Melon....semua wajib jagoan Camino kalau mau dapur mengebul..tanpa kayu bakar hidup gak akan jalan ...itu kisah mereka nostalgia ber Camino Setiap hari ke gunung mencari kayu bakar....

ALI FAUZI

Usai membaca Camino Nakasendo, saya reflek mikir: Betapa indahnya kalau ada Camino Yogyakarta. Yaitu napak tilas menelusuri rute Jenderal Soedirman memimpin perang gerilya, 1948-1949, dengan ditandu. Jaraknya cuma ratusan km. Dari Yogyakarta ke Wonosari - Gunungkidul - Wonogiri - Pacitan - Kediri, dan akhirnya kembali ke Yogyakarta. Camino Yogyakarta ini banyak manfaatnya. Setidaknya untuk mengingatkan akan kerasnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Juga sekaligus menguatkan jiwa nasionalisme generasi sekarang dan mendatang. Tak kalah pentingnya juga bisa untuk kepentingan pariwisata. Tapi saya reflek mikir lagi: Apa bisa Indonesia menjadikan rute gerilya Jenderal Soedirman itu sebagai camino? Karena problemnya seabreg. Misalnya kawasan yang jelas-jelas zona merah Pertamina kini menjadi lokasi perumahan (antara lain ada di Jambi), rel lahan berikut rel kereta api yang lama tidak dipakai kini sudah menjadi pemukiman penduduk dan jalan (ada di mana-mana).

heru pujihastono

Terbelalak.. Pekerja Migran Indonesia .(PMI) Di Hokkaido Jepang berjumlah 180.000 an orang hampir sak kecamatan lebih . Bedol desa. Di satu sisi bangga, cuan akan banyak mengalir. Namun prihatin . Kemarin nyari tenaga muda di kampung SDH kesulitan. Ndak mau kerja dr bawah ( tenaga kasar bertahap mjd tenaga ahli). Juga : prihatin dua (2) kasus kriminal di Hokkaido melibatkan pekerja migran Indonesia. Satu kasus pembunuhan satu kasus harrashment / pelecehan. Ternyata tidak cukup CUAN saja , IMAN juga perlu . Sebelum ke negeri Sakura.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

PERBEDAAN VIABATA DENGAN KYOTO.. Kyoto punya sejarah panjang. Bekas ibu kota kekaisaran. Kyoto diwarisi dari zaman para kaisar. Bangunan tuanya dirawat. Jalan-jalan bersejarahnya dijaga. Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat Jepang hari ini, tetapi juga untuk merasakan Jepang ratusan tahun silam. ### Viabata? Bukan IKN? Ups, maaf. Saya ikut-ikutan Pak Dahlan membalik Batavia menjadi Viabata. Kalau nama saja bisa dibalik, mudah-mudahan nasib ibu kota juga jangan sampai terbalik. Memindahkan ibu kota ke IKN memang bukan sekadar memindahkan gedung pemerintahan. Jakarta punya sejarah, manusia, ekonomi, dan masalah yang menumpuk puluhan tahun. Nusantara punya kesempatan membangun tata kota ibukota baru dari awal. Tetapi juga punya pekerjaan rumah sendiri. Barangkali pelajaran dari Kyoto bukan soal ke mana ibu kota dipindahkan. Melainkan bagaimana sebuah bangsa memperlakukan masa lalunya. Ibu kota boleh pindah. Tapi sejarahnya jangan ikut dibuang.

Er Gham 2

Camino yang tidak manja. Ada banyak orang jalan kaki, menyusuri jalan sambil bawa dagangan atau dorong gerobak. Seharian, di bawah terik matahari. Bagi mereka, gak camino berarti gak makan.

Er Gham 2

Tujuan camino itu untuk refleksi diri. Semacam meditasi berjalan. Hening. Menapaki jalan dengan langkah langkah yang mindfulness. Kontemplasi diri. Berharap ada terbersit pencerahan saat finish. Bukan ngobrol, foto foto, atau menikmati wisata alam.

Jokosp Sp

Sholat memang bisa menghindari kerjaan dari yang mungkar. Anjuran "Shalat Taubat" sudah tidak mempan buat para pejabat dan aparat korup, yang mereka sudah terbiasa melakukan sholat. Pikiran dan mental mereka bisa membedakan mana yang berhubungan dengan tuhanNya, dan mana yang berhubungan dengan cara bagaimana mendapatkan uang dengan cara apapun: Mencopet dan Memalak kalau masih klas kecil. Merampok dan Menggarong kalau klasnya sudah naik dan membesar. Satu-satunya jalan itu hukuman mati dan penyitaan seluruh asetnya. Yang mereka takutkan hanya satu: "JADI ORANG MISKIN". Sayang penguasa masih belum ada yang fokus ke situ. Isi otaknya masih sekedar "bagaimana cara berkuasa dan abadi".

DeniK

Di Bandung sedang marak komunitas jalan kaki , kita tinggal pilih mana yang sesuai kemampuan dan pergaulan . Ada komunitas jalan bernama Kaki Besi anggota nya sdh lumayan banyak .kalau ada event hrs war tiket saking banyak nya peminat . Kaki besi dari mulai jalan santai dalam kota sampai jalan kaki ekstrim antar kota antar provinsi sekuat nya .ada juga komunitas antileumpunk club kalau ini lebih ke para pecinta musik .ada lagi bobotoh story walk , nah kalau ini lebih ke komunitas pecinta persib yg hobi jalan kaki dan sejarah Bandung .dll

Siswanto Elha

Waktu masih usia SD-SMP sekitar 30th lalu di desa saya perbatasan sragen-karanganyar jateng ada budaya tiap malam 1 syuro kira-kira bisa disebut Camino karena merupakan perjalanan spiritual (tirakat agar dapat limpahan banyak rejeki) katanya, yakni jalan kaki dari desa saya ke gunung lawu (grojogan sewu dan/atau cemoro kandang) kira2 30-40km. Menjelang lulus SMA saya mengikuti ritual ini bukan karena ngikut tirakat tapi karena disuruh kakak pembina pramuka sekolah, entah karena kelelahan atau apa begitu sampai disana klo mau istirahat harus berhasil menebak berapa jumlah sisik buah cemara. ini plenger kedua setalah jalan 40km. Setelah kuliah di Jember ada namanya TaJemTra (gerak jalan Tanggul-Jember Tradisional) Sekarang di Sidoarjo pernah lihat pernah lihat Mojosuro (Mojokerto Suroboya)

Muh Nursalim

Jamaah LDII jika haji sangat membahagiakan orang lain sesasma satu kloter. Mereka memihkan diri dari kloter. Pilih jalan kaki dari Mekah Arafah Muzdalifah MIna dan balik Mekah. Kalau satu kloter ada 50 jamaah LDII berarti pas ritual haji ada 50 jatah makan yang ganggur. Juga ada tempat tidur yang kosong. Ini menjadi berkah tersendiri bagi jamaan lainnya. Yang belum kenyang dengan satu porsi boleh ambil itu jatahnya yang nganggur. Ketemu lagi di hotel. Nanti setelah prosesi haji selesai. Mereja sering menyebut haji masyian (haji jalan kaki).

Sumartan

Di Batam ada juga Nagoya tempat Abah DI makan martabak Har, kapan itu.

Alex Ping

Sebenarnya ziarah jalan kaki yang ada hubungannya dengan Camino Santiago bukanlah yang Nakasendo, melainkan Kumano Kodo. DIkatakan mempunyai hubungan karena bagi orang yang bisa menyelesaikan dua ziarah tersebut (Carmino de Santiago dan Kumano Kodo) akan memperoleh sertifikat Dual Pilgrim. Program Dual Pilgrim tersebut merupakan kerjasama budaya (Sister Roads) antara pemerintah Spanyol dan Jepang. Yang menarik adalah hanya 2-2nya itulah rute ziarah dunia yang menyandang situs warisan dunia UNESCO.

Irary Sadar

Ini saran saya untuk Presiden dan pejabat. Monggo berkantor sementara di IKN, mengingat disana asap tidak berasal dari IKN dan itu terjadi diluar IKN. Lagipula aktivitas di IKN masih seperti biasa, menurut laporan salah satu berita IND*SIAR... Mari bersama-sama mencoba merasakan nasib warga yang berada di Kalimantan. Jangan hanya sibuk meeting rapat di Jakarta dengan ruangan full AC dan snack terhidang di meja.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

JANJI FEBRIE: ANDA PERCAYA GAK? “Apabila Majelis Hakim menyatakan saya tidak terbukti bersalah dan membebaskan saya, saya siap kembali melanjutkan pengabdian. Khususnya, menangani perkara-perkara korupsi besar.” “Dengan pengalaman panjang saya dalam pemberantasan tindak pidana korupsi, tentu akan banyak membantu. Bagi saya, pemberantasan korupsi adalah bentuk pengabdian.” Itulah janji Febrie Adriansyah, mantan Jampidsus, saat membacakan nota perlawanan atau eksepsi di Pengadilan Tipikor pada PN Jakarta Pusat, Rabu, 14 Oktober 2026. ### Bagaimana menurut Anda? Anda percaya akan janjinya?



Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 21

  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Momon Atun
    Momon Atun
  • thamrindahlan
    thamrindahlan
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • Macca Madinah
    Macca Madinah
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • alasroban
    alasroban
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
  • ra tepak pol
    ra tepak pol