DTIIF 2026 Hadirkan 3.000 Peserta, Danantara Perkuat Kolaborasi Riset dan Industri Nasional
DTIIF 2026 Resmi Berakhir, Danantara Siapkan Implementasi Kerja Sama Teknologi dan Investasi---Dok. Istimewa
Telkom Indonesia dan PLN menjajaki penyelarasan rencana pengembangan data center dengan kesiapan pasokan listrik. Koordinasi tersebut diperlukan agar peningkatan kapasitas pusat data dapat didukung ketersediaan energi yang memadai.
Melalui perencanaan bersama, pengembangan infrastruktur digital dan penyediaan listrik diharapkan dapat berjalan secara terintegrasi serta mengikuti kebutuhan pertumbuhan industri.
Pada sektor transportasi, LEN, PLN, dan Pertamina Patra Niaga memperkuat kolaborasi untuk mengembangkan ekosistem Motor Listrik Nasional (Molinas). Kerja sama ini mencakup berbagai aspek, mulai dari infrastruktur pendukung, penyediaan energi, hingga penerapan kendaraan listrik.
Sementara itu, pengembangan energi terbarukan juga menjadi bagian dari agenda kerja sama DTIIF 2026. Pertamina New & Renewable Energy dan Agrinas Palma menandatangani Heads of Agreement untuk rencana pembangunan serta pengoperasian fasilitas produksi biodiesel atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) di Indragiri Hilir, Riau.
Rencana tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas pengolahan bahan bakar nabati sekaligus mendukung upaya peningkatan ketahanan energi nasional.
Selain tiga bidang tersebut, kolaborasi yang dibangun dalam DTIIF juga mencakup industri maritim dan baja, keamanan siber, post-quantum cryptography, bioteknologi, hingga robotika. Ragam sektor tersebut menunjukkan luasnya ruang kerja sama teknologi yang dibahas selama forum berlangsung.
DTIIF 2026 Libatkan 274 Pembicara dan Moderator
Selain menghasilkan kesepakatan bisnis dan investasi, DTIIF 2026 menghadirkan rangkaian diskusi yang melibatkan pakar, akademisi, pelaku industri, serta peneliti dari berbagai bidang.
Secara keseluruhan, forum ini menghadirkan 274 pembicara dan moderator yang mengisi tujuh sesi Distinguished Lecture, 21 sesi pleno, serta 38 sesi panel. Agenda juga dilengkapi kegiatan pitching dan showcase yang mempertemukan BUMN, peneliti muda, serta perusahaan rintisan berbasis teknologi atau tech-based startups.
Dua sesi Distinguished Lecture menghadirkan peraih Nobel Ekonomi Peter Howitt dan Thomas J. Sargent. Keduanya membahas topik pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi atau technology-based economic growth serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) sebagai akselerator perkembangan ekonomi.
Pembahasan sektoral dalam forum tersebut mencakup enam bidang strategis, yaitu energi; telekomunikasi dan infrastruktur digital; pertanian, pangan, dan kesehatan; material maju dan semikonduktor; keuangan dan perbankan; serta transportasi dan infrastruktur.
Rangkaian kegiatan DTIIF 2026 juga disusun melalui tiga tahapan utama, yakni Imagine, Advance, dan Build. Ketiganya menggambarkan proses pengembangan teknologi, mulai dari eksplorasi inovasi terdepan, percepatan kemajuan teknologi, hingga pembangunan industri yang berkelanjutan.
“Ketiga tahap ini, dari frontier teknologi, kemajuan teknologi, sampai industri yang berkelanjutan, menjadi topik, tujuan, sekaligus fokus kami di Danantara,” ujar Sigit.
Danantara Siapkan Tindak Lanjut Kerja Sama hingga New Asia Forum 2026
Setelah DTIIF 2026 berakhir, Danantara Indonesia akan melanjutkan pengawalan terhadap berbagai kesepakatan yang telah dibangun selama forum. Tahap berikutnya menjadi penting untuk memastikan kerja sama tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi berlanjut menjadi program yang dapat diterapkan.
Implementasi kemitraan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas teknologi nasional, memperkuat daya saing industri, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Agenda kolaborasi Danantara Indonesia juga akan berlanjut melalui penyelenggaraan New Asia Forum (NAF) perdana pada 3–4 Desember 2026 di Bali.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: