Gandeng Collective Studios dan Galleri5, KEK Singhasari Dorong IP Indonesia Mendunia
Cerita dan Mitologi Nusantara Disiapkan Jadi Film Global Lewat Kolaborasi Indonesia-India---Dok. Istimewa
Direktur Utama KEK Singhasari, David Santoso, memandang kerja sama tersebut sebagai kelanjutan hubungan sejarah dan budaya antara Indonesia dan India.
Ia mengingatkan bahwa wilayah Singhasari memiliki jejak peradaban yang berkaitan dengan perkembangan seni, ilmu pengetahuan, teknik, dan tata negara. Pertukaran budaya dengan India juga menjadi bagian dari sejarah panjang kawasan tersebut.
David berharap kolaborasi berbasis AI ini dapat membangun daya saing baru Indonesia, dengan talenta lokal dan kepemilikan IP nasional tetap menjadi fondasi utamanya.
Galleri5 Bawa Teknologi AI untuk Produksi Film dan Serial
Salah satu aspek penting dalam kemitraan ini adalah pemanfaatan teknologi produksi audiovisual yang dikembangkan Galleri5.
Perusahaan tersebut menghadirkan G5 AI Studio, sebuah platform yang mengintegrasikan lebih dari 200 model AI dengan alur kerja khusus untuk kebutuhan produksi kreatif. Fitur yang dikembangkan mencakup pembuatan storyboard, desain karakter dan dunia cerita, animasi, efek visual atau VFX, hingga produksi video sinematik.
Galleri5 menyebut teknologinya telah digunakan dalam produksi lebih dari 10.000 iklan dan video. Pengalaman tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan teknologi untuk kebutuhan industri perfilman dan televisi.
Kapabilitas Collective Artists Network dan Galleri5 sebelumnya juga telah diterapkan dalam proyek hiburan berbasis AI di India. Salah satunya adalah serial Mahabharat: Ek Dharmayudh, yang diluncurkan JioStar dan Collective Media Network untuk Star Plus serta JioHotstar. Dalam produksi tersebut, Galleri5 mengembangkan sekaligus menerapkan teknologi dan alur kerja pembuatan film berbasis AI.
Selain itu, Galleri5 tengah menyiapkan alur kerja teknologi untuk sejumlah proyek layar lebar dalam portofolio Historyverse milik Collective Studios, termasuk Chiranjeevi Hanuman – The Eternal dan Krishna.
Pengalaman tersebut menjadi landasan untuk mengembangkan teknologi produksi melalui kebutuhan kreatif dan tantangan di lapangan. Bagi kreator Indonesia, pendekatan ini berpotensi memperluas kemampuan produksi tanpa menghilangkan peran gagasan dan cerita lokal.
Founder sekaligus Group CEO Collective Artists Network, Vijay Subramaniam, menilai Indonesia mempunyai modal budaya yang kuat untuk mengembangkan waralaba hiburan berskala internasional.
Menurut Vijay, cerita yang berpotensi dikenal dunia tidak harus selalu berasal dari industri hiburan Hollywood. Negara-negara lain, termasuk Indonesia, juga memiliki kisah yang dapat dikembangkan menjadi film dan serial untuk audiens lintas negara.
Melalui Historyverse, Collective Studios ingin bekerja bersama kreator Indonesia untuk membawa cerita lokal ke pasar yang lebih luas. Teknologi Galleri5 diharapkan membantu meningkatkan skala produksi, sedangkan kekuatan cerita dan visi kreatif tetap menjadi dasar pengembangan karya.
Founder dan CEO Galleri5 sekaligus Partner Collective Artists Network, Rahul Regulapati, juga menilai perkembangan AI akan mengubah cara industri audiovisual memproduksi konten.
Ia menjelaskan bahwa G5 AI Studio dirancang untuk menggabungkan model AI dan alur kerja produksi film dalam satu platform. Setelah digunakan dalam sejumlah produksi film dan televisi di India, teknologi tersebut kini berpeluang diterapkan bersama talenta kreatif Indonesia.
Echoes of Nusantara, Konsep Awal Film Mitologi Indonesia
Salah satu gagasan yang mulai dibahas dalam kemitraan ini adalah Echoes of Nusantara, yang masih berstatus judul sementara.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: