Penyadapan Beneficial

Penyadapan Beneficial

Pengamat politik dan aktivis pemuda, R. Saddam Al Jihad, menyoroti penetapan eks Kapolri sekaligus Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal Pol. (Purn.) Listyo Sigit Prabowo (LSP)--sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo-Istimewa-

Dalam kasus penyadapan nan viral dua hari terakhir ini, pertanyaan wartawan yang kelihatannya lugu tapi justru terasa lucu adalah: apakah wapres Gibran termasuk yang disadap?

Mungkin, si wartawan, yang begitu lugunya, tidak pernah mengenal teori konspirasi: bahwa menurut teori itu penyadapan dilakukan untuk mengintai lawan-lawan politik keluarga Solo –termasuk Mas Gibran di dalamnya.

Pertanyaan itu memang diajukan ke Menko Hukum HAM Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra sebelum daftar siapa saja yang disadap beredar di medsos. Jadi pertanyaan itu benar-benar lugu tapi lucu. Prof Yusril sampai tertawa agak lama sebelum bisa menjawab, ''saya tidak tahu''.

Saya mengikuti beberapa kanal TikTok live kemarin malam. Salah satunya yang dipandu Hasbi Center. Yang bergabung di live itu lebih 1.000 orang. Siapa pun boleh bicara. Salah satunya beridentitas kopral –pasti bukan nama sebenarnya. Pembahasan di situ sudah mengarah pasti: penyadapan itu didalangi Jokowi –mantan presiden Indonesia dua periode yang digantikan Prabowo Subianto.

Meski itu teori konspirasi tapi mewakili perasaan banyak orang –yang hanya di pikirannya menyebut nama Jokowi tapi di lisannya terkunci –karena takut kena pasal fitnah.

Tidak mudah membuktikan itu. Mereka yang sekarang menjadi tersangka pasti mengunci mulut. Pergerakan intelijen seperti itu biasanya diikat dalam sumpah mati: tidak akan pernah buka mulut sampai pun disiksa atau diancam dibunuh.

Maka aneh ketika ada kabar bahwa salah satu jenderal polisi bintang tiga yang ditangkap itu kemudian mengaku: penyadapan atas perintah Listyo Sigit Prabowo –yang baru sebulan lalu melepaskan jabatan kepala Kepolisian Republik Indonesia.

Dari pengakuan mantan ajudan Prabowo itulah Listyo, jenderal bintang empat yang masih aktif dan menjabat kepala staf kepresidenan, ditangkap. Mengapa si bintang tiga sampai mengaku adalah tanda tanya besar. Bisa jadi kepepet sehingga terpaksa mengaku –untuk kelak pengakuan itu dicabut. Bisa juga mengaku beneran. Tapi aneh juga mengapa mudah terpaksa mengaku. Padahal orang yang disebut memerintahkan adalah atasannya –setidaknya mantan atasannya.

Yang begitu itu biasanya karena ''yang bersangkutan'' melihat ''kapal'' sudah tidak mungkin diselamatkan. Awalnya ybs mengira ''kapal'' itu kuat dan kokoh. Ia percaya tidak lama lagi ''kapal'' itu akan sampai pelabuhan kekuasaan. Maka kalau ''ybs'' bertahan ikut di dalam kapal akan ikut pula naik ke pelabuhan kekuasaan.

Keyakinan mereka bahwa ''kapal'' itu kuat dan kokoh terlihat dari fakta di lapangan: popularitas Prabowo terus merosot. Pasti mudah dikalahkan. Persoalan-persoalan besar juga terus melanda negara –mulai bencana korupsi, bencana alam, bencana saham, sampai bencana nilai tukar rupiah. Yang paling parah adalah bencana asap.

Keyakinan bahwa ''kapal'' itu kokoh juga terlihat dari seringnya Presiden Prabowo memuji kehebatan Listyo Sigit sebagai kapolri. Apalagi kalau sudah menyangkut MBG: "Dapur milik Polrilah yang terbaik".

Presiden Prabowo tidak hanya memuji tapi terus mempertahankannya di jabatan itu sampai menjadi yang terlama dalam sejarah Indonesia.

Maka ''awak kapal penyadapan'' itu melihat samudera yang dilayari adalah samudera yang tenang. Tidak akan ada gelombang. Kapal bisa terus melaju mengarah ke tujuan tanpa khawatir ada ikan hiu yang bisa mengguncangnya.

Padahal laut itu tidak pernah benar-benar tenang. Kegiatan penyadapan itu bukan tidak ada yang mengintai. Ada intelijen lain yang juga mencari apakah ada intelijen yang mengintelijeni intelijen.

Tanda-tandanya kian nyata. Maka pengendusan kian mengarah ke titik-titik tertentu. Ketika tiba sampai pada kesimpulan bahwa kegiatan penyadapan itu mengarah ke keadaan membahayakan keputusan diambil tiba-tiba: Kapolri diganti!

Sejak itu ''kapal'' mulai goyang. Seberapa kuat pun seseorang ia akan kehilangan gigi kalau jabatannya yang sangat berkuasa dipreteli. Kian hari mantan kapolri kian jauh dari kekuasannya. Kian hari pimpinan baru kian menguasai medan.

Polisi –apalagi tentara– menganut disiplin tegak lurus. Taat pada komandan. Bekas komandan bukanlah komandan.

Saat itulah si kapten kapal mulai cari-cari sabuk pengaman: data hasil penyadapan harus dihapus atau dihancurkan. Mereka lupa bahwa penghancuran data itu bisa menjadi pasal lain yang lebih memberatkan mereka.

Perintah penghancuran itu sendiri punya dampak sangat besar bagi mental internal awak kapal: ada apa? Mulai ketahuan? Kapten kapal tidak kuat lagi?

Dalam keadaan ''mental goyah'' seperti itu kehancuran mudah datang. Di antara awak pasti ada yang berpikir cari selamat. Bisa dengan cara mencebur ke laut. Bisa membawa lari sekoci. Atau bahkan justru memihak ''lawan''. Bisa juga karena intelijen yang melakukan kontra intelijen kian mudah masuk ke kapal: terbongkar.

Dalam penegakan hukum yang menyasar perusahaan swasta kini sedang dikembangkan teori beneficial owner –untuk menjerat pemilik perusahaan yang bersembunyi di balik legalitas. Pemilik perusahaan tidak perlu menjadi komisaris atau direktur. Kalau ditemukan kejahatan di perusahaan, itu urusan direktur –seperti bunyi anggaran dasar perusahaan. Pemilik selamat.

Padahal ada pemilik perusahaan yang tidak jadi komisaris atau pun direktur sebagai taktik semata. Dalam praktiknya keputusan penting tetap di tangannya. Maka kini dicari siapa beneficial owner –penerima manfaat sebenarnya perusahaan itu. Maka pemilik yang bersembunyi di balik legalitas anggaran dasar tidak bisa bersembunyi lagi.

Apakah dalam kasus penyadapan ini juga akan dipakai teori beneficial owner? Dalam istilah politik tidak dikenal beneficial owner. Yang dikenal adalah ''dalang'': siapa dalangnya? Maka beredarlah teori konspirasi menduga-duga siapa dalang di balik penyadapan itu.

Bisa saja tidak ada dalang di balik layar penyadapan. Bisa saja semua itu inisiatif kapten kapal. Tidak ada perintah. Tidak bikin laporan. Beneficial owner hanya merasa pasti ada mantan anak buah yang mau melakukan apa pun demi dirinya.

Mungkin beneficial owner senyum-senyum dan tawa kecil saja. Ia tahu tidak boleh minta dilakukan penyadapan. Ia tidak boleh pernah menerima laporan hasil penyadapan. Urusan seperti itu terlalu tetek-bengek –yang bisa tidak dapat teteknya melainkan hanya dapat bengeknya.

Maka bisa jadi kegiatan penyadapan itu sepenuhnya inisiatif kapten kapal. Atau inisiatif seluruh ABK. Mereka juga tidak merasa perlu melaporkan hasilnya ke siapa pun. Mereka cukup merasa ''si beliau'' senang dengan upaya yang mereka lakukan. Si beliau hanya tahu hasilnya tanpa peduli prosesnya.

Memang pertanyaan terpenting yang menggelitik adalah: untuk apa penyadapan itu dan untuk kepentingan siapa. Sebatas sebagai persiapan Pilpres 2029? Atau upaya menagih janji? Bahkan melakukan makar dalam waktu dekat dengan alasan yang dibuat mulia: ''menyelamatkan negara?"

Atau bukan demi ''beliau'' melainkan demi dirinya sendiri? Misalnya: agar bisa memegang rahasia tertinggi Presiden Prabowo. Atau rahasia tertinggi tokoh lain yang disadap. Sepenuhnya untuk menaikkan nilai tawar pribadi –saat itu atau setelah pensiun.

Tentu tidak mudah mengungkap semua itu mengingat tersangkanya adalah mantan kapolri, jenderal polisi berbintang empat. Inilah tersangka paling kakap dalam sejarah penegakan hukum di Indonesia. Ketika Ferdy Sambo jadi tersangka hebohnya bukan main: jenderal bintang tiga jadi tersangka. Ketika Febrie Adriansyah jadi tersangka juga heboh: jenderal berbintang tiga kejaksaan ditangkap.

Kini yang ditangkap jenderal polisi bintang empat.

Penyadapan terjadi mungkin karena sudah dianggap biasa. Utamanya setelah kian banyak instansi yang boleh melakukan penyadapan. Dulu hanya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang diizinkan melakukan penyadapan. rakyat bisa menerima. Saat itu kemarahan rakyat pada korupsi memang luar biasa. Membuktikan korupsi itu sulit. Maka bisa dimaklumi kalau KPK diizinkan menyadap telepon mereka yang dicurigai melakukan korupsi.

Tapi belakangan Badan Narkotika Nasional (BNN) juga diizinkan menyadap. Demi memberantas narkoba. Lalu Polri. Juga kejaksaan. Kalau Badan Intelijen Negara tidak ada yang tahu –namanya saja intelijen negara.

Memang izin melakukan penyadapan itu ketat. Hanya untuk orang tertentu dengan sasaran orang tertentu menggunakan prosedur tertentu. Tapi karena banyak instansi yang mendapat izin akhirnya diperlukan lebih banyak tim penyadap.

Ujung-ujungnya sedap: presiden pun disadap. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan  Edisi 4 November 2026: Lama Profesor

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

DOKTER HARUS TETAP MENJADI ILMUWAN.. Ada satu kalimat yang menarik dari kisah Prof. Brahmana. Dokter yang sudah berhasil menjadi dokter, jangan berhenti menjadi ilmuwan. Ini bukan sekadar nasihat profesi. Ini menyangkut cara berpikir ilmiah. Kedokteran bukan ilmu yang selesai dipelajari setelah seseorang memperoleh gelar spesialis. Ilmu terus berkembang. Teknologi berubah. Bahkan sel kanker pun bisa bermutasi dan mengubah karakter biologisnya. Karena itu, terapi presisi menjadi sangat penting. Diagnosis harus akurat. Karakter molekuler kanker harus dikenali. Obat harus dipilih berdasarkan target biologisnya. Bukan sekadar berdasarkan kebiasaan mengobati. Namun ada satu hal yang tak kalah penting: kerja tim. Ilmu kedokteran modern semakin terspesialisasi. Tidak mungkin satu dokter menguasai seluruh aspek penyakit pasien. Onkolog, ahli bedah, radiolog, patolog, dan dokter lain harus bekerja sebagai satu kesatuan. Menariknya, teknologi bisa dibeli. Robot operasi bisa didatangkan. AI bisa diadopsi. Tetapi membangun tim yang solid tidak bisa dilakukan dengan sekadar membeli perangkat. Mesin bisa bekerja dengan algoritma. Manusia harus bekerja dengan ilmu, komunikasi, dan kerendahan hati. Mungkin di situlah pekerjaan rumah terbesar kedokteran Indonesia.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

MIOMA 30 CM: BESAR TUMORNYA, BESAR PULA IKHTIARNYA.. "Tumornya sudah 30 cm. Akhirnya bayi bisa lahir sehat melalui operasi sesar. Saat itulah sekaligus diangkat miomanya. Tanpa harus mengangkat rahimnya." Ini salah satu bagian paling menarik dari CHDI hari ini. Ukuran 30 cm bukan ukuran yang bisa dianggap enteng. Tetapi keputusan medis tidak cukup hanya berpatokan pada ukuran. Mioma adalah tumor jinak pada rahim. Penanganannya bergantung pada lokasi, gejala, kondisi ibu, usia kehamilan, dan berbagai pertimbangan klinis lainnya. Dalam kasus ini, dua kepentingan harus dijaga sekaligus: keselamatan ibu dan keselamatan bayi. Rahim pun berhasil dipertahankan. Di sini saya jadi ingat pelajaran sederhana. Dalam kehidupan, kita sering tergoda menyelesaikan masalah dengan cara menghilangkan seluruh sumber masalahnya. Padahal, dokter yang baik harus tahu bagian mana yang perlu diangkat dan bagian mana yang harus dipertahankan. Kalau semua masalah diselesaikan dengan cara membabat habis, tukang kebun pun bisa melakukannya. Bedanya, dokter harus punya ilmu, ketelitian, dan tanggung jawab. Ternyata dalam kedokteran, yang hebat bukan sekadar mampu mengangkat sesuatu. Tetapi tahu apa yang tidak perlu diangkat.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

"KERIKIL": SANADYAN CILIK, KEREP NJALARI KITA "JATUH" Mengapa? Dalam Serat Sasangka Jati ada piwulang yang menarik: "Aja sira age-age nandangi pakaryan gedhe, utawa ngarep-arep tekane pakaryan gedhe. "Amarga pakaryan gedhe iku arang tekane. "Kang kerep sira sandung iku pakaryan kang cilik-cilik." Artinya, jangan terburu-buru mengejar pekerjaan besar atau menunggu datangnya kesempatan besar. Sebab kesempatan besar jarang datang. Justru perkara-perkara kecil yang sering kita hadapi setiap hari. Begitu pula kerikil. Meski kecil, justru sering membuat kita tersandung. Karena kalau batunya besar, kita pasti melihatnya dari jauh. Kita bisa menghindar. Tapi kerikil yang kecil justru sering membuat kita luput dari perhatian. Tahu-tahu kita sudah jatuh. Kayak yang dilakukan Subhan Palal, seperti diceritakan di CHDI kemarin. Nyesel kan..? ### Ada pelajaran penting di sini. Jangan meremehkan pekerjaan kecil. Jangan pula menganggap persoalan sepele tidak perlu diselesaikan dengan sungguh-sungguh. "Yen sira durung kulina nandangi pakaryan kang gampang, kepriye anggonira bakal nandangi pakaryan kang angel?" Jika pekerjaan mudah saja belum mampu kita kerjakan dengan baik, bagaimana mungkin kita sanggup mengerjakan pekerjaan yang sulit? Jangan hanya waspada terhadap batu besar. Kerikil pun bisa membuat kita jatuh.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Saya kalau jarang komentar di CHDI itu sebenarnya bukan berarti saya berhenti menulis sama sekali. Bagi saya tetap: tiada hari tanpa menulis. Tapi saya nulisnya di sebuah Apps, namanya Disway, eh maaf salah, namanya X (Twitter). Di X, tulisan saya banyak yang dikomentarin juga. Kadang bahkan sangat ramai. Dan untuk melihat komentar di tulisan saya, tentu saya nggak harus scroll-scroll mencari seperti di CHDI. Ups... Kalau Disway ada apps seperti media sosial, tentu kita akan semakin senang menulis di Disway apps. Termasuk menanggapi komentar. Di Disway apps, CHDI itu bisa dibuat seperti jadi "Artikel Induk" yang diposting setiap pagi. Lalu semua komentar perusuh adalah "artikel additional" yang bentuknya seperti postingan status di media sosial. Saya memang merasa kesulitan untuk mencari-cari komentar saya sendiri di CHDI. Makanya saya sering tidak menanggapi ketika ada komentar di tulisan saya. Padahal saya sebenarnya pengen selalu menanggapi komentar Anda.

Sugi

Beliau ini rasanya bisa saya sebut sebagai ilmuwan organik. Pakar sesungguhnya. Profesor yang karyanya berdampak pada pembangunan masyarakat. Banyak lho yang dapat jabatan formal gubes tapi kiprahnya ke masyarakat tidak jelas. Ini lain cerita, saking sibuknya berkarya, sampai gak sempat ngurus formalitas gubesnya. Semoga beliau, prof Brahmana, selalu sehat dan panjang umur.

hanya yotup

Pagi ini setelah sholat Subuh, awalnya saya mengira awalnya akan membaca tulisan Abah tentang kasus LSP: Listyo 'Sadap' Prabowo. Ternyata bukan. Mungkin saja besok. Setelah Abah mengecek informasi dan mempelajari alur kasusnya dengan teliti. Bagi saya pribadi, ini benar² kasus major crime. Tidak pernah terbayangkan, ada Jenderal Bintang 4 di Polri berani melakukan hal ini pada atasannya. Luar biasa. Pertanyaan awal pastinya adalah apa motif, dan untuk siapa hasil sadapan itu. Untuk motif, kalo sekelas Kapolri melakukan hal tersebut kepada Panglima Tertinggi, bisa dianggap itu perbuatan insubordinasi dan mengarah ke makar. Untuk siapa pengguna akhir hasil sadapan, juga harus ditelusuri. Banyak yang berspekulasi hal ini ada dikaitkan dengan geng Solo. Tentu ini adalah dugaan. Praduga tidak bersalah. Kita tidak boleh langsung menghakimi bahwa praduga itu adalah kebenaran. Sampai kelak diputuskan hakim di pengadilan resmi. Analisis pribadi, "Solo" mempunyai dua arti: solo yang berarti sendiri (huruf "s" nya kecil), dan Solo sebagai kota (huruf "S" nya besar/kapital). Kalo ini perbuatan solo (baca sendiri), pertanyaan lanjutan: untuk apa Pak LSP merasa perlu menyadap para pejabat dan Presiden? Analisis kedua, apabila kata Solo dikaitkan sebagai kota, ini berarti jadi episode lanjutan "saya akan lawan". Pasti bakal seru. Rame. Jos jis tenan. Benar² konspirasi ala Sengkuni. Tentu ini semua masih perlu pendalaman yang lebih mendalam. Semoga bisa terungkap dengan baik. Salam damai.

MULYADI PEGE

Seganas apapun penderita kanker, masih ada dokter yg mau mendengar keluhan2nya Tapi kalau jenis kanker ekonomi, hendak kemana si penderita mengeluh?

riansyah harun

Saya terkejut dengan keluhan Profesor Brahmana yang ahli kanker itu. Di mana dokter ahli Indonesia, sulit membentuk tim yang kuat. Padahal keahliannya tidak kalah jagonya dengan dokter dokter yang ada di luar negeri sana. Kenapa bisa seperti itu...??? Mungkin ini yang lagi coba di telusuri oleh Kemenkes yang menterinya bukan dokter itu. Beliau selaku menteri, sepertinya akan menerapkan sistim bagaimana para dokter itu bisa sekuat tim yang dimaksudkan Prof Brahma. Dan sesuatu yang baru itu, akan selalu menemui jalan terjal. Apalagi yang menggaungkannya "bukan ahli"di bidangnya. Di kalangan dokter, sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, bagaimana seseorang yang akan mengambil sub spesialis, harus begitu "sangat hormatnya" kepada dosen dosen yang membimbingnya. Padahal di daerah ia sudah merupakan salah satu dokter ahli terkenal. Dan ini secara kasat mata bisa dilihat oleh orang awam, jika lagi menjaga pasien di Rumah Sakit. Benar atau tidaknya anggapan seperti itu, hanya dosennya, mahasiswanya, dan Tuhan Yang Maha Esa yang tahu. Yang kita tahu dan lagi ramai, menterinya akan dicalonkan menjadi salah satu Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia di PBB.

Ibnu Shonnan

Saya baru nyammbung mengapa Presiden kita akhir bulan kemarin melantik Wantimpres sebanyak itu. Eh ternyata orang nomer satu di NKRI itu dikepung oleh orang-orang yang berdarah Sengkuni, Duryudana. Dursasana, Rahwana dan sejenisnya!

Wilwa

Nixon kemudian dapat pardon dari Ford wapres yang otomatis jadi presiden pengganti. Sehingga terbebas dari hukuman apapun. Apakah nanti PS kasih pardon juga ke GRR? Only time will tell.

Wilwa

@Juve. Kasus ini khan mirip Watergate di USA. Yang menyadap politisi Demokrat 1972-1973 dan berujung pada pengunduran diri Presiden Richard Nixon. Jadi kasus LSP yang menyadap PS 2025-2026 ujung-ujungnya dapat dipastikan adalah pengunduran diri GRR. ☕️

M Gathmir

"Kita sulit membentuk tim seperti itu". Jadi ingat cerita teman di 2010 (berati sdh 16th lalu), dia operasi Lutut (banyak cairan yg menyebabkan lututnya tidak bisa ditekuk) di National University Hospital (NUH Sing). Menjadi pasien dokter bedah terkenal di Jkt, dan sudah dijadwalkan tindakan operasi di RSCM, yg tiba dibatalkan karena ruang operasi akan digunakan untuk tindakan lain (kemungkinan lebih urgent). Akhirnya Dia ke NUH dan langsung ke dokter bedah. Si dokter ini bertanya kenapa ke sini, di Jkt ada dokter bedah jago disebutkan namanya yg ternyata dokter teman Sy di RSCM tsb. Akhirnya teman Sy ini diputuskan akan diambil tindakan operasi, dan dokternya mendisposisikan teman Sy ke dokter saraf dan bilang bahwa nanti yang akan menjadi tim leader waktu operasi adalah dokter saraf dan dia sebagai anggota tim disitu. Dijelaskan oleh dokter tsb mengapa leadernya dokter saraf agar setelah operasi tidak terjadi efek seperti tidak sakit kalau dicabut (krn saraf putus dll). Kesimpulannya tidak ada ego dokter di sana dan bekerja dalam tim.

Muh Nursalim

Kanker darah. Jadi ingat kakak perempuanku. Ia ngeluh nyeri tulang belakang. Dugaan macam2. Saraf kejepit, tulang retak, terlalu capek. Sempat terapi PAZ. Ditekuk-tekuk badannya. Njjarem ndak karuan. Udah ndak tahan terus di bawa ke RS Muwardi Solo. Ditangani 4 dokter spesialis. Dalam, tulang, saraf dan satunya lagi apa saya lupa. Opname 9 hari. Para dokter bilang sudah baik. ndak ada masalah. Pulang kembali nyeri dan nyeri. Tengah malam ndak kuat nahan sakit lalu dibawa ke PKU Solo. Sehari di opname dokter menemukan penyebabnya. Ternyata kangker darah stadium 4. Tiga hari kemudian wafat. Inna Lillahi wa inna ilaihi rojiun. Duuh. Seandainya tahu ada transplant sumsum tulang belakang.

Jo Neka

Menyadap pohon lontar itulah pekerjaan Bapak Kias..Tetangga rumah saya.Hidupnya sangat sederhana.Tetapi jangan ditanya daya juang untuk keluarganya.Anak sulungnya S3 satu PT ternama.Hasil dari menyadap nira..Yang menyuruh pak Kias adalah rasa tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.Nah saya mau bertanya.Kepada pelaku penyadapan.Yang sementara panas di dalam celana..Oo saltik.Di dalam pemberitaan.Siapa yang menyuruh.Niranya dijual ke mana.Dan hasil gulanya manis atau tidak.Bermanfaat bagi banyak orang atau tidak.Atau justru mudaratnya lebih banyak.Sudah itu saja dulu.Terima kasih

pak tani

ATM disita HP disadap Sangu dijatah hihihihi

Ibnu Shonnan

Man-teman. Orang yang tulisannya setiap pagi kita baca. Info dari ring satu, masuk daftar orang yang komunikasi di sadap oleh LSP dkk. Mungkin ngintip saat bos DisWay itu bercakap dengan kaum Hawa yang i-nya 7.

Achmad Faisol

beberapa alasan menyadap: 1. posesif... cowok sangat ketakutan kehilangan ceweknya... 2. curiga... 3. kepo... 4. mensrea akan melakukan sesuatu yang akan berdampak negatif ke yang disadap... mungkin posesif, takut kehilangan pak PS... wkwkwkwk...

pak tani

Hati2... Perusuh aktif bisa ikut disadap hehehe Tapi saya agak ragu nomor presiden semudah itu disadap. Bukankah ada keamanan berlapis untuk orang2 penting negri ini? apalagi ini orang nomor 1. Pasti untuk komunikasi mempunyai 'jalur aman'. Dugaan saya sih baru upaya penyadapan. Kalau betul2 sudah disadap, betapa marah dan tercorengnya presiden PS. Jadi ingat berita jaman dulu. Foto SBY dijadikan target tembak oleh sekelompok orang. Hmmm... segitu dulu saja, siapa tau CHDI ini disadap juga :)

heru pujihastono

Kesabaran berlapis seorang profesor, tdk menipiskan harapan - harapan baru. Bayangkan: 1. Istri kanker paru. 2. Anak kanker darah perlu beberapa regimen terapi EN toh solusi terbentang : menikahkan anak, bahkan punya cucu. Sekarang profesor bahkan ketua kolegium. Itulah balasan seorang penyabar : " ...sesungguhnya balasan para penyabar adalah ganjaran tak terkira" . Pak profesor akan menunggu bonus- bonus ibadah kesabaran berikutnya

pak tani

Tenang ada Samsul... GRR Menurut saya akan aman tidak dilengser. Sampai pertarungan periode ke 2 nanti, baru ceritanya akan semakin seru. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mending mikir dompet tipis ini gmn caranya supaya bisa tebal hehehe Sampai2 orang lupa, IHSG sudah dibawah 5.000. Prediksi saya, Rupiah akan menguat di pertengahan - akhir 2027. Saat Eropa semakin sulit mendapat gas. Batubara kita akan menjadi komoditi sexy. IHSG baru akan pulih 2028, melihat koreksi kali ini yang sangat tajam dan dalam. Untuk itu, tetap kencangkan ikatan tali pinggang. Khawatir ada yang melorot, dan partai 'Gajah' keluar dari sarang :)

Jokosp Sp

Sederhananya "saling sandra". Masing-masing sudah tahu cara mainnya. Kartu As nya sudah dipegang masing-masing. Jadi masih lama permainan ini. Tidak selesai dalam satu periode ini. Itupun kalau niatannya benar "mau bersih"

Wilwa

US midterm election. Demokrat diprediksi menguasai 60% kursi DPR dan 55% kursi Senat. Semoga konflik di Iran, Yaman-Saudi, Gaza, Lebanon, Ukraina mereda. Dan tariff edan dibatalkan. Ekonomi global membaik setelah Trumpet ditekan Parlemen. Untuk pemakzulan Trumpet yang perlu 2/3 Senat rasanya sulit.

Udin Salemo

kickback itu ternyata lumayan banyak. kata teman yang ngaduk semen di perusahaan konstruksi besar milik negara kulon Vanuatu, kickback itu ada ketika: kontrak; pengadaan; vo/cco; dan pembayaran. penerima kickback bukan hanya satu orang. setiap proses itu ada jawaranya. misal, tak boleh jawara kontrak merangkap jadi jawara pengadaan. kontraktor sudah tahu cara menjinakkan jawara pengawal kickback. kickback itu adalah minyak pelancar jalannya proses pekerjaan. begitu katanya. yang penting senang sama senang. wkwkwk...

Bahtiar HS

Tak kurang dari 3-4 kata "Presisi" disebut Abah dalam CHD hari ini. Sang "Presisi" sdh tamat riwayatnya hari ini, Bah. "Salam Presisi"-nya pun sdh diganti oleh Pak Jenderal Suyudi begitu diangkat jadi Kapolri menjadi "Salam Polisi: Polisi sahabat masyarakat". Lebih adem dan lbh dekat dari sebelumnya. Pun sejak kapolri baru itu, jalan2 besar di Surabaya kini banyak dijaga polisi ketika berangkat-pulang kerja atau antar jemput anak sekolah. Seperti dulu.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 56

  • agus budiarto
    agus budiarto
  • agus budiarto
    agus budiarto
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • siti asiyah
    siti asiyah
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • siti asiyah
    siti asiyah
  • Muhammed Khurmen
    Muhammed Khurmen
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Tiga Pelita Berlian
    Tiga Pelita Berlian
  • Beny Arifin
    Beny Arifin
  • Nara Naila
    Nara Naila
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • Mpok Dipa
    Mpok Dipa
  • Turrachman Rachman
    Turrachman Rachman
  • Ismail Lutan
    Ismail Lutan
  • Kalender Bagus
    Kalender Bagus
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • Sony Hariyanto
    Sony Hariyanto
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • Momon Atun
    Momon Atun
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Eko Darwiyanto
    Eko Darwiyanto
  • rid kc
    rid kc
    • DeniK
      DeniK
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • Thamrin Daffan
    Thamrin Daffan
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • DeniK
    DeniK
  • Muh. Hidayat
    Muh. Hidayat
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • Momon Atun
    Momon Atun
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • satria tomat
    satria tomat
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • alasroban
    alasroban
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
  • ra tepak pol
    ra tepak pol