Lama Profesor
--
Harusnya lima tahun yang lalu pun Dr dr Brahmana Askandar sudah layak dikukuhkan jadi profesor. Tapi nyatanya baru Rabu pagi ini gelar guru besar itu diperoleh –di Universitas Airlangga Surabaya.
Ia ahli kanker kandungan terkemuka. Tapi ia juga seorang aktivis. Akseptabilitasnya yang tinggi di kalangan mana pun membuat dirinya sering terpilih sebagai pengurus di berbagai macam organisasi. Termasuk sebagai ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya. Bahkan ia dokter pertama Indonesia yang jadi pengurus asosiasi dunia untuk kanker kandungan. "Tidak sempat mengurus guru besar," katanya.
Bulan lalu Prof Brahmana kirim WA ke saya. Ia baru mendarat di Toronto, Kanada. Ia akan menghadiri rapat organisasi dunia itu di Montreal. "Kalau ada waktu mampirlah ke Quebec City. Pasti terkesan," jawab saya yang sebulan sebelumnya melakukan perjalanan dari Toronto-Ottawa-Montreal-Quebec City.
Tiga hari kemudian Prof Brahmana kirim foto: ia sedang di Quebec City –di depan hotel tempat saya bermalam. Ia sudah beberapa kali ke Kanada tapi baru sekali itu ke Quebec City. "Serasa di Prancis," tulisnya.
Brahmana tergolong penggemar bandara –bisa jadi pesaing berat saya. Ia juga suka membanding-bandingkan penerbangan. Saat ke Kanada itu misalnya ia ambil penerbangan yang jarang dipikirkan orang: Saudi Arabia Airlines –Jakarta-Jeddah-Toronto. Ia sering naik Saudia tapi kalau naik haji atau umrah. Kali ini ke Jeddah hanya transit.
Ke mana pun pergi Prof Brahmana selalu bersama istri –putri Mayjen TNI Purn Imam Utomo, gubernur Jatim pada masanya. Saya lihat kiriman fotonya bersama istri: ke berbagai belahan dunia.
Sang istri sedang mendapat tantangan berat: kanker paru. Karena itu Prof Brahmana tahu persis kondisi psikologi keluarga pasiennya yang sakit kanker. "Setiap mengobati pasien awalnya saya bicara sebagai dokter. Setelah itu saya bicara sebagai keluarga," ujar Brahmana kemarin.
Bahkan Brahmana pernah dapat tantangan mengatasi kanker yang menyerang anak laki-lakinya: kanker darah. Sang anak masih sangat muda saat itu: 20 tahun. Masih di semester lima fakultas kedokteran Unair.
Sang anak, Nadhif Rashesa Brahmana, harus menjalani transplantasi sumsum tulang belakang. Tapi transplant itu baru bisa dilakukan kalau level kankernya di bawah lima. Untuk itu Nadhif harus menjalani kemoterapi tiga seri. Setiap seri tujuh kali –tujuh hari. Di tahap awal kemo, Nadhif sampai merasa mual. Tapi apa boleh buat: harus diteruskan.
Awalnya Nadhif merasa cepat lelah. Terutama kalau lagi main basket –ia sering latihan basket di halaman Masjid Cheng Hoo Surabaya. Setelah diperiksakan ke rumah sakit, dokter langsung minta Nadhif menjalani transplantasi sumsum di Singapura.
Ada persoalan teknis: siapa yang akan menunggui Nadhif selama di Singapura. Setidaknya ia akan tiga bulan di sana. Saat itu Nadhif sudah pacaran serius dengan adik kelasnya di SMAN-5 Surabaya: Nurvania Aurelia Budirahmadina –seorang putri pimpinan bank asing di Surabaya.
Keputusan keluarga: dikawinkan saja. Agar Aurelia bisa menunggui Nadhif di Singapura. Maka pernikahan pun dilakukan. Sangat sederhana. Di kamar opname di rumah sakit. Hanya keluarga dekat dan penghulu yang hadir.
Di awal perkawinan itu terpikir untuk menyimpan sperma Nadhif di bank sperma: siapa tahu dalam proses transplantasi sumsum nanti terjadi akibat pada kesuburan.
Setelah tiga seri kemo level kanker Nadhif turun banyak: tinggal 2. Maka transplant sumsum dilakukan. Kebetulan darah adik Nadhif sangat cocok sebagai donor. Sebanyak 300 ml sel darah sang adik pun disuntikkan lewat pembuluh darah utama di leher. Sel-sel baru itu akan menuju tulang belakang –menggantikan sel lama. Dengan begitu produksi darah Nadhif dilakukan oleh sel-sel darah baru dari adiknya itu: Alisha Princessa Brahmana.
Kini Aurelia sudah punya dua anak. Proses kehamilannya normal –tidak perlu menggunakan sperma yang disimpan di bank sperma.
Sudah lama saya tidak bertemu Aurelia. Bertemu terakhir di pesawat, saat sama-sama pulang dari Singapura. Saat itu saya ke Singapura untuk menjenguk Ibu Ani Bambang Yudhoyono, almarhumah. "Suami saya pernah dirawat di sebelah kamar Bu Ani di rumah sakit yang sama," ujar Aurelia kala itu.
Kini Brahmana tinggal konsentrasi menyembuhkan sang istri –menderita kanker paru sejak 2021.
Di pidato pengukuhan guru besarnya pagi ini Prof Brahmana akan menguraikan terapi presisi, bedah robotik, dan kecerdasan buatan di bidang ongkologi ginekologi menyongsong Indonesia Emas 2045.
Bersamaan dengan Prof Brahmana, dua guru besar lainnya juga dikukuhkan: Prof Dr Sri Endah Kinasih SSos di bidang antropologi hukum dan migrasi, serta Prof Dr drh Rochmah Kurnijasanti di bidang ilmu natural product farmakoterapi dan toksikologi.

--
Selama ini saya banyak berdiskusi dengan Prof Brahmana. Juga beberapa kali diundang podcast IDI Surabaya. Saya mendapat pandangan tajam darinya: kelemahan utama dokter di Indonesia adalah sulitnya membentuk tim yang sehati, permanen, dan solid.
"Kalau keahlian dokternya kita tidak kalah dengan dokter di negara maju. Kelebihan mereka adalah punya tim yang kuat. Kita sulit membentuk tim seperti itu," katanya kepada saya suatu ketika.

--
Pendapat Prof Brahmana itu terus saya ingat. Harus dicarikan jalan untuk bisa terwujud. Mungkin kuatnya dokter memegang prinsip sebagai profesi punya dampak sampingan: para dokter menjadi sangat egois.
Saya juga akan terus ingat kata-kata ketua tim dokter yang melakukan transplantasi hati saya –meski sudah 20 tahun lalu. Yakni saat ia mengumpulkan tim dokter yang menangani pemulihan saya –karena tidak segera menemukan jalan keluar dari keluhan saya.
"Kalian ini, setelah berhasil jadi dokter, lalu berhenti sebagai ilmuwan. Tidak boleh begitu. Dokter harus terus jadi ilmuwan. Temukan apa penyebab keluhan pasien kita ini," katanya yang terus terngiang di telinga saya. Mungkin ia mengira saya tidak mengerti bahasa Mandarin.
Terapi presisi memang kian jadi tuntutan. Tentu dokter bisa melakukan terapi presisi kalau di tingkat pemeriksaan sebelumnya sangat tepat. Teknologi untuk pemeriksaan itu kian maju.
Presisi, untuk kanker, juga berarti targeted. Harus memilih obat yang bisa langsung menuju ke sel kanker. Tapi ada kendala besar. Kanker banyak macamnya. Pun bisa berubah. Pemeriksaan harus kian presisi. Juga kian up-to-date. Hasil pemeriksaan sebelumnya bisa saja sudah tidak sama.
Prof Brahmana termasuk dokter yang tidak berhenti sebagai ilmuwan. Ia terus belajar –termasuk dalam melakukan operasi pakai robot dan pakai kecerdasan buatan.
Di dalam praktik dokternya ia sering menemukan kasus yang memerlukan keilmuan. Misalnya ada pasien kanker ovarium. Kankernyi sudah metastasis ke liver. Brahmana harus melakukan operasi konservatif. Ia pertahankan rahim dan satu indung telur pasien. Lalu mengangkat bagian liver yang ada metastasisnya. Setelah itu baru dikemoterapi.
"Sekarang dia sehat. Anaknyi sudah dua orang," katanya.
Lalu ada kasus seorang ibu hamil anak pertama. Ibu itu mengidap mioma (tumor jinak rahim). Tumornyi sudah 30 cm. Akhirnya bayi bisa lahir sehat melalui operasi sesar. Saat itulah sekaligus diangkat miomanyi. Tanpa harus mengangkat rahimnyi. Sekarang ibu itu sudah punya anak dua.
Ada lagi yang terkena kanker serviks. Hamil. Ketika ditemukan stadium kanker serviksnyi termasuk lanjut –stadium IIB. Pasien mendapat kemoterapi enam seri saat hamil. Setelah cukup bulan dilakukan operasi caesar –sekalian operasi untuk kanker serviks. Termasuk mengangkat rahim dan kelenjar getah bening. Itu termasuk operasi histerektomi radikal. Saat ini ibu dan bayinyi sehat.
Memang baru hari ini Prof Brahmana menerima gelar guru besar. Tapi sudah agak lama saya memanggilnya profesor. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 3 November 2026: Kerikil Subhan
mario handoko
selamat siang prof liang. menanggapi komentar prof liang tentang 50% dari total angkatan kerja tiongkok. berpendidikan menengah ke bawah. teringat awak akan berita "china's top student are rejecting elite universities for trade schools." di mana ditulis. bahwa ada beberapa peserta kao gao (snbt tiongkok) yang berhak masuk tsinghua university. ternyata malah pilih masuk ke shenzhen polytechnic. padahal tsinghua university adalah univ terbaik di tiongkok dengan rasio penerimaan mahasiswa di bawah 1%. mengapa demikian? ternyata, setelah melihat rombongan teknisi tiongkok yg memasang mesin di tempat saya (meminjam istilah pak udin) ngaduk semen. gaji mandor yg lulusan s1. nominalnya di bawah gaji teknisi2 yg lulusan stm. vendor mesin tiongkok lebih menghargai pegawai2 nya yg kerja di lapangan, bisa assembling, bisa trouble shooting. daripada pegawai s1 yg bertugas jadi mandor, checker dan admin. rasa2 nya di kemudian hari. walaupun robot akan mendominasi pabrik2. tetap akan dibutuhkan tenaga kerja level stm dan polyteknik. untuk setting kerja robot, commissioning, trouble shooting dan MRO.
balagak nia
Sebetulnya kalo Gibran menunjukkan kemampuan minimal dalam berbicara di depan umum, bisa menyampaikan ide2 yang cerdas, Saya rasa kita2 juga akan memaklumi meskipun tidak ada ijazah. Contoh Bu Susi P yg jelas bilang kalau cuma lulus SMP, nggak ada yg masalahin. Gibran kalau ditanya A jawabnya B
yea aina
Dulu Abah meragukan penemuan prototipe mesin pembangkit listrik - otonom, buatan teman Pak Subhan yang lulusan ITS. Sebab dianggap bertentangan dengan hukum kekekalan energi. Sekarang gugatan Pak Subhan, terkait administrasi negara - penerbitan suket penyetaraan ijazah SMA wapres, dikabulkan MA. Akibatnya hampir semua elemen politik kekuasaan melongo. Heran. Rasanya bertentangan dengan hukum "ngotot" berkuasa, pemain nomer 7. #saiaakanlawan!
Wilwa
Tak ada satupun “prophets” Yahudi, Kristen, Islam yang menulis sendiri “holy scriptures” mereka. Itu fakta sejarah yang diketahui umum. Seharusnya ini membuka lebar-lebar persepsi 8 milyar lebih homo sapien terhadap “holy” scriptures. Yang sering bermusuhan hanya gegara “holy” scriptures. ☕️
Bahtiar HS
Sejarah menghadirkan sosok2 yg bs jadi pelajaran buat kita. Sandiwara Radio Tutur Tinular dan sekuelnya Mahkota Mayangkara karya S.Tidjab menghadirkan sosok Ramapati. Berlatar sejarah Majapahit, Ramapati atau Mahapati Dyah Halayudha adalah seorg yg sangat ambisius di lingkungan istana sejak Raja pertama Raden Wijaya hingga penerusnya Jayanegara. Ia terobsesi menduduki kursi Patih Amangkubhumi, setingkat Perdana Menteri atau Wapres di masa kini. Demi memuluskan ambisinya, ia menghalalkan segala cara, termasuk mengadu domba, sebar fitnah, hingga menyingkirkan pahlawan2 Majapahit. Ia dalang di balik gugurnya Rangga Lawe, kematian Lembu Sora, fitnah pada Mpu Nambi hingga Nambi berikut keluarganya dibantai pasukan Majapahit. Dg kematian Nambi, sang Patih Amangkubhumi, maka jabatan itu kini berhasil pada Ramapati. Lingkungan istana sdh banyak yg tahu, pengangkatannya dinilai cacat, tdk bermoral, dan penuh darah.. Sepak terjang amoral Ramapati menuju kursi wapres... eh Patih itu aman2 saja pd mulanya. Tp bangkai ya tetap bangkai, suatu saat busuknya akan tercium juga. Ketika terjadi pemberontakan Ra Kuti, barulah terkuak. Raja tahu dan perintah utk menangkap Ramapati. Ia lalu dijatuhi hukuman yg brutal dan hina: hukuman Cineleng-celeng. Tubuhnya dicincang dicabik2 habis (mutilasi) scr sadis layaknya celeng (babi hutan). Itulah kematian Ramapati yg tragis dan menjijikkan sbg balasan atas segala kejahatan yg tlah ia lakukan utk menduduki jabatan Patih Amangkubhumi Majapahit.
heru pujihastono
Nadzom = puisi. Ada jenis lain natsr: prosa. Nadzom biasa utk mendeskripsikan sesuatu ( biasa ajaran2 ) agar mudah dipahami dan dihafal. Biasa masalah fiqh, sejarah, bisa juga tajwid. Ini pak Subhan " out of the box" malah sekarang- SD tuntutan beliau- jadi box office sumber pemberitaan. Biasa nadzom diuraikan latar belakang. Agak pengin tahu ketika latar belakang UU perkawinan kalau jadi nadzom seperti apa. Sepertinya UU itu sebagai salah satu protes ibu ibu ketika para bapak mau " bercabang" mendua . Diuraikan Ndak ya sama beliau.?
Thamrin Daffan
Maju terus Bapak Subhan. Keberanian anda melebih standard. Memang harus begitu ada yang maju tanpa mengharap sesuatu. Abah ini bhukan krikil tetapi justru batun besar yang baru jatuh menggelinding cepat dalam waktu 10 hari kesepan. Batu besar itu dari atas gunung Semeru. Korban nya eh maksud saya bukan korban tetapi siapa yang merasa masih bisa diselamatkan. cara nya cups satu yaitu minggir. Salamsalaman.
Liáng - βιολί ζήτα
○ Hiroshi Sasaki (Wali Kota Toda, Jepang) ---> Hiroshi Sasaki Mengundurkan Diri sebagai Wali Kota Toda, Jepang ; setelah University of Oregon di Amerika Serikat membantah pernyataan Hiroshi Sasaki yang mengaku sebagai lulusan University of Oregon, bahkan pihak University mengeluarkan pernyataan yang tegas bahwa Hiroshi Sasaki tidak pernah menjadi mahasiswa University tersebut. Perkeliruan 4orang pejabat tersebut di atas, dimulai dengan cara yang berbeda-beda, untuk tujuan yang berbeda-beda pula, tetapi diakhiri dengan cara yang sama : Mengundurkan Diri !! [2/2].
Liáng - βιολί ζήτα
iseng-iseng saja ○ Pál Schmitt (Presiden Hungaria) ---> Pál Schmitt Mengundurkan Diri sebagai Presiden Hungaria, setelah Universitas Semmelweis melakukan investigasi dan menemukan bahwa disertasi doktoral yang ditulis Pál Schmitt merupakan hasil penjiplakan dari karya akademisi lain. ○ Karl-Theodor zu Guttenberg (Menteri Pertahanan Jerman) ---> Karl-Theodor zu Guttenberg Mengundurkan Diri sebagai Menteri Pertahanan Jerman, setelah gelombang protes dari komunitas akademis serta masyarakat, karena terbukti disertasi doktoralnya di Universitas Bayreuth memuat penjiplakan dari karya akademisi lain. ○ Maki Takubo (Wali Kota Ito, Prefektur Shizuoka, Jepang) ---> Maki Takubo Mengundurkan Diri sebagai Wali Kota Ito di Prefektur Shizuoka, Jepang ; setelah Universitas Toyo di Tokyo mengonfirmasi bahwa Maki Takubo drop out dan tidak pernah lulus dari Universitas Toyo - hal ini bertentangan dengan pengakuan Maki Takubo sebagai lulusan Universitas tersebut. [1/2]
NR 29
Saya malah penasaran, apakah Pak Dahlan masih tidak percaya dengan mesin pembangkit listrik itu setelah ada informasi 5 tahun tidak bayar listrik?
Wilwa
Ternyata kita masih impor tepung tapioka ratusan ribu ton dari Thailand dan Vietnam padahal kebutuhan bahan baku tepung tapioka untuk segala macam gorengan dan rebusan hanya sekitar 1,3 juta ton. Secara teoritis bisa swasembada dengan hilirisasi ubi kayu menjadi tepung tapioka. Kenaikan harga signifikan tepung tapioka karena ketidakseimbangan pasokan. Karena di sisi lain terjadi ekspor tapioka ke Tiongkok, Jepang, Eropa.
Ulik Kopi
Banyak sas-sus tentang bintang yang bersliweran. Belum yakin Abah sudah bisa dapat gambaran utuhnya buat ditulis besok. Tapi siapa tahu, sudah ada yang bisa ditulis di Disway besok? ;-)
Muh. Hidayat
Lucu juga di negara konoha, seorang anak lulusan SMP menjanjikan 19 juta lapangan pekerjaan kpd 280 juta orang dan 58% orang percaya malah ada yg sampai sujud sukur...
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
DARI PROPOSAL MENJADI PINTU MASUK UI.. “Subhan mengajukan ide itu ke UI. Bentuknya proposal. Ia pun dipanggil UI. Diwawancara. Dipuji. Lalu diminta memeragakan UU Perkawinan dalam bentuk nadhom.” Ini bagian paling kreatif dari CHDI hari ini, menurut saya. Bukan soal gugatan, melainkan cara seorang santri mengubah kebiasaan menghafal menjadi gagasan pendidikan hukum. Ia tidak mengetuk pintu universitas dengan sekadar meminta kesempatan. Ia membawa sesuatu yang bisa diperagakan. Ada pelajaran menarik di sini. Proposal yang baik bukan hanya menjelaskan apa yang ingin dilakukan. Ia juga menunjukkan bagaimana gagasan itu bekerja. Subhan tidak cukup berkata, “Saya bisa menghafal undang-undang.” Ia mendemonstrasikannya. Pasal-pasal pun naik panggung, bukan untuk diperdebatkan, melainkan dilagukan. Barangkali ini salah satu bentuk proof of concept paling merdu dalam sejarah penerimaan mahasiswa. Biasanya calon mahasiswa diuji menjawab pertanyaan. Subhan malah mengubah undang-undang menjadi pertunjukan. Kalau metode ini dikembangkan, mungkin kelak ada jurusan baru: hukum musikal. Mahasiswa menghafal pasal dengan irama, dosen menguji dengan nada, dan mahasiswa yang salah menyanyi harus mengulang ayat—eh, pasal! Tetapi satu hal tetap penting. Irama membantu ingatan. Pemahaman tetap menentukan kualitas seorang sarjana hukum.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
SUBHAN PALAL: APA & SIAPA? Subhan Palal menarik bukan semata-mata karena namanya melejit setelah putusan MA. Jejaknya di dunia hukum ternyata lebih panjang daripada yang terlihat di CHDI hari ini. Pada Mei 2025, ia pernah mengajukan pengujian materiil Pasal 2 UU Kewarganegaraan ke Mahkamah Konstitusi. Permohonannya tidak diterima. Itu menunjukkan bahwa sebelum perkara Gibran menjadi sorotan, Subhan sudah mencoba membawa persoalan hukum lain ke ruang pengujian konstitusional. Ia juga pernah berkiprah di kantor hukum Pan Putra & Rekan pada 2008–2018, sebelum mengelola kantor hukumnya sendiri. Dua jejak itu memberi gambaran tentang Subhan. Ia bukan orang yang baru mengenal ruang sidang kemarin sore. Ia terbiasa menempuh jalur hukum, meskipun tidak semua upayanya berakhir seperti yang diharapkan. Ada pelajaran menarik dari perjalanan ini. Dalam demokrasi, hak menggugat adalah bagian penting dari mekanisme pengawasan. Tetapi gugatan dan kemenangan merupakan dua hal berbeda. Yang satu membutuhkan keberanian. Yang lain membutuhkan dasar hukum yang kuat.
Sugi
Beliau bukan kerikil biasa Bah. Kerikil sakti. Kerikil biasa lainnya langsung bisa disingkirkan. Mari kita lihat ketangguhan kerikil istimewa ini. Kadang kerikil seperti ini sangat dibutuhkan untuk memberi efek jera pada pengguna jalan yang maunya menang sendiri, tidak mau taat dengan aturan yang berlaku.
riansyah harun
Kerikil itu ada yang diambil langsung dari sungai, biasanya kecil kecil dengan permukaan yang mulus. Namun ada juga kerikil yang dibuat dari pecahan batu besar dan mempunyai potongan potongan yang tajam. Rata rata para pekerja konstruksi jalan dan konstruksi bangunan, lebih memilih kerikil pecah tadi. Bisa saja jika dalam jumlah yang banyak, harganya lebih murah, dan daya ikatnya pun jauh lebih kuat. Baik untuk penggunaan campuran intuk aspal jalan, maupun adukan beton. Namun kerikil kali ini, adalah kerikil tajam. Saking tajamnya, beliau telah membuat "geger" seluruh Indonesia. Tapi kerikil itu mesti jumlahnya cukup, untuk membuat kuatnya konstruksi. Uppsss.., mungkinkah Pak Subhan bisa di tandem dengan Pak Boyamin Saiman, agar jauh lebih kuat...???
riansyah harun
Sebenarnya apa yang di cari Pak Subhan sampai begitu berani memberikan argumen di MA, sampai sampai ada yang usil, agar foto Mas Wapres yang berdampingan dengan Pak Prabowo, sudah bisa dilepas dari dinding, akibat Putusan MA tadi...?? Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana tegang (stress) nya Mas Wapres dan keluarga besarnya akibat pemberitaan yang begitu beruntun dan terus menerus tentang beliau. Seandainya saya berada di posisi seperti beliau, mungkin dengan persetujuan keluarga, saya akan mengundurkan diri dengan kesatria. Karena yang salah bukan saya, namun yang mengeluarkan Surat Keterangan itulah yang perlu dihukum. Karena disanalah sumber kegaduhan itu bisa terjadi. Dan saya akan menjadi tokoh muda dan negarawan yang dihormati, karena telah mengundurkan diri. Namun saya bukanlah seorang wapres..., melainkan hanya seorang yang selalu menunggu dengan setia tulisan Pak Dahlan di setiap pagi hari.
Sulaspin
Daut kecil bisa mengalahkan raja yahudi yang amat sakti. Hanya dengan senjata kerikil. Atas kehendak Tuhan, hal yang kecil dan sepele bisa berdampak sangat besar. Perlu ditunggu keberanian Kemendikdasmen untuk mengajukan PK. apakah masih punya nyali? Sekarang bola ditangan sang kapten. Mau diapakan bolanya. Kondisi gawang sudah kosong melompong. Sang kapten sudah sangat paham. Apa yang diinginkian pelatih kepala dan peononton. Bikin gol dengan cantik, indah dan atraktif serta spektakuler.
Mpok Dipa
Wah, andai pak Subhan mau menghibahkan mesin itu ke mahasiswa tehnik mesin sekarang ini ...InsyaAllah bisa jalan lagi itu mesin. Apalagi yg kuliah saat ini pada usia Gen Z, dahlah kerjaan mereka itu utak atik bongkar pasang kalau lagi di kuliahan. Ayo pak Subhan hibahkan saja, kalau berhasil siapa tahu bisa di produksi massal jadi cuan. Lihat pak, sekarang ini banyak rakyat menjerit karena tarif listrik rasanya naik tapi secara terselubung. Biar sollar sell ada kompetitornya. Ya Allah ...pagi pagi napa dah mikir cuan lagi. Astaghfirullah 10000000x.
siti asiyah
Bahkan sekedar sebutir debu bisa jadi ``klilip`` bagi sang penguasa, begitupun seujung kuku sisa makanan bisa jadi `slilit` bagi sang raja. Maka klilip harus disingkirkan, slilit harus ditemukan untuk kemudian dibuang. Begitulah tukang cukur keliling yang menjual jasa pangkas rambut ataupun tukang pijat keliling yang jual jasa hilangkan penat, bagi penguasa yang `cerdas` adalah obyek pajak baru yang potensial memberi kesempatan si miskin jadi patriot negara. Sungguh si penguasa bukan manusia ( biasa ).
Liam Then
kondisi Indonesia sekarang sedang labil, mata uang ada mantan menteri akui, ada resiko capai 22.000 rupiah jika kondisi semakin memburuk. Ini para penggugat yang minta wapres mundur apakah cukup bijaksana , apakah pandangan kedepannya cukup jauh dan mendalam? Yang di tulisan Pak DI, malah percaya mesin pembangkit listrik gratis tenaga ndak jelas. Kondisi labil kayak sekarang, rupiah ditepi tebing curam, masih main-main api ketidakstabilan dengan mewacanakan penggantian wapres. Nilai rupiah itu sangat tergantung persepsi ke dua hal ini, kestabilan ekonomi dan politik dalam negeri. Mbok ya tahan dikit napsu politiknya...apakah menurut anda Rupiah masih kurang murah? Sabarlah, 3 tahun ndak lama. Makanya banyak itu orang tanam sawit, 3 tahun saja sudah cukup buah pasir. Daripada anda-anda rusak nilai rupiah, celakakan ekonomi negara dan penghidupan puluhan juta warga negara yang sudah kelimpungan di nilai tukar 18.000-an sekarang. Bagaimana jika anda mulai persiapkan sosok wapres idaman anda untuk 3 tahun ke depan? Ndak lama toh, cuma sama kayak tanam sawit. Atau anda tak percaya diri? Wapres anda tak mampu bersaing? Saya ndak gimana-gimana amat sama Mas Gibran. Tapi saya lebih senang Mas Gibran duduk manis di kursi wapres 3 tahun lagi, daripada ditukar resiko ketidakstabilan nilai tukar rupiah. RI sudah cukup masalah, tolong jangan ditambahi resiko goncangan sistemik dari instabilitas politik.
Achmad Faisol
bagi orang awam mungkin hal ini tidak terlalu berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari... namun, pov orang hukum begini: meskipun langit runtuh, keadilan harus ditegakkan...
Achmad Faisol
koh liam, karena wapres ga penting, berarti diganti kan tidak apa-apa...? begitu, kan...? wong wapres juga bukan ketua umum ormas yang punya massa besar, ketua umum partai besar, dll... ga ada dampak besar di stabilitas sosial maupun nasional... sedangkan di sisi hukum, yang bicara itu tokoh-tokoh besar, para profesor, dll... dan, sebagaimana diketahui umum, masalah terbesar di indonesia adalah kepercayaan... kepercayaan tentang apa...? tentang penegakan hukum dan transparansi...
Beny Arifin
Saya kagum sekaligus geli. Kawan Pak Dahlan kok aneh aneh. Pak Subhan ini serupa dengan Pak Boyamin. 2 kawan Pak Dahlan ini punya hobi yang sama. Jeli melihat celah hukum dan masuk ke dalamnya. Dalam kasus Gibran ini yang satu memulai keributan, satunya lagi menyelesaikannya. Sebentar lagi. Kalau bisa.
Jo Neka
Anda sudah tahu:Kerikil bukanlah batu..Ya bos..Kerikil itu roti..Hahaaa..Ngomong opo bapak iki.Seperti orang² itu..Terlalu memaksakan sesuatu yang bukan hal penting.Hal yang harus menjadi perhatian adalah.Korupsi yang makin masif.Penegak hukum yang ikut²an korupsi.Sumber energi negara yang semakin menyusut.Aparatur pajak yang menyasar semua harta rakyat..Mungkin suatu saat..Membeli kondompun kena pajak..
Pak De Kumis
Jika memang betul demikian, siapa yang salah? Jawanannya jelas : Partai Politik (ketum + sekjen) sebab dari merekalah rekomendasi tanda persetujuan (restu) pencalonan didapat. Partai mana saja? Bisa ditelusuri mulai dari pemilihan walikota Solo, sebab awalnya dari sana. Gibran? Gibran adalah korban (dan penerima manfaat ) dari arogansi kekuasaan parpol. Apakah mayoritas parpol akan berani mengusulkan pemakzulan? Berani, asal mereka sudah gila karena tidak akan malu mengusap tahi di wajah sendiri.
Tivibox
Subhan Palal memang kerikil kecil. Tapi, ............ Kerikil itu bisa memicu longsornya batu besar dari tebing kekuasaan Mari kita tunggu kelanjutannya
mario handoko
selamat siang prof liang. menanggapi komentar prof liang tentang 50% dari total angkatan kerja tiongkok. berpendidikan menengah ke bawah. teringat awak akan berita "china's top student are rejecting elite universities for trade schools." di mana ditulis. bahwa ada beberapa peserta kao gao (snbt tiongkok) yang berhak masuk tsinghua university. ternyata malah pilih masuk ke shenzhen polytechnic. padahal tsinghua university adalah univ terbaik di tiongkok dengan rasio penerimaan mahasiswa di bawah 1%. mengapa demikian? ternyata, setelah melihat rombongan teknisi tiongkok yg memasang mesin di tempat saya (meminjam istilah pak udin) ngaduk semen. gaji mandor yg lulusan s1. nominalnya di bawah gaji teknisi2 yg lulusan stm. vendor mesin tiongkok lebih menghargai pegawai2 nya yg kerja di lapangan, bisa assembling, bisa trouble shooting. daripada pegawai s1 yg bertugas jadi mandor, checker dan admin. rasa2 nya di kemudian hari. walaupun robot akan mendominasi pabrik2. tetap akan dibutuhkan tenaga kerja level stm dan polyteknik. untuk setting kerja robot, commissioning, trouble shooting dan MRO.
Fa Za
Putusan MA yang dimaksud adalah soal gugatan administrasi negara (objeknya produk dari pemerintah, dalam hal ini ada surat keterangan kemendikbud tentang penyetaraan pendidikan). Ini menyangkut tiga pertanyaan: 1) Cacat kewenangan (yang menerbitkan surat itu tidak berwenang; atau 2. Cacat prosedur (ada tahapan yang tidak sesuai aturan); atau 3. cacat substansi (dasar untuk menerbitkan surat memang tidak ada). Dasar putusan MA yang mana? Tidak dijelaskan dalam putusannya. Jika berkaitan dengan nomor 1 dan 2, bisa dibuatkan lagi oleh lembaga yang berwenang dan sesuai prosedur yang berlaku karena menyangkut pendidikan yang memang telah dilaksanakan oleh pemohon surat itu. Namun jika berkaitan dengan nomor 3, itu berarti si pemohon surat tidak pernah sekolah sehingga tidak ada dasar untuk membuat surat keterangan itu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 30
Silahkan login untuk berkomentar