Tingkat-tingkat Kewalian

Rabu 30-11-2022,11:33 WIB
Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc. MA*

DALAM kajian sufisme, kewalian dibagi ke dalam beberapa tingkat dan golongan. Tingkatan ini mencerminkan posisi, tugas, dan fungsinya masing-masing. Tugas tersebut berkaitan dengan kehidupan spiritual maupun kehidupan duniawi. Karenanya, ada banyak tingkatan kewalian, antara lain: Qutubul Aqthab, Qutub, Abdal, Awtad, Ghauts, Nujaba' dan Nuqaba'.

Seorang Wali Qutubul Aqthab ini hanya ada satu orang. Seorang Wali Qutubul Aqthab akan menjadi pusat alam semesta, baik makhluk di langit maupun di bumi, di dunia maupun di akhirat. Sementara Qutub sendiri berjumlah 12 orang, Kedua belas Wali Qutub ini berada di dalam hati para Nabi; Qutub Pertama ada di hati Nabi Nuh as. 

Qutub Kedua ada di hati Nabi Ibrahim as., Qutub Ketiga berada di hati Nabi Musa as., Qutub Keempat ada di hati Nabi Isa as., Qutub Kelima ada di hati Nabi Dawud as., Qutub Keenam ada di hati Nabi Sulaiman as., Qutub Ketujuh ada di hati Nabi Ayyub as., Qutub Kedelapan ada di hati Nabi Ilyas as. 

Qutub Kesembilan ada di hati Nabi Luth as., Qutub Kesepuluh ada di hati Nabi Hud as., Qutub Kesebelas ada di hati Nabi Sholeh as., dan Qutub Keduabelas ada di hati Nabi Syits as. Semua kedua belas Qutub ini disebut Aqthab, yang diperintah langsung oleh Qutubul Aqthab. 

Keduabelas Qutub tersebut juga dibagi menjadi dua kategori; pertama, Qutub Iqlim, yaitu tujuh orang Qutub yang bertugas di tujuh iklim (wilayah yang memiliki karakter berbeda), dan kedua, Qutub Wilayah, yaitu lima orang Qutub yang bertugas di lima wilayah berbeda.

Hikmah pembagian semacam itu adalah apabila seorang Qutub naik ke jenjang yang lebih tinggi, maka pertama ia akan naik ke posisi Qutub Wilayah. Jika seorang Qutub Wilayah naik, maka ia akan naik ke posisi Qutub Iklim. Dan jiwa seorang Qutub Iklim naik, maka ia naik menjadi Abdurrab. Tujuh orang yang menyandang gelar Qutub Iklim ini juga disebut Qutub Abdal, yang berada di dalam hati Malaikat Israil as.

Pendapat lain mengatakan, dalam rangka menjaga satu desa, di sana terdapat seorang waliyullah yang disebut Qutub Qaryah (wali qutub tinggal desa). Tidak peduli apakah penduduk desa itu mayoritas kafir atau muslim, pasti ada Qutub Desa di sana (Muhammad Ali at-Tahanawi, Kasysyaf Isthilahat al-Funun, Maktabah Lubnan Nasyirun, 2/1328).

Sedangkan Wali Awtad adalah empat puluh wali yang menggantikan kenabian. Mereka juga disebut Wali Abdal. Tiga puluh orang dari mereka berada di dalam hati dan keyakinan Nabi Ibrahim as., yang tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan banyaknya mengerjakan shalat, puasa, khusyu', dan kebaikan perilaku mereka. Namun, berdasarkan kewara'an, ketulusan niat, dan ketuusan hati dalam memberikan nasehat kepada umat muslim, untuk menggapai ridha Allah. 

Misalnya, memberi nasihat kepada orang lain untuk bersabar, berbuat baik, berhati lembut, dan tawadhu'. Mereka tidak pernah mencela dan menyakiti hati siapapun, baik yang lebih rendah maupun yang lebih tinggi. Mereka juga tidak sombong, tidak cinta duniawi, dan hari ini mereka tidak takut, dan besok mereka tidak lupa (Majmu'ah Rasail Ibni Abi Dunya: Al-Awliay', Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiah Beirut, 1993: 4/27).

Wali Ghauts adalah Wali Qutub yang sedang dimintai pertologan oleh seluruh makhluk, baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dunia. Ketika sang Qutub tidak sedang memberikan pertolongan maka sebutan Ghauts tidak lagi berlaku padanya. Wali Ghauts ini adalah istilah untuk menggambarkan sebagai satu-satunya manusia yang menjadi tempat Allah memandang di setiap zaman. Dia adalah Khalifah Rasulullah saw. 

Wali Ghauts ini juga disebut Wali Abdal, karena bila ia sudah meninggal maka ada wali lain yang akan menempati posisinya (Muhammad Sirajuddin bin Ahmad, Khatam al-Misk al-Adzfar fi Syarh Rahiq al-Kautsar min Kalam al-Ghauts al-Rifa'i al-Akbar, Dar al-Kutub al-Ilmiah Beirut, 2022: 56). Dengan kata lain, Wali Ghaust ini berkaitan dengan tugasnya memberikan pertolongan (al-ghauts) kepada makhluk Allah.

Wali Nujaba' ini terdiri dari delapan orang di setiap zaman, tidak kurang tidak lebih. Wali Nujaba' ini lebih sering mengalami dan dikuasai oleh Ahwal tanpa kehendak mereka. Wali Nujaba' juga memiliki posisi yang kuat dalam mengatur bintang-bintang di langit. Mereka mengetahui kehidupan bintang-bintang bukan seperti para astronom jaman kita (Muhammad bin Ismail as-Shan'ani, Al-Inshaf fi Haqiqah al-Awliya' wa ma lahum min al-Karomat wa al-Althaf, Dar ibni Affan, Arab Saudi, 1997: 64).

Terakhir, ada juga Wali Nuqaba’ yang terdiri dari tiga orang. Ibnu Arabi dalam Futuhat al-Makkiyah, jumlah wali Nuqaba' ini dua belas orang sejumlah falak yang juga dua belas. Setiap Wali memahami betul satu falak, karena Allah menganugerahkan rahasia dan kekuasaan mengatur di setiap falak mereka sendiri. Karena itulah, banyak orang yang menolak konsep Wali Nuqaba’ ini, karena dikhawatirkan mendewakan bintang-bintang seperti era Jahiliah.

Selain itu, para Wali Nuqaba’ ini juga mengatur ilmu pengetahuan syariat, tentang baik buruknya nafsu manusia dan lainnya. Bahkan, Wali Nuqaba' mengetahui diri Iblis lebih yang tidak diketahui oleh Iblis itu sendiri (Abul Fadhl Syihabuddin Mahmud al-Alusi al-Baghdadi, Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-Azhim wa al-Siba' al-Matsarni, Dar Ihya' at-Turats al-Arabi Beirut, t.t., 6/94).

Dengan mempelajari tingkatan dan tugas para Wali di atas, kita menjadi tahu bahwa alam semesta ini telah dijaga oleh para waliyullah, bahkan sampai ke tingkat lokal pedesaan. Seandainya tidak ada waliyullah di setiap desa, tentu azab Allah akan menimpa umat Muhammad saw., seperti yang pernah menimpa umat terdahulu. Di sini kita berhutang budi kepada para Waliyullah, yang siang dan malam membantu menjaga alam semesta dan menjauhkannya dari murka Allah Swt (*)

Kategori :

Terkait

Kamis 01-12-2022,18:01 WIB

Cincin Para Wali

Rabu 30-11-2022,11:33 WIB

Tingkat-tingkat Kewalian

Selasa 29-11-2022,11:09 WIB

Kewalian Sebagai Pewaris Kenabian