"Pengembang," jawab si tukang.
BACA JUGA:Anggota DPR RI Soroti Pagar Misterius di Laut Tangerang: 21 Ribu Nelayan Tak Bisa Melaut!
Setelah mendengar jawaban itu, Heru sedikit kesal terhadap tukang-tukang tersebut.
Sebab menurutnya, tidak ada sosialisasi atau informasi kepada warga sekitar untuk membangun sebuah proyek.
"Kok nggak ada sosialisasinya atau koordinasi lah sama warga sekitar?" tanya Heru.
"Udah sama Pak RT," jawab si tukang misterius itu.
Usai mendengar jawaban itu, Heru sedikit mereda. Karena memang mungkin mereka sudah melalukan perizininan resmi kepada ketua RT setempat.
Dia pun berpesan kepada tukang itu, agar pembangunanan proyeknya dirapihkan. Sampah atau puing-puingnya jangan dibuang sembarangan. Apalagi ke laut.
"Oh yaudah kalau gitu silahkan aja. Kalau memang udah ada izinnya yang rapi aja mang, yang bagus gitu ya," kata Heru kepada tukang tersebut.
Heru menambahkan, tukang misterius itu berjumlah 10 orang. Atau kurang lebih 3 perahu untuk melancarkan pemasangan pagar laut misterius itu.
"Oh banyak, 10 orang (tukang). 3 perahu kalau nggak salah," tukasnya.
Diketahui, pagar laut misterius itu berdiri di pesisir Kabupaten Tangerang, Banten.