Targetnya, tahun 2027 proses normalisasi Kali Ciliwung sudah selesai.
Melansir laman dsda.jakarta.go.id, program normalisasi Kali Ciliwung sampai tahun 2025 baru terealisasi sepanjang 17,14 kilometer dari total 33,69 kilometer.
BACA JUGA:Pro Kontra Normalisasi Kali Ciliwung, Dikerjakan Ahok, Dihentikan Anies, Dilanjutkan Pramono
BACA JUGA:Sepulang dari Agenda PBB, Pramono Ungkap Transportasi Jakarta Lebih Baik Ketimbang New York
Siti Aminah (57), warga Rawajati, Jakarta Selatan yang terkena pembebasan lahan mengaku ikhlas rumahnya terkena proyek normalisasi Kali Ciliwung tersebut.
Siti mengaku sudah bosan dengan banjir. Dia menyebutkan, pada Minggu, 6 Juli 2025, saja, wilayah tempat tinggalnya terendam banjir hingga setinggi 1,7 meter.
"Yang terpenting, biaya ganti lahan dan bangunan sesuai dengan jumlah yang dijanjikan (Pemprov DKI Jakarta)," katanya.
Sebelumnya, Gubernur Pramono menyampaikan, permasalahan banjir di Jakarta disebabkan oleh tiga hal, yakni banjir kiriman, banjir spot lokal, dan banjir karena rob.
Pengendalian banjir di Jakarta memerlukan kerja sama berbagai pihak, tidak mungkin ditangani Pemprov DKI sendiri.
BACA JUGA:Tak Perlu Uang Tunai, Pramono Siap Digitalisasi Pasar di Jakarta, Preman dan Copet Gigit Jari
BACA JUGA:Pramono Anung Resmi Buka Lomba Digitalisasi Pasar, Dorong Transformasi Pasar Modern di Jakarta
Itu sebabnya, harus juga melibatkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Provinsi Banten, pemerintah pusat, dan terpenting adalah masyarakat.
Pengerukan dan Rencana Pembangunan Rumah Pompa
Langkah lain yang telah dilakukan dalam upaya menekan titik genangan air di Jakarta saat hujan deras adalah pengendalian yang bersifat lokal oleh Dinas SDA DKI Jakarta.
Seperti pengerukan lumpur di Kali Cakung Lama, Jalan Rawa Indah, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Senin 19 Mei 2025.
Pendangkalan Kali Cakung Lama menjadi penyebab genangan air di kawasan Kelapa Gading saat hujan deras turun.
BACA JUGA:Kompolnas Cek Lokasi Tewasnya Diplomat Kemenlu, Ini Kata Cak Anam