"Secara dari jenis obat-obatan, kesehatan atau penyediaan. Bahan-bahan, bibit-bibitnya, atau budidayanya lebih diperhatikan lagi dari pemerintah," ungkapnya.
"Kalau itu diperhatikan Insya Allah ternak kita bertambah maju. Gak kalah sama sapi-sapi impor," sambung Syaiful.
Meski di kandang sapi Putra Jakarta Farm tidak ikut langsung mendistribusikan pasok daging dan susu untuk progam MBG, namun pihaknya sangat siap apabila ditunjuk menjadi bagian.
"Kan itu termasuk pemesanan ya. Sudah termasuk dari pemerintah. Tapi kita belum dapat sih. Kalau mungkin dipercaya suatu saat, kita bersedia," tegasnya.
Selama ini, masih kata Syaiful, pihaknya belum menerima koordinasi yang terjalin dari pemerintah untuk mewujudkan hal tersebut. Hanya baru ditekan dari Sudin untuk mewanti-wanti virus PMK.
Dia menegaskan sapi di kandangnya itu sudah terjamin dari segi kesehatan dan kualitasnya. Hal itu terbukti dari pemeriksaan yang dilakukan Sudin terkait, pada waktu menjelang Idul Adha lalu.
Pada saat momen kurban Idul Adha lalu, kandang sapi yang berukuran 15x15 itu ramai dikunjungi pembeli. Dari 50-60 ekor, hanya menyisahkan 2 ekor sapi sampai dengan saat ini.
"Bobot terbesar sapi di sini sampai 800 up doang sih. Tergantung pesanan kalau bobot-bobot besar begitu," tuturnya.
Ada yang unik dari proses penjualan sapi-sapinya di sini. Tak hanya dipajang dipinggir jalan. Tetapi juga melalui live Tiktok. Antusias tinggi--pembeli ramai, cuannya pun tak main-main.
"Kalau dari komen-komen itu sih kadang-kadang ada komunikasi sama pedagang lain juga. Alhamdulillah penjualan ada perkembangan," urainya.
Bahkan ada pembeli yang berasal dari luar negeri. Pasarnya melalui mulut ke mulut. Konsumen itu tinggal di Australia. Namun ingin merasakan antusiasme pemotongan sapi di Indonesia.
Di Putra Jakarta Farm, sapi-sapi yang dikembangbiakkan datang dari Sumatera dan Jawa. Tapi kebanyakan didominasi oleh Sapi Lampung yang bobotnya besar.
Berdasarkan catatan tim Bisik Disway, Kementerian Koordinator bidang Pembangunan, Manusia dan Kebudayaan, memiliki peran koordinasi dan dukungan dalam kebijakan yang terkait dengan produk pangan asal hewan.
Misalnya melalui dukungan terhadap program penanganan stunting dengan pemberian protein hewani seperti daging dan susu, serta koordinasi penanganan penyakit mulut dan kuku (PMK) yang memengaruhi produk ternak.
Kebijakannya: Kemenko PMK berkoordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga terkait untuk menyelaraskan kebijakan pembangunan manusia dan kebudayaan.
Termasuk yang berkaitan dengan ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.