Kini bangsa ini membutuhkan keberanian spiritual: keberanian untuk menolak segala bentuk perbudakan diri, termasuk narkoba.
Penyalahgunaan narkoba adalah simptom sosial, bukan sekadar kelemahan personal.
BACA JUGA:Perbedaan Sistem Pesantren dan Feodalisme-Fasisme
BACA JUGA:Nabi Muhammad SAW dan Tradisi Saling Memberi dari Ahlus Suffah dan Darul Arqam
Sosiolog klasik Émile Durkheim dalam Suicide (1897) menyebut kondisi anomie sebagai sumber kehancuran moral masyarakat modern ketika individu kehilangan makna hidup karena runtuhnya norma sosial. Kondisi serupa kini melanda generasi muda: kebebasan tanpa arah, kemerdekaan tanpa kendali.
Dalam perspektif Islam, keadaan ini disebut ghaflah kelalaian spiritual yang membuat manusia melupakan Tuhan dan tujuan hidupnya.
Mereka mencari pelarian instan dari kegelisahan batin, dan narkoba menjadi pintu semu menuju ketenangan.
Padahal, Islam justru menegaskan bahwa kebahagiaan sejati hanya lahir dari jiwa yang tenang dan terkendali (an-nafs al-muthma’innah).
Budaya Instan
BACA JUGA:Xpose Uncensored dan Pesantren dalam Perspektif Komunikasi dan Public Relations
BACA JUGA:MANTAP! Saldo DANA Gratis Rp302.000 Cair Lewat 4 Cara Gampang Ini, Langsung Cek Kebenarannya
Generasi digital tumbuh dalam kecepatan yang memusingkan.
Setiap hari mereka dijejali tuntutan untuk sukses, eksis, dan terlihat bahagia.
Di dunia media sosial, ukuran kebahagiaan sering kali disempitkan menjadi likes dan followers, bukan kedalaman makna hidup.
Dalam suasana itulah narkoba mudah masuk: sebagai pelarian dari tekanan ekspektasi dan rasa kosong.
Budaya instan menawarkan “kebahagiaan kilat” yang sesungguhnya rapuh.