BACA JUGA:Integrasi One Health: Peran Sentral Dokter Hewan dalam Mendukung Ketahanan Pangan
Kompas Moral
Sumpah Pemuda bukan sekadar kenangan heroik masa lalu. Ia adalah kompas moral yang harus terus diperbarui sesuai zaman.
Jika 1928 adalah sumpah untuk menyatukan bangsa, maka 2025 harus menjadi sumpah untuk menyelamatkan jiwa.
Kami pemuda Indonesia, bersumpah menjauhi narkoba, menjaga akal, dan mengabdi bagi kemanusiaan.
Sumpah baru ini bukan sekadar kata-kata, melainkan ikrar peradaban. Rasulullah ﷺ bersabda: “Ada tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, salah satunya adalah pemuda yang tumbuh dalam ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menjauhi narkoba bukan hanya kewajiban hukum, tapi ibadah sosial, bentuk nyata dari cinta tanah air. Karena bangsa tidak akan runtuh oleh serangan luar, melainkan oleh keruntuhan moral dari dalam. Dan benteng pertama bangsa adalah jiwa para pemudanya.
BACA JUGA:Anak Indonesia Butuh Gizi Ruhani, Bukan Jasmani Saja
BACA JUGA:Instruktur Berkualitas, Peserta Didik Naik Kelas
Sumpah Pemuda bukan hanya peristiwa sejarah, tapi janji moral lintas zaman.
Ketika bangsa ini memperingatinya setiap tahun, semestinya kita tidak hanya mengulang kata “bersatu”, tetapi juga memperbarui tekad untuk menjaga akal dan martabat generasi muda.
Karena kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan politik,
tetapi merdeka dari perbudakan jiwa, candu, dan kehampaan moral.
Dan bangsa yang mampu menjaga akalnya dari racun, jiwanya dari kelalaian, serta anak mudanya dari kehancuran, itulah bangsa yang benar-benar merdeka.
*Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D, (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)*