Di dunia Islam, majelis ilmu dan tradisi musyawarah menjadi sarana penting pertukaran gagasan dan pembentukan karakter intelektual.
BACA JUGA:Ijtihad KH Imam Jazuli untuk NU dan PKB
BACA JUGA:Kampus Hijau Dimulai dari Budaya Hidup
Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan penguasaan ilmu secara sistematis, forum-forum informal ini bertransformasi menjadi lembaga pendidikan formal.
Al-Qarawiyyin di Maroko dan Al-Azhar di Mesir menjadi contoh awal perguruan tinggi dunia Islam yang bermula dari pendidikan agama dan kemudian membuka diri terhadap berbagai disiplin ilmu.
Di Barat, universitas seperti Oxford dan Harvard juga tumbuh dari lembaga keagamaan sebelum berkembang menjadi pusat ilmu multidisipliner.
Di era modern, universitas tidak lagi sekadar lembaga pengajaran, tetapi juga pusat penelitian dan inovasi.
Tuntutan industri terhadap teknologi baru mendorong perguruan tinggi menjadi mitra strategis dunia usaha.
Silicon Valley adalah contoh nyata keberhasilan kolaborasi riset antara Universitas Stanford dan perusahaan teknologi yang melahirkan ekosistem inovasi global.
BACA JUGA:Desember Pedas: Rutinitas Musiman dan Alarm Tata Kelola Rantai Pasok Cabai
BACA JUGA:Perempuan Pemberani Afghanistan
Dalam konteks poskolonial, perguruan tinggi di negara berkembang dibangun untuk mencetak ahli pembangunan sekaligus menjaga identitas nasional.
Namun globalisasi dan standar pemeringkatan internasional turut mendorong komersialisasi pendidikan tinggi, sehingga universitas kerap diperlakukan sebagai industri jasa pendidikan.
Indonesia memiliki jumlah perguruan tinggi yang sangat besar, terbanyak kedua di dunia setelah India.
Dengan jumlah penduduk yang besar, peran pendidikan tinggi Indonesia menjadi sangat strategis, baik dalam pengembangan sumber daya manusia maupun internalisasi nilai-nilai kebangsaan.
Universitas Indonesia, yang berakar dari STOVIA (1849), dan Universitas Islam Indonesia (1949) menjadi tonggak penting sejarah pendidikan tinggi nasional.