Tanggung Jawab Moral Kaum Inteligensia

Jumat 16-01-2026,09:52 WIB
Oleh: Prof. Jamhari Makruf, Ph.D

BACA JUGA:Menelusuri Mozaik Islam di Turki

Dalam perspektif ini, kaum intelektual tidak cukup hanya menjadi penjaga menara gading pengetahuan.

Mereka dituntut hadir sebagai aktor perubahan yang peka terhadap penderitaan sosial, berani bersuara, dan bersedia mengambil risiko moral.

Di sinilah letak esensi tanggung jawab kaum inteligensia menjadikan ilmu bukan sekadar alat analisis, melainkan kekuatan etis untuk membela kebenaran dan memperjuangkan kemanusiaan.

Menuju Perguruan Tinggi Berdampak

Saat ini, Indonesia menuntut perguruan tinggi untuk melampaui peran tradisionalnya sebagai lembaga pengajaran dan benar-benar menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.

Tantangan itu tidak kecil. Rasio lulusan pendidikan tinggi di Indonesia masih berkisar 10 persen dari total penduduk.

BACA JUGA:Sinergi Baru Akademisi Indonesia dan Turki

BACA JUGA:Kunjungan Delegasi Indonesia ke Hayrat Foundation Istanbul: Menguatkan Islam Wasathiyah dan Kolaborasi Global

Angka ini menunjukkan bahwa akses terhadap pendidikan tinggi masih terbatas, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa kualitas dan relevansi pendidikan tinggi harus terus diperkuat agar mampu menjawab kebutuhan bangsa yang semakin kompleks.

Perguruan tinggi juga dituntut menyiapkan talenta unggul bagi dunia usaha dan pemerintahan.

Di tengah persaingan regional yang semakin ketat, negara-negara ASEAN bergerak cepat menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri, teknologi, dan birokrasi modern.

Jika perguruan tinggi Indonesia tidak sigap merespons, kesenjangan kualitas sumber daya manusia akan semakin lebar.

Lebih dari itu, perguruan tinggi diharapkan menjadi pusat lahirnya riset inovatif yang relevan dengan persoalan nyata masyarakat, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif atau mengejar publikasi.

Untuk itu, ekosistem riset yang kuat menjadi prasyarat utama.

BACA JUGA:Fondasi Baru Perdamaian Dunia

Kategori :