Masa Depan Negeri Para Mullah

Rabu 21-01-2026,11:05 WIB
Oleh: Prof. Jamhari Makruf, Ph.D

Pada masa Perang Dunia II, Iran kembali menjadi ajang perebutan kekuatan besar. Inggris dan Uni Soviet menaklukkan Iran karena kekhawatiran bahwa Iran cenderung mendukung Jerman.

Posisi geografis Iran yang strategis menjadikannya wilayah penting dalam jalur logistik perang. Sejak saat itu, pengaruh Barat—baik Eropa maupun Amerika Serikat—semakin kuat dalam politik Iran.

Modernisasi Iran

Iran memasuki fase modernisasi besar-besaran pada tahun 1963 melalui apa yang dikenal sebagai Revolusi Putih (White Revolution), yang dicanangkan oleh Mohammad Reza Shah Pahlevi.

Revolusi ini disebut “putih” karena dilakukan tanpa peperangan. Program tersebut mencakup industrialisasi, reformasi agraria, pemberian hak-hak perempuan, pembatasan kepemilikan lahan, serta modernisasi kota-kota besar.

Modernisasi ini membawa pertumbuhan ekonomi pesat. Harga minyak melonjak, pendapatan negara meningkat, partisipasi perempuan di ruang publik semakin nyata, dan kehidupan perkotaan menjadi lebih modern.

Namun, modernisasi tersebut juga menuai kritik tajam. Kesenjangan ekonomi melebar, urbanisasi menggerus tradisi pedesaan, pembatasan lahan memukul petani kecil, dan sekularisasi dianggap mengancam identitas keagamaan masyarakat. Kepemimpinan Shah yang otoriter dan represif memperparah ketidakpuasan publik, hingga akhirnya meledak dalam Revolusi Iran 1979.

BACA JUGA:Gak Cuma Reza Arap, Sejumlah Saksi Juga Diperiksa Buntut Kematian Lula Lahfah

BACA JUGA:API Laporkan Komika Pandji Pragiwaksono Dilaporkan ke Polda Banten Soal Mens Rea!

Revolusi Iran

Revolusi Iran yang berlangsung antara 1978–1979 mengejutkan dunia. Charles Kurzman menyebut runtuhnya kekuasaan Shah sebagai sesuatu yang unthinkable.

Rezim Shah sangat kuat, didukung militer dan Amerika Serikat. Namun, gelombang demonstrasi massal melawan otoritarianisme, pembatasan kebebasan berpendapat, dan ketergantungan berlebihan pada Amerika Serikat terus membesar.

Modernisasi yang menyingkirkan peran agama memicu perlawanan ulama Syiah. Iran adalah pusat ajaran Syiah dunia, tempat pembelajaran dan ritual besar seperti Asyura dan Arbain.

Ziarah Arbain—berjalan kaki dari Najaf ke Karbala sejauh sekitar 80 kilometer—diikuti jutaan orang, bahkan diperkirakan melebihi jumlah jamaah haji.

Salah satu pilar utama ajaran Syiah adalah konsep Imamah. Dalam tradisi ini, Imam bukan hanya pemimpin spiritual, tetapi juga pemimpin sosial-politik yang dianggap maksum.

Konsep ini membangun loyalitas, solidaritas, dan ketaatan yang sangat kuat di kalangan pengikut Syiah, menjadikannya kekuatan sosial-politik yang signifikan.

Kelompok intelektual seperti Ali Shariati serta kelompok sosialis kiri juga mengkritik modernisasi yang hanya menguntungkan elit kerajaan. Kesenjangan sosial melebar, korupsi merajalela. Kelompok seperti Tudeh dan Mujahidin-e Khalq mengorganisasi gerakan bawah tanah.

Gabungan ulama Syiah, intelektual, dan gerakan kiri inilah yang akhirnya menjatuhkan Shah pada 1979.

Kategori :