Masa Depan Negeri Para Mullah

Masa Depan Negeri Para Mullah

Prof. Jamhari Makruf, Ph.D. Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia: Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei menekankan hak rakyat Iran untuk menentukan nasib sendiri dan memperoleh ilmu pengetahuan, termasuk kemampuan memperkaya uranium.-dok disway-

JAKARTA, DISWAY.ID - Mari kita bicara tentang Iran. Dalam sejarah panjangnya, Iran dahulu dikenal dengan nama Persia.

Pada tahun 1935, Reza Shah Pahlevi meminta agar nama “Iran”—yang berarti the land of Aryan—digunakan dalam komunikasi politik internasional. Sejak saat itu, Iran menjadi nama resmi negara, menggantikan Persia dalam konteks diplomatik global.

Tahun lalu (2025), saya berkunjung ke Iran, sekitar dua minggu sebelum serangan Israel terhadap tokoh militer Iran di Teheran.

Bersama peserta dari berbagai negara Muslim, kami menghadiri peringatan wafat Ayatullah Imam Khomeini di Haram Mutthohar, tempat beliau dimakamkan.

Acara tersebut dihadiri ribuan warga Iran. Dalam kesempatan itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, menyampaikan pidato kenegaraan yang mengingatkan kembali pada perjuangan dan cita-cita Revolusi Islam.

Ia menekankan hak rakyat Iran untuk menentukan nasib sendiri dan memperoleh ilmu pengetahuan, termasuk kemampuan memperkaya uranium. Pidato itu disambut yel-yel keagamaan yang menggema dari para hadirin.

BACA JUGA:Imbas Ketegangan Iran-AS Memanas, Harga Minyak Dunia Kini Terancam

BACA JUGA:Sedikit Saja Ali Khamenei Diserang, Iran Ultimatum AS Umumkan Perang!

Iran memang sejak lama menjadi perhatian dunia. Dalam The Cambridge History of Iran (2008), dijelaskan bahwa sejak masa pra-Islam, wilayah yang kini dikenal sebagai Iran telah menjadi pusat peradaban besar.

Kekaisaran Persia yang dimulai dari Dinasti Achaemenid pada abad ke-6 SM mampu membangun kekuasaan luas dari Asia Tengah hingga Mesir dan Yunani, menjadikannya salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia.

Setelah Achaemenid, Persia berada di bawah Dinasti Parthia dan Sassanid, yang masing-masing memiliki pengaruh signifikan dalam bidang ilmu pengetahuan, budaya, dan politik kawasan.

Pada abad ke-7 M, Islam masuk dan menaklukkan Persia. Penaklukan ini justru memberi kontribusi besar bagi peradaban Islam. Pengaruh Persia sangat kuat dalam pembentukan sastra, arsitektur, administrasi, dan filsafat Islam.

Tidak mengherankan jika banyak ilmuwan Muslim besar—seperti Ibn Sina, Al-Biruni, Al-Khawarizmi, Abu Hanifah, Al-Ghazali, dan Suhrawardi—berasal dari wilayah Persia atau tumbuh dalam tradisi intelektualnya.

BACA JUGA:’Haram’ Ada Kata Gagal, Menhaj Gus Irfan Semangati Petugas Haji 2026: Pionir Sejarah!

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Close Ads