Masa Depan Negeri Para Mullah

Masa Depan Negeri Para Mullah

Prof. Jamhari Makruf, Ph.D. Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia: Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei menekankan hak rakyat Iran untuk menentukan nasib sendiri dan memperoleh ilmu pengetahuan, termasuk kemampuan memperkaya uranium.-dok disway-

Kelompok intelektual seperti Ali Shariati serta kelompok sosialis kiri juga mengkritik modernisasi yang hanya menguntungkan elit kerajaan. Kesenjangan sosial melebar, korupsi merajalela. Kelompok seperti Tudeh dan Mujahidin-e Khalq mengorganisasi gerakan bawah tanah.

Gabungan ulama Syiah, intelektual, dan gerakan kiri inilah yang akhirnya menjatuhkan Shah pada 1979.

BACA JUGA:Vape Lewat, Ngerinya Penyalahgunaan Whip Pink Dibongkar Spesialis Paru: Ini Bukan Krim Kue Biasa!

BACA JUGA:Bryan Mbeumo Rekrutan Terbaik MU Sejak Bruno Fernandes, Momok Bagi Tim 6 Besar Liga Primier

Wilayatul Faqih

Pasca-revolusi, Iran membentuk Republik Islam dengan konsep Wilayatul Faqih, yaitu kepemimpinan politik dan agama berada di tangan ulama tertinggi.

Konsep ini memicu perdebatan. Sebagian mengusulkan kepemimpinan kolektif ulama untuk mencegah lahirnya otoritarianisme baru. Namun, akhirnya otoritas tertinggi dipegang satu figur.

Perbedaan pandangan ini menyebabkan kelompok sosialis dan nasionalis tersingkir dari pemerintahan. Iran kemudian berkembang menjadi negara teokratis Syiah.

Dominasi ini menimbulkan ketegangan regional, terutama dengan negara-negara Sunni. Kerusuhan haji 1987 di Mekkah memperdalam luka sektarian dan geopolitik.

Revolusi Iran dianggap kemenangan Islam oleh sebagian pihak, tetapi dipersepsi sebagai kemenangan Syiah oleh yang lain. Sejak saat itu, berbagai negara mendukung upaya menahan pengaruh Iran.

Negara-negara monarki di kawasan juga merasa terancam dan mencari perlindungan keamanan ke kekuatan eksternal.

Persimpangan Masa Depan

Iran adalah negeri dengan warisan peradaban panjang, keragaman budaya yang kaya, dan sumber daya alam yang melimpah.

Minyak dan gas menempatkannya sebagai salah satu pemain penting energi dunia, sementara cadangan uranium, tembaga, besi, dan emas memperkuat posisi strategisnya dalam peta geopolitik global.

BACA JUGA:Bryan Mbeumo Rekrutan Terbaik MU Sejak Bruno Fernandes, Momok Bagi Tim 6 Besar Liga Primier

BACA JUGA:Thomas Djiwandono Akan Jalani Fit And Proper Tes Sebagai Deputi Gubernur BI Hari Ini

Produk pertanian bernilai tinggi seperti safron, pistachio, kurma, dan kaviar menegaskan bahwa Iran bukan hanya negeri energi, tetapi juga negeri budaya dan pengetahuan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Close Ads