Suhu Politik
--
Kalau saja saya punya termometer, suhu politik Indonesia sekarang ini rasanya di sekitar 38 derajat. Termometer Anda mungkin menunjukkan angka 39 derajat. Para pengusaha sebaiknya tidak usah sering-sering buka medsos. Itu akan membuat suhu badan Anda naik jadi 40.
Kalau pun terpaksa melihat medsos jangan sampai melotot. Cukup lirik-lirik saja sedikit. Setelah tahu sekadarnya segeralah putuskan: tidak memercayainya. Sekarang ini sudah sulit membedakan mana aspirasi murni mana aspirasi ''wani piro" --mau bayar berapa. Saya sendiri lebih ikuti medsos kalau bentuknya meme. Lucu-lucu. Sedikit terhibur.
Cara melihat medsos tanpa ikut emosi sangatlah mudah: jangan punya sikap memihak. Ini bukan sepak bola. Kalau menonton sepak bola memang harus memihak; tidak memihak tidak asyik.
Misalnya ada medsos mengatakan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin segera diperiksa. Terkait dengan penetapan Febrie Adriansyah sebagai tersangka pencucian uang. Di rumah (waktu itu) Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Korupsi Febrie Adriansyah ditemukan emas 74 kg dan berbagai uang asing bernilai Rp 476 miliar. Yang menemukan adalah polisi dari Satuan Pemberantasan Korupsi Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Mereka sengaja melakukan penggeledahan di rumah Febrie yang di Sentul dekat Bogor.
Sejak Febrie menyatakan "itu bukan uang saya" dan ''uang itu ada yang punya'' spekulasi memang bermunculan. Salah satunya: uang itu milik Menhan Sjafrie Sjamsoeddin. Tidak adanya bantahan dari menhan membuat spekulasi itu tidak berhenti.
Maka sebaiknya jangan percaya dulu. Anggap saja itu hiburan. Kalau pun benar, apa untungnya bagi Anda. Tidak ada. Kalau salah tiwas terpanjur percaya.
Saya lihat banyak orang percaya begitu saja pada medsos. Apalagi kalau sudah ada videonya. Padahal di zaman AI ini apalah yang tidak bisa dibuat.
Yang juga penting bagi Anda: jangan menambah panas suhu Istana Merdeka Jakarta. Misalnya dengan cara ikut menjadi kompor: menyebarkan isu adanya dua kubu di Istana yang sudah ''pecah''. Dua-duanya sama-sama tangan kanan Presiden Prabowo: Prof Dr Sufmi Dasco Ahmad dan Sjafrie Sjamsoeddin. Wakil Ketua DPR Dasco tangan kanan bidang politik. Menhan Sjafrie tangan kanan bidang keamanan nasional.
Isu seperti itu tidak baru. Juga bukan baru terjadi di zaman Presiden Prabowo. Di semua zaman ada isu seperti itu. Sejak zaman kerajaan Tiongkok kuno. Selalu saja orang di sekitar pusat kekuasaan ingin terlihat 'yang paling dekat' dengan Presiden. Atau 'yang paling dipercaya' Presiden.
Padahal Presiden sendiri bisa jadi tidak percaya siapa pun. Seperti di zaman Pak Harto dulu. Sebagian orang percaya Ali Murtopolah orang kepercayaan presiden di bidang politik. Lalu Sudjono Humardani-lah orang yang paling dipercaya dalam hal spiritual. Seolah Sudjono itu guru kebatinannya Pak Harto.
Ternyata Pak Harto sendiri mendengar isu seperti itu. Ketika belakangan Pak Harto menerbitkan buku, jelaslah semuanya. Menurut Pak Harto justru Sudjono yang berguru soal kebatinan ke Pak Harto. Dan Ali Murtopo dengan gampang "dibuang" begitu saja.
Memang isu di luaran biasanya lebih gawat dari kenyataan sebenarnya. Orang Madura punya istilah yang amat pas untuk menggambarkan itu: wat menggawat. Digawat-gawatkan.
Bagaimana cara melupakan dengan cepat isu-isu di medsos? Mudah. Tetaplah selalu sibuk. Anda yang sedang menekuni dunia usaha konsentrasilah di usaha Anda. Bikinlah target capaian sedikit lebih tinggi dari kemampuan Anda. Politik tidak akan bisa menyelamatkan Anda. Hanya Anda sendiri yang bisa mengatasi kesulitan Anda. Politik tidak akan membantu Anda.
Suhu politik memang sedang tinggi. Ada mal yang sudah mulai bikin pagar baru yang lebih tinggi. Rasanya itu agak berlebihan –mungkin karena terlalu banyak mengikuti masalah-masalah yang wat menggawat di medsos.
Padahal Anda tidak boleh lupa: medsos juga bisa dipakai untuk operasi intelijen. Pihak lawan juga menggunakannya untuk operasi kontra-intelijen. Anda bukan bagian dari keduanya kan? Tidak usahkan memihak. Untuk apa memihak-mihak –yang itu berarti Anda termakan operasi intelijen atau kontra intelijen? (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 28 Juli 2026: Independensi Habibie
Sugi
Mundur dari jabatan saat merasa tidak mampu lagi mengemban amanah adalah jalan ninjaku eh langkah bijakku. Perlu nih dicontoh oleh para pejabat yang nirprestasi tapi ngotot memegang tampuk kekuasaan.
Ima Lawaru
Sejak kemarin saya sudah menduga. Topik yang akan diulik Abah di CHD hari ini adalah mundur dirinya Pak Perry Warjiyo. Ah perusuh kacangan seperti saya instingnya bisa kuat juga. Wkwkwk.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
MENTERI KEUANGAN DAN GUBERNUR BI: KEDUANYA TIDAK PERNAH PEGANG UANG.. Ini mungkin profesi paling unik di negeri ini. 1) Menteri Keuangan mengurus uang negara triliunan rupiah. 2) Gubernur BI mengatur uang yang beredar di seluruh Indonesia. Tapi kalau mau beli bakso di pinggir jalan, tetap harus merogoh dompet sendiri. Tidak bisa berkata, "Saya Menteri Keuangan." Apalagi, "Saya Gubernur BI." Tukang bakso pasti menjawab, "Bagus, Pak. Sekarang uangnya mana?" Memang begitu hukum ekonomi. Yang mengelola uang belum tentu memegang uang. Sama seperti Menteri Pertanian belum tentu tiap pagi mencangkul sawah. Atau Menteri Kelautan belum tentu tiap sore mancing ikan. Jadi jangan iri pada jabatan. Bisa jadi yang paling sering pegang uang justru kasir minimarket. Bedanya, setiap malam uangnya harus disetor lagi. Jadi, pada akhirnya, uang memang punya sifat yang setia: ia selalu lebih suka berada di dompet orang lain.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
KISAH NYATA: ADA ORANG TUA YANG TIAP HARI MENDOAKAN ANAKNYA: UANGNYA BANYAK, KE MANA-MANA NAIK MOBIL Iya ini kisah nyata. Seorang ibu setiap hari berdoa agar anaknya kelak uangnya banyak dan ke mana-mana naik mobil. Doanya terkabul. Anaknya setelah dewasa menjadi kondektur Bus DAMRI. Setiap hari memegang setumpuk uang. Ke mana-mana juga naik mobil. Bahkan satu hari bisa puluhan kali keliling kota. Hanya saja mobilnya bukan miliknya. Uangnya juga harus disetor. Di situlah saya belajar, doa memang penting, tetapi redaksinya juga perlu diperjelas. Jangan hanya minta "banyak uang". Tambahkan, "milik sendiri". Jangan hanya minta "naik mobil". Tambahkan, "di kursi pengemudi atau penumpang, bukan sambil menggantung di pintu." Rupanya, jauh sebelum era kecerdasan buatan mengenal prompt engineering, para orang tua juga perlu belajar doa engineering. Sebab, kalau "prompt"-nya kurang lengkap, semesta kadang mengabulkannya... persis seperti yang diminta, bukan seperti yang dimaksud.
Achmad Faisol
saya yakin semua orang tahu BI harus independen... namun, mengapa ketika sang keponakan jadi petinggi BI semua seperti kena ajian sirep megananda...? semua orang tahu bahwa kurs rupiah juga dipengaruhi kebijakan fiskal...? namun, mengapa pemerintah masih menjalankan proyek secara ugal-ugalan, bertingkah bak orang tajir melintir...? proyek-proyek itu anda pun sudah tahu...
xiaomi fiveplus
dulu awal-awal disway tayang, yang dikabarkan adalah perjalanan dan kisah-kisah di luar negeri yang banyak memberi inspirasi. sekarang ketika disway sudah mulai (bahkan sering) mengabarkan berita dalam negeri, isinya tiap hari hanya demotivasi.
Thamrin Dahlan YPTD
Alasan mundur banyak. Salah satunya tidak nyaman lagi berkarya karena tekanan. Ingat ini hanya salah satu dari sedemikian banyak kenapa mundur teratur. Sakit, Capek, Masalah keluarga dan lain lain alasan.. Satu hal pasti mundur dari jabatan pasti lebih terhormat dari pada di mundur kan. Apakah sama dengan filosofi nyaman. Seorang negarwan (kalau ada) akan keluar dari zona nyaman walaupun jabatan sangat prestise, terhormat dan banyak uang (gaji resmi) plus fasilitas. Berani keluar dari zona nyaman karena nyakin akan mendapatkan kenyamanan yang berlebih beberapa tingkat diatas.. Banyak pejabat atau tokoh yang melakukan atau memastikan bahwa dirinya sudah cukup berkarier karya ditempat lama. Ada tantangan lain yang bisa dilakukan agar dirinya memiliki nilai kehidupan lebih bermanfaat. Luar biasa. Siapa dia orangnya ? Anda sudah rahu Beliau ada bersama kita di Indonesia.. Beliau bahagia, bebas berkelana, bebas memberikan nasehat walaupun terkadang tidak dianggap. Niat tulus ikhlas berbagi itulah kebahagiaan sejati. Cara paling moderat yaitu melalui literasi. Jabatan atau pekerjaan institusi bergelimang birokrasi sulit independent. Se harusnya didukunug oleh para pihak lain untuk menjaga .agar independent. Beda perusahaan usaha milik sendiri. Birokrasi sulit independent karena banyak intervensi (untuk bisa bekerja optimal). Ketika ada pihak lain ikut ikut mengatur maka terjadilah masalah per masalah. Jerman kata disway. bisa kuat Badan Keuangan. NKRI ($) ?
Denny Herbert
Trump punya gaya yang sangat bertolak belakang terhadap bank sentral AS (The Fed). Trump sering marah-marah dan menekan The Fed agar menurunkan suku bunga supaya ekonomi terlihat "ngebut" dan memperbesar peluangnya menang pemilu. Ibarat sang pelatih bola yang memprotes wasit di pinggir lapangan, "Hei Wasit, kasih tim saya penalti dong biar kami cepat menang!" Bedanya: Habibie berpikir jangka panjang: BI harus independen supaya ekonomi negara stabil dan dipercaya dunia. Trump berpikir jangka pendek: Bank sentral harus menuruti kemauannya demi keuntungan politik saat itu juga. Jika bank sentral terus diintervensi demi kepentingan politik, dampaknya bisa berbahaya: harga barang-barang naik tajam (inflasi) dan masyarakat yang akhirnya dirugikan. Fenomena ini kini seperti menjangkiti Indonesia: Prabowo tampak mengikuti gaya Trump dengan memasukkan keponakannya ke BI, hingga membuat investor mulai kehilangan kepercayaan.
Hendri Ma'ruf
Maaf pak Dahlan, kalimat ini keliru: "Baru Perry gubernur bank sentral Indonesia yang dipilih kembali untuk masa jabatan kedua." Di era Pak Harto, ketika pergantian Kabinet setelah Pemilu (tahun 1978 kakau tak keliru) Gubernur BI Rachmat Saleh diangkat kembali untuk masa jabatan yang kedua. Pak Dahlan masih kinyis2 sebagai wartawan muda sementara saya masih hijau karena masih kuliah.
Jokosp Sp
Pak DI nulis saja masih pakai malu-malu: BI saja harus memberi rupiah untuk DPR yang memilihnya. Apakah karena kita sudah pada tahu?. Tulis saja dengan terang : Kasus korupsi dana CSR BI dan OJK melibatkan dua anggota DPR RI periode 2019-2024, Satori dan Heri Gunawan. Sudah ditetapkan KPK sebagai tersangka penyalahgunaan dana sosial sebesar Rp 28,38 miliar untuk kepentingan pribadi dan mengatasnamakan yayasan. Satori (Nasdem) menerima Rp 12,52 M dialirkan ke yayasan untuk pribadi seperti deposito, showroom dan aset lain. Heri Gunawan (Gerindra) menerima Rp 15 M lebih melaui empat yayasan fiktif untuk beli kendaraan dan membangun rumah makan. Modusnya: adalah Program Sosial Bank Indonesia dan OJK disalurkan lewat yayasan binaan Komisi XI DPR RI. Namun sampai saat ini KPK tidak pernah menahan dan memproses secara hukum kasus korupsi ini dengan status sudah tersangka sejak Agustus 2025. Pihak seperti MAKI terus mendesak proses hukumnya. Kecurigaan semua anggota komisi XI dari Nassdem dan Gerindra inilah yang memicu kemacetan penyidikan, apalagi Gerindra jadi penguasa saat ini. Amsiong lagi. BI saja sudah terlibat korupsi. Mana ada investor luar percaya?. Dan orang BI pun tidak ada yang diperiksa KPK. Terus kerjamu opo, cuma jadi petugas pesanan penguasa?. Cuma nangkepin bupati?. Oalaaaaaahhhhhhh......ajur jum. Ini negara korupsinya sudah sangat kronis, cari satu institusi yang bersihpun ndak ada ketemunya. Ambyarrrrrrrrrrr.
Jo Neka
Beliau mundur karena "sakit hati" Sudah berusaha sekuat tenaga menurunkan kurs rupiah. Datanglah pidato berapi api.. Hei antek antek asing. ... Dan rupiah pun melorot...
Juve Zhang
Banyak yg koreksi tulisan Don Dahlan Iskan krisi moneter 1998 tentu bukan sengaja ditulis 1988...itu faktor U....jadi santai saja kalau baca salah ketik atau salah tahun...itu bukan kesalahan fatal...nah kenapa Gubernur Bank sentral mundur??? kemungkinan kenaikan BI rate yg tiba tiba dalam kurun waktu pendek sampai tiga kali menaikan BI rate jadi penyebab "kambing putih" mandek nya ekonomi....BI rate yg naik 3 kali dalam waktu singkat konon setara negara Kongo yg juga naikan Bank Sentral Rate dalam 3 kali dan waktu singkat....anda tahu ini bukti kepanikan Gubernur Bank sentral melihat Rp loyo ambruk Maka cepat dan gelagapan gub bank sentral berturut turut naikan BI Rate akibatnya goncang perbankan....bunga kredit naik ....tambah lesu semua penjualan karena naiknya bunga pinjaman....tentu pemerintah kesal.... ekonomi mandek yg ada inflasi melambung karena ayam telor sayur mayur buah buah melonjak gak kebeli lagi sama rakyat kebanyakan utamanya yg penghasilan rendah tapi semua Rakyat Tahu Biang Kerok naik nya Ayam telor sayur mayur buah buah itu bukan Gub Bank sentral tapi Biang Kerok nya Hanya satu EmbGe itu penyakit nya....jelas EmbGe kambing hitam sedang Gubernur Bank sentral Kambing Putih.... masyarakat sudah Cerdas Bukan Salah Gubernur Bank sentral tapi salah nya Pencetus EmbGe itu siapa dia konon Sang Raja atau Kawan nya sang Raja sultan Petruk kah????entah lah masyarakat sudah lelah gak sanggup makan Ayam Telor sayur mayur buah buah melonjak naik harganya.....sudah jelas
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
RESEP HABIBIE, DAN KEAJAIBAN KEPERCAYAAN.. Ada data dan info yang seperti tidak pernah pensiun. Salah satunya adalah kisah rupiah yang menguat dari sekitar Rp16.000 menjadi sekitar Rp8.000 per dolar pada masa Presiden Habibie. Setiap kurs bergejolak, kisah itu selalu dipanggil kembali. Hampir abadi. Sayangnya, banyak yang hanya mengingat hasilnya, tetapi lupa salah satu penyebabnya. Habibie memilih menghormati independensi Bank Indonesia. Ia tidak merasa harus ikut memegang kemudi kebijakan moneter hanya karena menjadi presiden. Dalam ekonomi, kepercayaan sering lebih kuat daripada pidato. Pasar tidak hanya menghitung cadangan devisa atau suku bunga. Pasar juga menilai sikap seorang pemimpin terhadap institusi. Habibie memberi pelajaran sederhana: Kadang kontribusi terbesar seorang presiden bukanlah melakukan lebih banyak, melainkan tahu kapan tidak ikut campur. Tidak semua keberhasilan lahir dari tindakan. Sebagian justru lahir dari kemampuan menahan diri. Itu terdengar sederhana. Tetapi dalam politik, sering kali itulah yang paling sulit.
Bahtiar HS
Tapi ada, mungkin banyak, orang yg sebenarnya sakit, tp tdk pernah bilang lagi sakit. Satu di antaranya yg sempat saya kenal adalah Uncle M. Nama lengkapnya Manshor H. Sukaemi. Keturunan Blitar. Moyangnya migrasi ke Singapura dan jadi warga negara di sana. Beliau pakar perkembangan dan pendidikan anak. Bukunya yg sempat saya edit diterbitkan di Indonesia: Aceminda - Anak Cerdas Anak Mulia Anak Indah. Di akhir masa tuanya, beliau dedikasikan utk menyebarkan ilmu itu ke banyak orang. Beliau putuskan tinggal di pondok di daerah Delanggu Mojokerto. Aktivitas beliau bangun sekolah utk anak2, mengajar, keliling menularkan ilmunya itu. Hingga pada suatu ketika dlm forum, di saat beliau lg semangat berbicara, lalu minta izin keluar sebentar. Peserta pun menunggu. Di luar, ternyata beliau muntah darah. Tak banyak yg tahu. Lalu beliau melanjutkan seminar spt tdk ada apa2. Kepada kamilah beliau mengaku terkena leukimia. Kanker darah. Tp merasa tetap sehat. Sehat yg ditutup2i. Pulang ke Singapura, kami dengar beliau masuk RS. Kritis. Bbrp hari. Suatu hari, sy dikejutkan ketika beliau telp. Uncle M! Lho bukannya lg dirawat di RS? "Saya sdh sehat, Bahtiar!" serunya di seberang. "Kita ketemu ya di Bandung bulan depan. Bla bla bla." Beliau sampaikan rencana seminar di Bandung spt rencana sblm ngamar di RS itu. Sy disuruh bantu2 nanti. Dan meski di telp, sy menangkap semangat lelaki tua itu yg sama ketika bicara tatap muka. Di hari Jumat setelah telp itu, beliau pun wafat.
istianatul muflihah
Abah harusnya 1998 jadi ditulis 1998. Kalau 1988 memang benar, saya belum lahir
Wilwa
@Juve. Kadang saya kasihan sama Ahok, sudah berkorban demi Wiwi dengan masuk penjara, tapi harapannya agar Wiwi bikin Perppu Pembuktian Terbalik tak pernah terwujud. Seperti yang terungkap dalam podcast Helmy Yahya 27 Jul 2026. Beberapa hari yang lalu. Ternyata Wiwi malah bikin hancur hukum dengan kasus Gibran. Hmmmm
Ahmed Nurjubaedi
Indonesia-ku kini seolah baru merdeka/ Mendadak masuk masa '65/ O, presiden-ku, engkau ada di mana?// Kami rakyatmu sungguh gelisah/ Langit terlihat terang namun terasa gulita/ Sepuluh ribu rupiah hanya cukup beli tempe dan ikan asin untuk sekeluarga// Sekolah-sekolah gratis/ Namun lebih banyak siswa yg bingung/ Sekolah-sekolah yang bagus terlalu jauh dari kantong// Akankah Letnan Jenderal yang lain hadir?/ Membuat gerimis turun menumbuhkan padi dan palawija?/ Dan matari benar-benar menerangi langit biru// Ya, Tuhanku/ Kemana lagi kami memohon/ Selain kepada-Mu ya, Yang Maha Penyayang//
Eyang Sabar56
Bagusnya koruptor sekarang tidak membuat presiden pusing mengejar sampai ke antartika. Silahkan kalian bermaling ria asal jangan kemana-mana. Cukup disini saja. Hidup,..................(Abah).
Jokosp Sp
Rombongan ibu-ibu terlihat bahagia masuk ke toko kami, terlihat dari bercandanya dan dari raut mukanya. Saya iseng tanya: Ibu-ibu mau pada ke mana?. Bawa foto kopian KK dan KTP segala buat urus apa?. "Kami mau ke kantor kelurahan ambil jatah bulanan beras dan telor". Berapa kg sebulannya beras dibagikan per KK?. "Lumayan, ada 20 kg sekarung". Telornya berapa kg?. "Telor bebek 20 biji". Ibu senang?. "Ya senang sekali. Terbantulah kesulitan ekonomi kami selama ini". Suami ibu kerja di mana?. "Suami sudah lama setelah covid nganggur di rumah. Kena rasionalisasi, efisiensi, apa PHK lah gitu istilahnya dari perusahaan. Pusing saya sebagai ibu rumah tangga. Kerjanya sekarang jadi Ojol". Anak SD ibu dapat embege?. "Dapat tiap hari sekolah". Menurut ibu pilih dapat embege atau bahan mentah seperti beras dan telor tadi?. "Ya....kami pilih yang mentah saja. Anak sering nggak mau makan, katanya ndak cocok seleranya. Malah kita jadi sayang....kenapa dibuang. Mending yang 10 ribu itu kasih ke kami ibu-ibunya bisa kami belanjakan makan yang sesuai dengan harapan si anak. Itu lebih bermanfaat". Ibu tahu embege dikorupsi?. "Ya tau lah pak....., kami kan bukan ibu-ibu yang awan dari medsos. Cerita di perkumpulan RT, di pengajian, di arisan....sama saja itu yang dibahas. Tega sekali mereka ya". Oh gitu. Silahkan lanjud bu ke kantor kelurahannya. Semoga bisa bermanfaat lebih buat keluarga. "Aamiin".
Muh Nursalim
Sentuhan wanita akan bisa ngerem gejolak rupiah. Ya. Wanita kan yang suka belanja. Suka nawar sampai keriting itu harga. Nah. Sikap ini akan menahan rupiah tidak naik terus. Diredam pakai perasaan bukan logika pasar. Apa bubungannya ? Kalau para wanita tidak banyak belanja yang harus menukar dolar kan kita ndak butuh dolar. Jika tidak butuh dolar. Atau butuh tapi sedikit saja, kan harga dolar otomatis turun. Ngikuti suplay n demand. Nah, disinilah gubernur BI wanita punya kelebihannya.
yea aina
Pada pemilihan gubenur BI, menyeruak aroma "sangit" politik. Sangat menyengat. Itu karena gubenur BI dipilih oleh DPR - atas calon yang diajukan pemerintah. BI pun tidak bisa berkutik ketika harus memberi jatah rupiah kepada mereka yang memilihnya. "Aib besar" bersama, antara DPR, Presiden dan jajaran pimpinan BI . Itu 11 12 dengan pola pemilu di negara saya, yang juga negara Anda. Kepala pemerintahan dan para anggota dewan "PERANTARA" rakyat: CALO. Dipilih langsung oleh rakyat - atas calon yang DISODORKAN parpol atau gerombolan parpol. Pemilihan langsung, tapi terbatas. Yang terpilih itu-itu saja. 4L lu lagi lu lagi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 71
Silahkan login untuk berkomentar