Masa Depan Negeri Para Mullah

Rabu 21-01-2026,11:05 WIB
Oleh: Prof. Jamhari Makruf, Ph.D

BACA JUGA:Vape Lewat, Ngerinya Penyalahgunaan Whip Pink Dibongkar Spesialis Paru: Ini Bukan Krim Kue Biasa!

BACA JUGA:Bryan Mbeumo Rekrutan Terbaik MU Sejak Bruno Fernandes, Momok Bagi Tim 6 Besar Liga Primier

Wilayatul Faqih

Pasca-revolusi, Iran membentuk Republik Islam dengan konsep Wilayatul Faqih, yaitu kepemimpinan politik dan agama berada di tangan ulama tertinggi.

Konsep ini memicu perdebatan. Sebagian mengusulkan kepemimpinan kolektif ulama untuk mencegah lahirnya otoritarianisme baru. Namun, akhirnya otoritas tertinggi dipegang satu figur.

Perbedaan pandangan ini menyebabkan kelompok sosialis dan nasionalis tersingkir dari pemerintahan. Iran kemudian berkembang menjadi negara teokratis Syiah.

Dominasi ini menimbulkan ketegangan regional, terutama dengan negara-negara Sunni. Kerusuhan haji 1987 di Mekkah memperdalam luka sektarian dan geopolitik.

Revolusi Iran dianggap kemenangan Islam oleh sebagian pihak, tetapi dipersepsi sebagai kemenangan Syiah oleh yang lain. Sejak saat itu, berbagai negara mendukung upaya menahan pengaruh Iran.

Negara-negara monarki di kawasan juga merasa terancam dan mencari perlindungan keamanan ke kekuatan eksternal.

Persimpangan Masa Depan

Iran adalah negeri dengan warisan peradaban panjang, keragaman budaya yang kaya, dan sumber daya alam yang melimpah.

Minyak dan gas menempatkannya sebagai salah satu pemain penting energi dunia, sementara cadangan uranium, tembaga, besi, dan emas memperkuat posisi strategisnya dalam peta geopolitik global.

BACA JUGA:Bryan Mbeumo Rekrutan Terbaik MU Sejak Bruno Fernandes, Momok Bagi Tim 6 Besar Liga Primier

BACA JUGA:Thomas Djiwandono Akan Jalani Fit And Proper Tes Sebagai Deputi Gubernur BI Hari Ini

Produk pertanian bernilai tinggi seperti safron, pistachio, kurma, dan kaviar menegaskan bahwa Iran bukan hanya negeri energi, tetapi juga negeri budaya dan pengetahuan.

Letak geografisnya yang berada di simpul Asia Barat, Asia Tengah, dan jalur perdagangan dunia membuat Iran hampir mustahil diabaikan oleh kepentingan global.

Di sisi lain, kekuatan komunitas Syiah yang solid menjadi fondasi sosial-politik utama negara ini. Loyalitas pada konsep Imamah dan kepemimpinan religius menjadikan Iran memiliki bargaining power yang signifikan, baik di dalam negeri maupun di kawasan.

Sulit membayangkan perubahan besar di Iran tanpa keterlibatan kepemimpinan Syiah, karena di sanalah legitimasi moral dan politik bertumpu.

Kategori :