Mengapa bank tertarik? Karena bunga BNPL jauh lebih manis dibanding kredit korporasi. Dan risiko NPL (Non-Performing Loan) atau kredit macetnya relatif terjaga di angka 2,04 persen. Masih di bawah batas aman 5 persen.
Ini menandakan perbankan sudah mulai mampu mengatasi tantangan penyaluran kredit di sektor riil. Mereka melihat bahwa masa depan perbankan bukan lagi menunggu nasabah datang ke kantor cabang, tapi masuk ke dalam dompet digital nasabah.
Ekspansi Cepat, Pengawasan Ketat
Sementara di sisi perusahaan pembiayaan (multifinance), pertumbuhannya jauh lebih ekstrem lagi. Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, menyebut penyaluran BNPL mereka tumbuh 75,05 persen secara tahunan hingga mencapai Rp 11,94 triliun per Desember 2025.
Pertumbuhan 75 persen itu bukan sekadar angka. Itu adalah ledakan.
OJK kini harus bekerja ekstra keras. Agusman menegaskan bahwa pihaknya terus memperkuat pengawasan. Terutama pada aspek tata kelola dan manajemen risiko. Jangan sampai ekspansi yang cepat ini melupakan prinsip kehati-hati-an.
"Kami memastikan penerapan prinsip kehati-hatian di tengah ekspansi pembiayaan yang cepat," tegas Agusman.
OJK tidak ingin BNPL menjadi "bom waktu" bagi ekonomi nasional. Karena ketika 30 juta orang gagal bayar secara bersamaan, efek domino-nya akan merembet ke mana-mana. Ke bank, ke perusahaan pembiayaan, hingga ke stabilitas ekonomi makro kita.
Analisis Ingatkan Pergeseran Sosiologis
Melihat fenomena di atas, saya melihat ada pergeseran sosiologis yang mendalam. Kita sedang bergerak menuju masyarakat yang "meminjam" masa depannya untuk kebutuhan hari ini.
Dulu, utang adalah tanda ketidakmampuan. Sekarang, utang adalah tanda kelancaran arus kas. Kita dipaksa untuk selalu bisa bertransaksi, meskipun tidak ada uang tunai di tangan.
Digitalisasi telah membuat proses berutang menjadi terlalu mudah. Terlalu hambar. Tanpa emosi. Anda tidak perlu merasa bersalah saat mengeklik tombol "cicilan 3 bulan". Rasa bersalah itu baru muncul saat notifikasi tagihan berbunyi nyaring di tanggal jatuh tempo.
PayLater menawarkan promo spesial bagi pelanggan.
Yang perlu kita waspadai adalah normalisasi utang konsumtif. Kalau makan sehari-hari pun sudah harus dicicil, maka ada yang salah dengan struktur ekonomi rumah tangga kita. Atau, ada yang salah dengan gaya hidup kita yang tidak sanggup menahan godaan masifnya penawaran di layar ponsel.
Kita harus ingat bahwa paylater adalah alat bantu. Bukan oksigen. Alat bantu itu gunanya untuk membantu saat keadaan darurat atau strategis. Tapi kalau alat bantu itu dipakai untuk bernapas setiap hari, maka paru-paru finansial kita sebenarnya sudah rusak.
Ke depan, tantangannya adalah literasi. Bagaimana memberitahu anak-anak usia di bawah 19 tahun itu bahwa apa yang mereka klik hari ini akan menentukan apakah mereka bisa punya rumah 10 tahun lagi. Bagaimana memberitahu masyarakat bahwa integrasi SLIK OJK adalah "catatan amal finansial" yang tidak bisa dihapus begitu saja.