PHK Menggila 2025, Kelas Menengah Terpaksa Jadi Ojol dan freelance: Pengangguran Tembus 7,3 Juta

Senin 23-02-2026,05:00 WIB
Reporter : Tim Redaksi Disway
Editor : Subroto Dwi Nugroho

Ia memperkirakan penghasilannya turun 10–20 persen dibanding saat masih bekerja tetap. 

Hilangnya tunjangan dan kepastian kontrak membuat kondisi keuangan semakin rentan.

BACA JUGA:Siasat Gerilya Sales QRIS dan Candu Paylater

BACA JUGA:Gaji Numpang Lewat Akibat Paylater, Antara Penyelamat Instan dan Jeratan

Untuk menyamai gaji lamanya, Wahyu harus bekerja 9–10 jam per hari.

Bahkan, ia menambah pemasukan dengan berdagang kecil-kecilan.

Meski sebagian orang memandang profesi ojol sebagai penurunan status sosial, Wahyu tak mempersoalkannya. 

Baginya, bertahan hidup lebih penting daripada gengsi.

Fenomena serupa diakui Andhika dari komunitas Jakarta Depok Sejahtera.

BACA JUGA:Harga Daging Sapi Terus Naik Jelang Ramadan, Pasokan di Pasar Tradisional Kian Tipis

BACA JUGA:Jelang Ramadan dan Lebaran, Lonjakan Harga Daging Sapi Bikin Pelaku Usaha Kuliner Kelimpungan

Menurutnya, bagi banyak orang, ojol masih bersifat solusi sementara, namun berpotensi menjadi keterpaksaan jangka panjang jika lapangan kerja formal tak kunjung terbuka.

Lonjakan jumlah mitra tidak sebanding dengan pertumbuhan permintaan. 

Ditambah fluktuasi harga BBM dan ketergantungan pada kondisi fisik, pendapatan menjadi sangat tidak pasti.

Risiko sakit atau kecelakaan bisa langsung menghentikan pemasukan.

“Ini bisa menjadi bom waktu sosial,” ujarnya.

Kategori :