BACA JUGA:Peran Krusial Orang Tua di Kasus Child Grooming, LPSK Siap Beri Perlindungan
Sarjana Menganggur dan Mismatch Industri
Sosiolog Musni Umar menilai menjamurnya ekonomi gig berkorelasi langsung dengan tingginya pengangguran terdidik.
Data BPS menunjukkan sekitar satu juta lebih lulusan sarjana menganggur pada pertengahan 2025.
Faktor mismatch antara keahlian dan kebutuhan industri, minim pengalaman kerja, serta ekspektasi gaji tinggi menjadi penyebab utama.
Menurut Musni, solusi jangka panjang bukan sekadar membuka lapangan kerja, melainkan mengubah pola pikir masyarakat dari employment (mencari kerja) menjadi empowerment (menciptakan kerja).
BACA JUGA:Rahasia Gelap dan Celah Pidana Child Grooming
BACA JUGA:Tabir Gelap Child Grooming, Antara Normalisasi dan Relasi Kuasa
Ia mencontohkan negara seperti China yang mendorong kewirausahaan dengan dukungan regulasi dan akses pembiayaan.
Tanpa akses modal yang inklusif, dorongan wirausaha hanya akan menjadi slogan.
Kendala klasik perbankan dengan prinsip 5C—Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition, membuat banyak usaha mikro sulit mendapatkan pembiayaan.
Peran Negara dan BUMN
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan pentingnya peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam menekan pengangguran.
BACA JUGA:KUHAP-KUHP Baru: Dekolonisasi, Seragam dan Adil?
BACA JUGA:Dinamika Pasal-pasal KUHAP-KUHP Baru, Awas Jebakan Batman!