Untuk mewujudkan transformasi tersebut, diperlukan standarisasi kompetensi bagi para penggeraknya melalui program training dan sertifikasi pendakwah yang komprehensif. Langkah ini bukan bertujuan untuk membatasi ruang syiar, melainkan untuk memastikan bahwa setiap pendakwah memiliki bekal keilmuan yang multidisiplin dan pemahaman kebangsaan yang utuh.
Dengan kurikulum yang mencakup isu-isu kontemporer, pendakwah tidak hanya akan menjadi figur yang diikuti ucapannya, tetapi juga menjadi agen perubahan yang profesional dan mumpuni dalam membimbing masyarakat menuju tatanan kehidupan yang lebih sejahtera, inklusif, dan berkelanjutan.
Kurikulum Dakwah yang Terstruktur
Masalah dakwah saat ini sering kali berakar pada pendekatan konvensional yang membosankan dan kurangnya penguasaan substansi ilmu, sehingga dibutuhkan transformasi kurikulum dakwah yang terstruktur, jelas capaian kompetensinya, dan mengintegrasikan ilmu fiqih, tasawuf, serta filsafat secara komprehensif.
Solusi substansial ini diwujudkan melalui metode pembelajaran interaktif, seperti studi kasus berbasis role-playing fiqih muamalah, diskusi filsafat Islam kontemporer, dan meditasi tasawuf, yang dikemas dalam bentuk gamification atau narasi visual yang menyenangkan. Dengan perombakan kurikulum yang menarik namun berbobot ini,
BACA JUGA:Perang AS-Iran Belum Kondusif, Ini Daftar Nomor Hotline yang Bisa Dihubungi WNI di Timur Tengah
BACA JUGA:Pemerintah Lakukan Mitigasi Antisipasi Dampak Penutupan Ruang Udara di Sejumlah Negara Timur Tengah
Maka SDM dai akan meningkat drastis dalam wawasan intelektual dan spiritual, mengubah dakwah dari rutinitas seremonial menjadi gerakan edukatif yang mencerahkan dan relevan dengan tantangan zaman.
Dalam konteks efektivitas, NU barangkali perlu "bercermin" pada pola dakwah kelompok lain, seperti Salafi, yang seringkali memiliki keunggulan dalam hal keterprograman. Dakwah mereka cenderung terstruktur, memiliki kurikulum, dan target yang jelas, bahkan sampai pendampingan ke arah kehidupan ideal berkeluarga dan ekonominya.
Jika NU ingin mendigdayakan dakwah di abad kedua, kita tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan holistik berbasis panggung. Diperlukan kurikulum dakwah yang terstandar, pengaderan dai-dai yang melek teknologi, dan target pencapaian kualitas umat yang terukur.
Revitalisasi dakwah NU bukan untuk meninggalkan tradisi, melainkan menjiwainya dengan substansi. NU abad kedua siapapun nahkodanya harus berani melangkah dari sekadar "dakwah gebyar" menuju "dakwah pemberdayaan dan subtantif." Yaitu dakwah yang membuat umat tidak hanya paham akhirat, tetapi juga mulia hidupnya di dunia. Sebab bagaimanapun kemulian akhirat tergantung hidup di dunianya. Wallahu'alam bishawab.
*) Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.