Merevitalisasi Dakwah NU: Menuju Substansi, Meninggalkan Gebyar Seremonial
KH Imam Jazuli adalah pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Kabupeten Cirebon, Jawa Barat, dan alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. -Istimewa-
Satu abad Nahdlatul Ulama (NU) telah berlalu. Selama kurun waktu tersebut, dakwah NU, yang bercirikan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), berhasil merawat tradisi dan menjaga keindonesiaan. Namun, memasuki abad kedua, kita perlu melakukan jeda sejenak untuk berefleksi kritis.
Ada sebuah pemandangan yang tak jarang kita temui: maraknya dakwah panggung, gebyar seremonial dan pengajian akbar, dengan persiapan yang amat melelahkan, namun seringkali minim manfaat substansial bagi peningkatan kualitas hidup umat.
Dakwah di era milenium pertama NU banyak bertumpu pada pendekatan kultural-tradisional, di mana peringatan kematian (tahlilan), haul, dan tradisi serupa menjadi sarana utama. Tidak ada yang salah dengan merawat tradisi. Namun, saat format ini dominan, dakwah cenderung hanya menjadi tontonan, bukan tuntunan.
BACA JUGA:Menagih Khidmah Akademik: Menggugat Paradoks Kuantitas dan Kualitas Kampus Nahdlatul Ulama
BACA JUGA:Tajdid Ekologis NU: Menggagas Teologi Lingkungan untuk Keselamatan Bumi
Panggung megah dengan sound system yang canggih dan aneka konsumsi seringkali tidak sebanding dengan output edukasi yang dihasilkan. Umat berkumpul, berzikir, mendengarkan ceramah, lalu pulang tanpa membawa solusi konkrit atas permasalahan sehari-hari: kemiskinan, pendidikan rendah, atau ketidakmampuan beradaptasi dengan teknologi. Dakwah semacam ini terancam menjadi ritual hampa yang terpisah dari realitas kontemporer.
Pemberdayaan dan Edukasi
Tradisi ritual—seperti peringatan kematian (tahlilan), haul, dan perayaan hari besar—adalah jangkar spiritual yang menjaga akar kultural NU. Kita tidak sedang menafikan pentingnya ritual tersebut. Namun, kita harus kritis melihat kecenderungan dakwah yang berhenti pada aspek konsumtif-seremonial.
Seringkali, sumber daya ekonomi umat yang besar terserap habis untuk menyewa panggung dan konsumsi satu malam, sementara di sudut desa yang sama, kemiskinan ekstrem, stunting, dan putus sekolah masih menghantui. Dakwah panggung cenderung bersifat searah dan efemeral (sementara); jemaah pulang membawa berkah batin, namun tetap tidak berdaya secara sosial-ekonomi.
NU abad kedua harus bertransformasi. Dakwah tidak lagi cukup hanya berfokus pada pelestarian tradisi (maintenance), tetapi harus beralih ke pemberdayaan (empowerment). Dakwah harus mencerahkan dan memberikan solusi praktis. NU perlu menggeser anggaran seremonial menjadi program pemberdayaan umat. Dakwah harus masuk ke kantong-kantong kemiskinan, memberikan pelatihan keterampilan, dan solusi ekonomi.
Fokus dakwah diantaranya juga perlu diarahkan pada peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. Menjawab persoalan kontemporer seperti keadilan ekologis, kesehatan mental, dan literasi digital. Sebab, generasi muda tidak lagi berkumpul di panggung-panggung tradisional. Pemanfaatan platform digital untuk menyebarkan konten yang relevan, singkat, dan mudah dipahami menjadi sebuah keharusan, bukan lagi pilihan.
BACA JUGA:Tajdid Tata Kelola NU: Antara Modernisasi, Profesionalisme, dan Kapasitas
BACA JUGA:Menuju Muktamar ke-35 NU: Gus Yusuf Chudlori Sosok Santri Tulen, Magnet Massa, dan Harapan Baru PBNU
Sekali lagi, substansi dakwah di era modern tidak lagi cukup hanya menyentuh aspek ritual dan akidah secara teoritis, melainkan harus mampu menjawab tantangan riil yang dihadapi umat dalam kehidupan sehari-hari. Pesan-pesan agama perlu dikontekstualisasikan ke dalam ranah yang lebih luas, mulai dari ketahanan keluarga melalui pola parenting yang tepat, hingga kemandirian ekonomi lewat semangat entrepreneurship.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: