Tajdid Ekologis NU: Menggagas Teologi Lingkungan untuk Keselamatan Bumi

Tajdid Ekologis NU: Menggagas Teologi Lingkungan untuk Keselamatan Bumi

KH Imam Jazuli adalah pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Kabupeten Cirebon, Jawa Barat, dan alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. -Istimewa-

Bumi sedang tidak baik-baik saja. Krisis lingkungan global bukan lagi sekadar isu teoritis, melainkan ancaman nyata yang melanda seluruh lapisan kehidupan. Pemanasan global, didorong oleh emisi gas rumah kaca akibat pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi, telah meningkatkan suhu bumi secara signifikan. 

Secara teoritis, peningkatan suhu global telah melampaui ambang batas 1,5°C di beberapa wilayah, yang memicu bencana iklim multidimensional—dari mencairnya es di kutub, naiknya permukaan air laut, hingga badai ekstrem. Tahun 2025 tercatat sebagai salah satu dari tiga tahun terpanas dalam sejarah. Fenomena ini berwujud bencana ekologis: banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga gelombang panas yang mematikan, seperti yang melanda Eropa pada 2025. 

BACA JUGA:Tajdid Tata Kelola NU: Antara Modernisasi, Profesionalisme, dan Kapasitas

BACA JUGA:Menuju Muktamar ke-35 NU: Gus Yusuf Chudlori Sosok Santri Tulen, Magnet Massa, dan Harapan Baru PBNU

Di Indonesia, dampaknya semakin nyata. Catatan bencana per Maret 2025 menunjukkan dominasi bencana hidrometeorologi (banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor) akibat perubahan iklim, dengan jutaan warga terdampak. Data WALHI (2021) bahkan menunjukkan praktik ekstraktif yang mengabaikan daya dukung lingkungan memperparah krisis ini, seringkali menggadaikan ruang hidup masyarakat marjinal demi keuntungan segelintir korporasi.

Dari Teologi ke Aksi

Dalam konteks ini, Green Initiative atau ketahanan lingkungan merupakan bagian dari tajdid (pembaruan) gerakan ekologis Nahdlatul Ulama (NU). Ini adalah respon strategis terhadap krisis iklim global. Sebagai organisasi Islam terbesar, NU memiliki peran krusial dalam mengintegrasikan teologi lingkungan (ekoteologi) ke dalam kesadaran umat.

Teologi lingkungan dalam Islam menekankan bahwa alam adalah amanah Allah. Manusia, sebagai khalifah di bumi, memiliki tanggung jawab untuk memeliharanya, bukan merusaknya (QS. Ar-Rum: 41). Tajdid ekologis NU harus melampaui wacana dan masuk ke ranah kesalehan ekologis praktis. Tawaran solusi NU untuk keselamatan bumi, setidaknya ada tiga hal yang tak bisa dipisahkan sebagai tawaran solusi.

Pertama, adanya kurikulum pendamping pesantren berbasis lingkungan. Pesantren dapat mengintegrasikan pendidikan berbasis ekologi sebagai kurikulum pendamping. Santri dididik sadar lingkungan sejak dini, misalnya dengan sistem takzir (hukuman) berbasis ekologis seperti menanam pohon atau mengelola limbah sampah yang ramah lingkungan.

Kedua, pemberdayaan warga Nahdliyin. Melalui lembaga seperti LPBI (Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim) NU membuat workhsop, seminar dan sosialisai intensif serta pemberdayaan komunitas lokal dalam konservasi lahan gambut, pertanian agroekologi, dan pengelolaan sampah ramah lingkungan harus masif dilakukan untuk meningkatkan kesadaran warga Nahdliyin. Termasuk mencakup pendampingan masyarakat dalam mitigasi bencana dan pengelolaan lingkungan.

Ketiga, memperkuat advokasi dan regulasi ekologis (bersama PKB). NU bersama PKB wajib mengawal ketat regulasi tentang pemanfaatan kekayaan negara. Kebijakan tambang, minyak, dan hutan harus memprioritaskan kelestarian lingkungan dan hak rakyat adat/lokal di atas keuntungan korporasi.

Dengan langkah-langkah tersebut, NU tidak hanya menjaga bumi dari kehancuran fisik, tetapi juga menegakkan teologi yang ramah alam, mewujudkan rahmatan lil 'alamin yang sesungguhnya. Keselamatan bumi adalah bagian tak terpisahkan dari iman.

Transisi Energi Berkeadilan

Krisis energi global yang dipicu oleh ketergantungan berlebih pada bahan bakar fosil telah menuntut akselerasi transisi yang mendesak menuju energi terbarukan sebagai solusi utama yang berkelanjutan dan aman. Peralihan ke sumber energi bersih—seperti matahari, angin, dan panas bumi—bukan sekadar upaya mitigasi perubahan iklim, melainkan langkah strategis untuk mengamankan ketahanan energi jangka panjang, mengurangi emisi karbon, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Close Ads