Iri Masyaallah

Iri Masyaallah

--

Saat saya di Yaman itu rupanya lagi musim kawin. Di semua negara Arab. Khususnya di Hadramaut, salah satu provinsi di Yaman.

Yang kawin adalah kurma.

Saya baru tahu itu ketika makan kambing bakar di Wadi Doan. Kambing bakar mathba --hanya ada di Wadi Doan. Itu sesuai dengan rekomendasi sahabat saya Kholid Bawazier, pengusaha besar dari Ampel Surabaya. 


Kambing untuk mathba.--

Anda sudah tahu: nenek moyang Kholid adalah orang dari Wadi Doan. Ia sering ke sana. Pemilik pabrik sarung Cap Mangga dan berbagai pabrik Indomie di Timur Tengah itu tahu di mana mathba terenak.

Di sebelah saya tiga orang Yaman juga lagi makan mathba. Mereka membawa tas kresek plastik. Isinya seperti akar kering. Itu bukan akar. Itu bunga kurma yang sudah dikeringkan.

"Ini bunga jantan," katanya menjawab rasa penasaran saya. "Akan kami taburkan di atas kurma betina," ujarnya. "Mumpung masih Februari, puncak rasa kurma betina harus kawin," tambahnya.

Saya baru tahu: ada kurma jantan dan betina. Satu pohon kurma jantan mampu membuahi 50 pohon kurma betina. Maka petani kurma berusaha menanam satu kurma jantan di tengah 50 pohon kurma betina.

Itu belum cukup meyakinkan. Petani masih perlu mengumpulkan bunga kurma jantan untuk ditaburkan ke bunga betina. Agar buah kurmanya lebat.

Setelah kami lebih akrab saya diminta mengambil satu untai. Untuk apa? "Anda kunyah," katanya. 

Saya ragu. Ia tahu saya ragu. Ia pun  memberi contoh mengunyah satu tangkai. Saya ikuti caranya.

"Bagi orang Arab ini seperti viagra," katanya. Saya men-jondil. Telanjur saya telan. Bagaimana kalau viagranya manjur.


Madu Wadi Doan.--

Letak kota Wadi Doan ini unik. Tidak terlihat dari jalan raya poros utama Tarim-Mukalla. Di sepanjang perjalanan saya seperti tidak pernah melihat kota. 

Ternyata kota-kotanya tersembunyi di bawah sana. Di dalam wadi. Wadinya sangat dalam. Jangankan rumah di situ, pepohonan di wadi pun tidak terlihat dari jalan raya.

Yang terlihat hanya permukaan pegunungan yang serba rata. Dari jalan raya itu ternyata banyak jalan kecil masuk ke wadi. Jalannya menurun. Berliku. Begitu sampai di kedalaman sekitar 100 meter baru terlihat banyak pohon. Banyak rumah. 

Wadi itu memanjang panjang. Ratusan kilometer. Berlekuk-lekuk --mengikuti liukan sungai kering. Sungai itu baru ada airnya kalau terjadi hujan lebat. Setahun tiga atau empat kali saja.

Di salah satu bagian wadi itu disebut Wadi Doan. Itulah kota Wadi Doan, kampung nenek moyang Kholid Bawazir.

Di sepanjang pinggir sungai kering itu ada jalan raya kecil. Itulah yang menghubungkan satu wadi dengan wadi lainnya. 

Kami mencoba menelusuri jalan wadi itu. Sampai satu jam. Tiba di kota wadi yang lain. Di situ ada satu masjid. Juga makam. Ternyata itu makam leluhur tokoh Arab di Jakarta --yang saya juga kenal baik dengannya.

Semua itu tidak terlihat dari jalan raya utama Mukalla-Tarim. Tapi, kalau Anda mau, mobil bisa Anda ajak keluar dari jalan raya. Masuk padang tanah. Offroad. Ke arah satu celah di kejauhan sana. Anda akan sampai di pinggir jurang. Dari bibir jurang itu Anda bisa melongok jauh ke bawah: di sanalah kotanya.

Ternyata sudah ada seorang pengusaha Saudi membangun kawasan villa di bibir salah satu tebingnya. Saya pun diajak ke villa itu. Istirahat di situ. Bukan main pemandangannya: menakjubkan. Tak terpermanai. Kami bisa melongok ke dalam jurang wadi. Dramatis. 

Jurang itu dalam sekali. Banyak pohon kurma di dalamnya. 

Unik: di bawah sana ada beberapa bukit. Di atas bukit itu banyak rumah. Satu kampung itu di atas bukit. Jadi, kampung itu berada di ketinggian di bawah sana. Aneh, ada kota di atas gunung, tapi gunung itu di dalam jurang. Semua itu terlihat dari villa di atasnya. 

Villanya sendiri sepi. Akibat perang. Hanya ada satu lelaki Polandia yang bermalam bersama pasangannya. Tiga malam di situ. Alangkah menakjubkannya suasana malam hari di padang pasir di tepi jurang --mirip Grand Kanyon di Amerika.

Di sepanjang jurang itu banyak kota kecil karena ada air di sana. Air adalah sumber kehidupan. Di samping banyak pohon kurma banyak juga pohon cedar. Daun cedar biasa digunakan untuk mengubur mayat. Tiap satu mayat 'dibalut' daun cedar satu karung.

Maka kota Wadi Doan adalah kota panjang yang tersembunyi di celah-celah pegunungan batu yang amat dalam. Dari atas pesawat celah itu lebarnya seperti hanya satu meter. Seperti tidak ada apa-apa di celah itu. Setelah saya memasuki celah itu ternyata lebar celahnya sekitar 500 meter.

Kami mampir salat duhur-asar di salah satu masjid di celah itu. Air tidak masalah di situ. Air wudu maupun untuk mandi.  Berlimpah. Di depan masjid itu ada kubah-kubah. Ternyata itu makam Habib Ali bin Hasan Al Atas --kakek Habib Abdurrahman Alatas Tebet, Jakarta, yang wafat empat bulan lalu.


Pohon cedar dan makam Habib Ali Hasan Al Atas.--

Saya juga diajak mampir rumah orang terkaya di Wadi Duan. Meski empat lantai tetap tidak tampak dari jalan raya utama. Pintu utamanya sangat kokoh. Di pintu itu ada dua alat ketok. Beda bunyi. Kalau yang atas yang diketokkan berarti tamunya laki-laki. Kalau alat ketok bawah yang diketokkan tamunya perempuan (lihat foto).


Dua jenis alat ketok pintu di Wadi Doan.--

Banyak tokoh terkenal dari Wadi Doan ini. Pemilik bank Al Ahli di Saudi berasal dari sini. Konglomerat Saudi, Bin Laden, dari Wadi Doan. Pengusaha Saudi yang membangun vila di tebing celah tadi juga orang sini. 

Saya iri kepada mereka yang punya waktu tiga hari tinggal di villa itu. Lalu saya buru-buru berucap masya-allah --agar rasa iri itu pergi.

Di Yaman saya melihat begitu banyak tulisan masya-allah. Di pintu pintu. Di pagar. Di kaca mobil.

Pemandangan yang sama pernah saya lihat di Pakistan. Waktu itu saya bertanya ke orang Pakistan: mengapa begitu banyak tulisan masya-allah. Tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan. Hanya kebiasaan saja, katanya.

Di Yaman saya menemukan jawabnya: mengucapkan masya-allah bisa menghilangkan rasa iri yang mulai berusaha muncul di hati. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 31 Maret 2026: Oei Al-Kaff

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

LIFT MANUAL, DAN KAMBING MATHBI.. Abah Dahlan memang jagonya memotret kemiskinan dengan cara yang elegan. Di Mukalla, ia menemukan lift. Tapi jangan bayangkan sensor otomatis yang halus. Ini lift bertenaga otot. Dikerek manusia. Sebuah teknologi "ramah lingkungan" yang lahir dari keterpaksaan. Kalau talinya putus, tamatlah riwayat penumpang di gedung tanah itu. Cerita lalu bergeser ke klan Al-Kaff. Mereka kaya raya tapi seleranya aneh: menghabiskan harta untuk wakaf. Bukan untuk koleksi mobil mewah atau pamer di media sosial. Di sini, kekayaan Syekh Salim disejajarkan dengan kekayaan Oei Thiong Ham. Bedanya, yang satu meninggalkan gedung, yang lain meninggalkan amal jariyah yang meluas sampai ke Singapura dan Malaka. Tapi bagi Abah, sejarah tetap kalah telak dibanding urusan perut. Urusan kambing bakar dan lobster lebih mendesak daripada urusan museum yang fondasinya nyaris longsor. Ia makan di lantai berdebu, tanpa alas, hanya beralaskan plastik tipis. Sangat kontras dengan statusnya sebagai mantan menteri. Kini ia mengincar kambing mathbi di Wadi Doan. Saya curiga, perjalanan ini sebenarnya bukan misi jurnalistik. Ini adalah ekspedisi kuliner berbalut petualangan geopolitik. Mari kita tunggu, apakah rasa kambing mathbi itu sehebat namanya atau hanya sekadar taktik Kholid Bawazier agar Abah tidak terus-terusan bertanya soal pabrik Indomie yang tutup.

Liam Then

Turunan Tionghoa dan Arab bangun pabrik makanan merk asal RI di luar negeri. Pak Bos bangun lah satu juga di Amerika. Pabrik sambal. Atau jangan-jangan bangun pabriknya di Tiongkok saja, karena lebih gampang dan murah dibandingkan jika bangun di Amerika atau Indonesia? Di Tiongkok investor tidak dibuat susah aturan lingkungan, aturan macam-macam,atau demo karyawan. Bahkan baru dikenali sebagai investor , Da Lao Ban dari Indonesia, sudah ditemeni keliling kota oleh petinggi partai setempat yang merupakan orang No.1/ ketua partai di sana. Sambal asal Indonesia bisa mendunia. Tapi saya heran , kenapa setiap tahun, jika harga cabai naek, peristiwa ini sampai naik di jadikan berita. Memang sih menurut kata teman saya yang pengusaha kuliner atau bahkan ibu di rumah, harga kalo musim naik memang ndak kira-kira, dari 30-40an ribu, bisa naik sampai 100%. Bagaimana mau bangun pabrik sambal kalo gitu, kalo supply harga gonjang-ganjing. Jangankan pabrik, rumah makan kecil atau bahkan rumah tangga sudah dibuat berkeluh kesah, dan sampai jadi naik berita. Padahal, di mana di Indonesia yang cabai tak bisa tumbuh sebenarnya?

Ima Lawaru

meng-copas Disway Maret selesai per pukul 05:55 Wita. Selamat memasuki April Mop. Moga lelucon besok membuat kita melupakan perang sejenak. Sebagai guru dengan lokasi mengajar berkilo-kilo jauhnya, dengan sepeda motor matik bensin, saya berharap harga bensin jangan naik. Harga bensin di Tomia sekarang per 1,5 L = Rp.25.000. Pengeluaran bensin saya per bulan untuk bekerja =Rp.400.000. Itu sudah seperdelapan dari gaji guru. Kalau naik...mungkin para guru seperti saya terpaksa mengencangkan ikat pinggang lagi, yang sudah kami kencangkan tiap hari. Hahaha

MULIYANTO KRISTA

Suwe-suwe abah ketularan perusuh kok. Senengane ngece. Rumongso hp-ne murahan,tapi ijik digawe ae. "Mbokyao" ndang dikirimno ng perusuh terpilih. Wis nduwe Huawei mate anyar digawe opo lho? Opo Huawei-ne ae sing dikirim ng Rungkut? .. #kulo siap nerami kanthi manah ingkang ikhlas.

Mbah Mars

Ahmad: Amat Fauzan: Paijan Fahma: Paimo Zakaria: Sokaryo Qasim: Kasiman Abdul: Ngabdul Salam: Slamet Syarif: Sarip Syakir: Sukir Hasan: Kasan

Muh Nursalim

Laziit - lezat. Ro'iyah - rakyat. Diwan -dewan. Wakiil - wakil. Kholis - Kalis. Dan masih banyak lagi serapan bhs Indo dr Arab. Itu menandakan akulturasi budaya nusantara dg arab itu sangat kental. Ndak penting arabnya dr habaib atau bukan. Yg pasti budaya pesisiran nusantara sangat arab. Mulai dr banten priok cirebon tuban gresik hingga surabaya. Mau diingkari faktanya begitu. Ya udah. Biasa saja.

Taufik Hidayat

Wah cerita abah DI kali ini omon imin soal engkong melarat zaman baheula di Asia Tenggara. Ada Al Kaff Aljuned dan OTH. Nasibnya mirip namun berbeda. nama Aljuned di Singapura sangat saya kenal sejak thn 1989 atau 1990, karena saat itu sering naik MTR East West Line. Ada stasiun bernama Aljuneid kalau tidak salah antara Kallang dan Payah Lebar. . Tapi kalau mau mampir ke madrasah yang namanya Aljuned juga ada di dekat pemakaman muslim di Victor’a Lane gak jauh dari stasiun Bugis. Wah ternyata Aljuned memanah dulunya orang kaya di Singapura .. dan masih banyak peninggalan nya. Nasibnya sedikit beda dengan OTH mantan engkong kaya dari Semarang . konon perusahaannya di Indoensia disita atau dinasionalisasi pada sekitar 1960an dan sekarang jadi PT Rajawali Nusantara. Kalau ke Semarang saya pernah mampir ke kota tua dan di gedung yang sekarang jadi ruma makan Peringsewu ada safe deposit berbentuk lemari raksasa.

Zakaria Chen fu

baca disway sambil makan pisang rebus+kopi panas dengan topik kambing bakar. Rasa pisang rebusnya jadi campur aduk

Ibnu Shonnan

Kali ini saya ingin menguji daya ingat Abah. Lezat berasal dari bahasa Yaman dari kata Laziit. Tapi, nama kota Wadi Doan yang terkenal di Yaman itu, berasal dari bahasa Jawa : Ledo An. Coba Abah angan-angan. Wadi adalah lembah. Doan bisa diartikan lebih dalam. Jadi Wadi Doan itu lembah yang lebih dalam. Bukankah sama dengan arti bahasa Jawa Ledo An, yang artinya tempat yang lebih rendah atau tanahnya yang mencekung kebawah.

Mahmud Al Mustasyar

Abah menulis kata : "Laziiiit ....," dalam mempraktikan bahasa Arab sehari- hari utk menyatakan kelezatan hidangan kambing bakar. Sepengetahuan sy, bhs Arabnya kata lezat adalah "لذيذ" - ladzidz; bukan "لزيت" - laziit. Rupanya Abah terhipnotis oleh kata lezaaat yg asalnya dari Hadralmaut; sehingga tertulislah kata "Laziiiit ....,"

Jokosp Sp

Prediksi kita negara akan kehilangan kesempatan dapat 62 triyun dari lambatnya birokrasi. Harga minyak sudah di atas 100US$/barel. Sebaliknya tatanan dan aturan di batu bara yang jadi sumber energi dunia setelah minyak masih dipersulit. Tahun lalu di 2025 produksi ada di 790 juta ton, namun justru di 2026 RKAB yang baru disetujui diturunkan jadi sekitar 680 juta ton. Maka "momen tingginya harga batu bara" saat ini tidak akan didapatkan pemerintah/ negara Indonesia. Bukan seharusnya produksi batu baranya dinaikkan?. Apakah ini semacam "kegoblokan" yang sedang diperlihatkan para pejabat negara itu?. Pasokan energi dunia saat ini sedang tercekik, kenapa kita kok malah tidak memperlihatkan "kecerdasannya"?. Dari data Setoran Bukan Pajak Minerba ( PNBP) ke negara 2025 ternyata 70%. Mayoritas dari batu bara. Dari defisit harga minyak yang bisa 200T itu harusnya bisa diatasi dari naiknya penerimaan batu bara. Caranya: dipercepat persetujuan RKABnya. Kalau tidak maka para pembantu presiden itu "konyol dan bahlul". Tidak gesit, dan lebih menonjolkan "ketololannya". Harga batu bara sudah terbang 35% dari harga sebelumnya. Di Newcastle hari ini ada di US$143,85/ton. Dalam sehari saja naik 1,30%. Apa yang ada di dalam isi otaknya?. Perlu dicek apakah sampai dua digit. Jangan-jangan masih satu koma?.

Sadewa 19

Pernah ada seorang pendeta yang mengatakan "beri saya 1 ekor kambing, maka saya bisa dapat 5 domba yg tersesat". Saya pun tersenyum dengan kata kata pendeta tadi. Ada benarnya juga. Saking lezat nya daging kambing, dan berharganya kambing, orang orang desa rela mengorbankan apa saja. Beruntung kita tinggal di sini. Setidaknya kita bisa makan daging kambing setahun sekali, saat Idul Adha. Di negara lain, belum tentu. Di sebuah video Youtube. Di Vietnam, ada seorang anak kecil yg begitu gigih ikut lomba tujuh belasan versi sana. Perjuangannya sungguh berat namun akhirnya mampu mengalahkan anak anak yg lebih tua dari usianya. Ia menang. Seorang wartawan yg meliput acara itu, akhirnya bertanya ke anak itu. "Kenapa kamu begitu semangat ikut lomba ini ? Apa yg menginspirasi kamu ?". Anak kecil itu kemudian menjawab "saya hanya ingin makan daging, hadiah bagi pemenang lomba ini. Seumur umur saya belum pernah makan daging". Mendengar jawaban anak itu, sang wartawan pun menangis. Kita lebih beruntung dari anak Vietnam itu.

istianatul muflihah

alhamdulillah Pak Agus, saya buka jualan partai mini. Pertama open PO, alpukat Aligator, lalu ada alpukat Markus, alpukat lokal, dan minggu lalu Alpukat Miki. Jualan pertama harga promo cuma 19.000/kg. Saya kirim ke beberapa kota, mulai dari Malang, Tuban, Surabaya, Semarang, Depok, Jogja, Bantul ... Alhamdulillah menyambung silaturahmi dengan teman teman lama yang kemudian jadi pembeli. Gara gara ini, Murid SD Internasional sampek DM di instagram. Waw. Saya jadi penasaran siapakah sebenarnya Murid ini, apakah lama tidak komen di sini juga?

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

LAZIIT: DARI LIDAH YAMAN KE SELERA NUSANTARA.. Kata “laziit” itu menarik. Pendek. Tapi terasa panjang di lidah. Ada jejak perjalanan budaya di situ. Dari Timur Tengah, mampir ke Indonesia, lalu hidup lagi dalam cerita Pak Dahlan. Dalam bahasa Arab, akarnya jelas: لذيذ (lazīdh). Artinya: lezat. Nikmat. Sesuatu yang tidak sekadar enak, tapi juga memberi rasa puas. Bukan cuma di lidah, tapi sampai ke hati. Orang Arab pakai kata ini untuk makanan, juga pengalaman. Di Indonesia, kita punya “lezat”. Serapan lama. Kata itu sudah jadi warga negara penuh. Dipakai di dapur, di iklan, bahkan di obrolan warung kopi. Tapi “lezat” terasa formal. Sedikit rapi. Seperti pakai jas. Nah, di Yaman, “laziit” lebih cair. Lebih akrab. Lebih hidup. Bunyi “-iit”-nya itu seperti senyum kecil di akhir kalimat. Tidak kaku. Ada nuansa keseharian. Seperti orang bilang: ini enak, dan saya menikmatinya tanpa pretensi. Pak Dahlan memilih “laziit”. Bukan “lezat”. Mungkin karena ingin rasa yang lebih personal. Lebih hangat. Lebih dekat ke sumbernya. Bahasa memang begitu. Kadang bukan soal arti. Tapi rasa di balik kata. ### Dan “laziit”, jelas terasa lebih laziit.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

MATHBI: KAMBING BAKAR KHAS.. Di Wadi Doan, kambing bakar punya nama: Mathbi. Dijual bukan di restoran besar, di jalan protokol. Lebih sering di jalan-jalan kecil desa. Kadang tanpa papan nama. Model jualannya lebih mirip dapur terbuka. Sederhana. Arangnya menyala. Batunya panas. Kambing datang segar. Langsung diproses. Mathbi beda dari kambing guling. 1) Tidak diputar. 2) Tidak dipamerkan saat masak. 3) Dagingnya dibelah. 4) Ditempelkan ke batu panas di dalam lubang tanah. 5) Ditutup. 6) Dibiarkan matang pelan. Ya, ini teknik masak. Bukan atraksi kayak masak kambing guling. Bumbunya minimalis. Hanya garam. Sesekali ada yang ditambau sedikit rempah. Tidak ramai seperti sate Madura. Tapi justru di situ kekuatannya. Bukan rasa bumbu. Tapi rasa asli daging. Aromanya halus. Smoky, tapi tidak galak. Dagingnya empuk. Juicy. Ada sensasi gurih yang dalam. Rasanya enak banget, tidak bisa diceritakan. Harus dicoba sendiri. Makan Mathbi itu pelajaran. Bahwa yang sederhana, kalau tepat, bisa lebih “laziit” dari yang full bumbu dsn full rempah. Dan di situ, kita biasanya kalah. Maksudnya, nambah lagi.. Percayalah, bahwa saya juga belum merasakan.. He he..

Bahtiar HS

Bicara tt fam Al-Kaff di tulisan hari ini mengingatkan saya pd Prof. Ir. H. Abdullah Alkaff, M.Sc., Ph.D., dari Teknik Elektro ITS. Dulu di bwh Fakultas Teknologi Industri (FTI). Skrg Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC). Master & doktornya diraih dari univ luar negeri. Kalo gak salah Univ of Florida. Beliau spesialisasi di sistem kontrol, statistika, & probabilitas terapan. Ngobrol dengan beliau serasa kuliah 1 SKS sekali duduk. Beruntung saya sempat satu company dengan beliau (sy programer unyu2 waktu itu pas msh mahasiswa) dan dpt masukan banyak (ilmu) terkait TA saya. Yakni terkait dg sistem perencanaan kebutuhan awak kabin pesawat dengan studi kasus di PT Sempati Air (waktu itu). Mmg sy lg handle project di airline itu saat itu, terutama di tim pengembangan sistem Flight & Crew System. Salah satunya yg mau dikembangkan: Flight Attendant Planning utk perencanaan awak kabin pesawat yg sy jadikan TA. Dari rencana pengembangan rute, pengadaan pesawat, eksisting pesawat & rute, eksisting awak kabin per level, rencana pensiun, dll maka sy merumuskan satu sistem yg memprediksi kebutuhan awak kabin 5-10 tahun ke depan. Outputnya: kebutuhan awak kabin per level di 5 tahun mendatang, kapan harus rekrut, berapa jml rekrutnya, per periode rekrut, kapan jadwal pelatihannya, dsb. Alhamdulillah, TA saya dpt nilai A! Tp cilakanya, Sempati Air bangkrut lalu tutup. Pdhl App sy baru inisialisasi, blm sempat dipakai. Wkwkwk. Nasib!

Johannes Kitono

Isan Vegan. Setiap kali ke Bali ty pasti makan di resto ini. Lokasinya bukan di hotel bintang 5 atau Mall Mewah. Tapi di ruko depan Ramayana jalan Diponegoro Denpasar. Sambil makan bikin kita merenung. Kok harga sepiring nasi campur vegan hanya 13 ribu. Masih harus bayar sewa ruko 70 juta / tahun lagi. Bisa tetap hidup selama 15 tahun di kota Turis Bali. Tentu tidak ada baguling atawa ayam panggang. Nasinya gurih , sayur jamur dan sop bening. Konon Nasi campur vegan bisa menghilangkan angkara murka akibat konsumsi daging merah. Kalau mau hidup sehat dan panjang umur. Sebaiknya sering konsumsi makanan vegan. Bukankah semua makanan hanya numpang lewat ditubuh saja. Dan besok pagi kembali ke alam lagi. Jangan bikin susah organ tubuh dengan konsumsi produk kimia.Semoga Isan Vegan tetap hidup dengan kesederhanaannya. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 88

  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Riki Gana S
    Riki Gana S
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Muh Nursalim
    Muh Nursalim
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Macca Madinah
      Macca Madinah
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Al MAGHRIBI SEJAGAT
    Al MAGHRIBI SEJAGAT
  • Hermawan Wardhana
    Hermawan Wardhana
  • daeng romli
    daeng romli
  • Gregorius Indiarto
    Gregorius Indiarto
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Sogia Manom
    Sogia Manom
  • Runner
    Runner
  • pak tani
    pak tani
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • sinung nugroho
      sinung nugroho
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Sumartan
    Sumartan
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • hewriy hewriy
    hewriy hewriy
  • WASITH channel
    WASITH channel
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • MARWAN HAMHIS
    MARWAN HAMHIS
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • istianatul muflihah
    istianatul muflihah
    • djokoLodang
      djokoLodang
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Nimas Mumtazah
    Nimas Mumtazah
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • Macca Madinah
    Macca Madinah
  • dabudiarto71
    dabudiarto71
  • Echa Yeni
    Echa Yeni
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
  • siti asiyah
    siti asiyah
  • Milyarder Setia
    Milyarder Setia
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • alasroban
    alasroban
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • Gianto Kwee
    Gianto Kwee
  • Sri Wasono Widodo
    Sri Wasono Widodo
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • DeniK
    DeniK
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • DeniK
      DeniK
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • bitrik sulaiman
      bitrik sulaiman
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Prakarsa dj
    Prakarsa dj
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
    • Prakarsa dj
      Prakarsa dj
    • bitrik sulaiman
      bitrik sulaiman
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • Prakarsa dj
      Prakarsa dj
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Maman Lagi
      Maman Lagi