Agus Mustofa

Minggu 05-04-2026,04:00 WIB
Oleh: Dahlan Iskan

Lima jam sebelum meninggal ia memanggil putrinya: Citra P. Dini. Sang putri sedang salat tahajud di dekat sang ayah terbaring di rumah sakit.

Jam menunjukkan pukul 03.00. Sang putri menoleh ke arah ayah. Dia lihat sang ayah sedang kesulitan menuliskan sesuatu dengan HP-nya. Maka Citra mengambil HP dari tangan sang ayah.

"Mau menulis apa?"

"Tuliskan apa yang akan ayah ucapkan," katanya. Suaranya sudah sangat lemah. Sudah agak cadel.

"Baik. Ayah bicara, saya yang menulis," kata Citra sambil meraih HP dari tangan sang ayah.

Maka sang ayah mulai mendiktekan kata-kata. Sang putri tidak segera mau menuliskan kata-kata itu.

"Tulis saja," kata sang ayah.

"Tidak mau," jawab sang putri.

Ternyata kata-kata yang diucapkan itu seperti ini: telah meninggal dunia, Agus Mustofa, pada hari ini tanggal 29 Maret 2026.

Setelah melihat mimik wajah sang ayah akhirnya Citra menuliskan kata-kata itu. Lalu dia save. Itu untuk menyenangkan sang ayah yang kelihatan sedih ketika sang putri tidak mau menuliskannya. Tapi ada satu kata yang tetap tidak dia tulis: tanggal kematian itu. Dia tidak mau ayahnyi meninggal di tanggal tersebut –yang tak lain adalah tanggal kematian yang sebenarnya.

Lima jam kemudian sang ayah meninggal: 30 Maret 2026.

Saat kabar itu datang saya sedang di Jakarta. Kaget. Ketika saya tengok Agus di RS kondisinya masih segar. Seluruh organ tubuhnya normal. Hasil CT scan dan MRI juga baik. Meski sudah 14 hari di RS belum ditemukan penyakitnya.

Saya menulis ini karena Agus Mustofa pernah lama jadi anak buah kebanggaan saya. Ia satu-satunya wartawan kami yang punya pendidikan teknik nuklir: alumnus UGM Yogyakarta.

Waktu itu saya memang ingin punya wartawan dengan segala macam latar belakang pendidikan. Ada yang teknik sipil, teknik mesin, elektro, dokter, dan Agus Mustofa.

Suatu saat Menristek Prof B.J. Habibie akan memberikan seminar di Jerman. Beliau ingin mengajak wartawan yang memahami teknologi. Dari banyak wartawan yang dinominasikan, Agus Mustofa yang lolos seleksi. Ia pun ke Jerman bersama Pak Habibie.

Saya tidak tahu apa alasan Agus Mustofa berhenti dari kewartawanan. Tahu-tahu namanya terkenal sebagai penulis buku-buku tasawuf modern. Sangat produktif. Banyak bukunya yang mengundang kontroversi. Ia termasuk yang menguraikan bahwa Nabi Adam bukanlah orang pertama di dunia. Juga bukan terbuat dari tanah liat sebagaimana yang dipercaya selama ini.

Sebagai orang nuklir, Agus menghendaki semua hal harus ilmiah.

Lebih 60 buku tasawuf modern ia terbitkan. Kalau saja tidak keburu meninggal ia bertekad terus menulis buku. Pun bila jumlahnya sudah mencapai 100 buku.

Saya tidak tahu dari mana Agus Mustofa mendapatkan ilmu agama yang begitu dalam. Termasuk dalam memahami kitab suci. Belakangan ia juga laris sebagai penceramah agama.

Ternyata Agus Mustofa adalah putra Syekh Djapri Karim –tinggal di Malang tapi kelahiran Kalsel. Suku Banjar. Ibunya wanita Jawa keturunan Aceh.

Syekh Djapri Karim adalah mursyid tarekat Nahsabandiah. Ia meninggal tahun 1990 di usia 90 tahun. Di usia tuanya, Syekh Djapri menamakan aliran tarekatnya Nuhsabandiah.

"Saya pernah diberi penjelasan mengapa nama Nahsabandiah diubah menjadi Nuhsobandiah," ujar Taufik Djapri Karim, adik sang mursyid. "Itu sama dengan Nahsabandiah tapi lebih dalam lagi," ujar Taufik menirukan penjelasan sang mursyid.

"Setelah beliau meninggal siapa yang meggantikannya sebagai mursyid?"

"Tidak ada. Beliau yakin suatu saat ada keturunannya yang meneruskan," ujar Taufik.

Agus-lah yang paling punya potensi sebagai penerus. Tapi Agus memilih masuk jurusan teknik nuklir UGM. Setelah jadi sarjana nuklir pun ternyata Agus tidak bisa jauh dari tarekat (tasawuf). Tapi ia pilih tasawuf yang ilmiah –tasawuf modern.

Rupanya dari ayahnyalah Agus memiliki kemampuan ilmu agama. Termasuk dalam hal tarekat. Semua itu baru saya ketahui dua hari lalu ketika saya melayat ke rumahnya di hari keempat kematiannya.

Setelah ia tidak jadi wartawan saya jarang bertemu. Ia juga sibuk dengan dakwahnya. Ia keliling Indonesia. Menulis buku. Bikin rekaman video. Sesekali minta saya menulis kata pengantar untuk buku barunya.

Suatu saat saya mendengar Agus ingin menulis tafsir Quran. Lalu saya menemuinya. Saya tahu ia tidak pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Meski tidak wajib tapi itu bisa dianggap kelemahan. Saya tidak mau Agus dikritik orang di soal yang tidak substantif: tidak pernah mendalami Islam di Timur Tengah.

Maka saya anjurkan Agus untuk ke Timur Tengah. Ia menerima saran saya itu. Ia pergi ke Mesir. Ia tinggal di sana meski tidak lama.

Saya ingat Nurcholish Madjid. Begitu hebat pemikiran pembaharuannya dalam Islam. Tapi ada saja yang tidak bisa menerima hanya karena ia tidak bisa membaca kitab kuning –buku-buku klasik yang ditulis dengan huruf Arab tanpa tanda baca.

Akhirnya Agus mulai menulis tafsir Quran. Rupanya ia sudah merasa buku tafsirnya itu akan dipersoalkan. Maka Agus menulis kata pengantar di buku tafsir itu sangat panjang. Yakni di awal buku tafsir juz 1.

Di situ ia menjelaskan perjalanan ilmu tafsir dari masa ke masa. Mulai munculnya kitab tafsir pertama di dunia. Yakni di abad ke-8 –200 tahun setelah Nabi Muhammad meninggal. Anda sudah tahu nama kitab tafsir itu: Tafsir Al Kabir. Penulisnya orang Parsi: Muqatil bin Sulaiman. Pendekatannya: bahasa.

Agus terus menguraikan lahirnya kitab-kitab tafsir terkemuka berikutnya. Sampai ke Tafsir Jalalain –ditulis dua orang bernama Jalal. Semua tafsir itu menggunakan pendekatan yang berbeda. Termasuk ada yang berdasar latar belakang lahirnya satu ayat di dalam Quran.

Yang belum ada: tafsir berdasarkan pendekatan zaman modern. Ia beralasan betapa zaman sudah berubah. Betapa kebutuhan masyarakat sudah sangat berbeda. Betapa generasi millennial perlu tafsir yang bisa menjawab zaman mereka.

Maka Agus tergerak untuk menulis tafsir dengan pendekatan baru: Ulul Albab. Itulah nama karyanya itu: Tafsir Ulul Albab.

Sudah tiga jilid ia selesaikan: juz 1, juz 2, dan juz 3. "Jilid empatnya sudah selesai ditulis. Tapi belum sempat diterbitkan. Masih di dalam komputer beliau," ujar Citra.

Ia sudah menerbitkan lebih 60 buku tasawuf modern. Lalu menerbitkan tafsir modern.

Saat dalam perjalanan dakwahnya, badannya panas. Tubuhnya menggigil. Diobati tidak sembuh. Ia masuk rumah sakit: besannya dokter spesialis di Unair. Bisa tertangani dengan baik.

Kecurigaan umum para dokter jelas: ada virus atau infeksi. Panas dan demam bersumber dari sana. Tapi berbagai pemeriksaan tidak ditemukan virus apa pun. Tidak terjadi infeksi di bagian mana pun.

Ada tambahan keluhan: cegukan. Berkepanjangan. Berhari-hari. Minggu. Bulan. Juga tidak ditemukan penyebabnya. Saya sampai ikut bertanya sampai ke berbagai AI. Jawab AI: ada orang yang cegukan selama 63 tahun. Di Amerika. Tidak apa-apa. Sampai orang itu kawin cerai tiga kali –mungkin istrinya merasa terganggu.

Jawaban AI itu saya forward kepadanya: bisa buat hiburan orang sakit. "Umur saya sekarang 63 tahun," katanya. "Kalau saya harus cegukan selama 63 tahun berarti saya baru akan meninggal di umur 126 tahun," guraunya.

Agus memang suka bergurau. Ia murah senyum. Juga rendah hati –mungkin terbawa tasawufnya itu. Ia tidak mudah menegur orang –apalagi memvonis seseorang.

Istrinya sendiri tidak dipaksa bangun ketika waktu subuh tiba. Ibu rumah tangga perlu istirahat yang cukup. Apalagi dia usaha di bidang makanan dan perkuean. Waktu sang istri bangun kaget. Matahari sudah terbit.

Melihat istrinya bangun Agus baru minta agar dia salat subuh. "Matahari sudah terbit," kata sang istri. "Tidak apa-apa. Salat saja," kata Agus. "Di kawasan lain matahari belum terbit," tambahnya.

Sang istri, Anna Ratnawati, juga bercerita Agus tidak pernah minta dia masuk Islam. Juga tidak pernah memaksa mengajari ngaji Quran.

Mereka kenal saat sama-sama SMP di Malang. Agus ketua OSIS. Anna sekretaris. Anna sangat terkesan dengan kepintaran dan budi pekerti Agus. Waktu SMA mereka terpisah sekolah, tapi masih sama-sama di Malang. Hobi mereka sama: main gitar.

Ketika Agus masuk teknik nuklir UGM, Anna kuliah di Malang. Tapi hati mereka sudah tidak bisa dipisah. Pun ketika ayah Anna akan menjodohkannyi dengan seorang dokter.


Agus Mustofa dan istri.--

Mereka menikah di Yogyakarta. Dia berangkat naik bus ke Yogyakarta. Sendirian. Orang tuanyi tidak merestui –soal perbedaan agama.

Di Yogya, Agus sudah jadi aktivis. Juga jadi asisten dosen favorit. "Yang menikahkan kami Bapak A.R. Fachruddin," ujar Anna. Anda sudah tahu siapa A.R. Fachruddin: ketua umum Muhammadiyah saat itu. Beliaulah yang menuntun pengucapan sahadatnyi.

Mereka lantas hidup berdua di rumah kos-kosan. Mereka menutupi bolong-bolong dinding kayu rumah kos-kosan itu dengan bagor bekas spanduk.

Setahun kemudian bapak ibu Anna pindah ke luar pulau. Dinas di sana. Rumah di Malang kosong. Anna menempati rumah itu sambil meneruskan kuliah sampai S1 –tanpa bertenggang rasa dengan ayahnyi.

Setelah S-1 barulah mereka kumpul lagi. Punya anak: Citra P. Dini.

Kelak, Citra-lah yang mengajari sang ibu mengaji Quran.


Dengan Anna Agus Mustofa dan putrinya Citra P. Dini.--

Setelah tiga minggu di rumah sakit Agus merasa bosan. Minta pulang. Toh belum ditemukan penyakitnya. Ia masih harus menunggu hasil tes sumsumnya. Dari hasil tes sumsum yang pertama tidak ditemukan apa-apa. Tapi dokter ingin melakukan test yang lain –hanya saja hasilnya baru keluar dalam 10 hari.

Sampai di rumah ternyata Agus minta diantar ke makam ayahnya: Syekh Djapri Karim. Ia menangis di makam sang mursyid. Tiga hari kemudian demamnya menggutus. Masuk rumah sakit lagi. Dokter mengatakan hanya bisa memberi obat menghilangkan gejalanya saja. Sambil menunggu hasil tes sumsum tulang belakang.

Hasil tes yang ditunggu pun datang. Ditemukanlah penyakitnya: kanker darah.

Agus menerima penjelasan pengobatan selanjutnya. Ia siap menjalaninya. Tapi kemo itu baru bisa dilakukan setelah kondisi tubuh Agus membaik. Hb terus menurun. Trombosit memburuk. Angka-angkanya terus merosot meski sudah transfusi plasma darah. Ia juga sudah tidak bisa makan. Mau makan. Tapi tidak bisa menelannya.

Lima jam sebelum meninggal ia menulis sendiri kematiannya: 30 Maret 2026. Di umurnya yang 63 tahun.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 4 April 2026: Rumah Ahmadi

Wilwa

Profesor Jeffrey D Sachs (pakar ekonomi “pembangunan” Amerika, yang juga penasihat Danantara) begitu frustasi dengan Donald J Trump / Grand Old Party yang “delusional” hingga menyarankan China mendirikan PBB tandingan di Beijing. Alasan tambahan lainnya cukup masuk akal karena populasi Asia adalah terbesar di bumi ini sedangkan populasi Eropa dan Amerika Utara hanya belasan persen saja. Dia menganjurkan agar dunia tak mempercayai apa yang dikatakan USA yang ironisnya adalah negaranya sendiri yang sangat dia cintai karena USA sedang delusional dengan MAGAnya. Menolak realita bahwa USA kini second setelah China.

Galuh Dwipantara Iwantoro

Zuuut... "monitor, kak Mala". the time portal has been opened. sorry, sis, the search for the eternal blue energy protective cage is in pashunland. In 1427H, the blue battery "house" was observed to still be tightly protected inside the pyramid. Energy leaks have been seen on the side of the removed rolling stone. The pashunland dimension is still securely stored. It seems that EAST and WEST are observed in this Hijri era. According to future information, it can withstand nuclear fusion on a plasma scale. But unfortunately, even though this energy "house" is claimed to be stable, Ali Razeghi said it still leaks. Just like NT Tao Metatron. Wait galuh kak. 6°59'40.6"S 107°03'21.6"E

Riki Gana S

Yang saya tangkap dari cerita2 abah mengenai mobil listrik dan segala tetek bengeknya adalah pertanyaaan ini: "Kok bisa-bisanya masyarakat indonesia tertipu oleh cerita kesuksesan mobil esemka, dibandingkan dengan mobil listrik yang lebih realistis?"

Riki Gana S

Apakah ada dasep ahmadi di generasi berikutnya di negeri ini? Dan adakah yg berusaha mencarinya? Saya kira ada. Hanya karena mungkin sunyi, jadi tidak terekspos; tidak seperti abah DI yang biasa bercerita (lewat tulisan). Setidaknya, iklim kepastian hukum kita saat ini cukup baik di bandingkan 13-14 tahun lalu. Jadi, jika ada yg seperti pak DA lagi, saya kira bisa lebih aman. Dan, saya sepakat cara pak riki elson. Dia menyiapkan generasi di padepokannya. Ini lebih realistis. Dengan menciptakan generasi2 penerus yang tidak hanya sendirian, tapi berkelompok, sehingga lebih kuat, siap dan kompak dalam menyongsong inovasi kedepan, di negeri ini. Tabik! Riki Gana S

Kurniawan Roziq

Untung technologi baterai listrik berkembang terus , coba kalau basic nya tetap nikel seperti bahan bakar fosil , nggak kebayang kalau presiden Amerika stress kaya Trump ngincer Indonesia, Alhamdulillah nikel kita cuma buat bahan baja

Jokosp Sp

Mereka yang memenjarakan Pak Dasep dan memperkarakan Abah itu syaithon. Jadi ya ndak tahu dosa. Apalagi ada penyesalan .

MULIYANTO KRISTA

Saya punya titik koordinat rumahnya bah. Kalau mau mengirimi drone Al Shahab hub saya.

Leong Putu

Anak Bangsa ini lebih dari mampu untuk membuat apa saja. Pun hanya mobil listrik. Masalahnya menjadi tidak bisa karena ijin/ per_ijinannya. Sama kek Pak Bos, lebih dari mampu kalau hanya sekadar nambah. Apalagi nambah cuman satu. Kecil bagi Pak Bos. Masalahnya sama : ijin. Sak no... Wkwkwk...

Dinar Rusyan

Ziit... the time machine portal opened.... "galuh, are you monitoring?". "sis, i just arrived at celebes. this time the mission is to save blue technology. jungwentara is difficult to contact. We must secure the creator of anti-gravity car technology from Wentara blue energy. gasoline has been unsafe since nuclear waste has spread. electricity hope from blue energy. "I'm Mala waiting you, okay?" 0°43'51.7"S 119°59'16.8"E

Ibnu Shonnan

Dari materi CHDI dua hari terakhir ini, saya dipaksa mikir. Ternyata sesulit itu memahamkan masa depan pada orang lain. Orang lain itu bukan kita-kita kelas perusuh Disway. Atau para buruh tani, bangunan, karyawan pabrik dst. Tapi, orang lain itu adalah yang level terendahnya adalah anggota DPR, pengaku wakil rakyat. Beberapa ketua umum partai. Yang ucapannya langsung membuat mengkeret para anak buahnya. Orang lain itu sekalas presiden dan para menteri sebagai pembantunya. Juga orang lain itu adalah para APH yang paling ngaku faham akan hukum megara. Memahamkan mereka ternyata sulit bukan? Atau mereka-mereka itu memang malas memakai otaknya? Atau jangan-jangan hanya memikirkan kepentingan pribadinya?

Komentator Spesialis

Saya ada kerjasama dengan perusahaan China. Dan salah satunya adalah dalam industri robot dengan perusahaan China. Filosopi saya simple. Kalau anda lemah, jangan ajak lawan raksasa anda jadi musuh dan bertarung. Jadikan mereka teman, ajak kerjasama. Dari situ mulai strategi ATM : Amati Tiru Modifikasi. Bulan lalu saya pergi ke China ke tempat partner saya tsb. Saya cukup kaget. Mereka awalnya adalah semacam start up company. Tetapi bisa punya produk, team ratusan sampai fasilitas gedung megah. Bahkan pasarnya sampai merambah 50 negara lebih. Iseng iseng saya tanya. Ini gedung anda beli sendiri ? Jawaban yang membuat saya kaget. Dibuatkan dan disupport pemerintah China ! Makanya saya katakan, bahwa dukungan pemerintah itu sangat penting. Bukan support ngasih proyek proyekan yang berakhir korupsi. Yang alirannya hanya mengalir ke pihak pihak yang dekat dengan elite kekuasaan. Tetapi dukungan yang sifatnya bantuan ke genuine pemain industri. Baik berupa regulasi yang mendukung maupun akses permodalannya. Contohlah pemerintah China, bagaimana mereka berhasil membangun industri yang bisa menguasai 30% industri manufaktur dunia.

Komentator Spesialis

Kang Dasep adalah senior saya. Ketika saya baru menapakkan kaki masuk ke Salman, beliau sudah menjadi elite penghuni gedung kayu Masjid Salman ITB memimpin unit teknologi terapan. Saya lihat saat itu beliau bikin parabola yang di jaman itu masih jadi barang langka. Dan saya tidak menyangka bisa bertemu beliau lagi ketika beliau tersandung kasus korupsi. Sempat menengok beliau di Cipinang. Semoga Allah memberikan kesehatan kepada beliau dan mengembalikan ke jalan yang benar.

Wilwa

@AgusS3. Begitulah kalau mantan presenter TV yang mendadak evangelis (baca: mabuk agama) menjadi Secretary of War. Hawkish. Warmonger. Para Jendral yang “prudent”, hati-hati, mengerti betul kondisi di medan tempur sehingga menolak perintah / strategi “gendheng”nya dia pecat satu per satu. Pete Hegseth is the wrong man in the wrong place. Nampaknya betul kata Richard D Wolff: American Empire is declining.

riansyah harun

Ketika melihat foto Pak Dasep yang lagi makan saat "membatalkan" puasa sunah Senin Kamis karena anjuran seseorang supaya dapat 2 pahala sekaligus itu, sungguh amat membanggakan. Kedua sahabat tersebut terlihat amat segar, awet, postur atletis, dan tidak terlihat sedikitpun wajah wajah yang pernah "disudutkan" oleh pengadilan. Dan Catatan Harian Dahlan pagi ini, pasti telah membuat semua pembaca seperti mendapatkan jawaban, walaupun jawaban itu belum memuaskan 100 persen. Dan sayapun termasuk salah satu pembaca yang langsung mencari berita mengenai Pak Dasep yang punya nama belakang Ahmadi tersebut, di mesin pencarian Google. Ternyata yang membuat hati ini begitu tergetar dan membuat miris sekali, saat beliau memberikan pembelaan di Pengadilan. Beliau mengatakan begini : Kita melakukan yang terbaik (tentu dalam masa penelitian serta uji coba sesuatu hal yang baru...) masih ada kekurangan itu wajar, namun kalau termasuk perbuatan kejahatan, saya tidak terima...!!! "Kejahatan" yang dituduhkan pada beliau itu, telah berakhir dengan makan siang di 2 pahala tadi. Walaupun harus membayar mahal sekali. Upsss.., maksudnya bukan biaya mahal atas makan siangnya, tapi berada di tempat sunyi, dibalik jeruji besi yang kokoh itu.

Rikki Sitorus

Mungkin ke depan kalau mau show sebuah inovasi atau penelitian harus diingatkan mengucapkan "Masya Allah". Supaya terhindar dari orang "Iri" dan "Ain" yang menggunakan cara-cara tertentu (melalui celah aturan/hukum) untuk menghambat.

Jokosp Sp

Pak Dasep Ahmadi ternyata mantan orang Astra International yang ahli mesin. Dan poenya pengalaman enam tahun sebelum mendirikan perusahaan sendiri, yaitu PT. Sarimas Ahmadi Pratama tahun 2004. Yang jadi supplier untuk mesin industri ke Astra. Jadi kalau dihitung mundur bisa antara 1990 - 2003 bekerja di Astra International. Astra sendiri untuk otomotif ada Toyota Astra Motor dan Daihatsu Astra Motor, apakah Pak Dasep menaungi dua perusahaan itu?. Sepertinya Si Jepun punya ego dan keyakinan lebih di mesin bensin dibanding mobil listrik saat itu. Jadi sang pemilik dengan keras menyatakan Toyota atau Daihatsu ya mesin dengan bakar bbm, bukan listrik. Pemikiran saat itu. Padahal sesama mantan orang di bawah Astra, yang namanya inovator dijunjung sangat tinggi dan diapresiasi sangat tinggi juga. Pengalaman dari empat hasil inovasi di bbm, bahan blasting, di filtrasi, dan di produksi coal. Pemikiran sisi kepentingan bisnis saat itu lebih utama barangkali (?).

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

APA & SIAPA: PAK DASEP AHMADI Ia bukan tipe yang berhenti berpikir. Bahkan ketika ruangnya dibatasi tembok penjara. Justru di sana, ia menemukan “rumah” baterai. Dasep Ahmadi. 1) Latar mesin. 2) Otak sistem. 3) Dari muda sudah beda. Mahasiswa Institut Teknologi Bandung dengan IPK 4,2 saat skala masih 5. Kalau dikonversi ke skala 4, kira-kira setara 3,36. Tinggi, tapi bukan itu yang ia kejar. 4). Ia aktif di Masjid Salman. Ngurus teknologi terapan. 5) Aktivis, tapi tetap juara lomba robot. Kariernya sempat singgah di Astra International. Prestasinya mengantarnya ke Stuttgart, Jerman. Kota mesin. Di situ fondasinya makin matang. Lalu hidup berbelok. Ia masuk penjara. Banyak orang berhenti di titik itu. Dasep justru mulai bab baru. Menyusun paten. Menggambar. Menguji logika. Seperti merakit ulang dirinya sendiri. Kini usianya 60. Katanya sudah tidak mau bangun industri. Tidak ada modal. Tapi pikirannya masih “bermodal besar”. 1) Ia memilih jual otak. 2) Bukan pabrik. Kadang, yang paling menentukan masa depan, justru yang lahir dari keterbatasan.

Sugi

meski terus diamputasi oleh keadaan, Kang Dasep tetap terus mencari celah untuk memberi makan bagi idealismenya, semampunya, sekuatnya. semoga beliau selalu bisa terus memberi kontribusi terbaik bagi bangsa dan negaranya. aamiin.

MULIYANTO KRISTA

Kali ini abah berubah jadi "SYAITHON". Yaitu menggoda kang Dasep yang lagi berpuasa untuk membatalkan puasanya. Astaghfirullah hal adzim. Ampuuunnn............bah.

xiaomi fiveplus

kita punya pasar, sumber material dan sdm yang sangat bisa membuat negara ini maju. yang kita tidak punya hanya paman yg bisa membuat aturan agar sistem negara kita mendukung kemajuan itu.

Kategori :