Klarifikasi Bukan
--
Langkah cepat dilakukan. Sehari setelah Presiden Prabowo berpidato dar-der-dor di DPR, sebuah perusahaan baru berdiri. Namanya, Anda sudah tahu: Danantara Sumberdaya Indonesia.
PT DSI itulah yang akan melaksanakan ekspor sawit dan batu bara. Eksporter tunggal Indonesia. Semua perusahaan sawit dan batu bara harus menyerahkan ekspornya ke PT DSI.
Surat pengesahan berdirinya PT DSI sudah dikeluarkan oleh kementerian hukum kemarin. Setidaknya ringkasannya. Ringkasan itu beredar di medsos. Termasuk status PT DSI: perusahaan swasta (tertutup).
Heboh. Kok swasta. Padahal Presiden Prabowo sudah menegaskan dalam pidatonya bahwa eksporter tunggal yang dimaksud adalah perusahaan negara: Danantara.
Untung CEO Danantara segera bikin klarifikasi: status swasta itu segera diubah menjadi Persero BUMN. Berarti status swasta tadi hanya salah ketik –saking buru-burunya.
Tidak hanya soal status swasta yang diklarifikasi. Danantara juga klarifikasi beberapa poin yang dipidatokan Prabowo. Misalnya soal siapa yang melaksanakan ekspor nanti dan bagaimana caranya. Menurut klarifikasi itu PT DSI hanya mencatat dan mengawasi. Ekspornya tetap dilakukan masing-masing perusahaan tapi dicatatkan ke PT DSI. Maksudnya agar tidak terjadi lagi under invoicing dan transfer pricing. Agar negara tidak ditipu lagi oleh eksporter.
Inti dari klarifikasi: PT DSI bukan perusahaan perantara antara perusahaan sawit/batu bara dengan pembeli di luar negeri. PT DSI tidak akan mengambil untung dari ekspor sawit.
Meski ada klarifikasi tetap tidak jelas apa sebenarnya yang diinginkan pemerintah. Justru pidato Presiden Prabowo sangat jelas: ingin melaksanakan UUD 1945 termasuk pasal 33-nya. Yakni kekayaan alam dikuasai oleh negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat Indonesia. Biarlah kebun sawit dan tambang batu bara tetap dimiliki perusahaan tapi hasilnya dikuasai oleh negara lewat PT DSI.
Klarifikasi itu juga agar berbeda dengan peraturan pemerintah yang tegas-tegas menyebutkan "ekspor komoditas strategis hanya dilakukan oleh BUMN Ekspor yang ditunjuk".
Entahlah mana yang paling benar. Baiknya kita sabar menunggu perkembangan sampai dua minggu lagi. Yang jelas sampai akhir Desember depan eksporter masih tetap boleh ekspor. Hanya saja sejak tanggal 1 Juni nanti sudah harus melaporkan ekspornya ke PT DSI.
Kenapa harus ada klarifikasi yang justru membuat simpang siur? Jangan-jangan klarifikasi itu muncul setelah dunia usaha meributkan pidato presiden.
Pengusaha ribut adalah wajar. Ketentuan baru itu memang bisa dianggap tidak adanya kepastian berusaha. Kalau memang ada yang melakukan under invoicing dan transfer pricing mengapa pemerintah tidak menangkap saja yang melakukannya.
Berarti kita masih harus tunggu klarifikasi atas klarifikasi itu: apakah PT DSI eksporter tunggal atau hanya pusat pelaporan data ekspor. Saya pikir pidato presiden di DPR sudah sangat jelas. Ternyata belum dianggap jelas. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan
Edisi 21 Mei 2026: Dor! Dor!
gubernur kota
Yang jelas pesta horang2 kaya tidak lagi seru. Banyak temen2 Abah Bos jadi galau. Kalau kata Gus Dur, baiknya ada. tapi dosanya lebih banyak. Bayangkan selama puluhan tahun kekayaan negeri ini hanya dinikmati horang2 itu. hanya memakmurkan horang2 yang sangat sedikit itu. Mau anda sebut Presiden Prabowo pemberani, mau anda sebut nekat, mau anda sebut ceroboh, mau anda sebut konyol, terserah anda. toh siapapun kita, akan diminta pertanggungjawaban. kebijakan anda, suara anda, tulisan anda. semuanya. saya tidak perlu dolar. saya tidak minum kelapa sawit. saya tidak makan batu bara. segala puji bagi Alloh. hidup saya berkecukupan.
Er Gham 2
Kalo udah pegang dokumen, terkait perbedaan data jumlah yang diekspor --- data dalam negeri --- dengan data milik negara importir, kok tidak suruh kejaksaan atau kpk untuk tindak lanjuti. Jangan dimaafkan dong. Itu kan uang triliunan yang ditilep. Orang kelaparan terus maling ubi dari kebun tetangga saja ditangkap. Investigasi lah. Kalo benar langsung diproses. Biar jadi contoh. Rakyat juga pengen lihat kalo pemerintah itu serius menangani maling maling ekspor. Jangan prinsip 'kawanisne' mencederai rasa keadilan masyarakat.
Johannes Kitono
Politik Ekonomi Benteng. Ending tulisan Dor Dor.Mungkin ekonomi akan kokoh atau sebaliknya. Sudah direspon negatip oleh pasar. Dollar tidak turun dan mungkin nanti bisa tembus 20 ribu. Now saat bursa di Asia hijau kecuali BEI yang merah.Modal Asing yang rasional banyak yang kabur. Pengusaha Batubara dan Sawit menangis darah.Hasil kerja keras mereka selama ini seperti diakuisisi Danantara.Kapitalis Negara, tulis Wahyu Purnama alumnus Universitas Andalas di Kompas. Berpolemik dengan Fahri Hamzah yang membantah tulisan Economist. Prabowonomic dengan BUMN sebagai motor pembangunan. Serupa tapi tidak sama dengan Sistem Ekonomi Gerakan Benteng diawal 1950 an.Gagasan Prof Dr. Soemitro Djokohadikoesoemo, ayah kandung Presiden Prabowo. Beliau pernah menjabat Menteri Perdagangan dan Perindustrian di Kabinet Natsir. Politik Benteng ini memberikan lisensi impor dan kredit khusus kepada pengusaha Pribumi.Tujuannya supaya Ekonomi NKRI tidak tergantung pengusaha asing dan nonpri. Ternyata banyak disalah gunakan. Uang kredit dipakai buat foya foya.Lisensi impor dijual kepada pengusaha Tionghoa.Ada PT Ali Baba, Direkturnya Ali dan taukenya Baba. Gagalnya Politik Ekonomi Benteng juga disebabkan sistem Demokrasi Parlementer.Silih ganti pemerintahan lupa menggeser dominasi perusahaan asing dan distop tahun 1957.Tentu kita tidak harapkan Prabowonomics juga gagal seperti Politik Ekonomi Benteng. Dan senyum Menkeu Purbaya hilang tersapu badai. SSHB.
Juve Zhang
Anda pengamat pemasaran coba lihat BLI BLI group Djarum sekarang buka toko OFFLINE....seru banget ...dan satu hal lagi grup Alfa dan indo lagi gencar ekspansi outlet....sangat dahsyat buka outlet nya....sangat seru Abang adik ini lengket terus barengan....muncul nya toko OFFLINE BLInBLI mungkin akan jadi game changer terhadap shopee atau tik tok?????? Masih seru yg jelas dompet BLI BLI jelas tebal gak terbatas ... dompet Tik tok dan shopee pun tebal gak terbatas.... pertarungan grup dompet tebal dan strategi BB dari online ke offline layak di perhatikan para ahli pemasaran....
Wilwa
@Liam. Ada satu tanaman lokal yang berpotensi besar sebagai pengganti kedelai yaitu kecipir. Kecipir hanya cocok di iklim tropis untuk hasil panen maksimal sedangkan kedelai hanya cocok di iklim subtropis untuk hasil panen maksimal. Kecipir juga bisa diolah jadi tempe. Kecipir adalah super food yang kandungan proteinnya lebih tinggi dari kedelai. Akar dan daun kecipir juga bermanfaat. Akar Kecipir (psophocarpus tetragonolobus) juga dikenal sebagai penyubur tanah karena mampu mengikat nitrogen bebas dari udara. Akar kecipir juga membantu mengikat struktur tanah di lahan miring. Daun kecipir juga sumber serat, asam folat dan zat besi untuk ibu hamil. Referensi kecipir bisa dilihat di wikipedia. Sinonim kecipir adalah kacang botol, kacang belingbing, kacang embing di Sumatra; biraro (Manado, Ternate); jaat (Sunda); kacang kumbotor (Pontianak). Englishnya winged bean, winged pea, four angled bean. Sayang pemerintah tak fokus pada kecipir sebagai substitusi kedelai sehingga kita tak perlu lagi impor kedelai untuk bikin tempe, makanan ratusan juta umat.:)
pak tani
Kalau saya gampang saja. Tolak ukur ekonomi bagus atau tidak ya diri sendiri dahulu, mungkin bisa ditambah cerita dari teman sekitar yang terdekat. Istilahnya ring 1. Itu saja sudah. Tidak usah mengkaitkan dengan IHSG, Dollar, dll. Kecuali kita memang pemain saham atau valas yang sering jalan2 keluar negri. Jadi, bagaimana ekonomi di era Mr.Wo ini. Persaingan sangat ketat, market cenderung stagnan bahkan turun, kerja harus ekstra hard dan smart. Mencari pekerjaan sangat susah. Itu yang saya dan teman sekitar rasakan dan amati. Bagaimana dengan anda? Oya, di jaman Mr.Wi saya merasakan ekonomi lebih baik. Tapi, di akhir periode mulai menurun. Kalau untuk solusi, kita serahkan saja kepada pemerintah. Dan berdoa uang rakyat betuk2 untuk kemakmuran negara, bukan untuk pribadi atau golongan.
Amaludin Ibnu
- seluruh kekayaan alam adalah milik negara --> Salah, yang benar "dikuasai oleh negara" 2. harus digunakan sebesar-besar kemakmuan negara --> Salah yang benar "digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran RAKYAT" Apakah dengan ini akan meningkatkan kemakmuran rakyat? Sangat meragukan, meningkatkan kemakmuran Danantara iya. Ini playbook yang sama dengan BBPC yang berakhir dengan kehancuran total industri cengkeh, menyeramkan
Ferdy Holim
UUD 1945 Pasal 33 ayat (3): "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-sebesar kemakmuran rakyat". "Dikuasai negara" apakah berarti harus dimiliki oleh negara? Apakah BUMN itu sama dengan negara? Ataukah BUMN hanyalah perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki negara (sehingga bukan negara)? Bukankah "dikuasai negara" bisa berarti dapat/berhak diatur oleh negara (tanpa harus dimiliki sendiri oleh negara)? Sepertinya tetap perlu tafsir.
yea aina
Dampak kebijakan jor-joran membangun infrastruktur dulu, sekarang utang pemerintah cq BUMN karya membengkak. Maka diperllukan penerbitan SUN (surat utang negara), tentunya dengan bunga yang lebih tinggi. Akibatnya bank-bank di sini, lebih memilih menempatkan simpanan nasabahnya ke SUN. Ekonomi swasta mengering, kesulitan mendapatkan pinjaman komersial untuk modal dan perluasan bisnis. Dulu pemerintah mendominasi perekonomian, melalui tentakel BUMN karya. Pembangunan infrastruktur melalui penugasan, pun sekarang banyak yang mangkrak. Era sekarang, sebagai kelanjutan rezim lama. Pengulagan arah kebijakan yang mirip-mirip saja: dominasi ekonomi oleh pemerintah. Porsi besar APBN yang dialokasikan untuk "proyek" MBG, KDMP dan PSN. Kaau di Papua sana, sedang berlangsung "pesta babi" besar-besaran. Bukan tidak mungkin, akan ada pesta-pesta yang lainnya. Khususnya di setiap "proyek" baru yang dicanangkan.
Thamrin Dahlan YPTD
Dor ! Dor ! Selamat siang Pak Mario di Semarang. Pantas dan sangat layak Pasal 33 UUD 45 kedudukannya bukan lagi sebagai narasi yang selama ini sering disebut sebut namun belum pernah di Eksekusi. Setiap UU wajib hukumnya memiliki turunan misalnya dalam bentuk Keputusan Presiden. Masih dalam suasana Hari Kebangkitan Nasional Pasal 33 kini sugah bergigi sebentar lagi bergizi. Tidak elok apabila terjadi ada rakyat (penguasa&pengusaha) lebih kaya raya dibandingkan negaranya sendiri. Kondisi ini jelas melanggar filosofi kehidupan kuno klasik terkait Sumber Daya Alam. Gratis anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa tetapi kenapa SDA dikuasai orang perorang. Keputusn ini jelas pendapatan negara bertambah banyak melonjak sehingga pepatah ayam mati di limbung padi tidak berlaku lagi disini. Siap Bapak Presiden Prabowo Subianto. Anda sudah menghidupkan perekonomian Indonesia Raya. Kemakmuran rakyat sudah menemukan jalan lurus sesuai amanah Alinea Pembukaan UUD 45. Gas Pooll Jangan Kendor Salam Indonesia Raya dari Perusuh setia disway.id & dismorning
yea aina
Aturan terbaru, mekanisme ekspor sawit dan batubara itu, akan direspon heboh, oleh para pebisnis dua komoditas utama kita. Mereka dianggap "nakal", karena dolar penjualannya tidak "dipulangkan", sekedar mampir ke kantong kas negara, sebagai cadangan devisa. Diduga, dolar mereka "diparkir" di perusahaan cangkang di luar sana. Yang memungkinkan bisa bebas pajak penghasilan di sini. Sekaligus perlindungan nilai harta (dolar miliknya) dari gerusan inflasi dan penurunan kurs rupiah. Logika pebisnis beda dengan orang di pemerintahan. Alih-alih mengerem penyebab inflasi tinggi dan mengatur ulang mekanisme penambahan utang negara. Tapi malah menerbitkan PP jalan pintas: monopoli ekspor sawit dan batu bara. Kalau cuan berkurang banyak, pengusaha manapun, akan lari. Bisnis lama ditinggalkan, untuk mencari alternatfr sumber cuan yang lebih jumbo. Mungkin inilah jalan menuju nasionalisasi malu-malu, terhadap perusahaan ekstraftif SDA, oleh negara. Tapi masa depan pengelolaannya bakal suram, jika masih ajeg diwarnai korupsi dan konflik kepentingan kelompok tertentu. Seperti pengelolaan (BUMN) badan usaha milik neneknya.
Liáng - βιολί ζήτα
iseng-iseng saja Paska Presiden Suharto lengser, tersebutlah istilah Era Reformasi..... Namun sayang sekali, Reformasi sepertinya masih sebatas wacana, gemanya memang begitu menggelegar diawal-awal, tetapi kemudian suaranya terdengar perlahan - hanya sayup-sayup, dan akhirnya seperti membisu. Reformasi yang semestinya perubahan drastis untuk perbaikan dalam sebuah negara, tidak dibarengi dengan perumusan konsep yang komprehensif..... sehingga, Reformasi itu apa, untuk apa, apa manfaatnya bagi masyarakat ?? Oleh karena itu, tidaklah mengherankan ada sebagian masyarakat yang menilai, bahwa Era Reformasi sekarang ini tidaklah lebih baik daripada Era-Era sebelumnya..... Ironisnya, ada bagian dari Reformasi yang digaungkan dengan suara nyaring, justru yang dilangkahi oleh dirinya sendiri..... seperti yang terjadi semasa Kepemimpinan Presiden Joko Widodo..... "Revolusi Mental (Reformasi Mental)" !! Anda Pasti Tahu, bagaimana persyaratan usia untuk Cawapres dan peran Sang Paman di MK..... Apakah yang seperti ini yang disebut Revolusi Mental (Reformasi Mental) ?? Oleh karena itu, sudah semestinya implementasi dari Pasal 33 UUD 1945 yang digaungkan oleh Presiden Prabowo Subianto dilengkapi dengan perumusan konsep yang komprehensif..... Dan..... mungkin, kalau diperlukan "tangan besi" sebaiknya digunakan..... "tangan besi - yang besinya dicor dari serpihan besi-besi-nya masyarakat".....
Juve Zhang
Banyak yang kena tembak luka parah kata bos CHDI....saya gak setuju akibat satu pintu ekspor banyak yang luka parah ...mereka senang dibeli putus oleh PT DSI gak ribet urus ijin ekspor dll....kalau soal IHSG ambruk dan OREO ambruk ini cerita lain....jor jor an percetakan Ferari dan percetakan Oreo sekarang akibatnya....duit kebanyakan di cetak nilainya ambrol....Rp tersungkur pun terhadap properti ambruk....banget .... kerusakan nilai tukar Rp ini bukan kejadian setahun dua tahun ini akibat 10 tahun jor joran mengeluarkan surat kutang alias Oreo akibatnya harus cetak Ulus Koper koper....ini konsekuensi hukum makro ekonomi....jika uang dicetak jor jor joran tanpa imbangan hasil ekspor valas maka akibatnya defisit anggaran defisit dolar defisit valas.... akibatnya sekarang Rupiah ambrol OTW ke 25 ribu per dolar....harga itu masih wajar dibanding dengan jumlah Jumbo yg dicetak oleh Ferari....gak usah kaget jika tembus 25 ribu masih wajar....coba dibanding ke properti tambah hancur lebur nilai uang Rp ....ke makan sehari hari coba anda bawa uang 50 ribu duduk makan sederhana warung Tegal atau warung nasi Sunda atau RM Padang anda akan sadar uang 50 ribu sudah bagaikan kertas tissue....gak bernilai lagi....padahal gaji tetap UMR tetap naik dikit aja....gak ngejar inflasi akibat cetak uang Jumbo terus menerus....pil pahit ini harus ditanggung seluruh Rakyat entah miskin atau super miskin....kalau kaya bos Tambang batu bara ya aman aman saja ...walaupun ada 1 pintu ekspor.
Muin TV
Waktu saya umroh tahun lalu, ada jama'ah yang usahanya adalah tambang batubara. Dia cerita, untuk mengeluarkan batubara 1 tongkang, dia harus menyediakan uang minimal 750 juta. Kalau tidak ada, ada aja masalahnya. Untuk siapa uang sebesar itu? Sudah pasti untuk APH. Aparat penegak hukum. Jadi, yang harus dibersihkan itu, ya.... APHnya. APH sebagai wakil negara, malah berkolusi dengan pengusaha untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia. Akhirnya terjadilah under invoicing. Export 1000 ton, dilaporkan cuma 500 ton. Bahkan ada export 5 juta ton Nikel, gak dilaporkan sama sekali. Alias diselundupkan. Jadi, harusnya presiden itu membersihkan aparat hukumnya terlebih dahulu, baru terapkan UUD 45 pasal 33 ini.
mario handoko
selamat pagi bp thamrin, bp agus, bp jo, bp jokosp, bp udin, bp em ha, bp mul dan teman2 rusuhwan. akibat mic bocor/ slogan "hidup jokowi" terasa hambar/ tiap pagi rusuhwan menggacor/ semoga kritik saran bisa didengar/ beli jas dan peci baru/ dipakai sewaktu upacara/ walau salah sebut hakim jadi guru/ semoga ucapan bisa jadi doa/ sering dengar puja puji/ jadi sesak peci di kepalanya/ terlalu banyak umbar janji/ jadi nge-blank tampaknya/
yea aina
Omon-omon pasal 33 UUD 45 tanpa ditafsirkan sekarang, rasanya seperti ujaran yang sangat kadaluarsa. Telat. Sudah terlanjur dikapling-kapling konsesinya. Dibagikan kepada yang 'berani" membayar lebih kepada pembagi konsesi, Anda sudah tahu. Kalau sekarang akan dimonopoli penjualannya oleh pemerintah cq Danantara, lalu apa bedanya dengan yang pernah dilakukan VOC 350 tahun di sini. Nasionalisasi terselubung yang akan "menguasai" jalur penjualan SDA ini, seperti menjelaskan bahwa pendapatan negara dari SDA, selama ini minim sekali. Pun 82% pendapatan APBN berasal dari pajak, bea dan cukai. Selebihnya dari PNBN dan utang lagi dan lagi kwkwkw.
Jo Neka
Pemerintah menembak pengusaha batu bara.Gara² pak DI menulis berseri tentang gaya hidup pengusaha batubara.Hidup bagai sultan ditengah derita rakyat lokal.Yang menerabas jalan berlumpur.Dan BBM subsidi yang menghilang bag pelaku korupsi.Hei.pengusaha batubara.Marahlah pada bapak yang punya disway..Edisi ngomporin.
Muh Nursalim
Saya kira info tentang Kuba perlu update. Kuba beda dengan Korut. Sangat beda. Kim Jong Un naik tahta saat masih belia. sangat beliat. Umur 26 thn dengan pangkat langsung jenderal bintang 4. Sementara KUba, Fidal Castro mirip2 lah Prabowo. Sosialisme ngemut ilmu. Sehingga sejak duku kuliah S1 hingga S3 di sana gratis. Dg pendidikan itu kemakmuran Kuba jauh lebih baik dari Indonesia. Kata mantan dubes RI untuk Kuba, Ibu siapa itu. Bisa kita liat, saat covid. Kuba sejak awal tdk menerima vaksin dari luar negeri. Mereka buat sendiri. Bahkabn mengekspornya ke sejumlah negara. Indonesia tidak ambil dr sana karena telanjur kontrak dengan bbrp perusahaan vaksin non Kuba.
Muh Nursalim
Prof Muby, mungkin akan bangkit dari kuburnya. Meski kalah debat dengan Sri Mulyani cs saat amandemen UUD pasal 33. Hari ini ide besarnya dijalankan oleh Prabowo. Masih tiga tahun an untuk mensukseskan ide besarnya. Semoga berhasil.
Wilwa
@Liam. The Fed itu seperti negara dalam negara. Atau kita bisa melihatnya sebagai “tuhan” atau “hantu” yang disembah banyak investors (besar maupun kecil) karena power yang mereka miliki yaitu cetak M0 dan create M1. Cetak M0 itu sering disebut Juve sebagai Ferrari (maksudnya Peruri) printing money. Sedangkan Federal Reserve / Central Bank creates M1 dalam hal ini adalah create Gov’t Bonds (kerjasama sama Menkeu/ Finance Minister / Secretary of Treasury) yang menyerap M0. Begitulah “Penciptaan” Uang/Duit dari Udara Hampa / Thin Air!
hoki wjy
Saya yakin untuk komoditas Emas dia tdk akan berani mengganggunya karena Freeport milik Amerika.karena selama ini semua permintaan Amerika dia penuhi mulai dari kirim data warga RI dan masuk BOP dan buka pangkalan militer dikonoha buat Amerika dg disamarkan jadi pusat service semua pesawat Hercules di Asia!
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
PASAL 33 BARU NAIK PANGGUNG.. Selama ini Pasal 33 UUD 1945 seperti pajangan ruang tamu. Dibaca saat upacara. Dipuji saat seminar. Setelah itu disimpan lagi di lemari konstitusi. Kemarin Prabowo mengeluarkannya. Debunya sekalian ditiup. Ia seperti berkata: “Negara jangan cuma kebagian pajak dan seremoni gunting pita.” Maka lahirlah ide semua ekspor sawit dan batu bara lewat Danantara. Negara ingin duduk di kursi depan. Bukan lagi di bangku penonton VIP. Yang menarik justru reaksinya. Pasar langsung gemetar. Padahal rakyat desa tetap sarapan tempe. Tidak ada emak-emak yang mendadak antre minyak goreng sambil teriak “Danantaraaaa...”. Memang ada pertanyaan besar. Negara siap jadi pedagang raksasa? Punya gudang? Punya kapal? Punya negosiator kelas dunia? Jangan sampai niat menyelamatkan kebocoran malah bocor di pipa baru. Namun sejarah memang selalu dimulai dari keputusan yang membuat orang nyaman jadi tidak nyaman. Bung Karno pernah mengguncang. Soeharto juga. Kini giliran Prabowo. Bedanya, kali ini pelurunya bukan senjata. Tapi tafsir konstitusi.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
YANG DITEMBAK PAK PRABOWO... Yang ditembak Prabowo sebenarnya bukan sawit. Bukan batu bara. Tapi satu kata yang sudah terlalu lama sakti: “perantara”. Di negeri kaya sumber daya, yang paling cepat kaya sering bukan petani. Bukan penambang. Tapi pemain di tengah. Yang tidak berkeringat di kebun. Tidak berdebu di tambang. Tapi rekeningnya paling sehat. Prabowo tampaknya membaca itu. Maka jalur ekspor dipersempit. Semua lewat Danantara. Negara ingin tahu persis: berapa barang keluar, berapa dolar masuk. Tidak lagi pakai angka yang tiba-tiba kurus di invoice. Kalau benar kebocoran selama ini besar, langkah ini masuk akal. Sebab Indonesia terlalu sering kaya di statistik, miskin di kas negara. GDP naik. Gedung naik. Tapi kelas menengah malah turun kelas. Seperti naik lift yang kabelnya putus. Tentu risikonya besar. Monopoli negara juga bisa melahirkan “raja-raja baru”. Kita punya bakat lama: kalau ada satu pintu, biasanya langsung muncul calo di depan pintu. Karena itu, yang paling penting bukan hanya keberanian membuat aturan. Tapi keberanian mengawasi pelaksanaannya. Sebab korupsi paling licin sering lahir dari niat yang paling patriotik.
Sulaspin
Negara, kini menunjukkan niat baik. Ketulusan. Tekad dan ketegasan. Keberanian. Dalam menjalankan konstitusi UUD 1945. Khususnya pasal 33. Tentu menimbulkan pro kontra. Wajar dan lumrah. Ini negara demokrasi. Beda pendapat dan pandangan dijamin konstitusi. Pengalaman menunjukkan, tidak mudah menyeimbangkan pembagunan ekonomi dan politik. Negara yg memprioritaskan pembangunan ekonomi, politiknya tidak stabil. Demokrasinya tidak berjalan dengan baik. Cenderung otoriter. Sebaliknya negara yang mengedepankan kemajuan politik dan demokrasinya, kehidupan ekonomi mandeg. Stagnan. Periode yg lalu sistem ekonomi dan politik negeri ini, kondisinya abu-abu. Tidak selaras antara konsitusi dengan realita di lapangan. Kali ini, kebijakan besar akan menimbulkan goncangan dahsyat. Terutama yg selama ini menikmati kekayaan alam nusantara. Bagi rakyat kecil, petani, peternak dan nelayan, buruh serta orang kampung tersenyum lebar. Sambil berharap, hari esok lebih cerah. Kehidupannya lebih baik. Tanpa diliputi kekuatiran, esok hari makan apa. Bertempat tinggal dimana.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
BAYANG-BAYANG SUMITRO.. Kalau Prof. Sumitro Djojohadikusumo masih hidup, mungkin beliau akan jadi orang pertama yang dimintai komentar soal pidato Prabowo kemarin. Sebab yang dilakukan sang anak seperti sedang berjalan di dua rel pemikiran ayahnya sendiri: nasionalisme ekonomi dan pragmatisme pasar. Sumitro bukan ekonom menara gading. Ia nasionalis. Sangat nasionalis. Tapi juga realistis. Ia tahu negara harus kuat. Namun ia juga paham pasar tidak bisa dilawan hanya dengan semangat revolusi. Karena itu menarik melihat Prabowo kini menghidupkan kembali Pasal 33. Negara ingin lebih berdaulat atas sawit dan batu bara. Ini seperti gema lama pemikiran Sumitro: sumber daya alam jangan bocor terlalu banyak keluar negeri. Tapi Sumitro juga pernah hidup di zaman ekonomi morat-marit. Ia tahu birokrasi bisa lebih lambat dari antre minyak tanah. Maka pertanyaan besarnya bukan ideologinya. Melainkan eksekusinya. Jangan sampai negara ingin jadi pemain utama, tapi akhirnya malah sibuk jadi administratur stempel. Namun satu hal pasti: pidato kemarin membuat nama Sumitro terasa hadir lagi. Seperti bayangan lama yang tiba-tiba berjalan di lorong DPR.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 102
Silahkan login untuk berkomentar