Seleksi Ketat, Program Antarbudaya Tempa Pelajar Jadi Warga Global

Jumat 22-05-2026,14:54 WIB
Reporter: Doddy Suryawan |
Seleksi Ketat, Program Antarbudaya Tempa Pelajar Jadi Warga Global

program Antarbudaya yang telah berjalan sekitar 70 tahun bukan sekadar pertukaran pelajar biasa, melainkan proses pembentukan karakter lintas budaya.-dok Disway-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Program pertukaran pelajar antarbudaya kembali disorot sebagai jalur strategis mencetak generasi muda Indonesia berdaya saing global. 

Di balik manfaatnya, seleksi ketat hingga ribuan pendaftar tiap tahun menjadi bukti tingginya minat sekaligus kualitas program ini.

BACA JUGA:Jadwal Bioskop Trans TV Hari Ini 22 Mei 2026 Lengkap Sinopsis, Banjir Film Thriller Jelang Akhir Pekan

Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah 3T, Rita Pranawati, mengatakan program Antarbudaya yang telah berjalan sekitar 70 tahun bukan sekadar pertukaran pelajar biasa, melainkan proses pembentukan karakter lintas budaya.

“Sejak dulu, saat komunikasi belum semudah sekarang, peserta sudah belajar mandiri dan hidup di tengah budaya berbeda. Mereka menyerap nilai positif dari negara lain, lalu kembali untuk membangun Indonesia,” ujar Rita, di Jakarta,  Jumat, 22 Mei 2026.

Rita menambahkan , pengalaman tersebut membentuk karakter kuat, mulai dari toleransi, kepemimpinan, hingga kemampuan kolaborasi. 

BACA JUGA:MK Tegaskan Ibu Kota Masih di Jakarta, Otorita: IKN Terus Dibangun, Tidak Ada Kata Stagnan atau Mangkrak

Para alumni juga diharapkan menjadi agen perubahan dengan membagikan wawasan global kepada masyarakat sekitar.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Bina Antarbudaya, Sinta Kaniawati, mengungkapkan program ini memiliki dua skema, yakni beasiswa penuh dan pembiayaan mandiri oleh peserta. Namun, keduanya tetap melalui proses seleksi yang sangat kompetitif.

“Setiap tahun ada 2.000 hingga 5.000 pendaftar. Saat pandemi, program ini bahkan bertransformasi menjadi digital dan menjangkau daerah terpencil seperti Tanimbar dan Natuna,” jelasnya.

Sinta menekankan, peran sekolah menjadi kunci utama keberhasilan program. Peserta yang berangkat umumnya siswa kelas dua dan wajib kembali ke sekolah untuk berbagi pengalaman serta menjalani proses adaptasi ulang agar tetap berakar pada nilai budaya Indonesia.

BACA JUGA:Sekda Kota Bandung Ajak Siswa Perangi Nikotin di Hari Tanpa Tembakau se-Dunia

Rita juga menyoroti pentingnya pendekatan deep learning dalam pendidikan. Ia menilai pembelajaran tidak boleh berhenti pada hafalan, tetapi harus membangun kesadaran dan makna.

“Keragaman bukan untuk membedakan, tapi memperkuat kolaborasi. Justru dari perbedaan itulah kita belajar bersinergi,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: