“Yang dibutuhkan adalah keberanian yang prudent, keberanian untuk berinovasi untuk merancang produk-produk (keuangan) yang hijau dan sustainable. Namun, keberanian ini juga harus disertai dengan kehati2an dan tata kelola yang baik,” tambahnya.
Lebih lanjut, Deden mengajak masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam mendorong transformasi di sektor keuangan.
"Perubahan iklim adalah isu lintas generasi, dan generasi mudalah yang akan paling lama menanggung konsekuensinya. Karena itu, dorongan dari masyarakat memainkan peran krusial dalam mendorong sektor keuangan dan perbankan untuk bertransformasi lebih cepat," ujar Deden.
BACA JUGA:Dugaan Pencairan Kredit Tanpa Persetujuan Direksi, Bank Pelat Merah Diadukan ke OJK
Deden mengajak masyarakat untuk menjadi investor yang lebih cerdas—tidak hanya mengejar imbal hasil, tetapi juga mempertimbangkan ke mana dana mereka disalurkan.
Menurutnya, setiap rupiah yang diinvestasikan adalah suara untuk masa depan yang lebih baik bagi manusia dan bumi.
OJK telah mengeluarkan sejumlah regulasi yang mendorong pelaku-pelaku usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan dalam aktivitas bisnisnya, seperti POJK, Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI), dan Panduan CRMS (Climate Risk Management and Scenario Analysis).
BACA JUGA:Dugaan Pencairan Kredit Tanpa Persetujuan Direksi, Bank Pelat Merah Diadukan ke OJK
Ekosistem Keuangan Berkelanjutan Harus Jadi Kebutuhan
Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan Berkelanjutan OJK, R. Joko Siswanto, menyampaikan bahwa regulasi yang diterbitkan OJK dirancang untuk mengubah paradigma pelaku industri keuangan—dari sekadar kepatuhan menjadi kesadaran.
Dalam jangka menengah dan panjang, OJK ingin penerapan prinsip berkelanjutan tumbuh dari kesadaran dan kebutuhan industri itu sendiri, bukan semata karena tuntutan aturan.
“Nantinya, pihak pasar atau publik yang akan ‘menghukum’ atau mengapresiasi pelaku usaha dalam menjalankan praktek-praktek berkelanjutan tersebut,” tambahnya.
BACA JUGA:Dugaan Pencairan Kredit Tanpa Persetujuan Direksi, Bank Pelat Merah Diadukan ke OJK
Dari sisi pasar modal, Kepala Divisi Pengembangan 2 Bursa Efek Indonesia (BEI), Ignatius Denny Wicaksono, mengungkapkan bahwa bursa memiliki peran penting dalam menghubungkan investor dengan instrumen hijau.
Menurutnya, pasar modal dapat menjadi motor penggerak investasi yang mendukung transisi energi dan pembangunan berkelanjutan.
“Tugas kita (BEI) adalah menavigasi ESG investment, yaitu bagaimana caranya supaya investor berinvestasi ke sektor yang lebih berkelanjutan,” ujar Ignatius.
Ia menambahkan, berkaca pada peran tersebut, pasar modal terus melakukan pendekatan-pendekatan untuk mendorong peningkatan investasi hijau.