JAKARTA, DISWAY.ID - Ada satu spesies yang tampaknya belum tercatat dalam buku-buku biologi. Mereka bukan mamalia, bukan reptil, bukan pula amfibi.
Mereka hidup nyaman di ruang konferensi pers, tumbuh subur di media sosial, dan berkembang biak setiap kali sidang akan dimulai.
Namanya: Penundaisme Maximus.
BACA JUGA:Bangsa yang Memilih Berjalan Bersama
Masyarakat awam mengenalnya sebagai ahli mengulur waktu. Konon, bagi spesies ini, waktu bukanlah uang. Waktu adalah tameng.
Semakin lama perkara berjalan, semakin besar harapan bahwa publik akan bosan, lupa, atau pindah membicarakan gosip yang lebih segar.
Sidang? Jangan buru-buru. Kalau bisa minggu depan, mengapa hari ini? Kalau bisa bulan depan, mengapa minggu depan? Kalau bisa tahun depan, mengapa bulan depan?
Filosofi hidup mereka sederhana: keadilan yang tertunda lebih nyaman daripada kepastian yang datang terlalu cepat.
Lucunya, setiap kali jadwal persidangan tiba, kreativitas mereka mendadak mekar seperti bunga yang disiram pupuk.
BACA JUGA:Survival Guide di Republik Caption
Hari ini berbicara tentang prosedur. Besok menggugat administrasi. Lusa mempertanyakan kewenangan. Minggu depan mengajukan keberatan baru.
Bulan depan muncul lagi istilah hukum yang sebelumnya bahkan belum pernah terdengar oleh khalayak.
Kalau perlu, mereka akan menemukan alasan bahwa posisi kursi hakim kurang simetris sehingga persidangan patut dipertimbangkan ulang.
Mereka tampaknya percaya bahwa hukum bukan jalan menuju putusan, melainkan taman hiburan yang tiketnya berlaku selama mungkin, yang lebih menghibur adalah para penggemarnya.
Setiap ada penundaan, mereka bersorak. "Strategi brilian!" Padahal yang bergeser bukan substansi perkara, melainkan kalender. Bagi mereka, kalender adalah piala kemenangan.