BACA JUGA:Panggung yang Terlalu Lama: Penudaisme Maximus Jilid Kedua
Di dunia politik, perbedaan pendapat yang disebut Al-Qur'an terasa semakin nyata. Ayat "sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat" seperti sedang menggambarkan ruang publik kita hari ini.
Perbedaan tidak lagi dipandang sebagai kekayaan demokrasi, melainkan alasan untuk saling meniadakan.
Yang dicari bukan lagi kebenaran, tetapi kemenangan. Fakta sering dikalahkan oleh narasi. Data dikalahkan oleh emosi. Kebisingan dianggap lebih penting daripada kebijaksanaan. Semakin keras seseorang berteriak, semakin dianggap benar.
Padahal angin tidak pernah berteriak. Ia hanya bertiup, tetapi mampu memindahkan gunung pasir.
Dalam kehidupan ekonomi pun demikian. Kita hidup di zaman ketika angka sering dianggap sebagai ukuran utama keberhasilan.
Pertumbuhan dipuja, keuntungan dikejar, konsumsi dirayakan. Seolah-olah manusia lahir hanya untuk membeli lebih banyak daripada yang dibutuhkannya.
BACA JUGA:Di Balik Dinding
Kita lupa bahwa liang kubur tidak pernah bertanya berapa saldo rekening seseorang. Ia hanya menerima tubuh yang telah kembali menjadi tanah.
Di tengah hiruk-pikuk itu, waktu diam-diam bekerja. Ia tidak pernah tergesa, tetapi tidak pernah terlambat. Setiap detik yang berlalu tidak dapat dipanggil kembali.
Setiap menit membawa kita semakin dekat kepada garis akhir yang tidak pernah diketahui tanggalnya.
Mungkin inilah makna paling dalam dari lirik Dust in the Wind. Yang hilang bukan hanya tubuh manusia, tetapi juga kesempatan yang disia-siakan.
Kita sering mengira masih ada hari esok untuk meminta maaf, memperbaiki kesalahan, mengunjungi orang tua, memeluk anak, menolong sesama, atau berbuat baik.
BACA JUGA:Bohemian Rhapsody: Seni Menjadi Manusia
Padahal angin tidak pernah memberi tahu kapan ia akan berhenti berembus. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika manusia mulai kehilangan rasa kecil di hadapan Tuhan.
Kemajuan teknologi membuat kita merasa mampu mengendalikan hampir segala sesuatu. Kecerdasan buatan, komputasi, rekayasa genetika, dan berbagai inovasi menghadirkan kesan bahwa manusia dapat menguasai masa depan.