Sibuk Menoleh, Lupa Melangkah

Senin 19-10-2026,09:01 WIB
Oleh: Ahmad Sihabudin

Jangan sampai akal sehat ikut terabaikan hanya karena calon yang kita dukung tidak menang.

Selesai Satu Urusan, Mulailah Urusan Berikutnya

Pesan fa iżā faragta fanṣab bukanlah ajakan untuk menjadi manusia yang terus bekerja tanpa jeda. Ia mengingatkan agar setelah menyelesaikan satu urusan, kita mengarahkan kesungguhan kepada urusan lain yang bermanfaat.

Ada semangat keberlanjutan di dalamnya: jangan berhenti pada satu pencapaian, jangan pula terperangkap dalam satu kegagalan.

BACA JUGA:Ketika Imam Menjadi Diplomat Perdamaian

Bagi mereka yang kalah dalam Pilpres, masih ada kesempatan mengabdi melalui pendidikan politik, kegiatan sosial, pengawasan kebijakan, dan persiapan menghadapi kontestasi berikutnya.

Bagi mereka yang menang, masih ada janji yang harus ditunaikan dan persoalan rakyat yang harus diselesaikan. Bagi masyarakat, masih ada tanggung jawab menjaga akal sehat dan merawat kehidupan bersama.

Sementara itu, ayat ke-8 mengingatkan, wa ilā rabbika fargab—dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.

Di sinilah pekerjaan dan harapan memperoleh arah moralnya. Kita bekerja bukan semata-mata untuk membuktikan bahwa lawan salah. Kita berjuang bukan sekadar untuk memperoleh tepuk tangan atau memenangkan perdebatan.

Ada tanggung jawab yang lebih tinggi daripada kepuasan menaklukkan orang lain: tanggung jawab terhadap kebenaran, kemanusiaan, dan keridaan Allah SWT.

BACA JUGA:Saya Tidak Lulus SMA (Seri 2)

Dalam perspektif spiritual, seseorang mungkin berhasil memenangkan perdebatan, tetapi gagal mengendalikan egonya. Ia bisa hafal kesalahan orang lain, tetapi lupa memeriksa dirinya sendiri.

Ia begitu rajin mencari kekurangan lawan, sampai tidak sempat menghitung amal baik yang belum dikerjakannya.

Padahal, sebelum sibuk mengoreksi kehidupan orang lain, ada baiknya kita bertanya: apa yang sudah saya perbaiki dalam kehidupan sendiri? Sebelum menuntut orang lain memberikan penjelasan, sudahkah saya memastikan bahwa pertanyaan dan penilaian saya berdiri di atas pengetahuan yang benar?

Barangkali pertanyaan-pertanyaan sederhana itu lebih berat daripada berdebat berjam-jam di media sosial.

Sebab, mengoreksi orang lain sering kali memberi kita rasa unggul. Mengoreksi diri sendiri menuntut kerendahan hati.

Kategori :

Terkait

Senin 19-10-2026,09:01 WIB

Sibuk Menoleh, Lupa Melangkah