Sibuk Menoleh, Lupa Melangkah

Senin 19-10-2026,09:01 WIB
Oleh: Ahmad Sihabudin

BACA JUGA:Putusan MK soal Gibran: Sudah Dimasak, Sudah Dihidangkan, tetapi Tak Dimakan

Di sinilah semangat fa iżā faragta fanṣab menemukan relevansinya. Setelah satu urusan selesai, manusia diajak untuk mengerjakan urusan berikutnya dengan sungguh-sungguh.

Bukan berarti melupakan sejarah, apalagi membiarkan kesalahan. Akan tetapi, jangan sampai seluruh energi kehidupan habis untuk menghidupkan kembali pertarungan yang seharusnya sudah menjadi pelajaran.

Ijazah, Politik, dan Kesibukan yang Tak Kunjung Tamat

Lihatlah bagaimana ruang publik kita sesekali dipenuhi perdebatan tentang ijazah, riwayat pendidikan, kehidupan pribadi, dan berbagai persoalan yang dikaitkan dengan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo.

BACA JUGA:Gibran, He Is Still the Man

Sebagian persoalan tersebut disampaikan sebagai tuntutan klarifikasi, sebagian lagi berkembang menjadi perdebatan yang berulang-ulang di media sosial.

Dalam negara hukum, dugaan harus diperiksa berdasarkan bukti, bukan berdasarkan prasangka atau kebencian. Jika ada persoalan yang memiliki dasar hukum, silakan tempuh mekanisme hukum yang berlaku. Jika ada fakta yang perlu diverifikasi, lakukan verifikasi secara terbuka dan bertanggung jawab.

Tidak ada seorang pun yang kebal terhadap pemeriksaan, tetapi tidak seorang pun pula layak dihakimi hanya berdasarkan dugaan yang belum teruji.

Persoalannya muncul ketika sebuah isu tidak lagi diperlakukan sebagai masalah yang perlu diselesaikan, melainkan terus dipertahankan sebagai sumber ketegangan.

Klarifikasi belum dianggap memadai, penjelasan masih dipertanyakan, dan setiap peristiwa baru dikaitkan kembali dengan persoalan lama. Dalam situasi seperti ini, ruang publik berisiko kehilangan kesempatan untuk membahas persoalan yang lebih mendesak.

BACA JUGA:Mirasantika: Kenikmatan yang Menagih Masa Depan

Barangkali inilah ironi politik kita: sebagian pihak begitu bersemangat membicarakan masa lalu, sampai-sampai lupa bahwa masa depan juga membutuhkan perhatian.

Bayangkan jika energi yang digunakan untuk memperpanjang perdebatan itu dialihkan untuk mendiskusikan pendidikan, pengangguran, ketimpangan ekonomi, kualitas pelayanan publik, atau nasib petani dan nelayan.

Betapa banyak gagasan yang mungkin lahir. Betapa banyak persoalan masyarakat yang bisa memperoleh jalan keluar.

Sayangnya, membangun sekolah memang tidak semudah membangun dugaan. Membantu orang miskin tidak selalu menghasilkan perhatian secepat menyampaikan tuduhan.

Kategori :

Terkait

Senin 19-10-2026,09:01 WIB

Sibuk Menoleh, Lupa Melangkah