Sibuk Menoleh, Lupa Melangkah

Senin 19-10-2026,09:01 WIB
Oleh: Ahmad Sihabudin

Memperbaiki pelayanan publik membutuhkan kerja panjang, sementara memicu kegaduhan kadang cukup dengan satu unggahan dan beberapa kalimat yang belum tentu terverifikasi.

BACA JUGA:Mirasantika: Kenikmatan yang Menagih Masa Depan

Maka, jangan heran jika kebisingan sesekali lebih laku daripada kebijaksanaan. Dalam ekonomi perhatian, pernyataan yang paling ramai dapat lebih cepat dikenal daripada kerja yang paling bermanfaat.

Kekalahan Politik Bukan Akhir Kehidupan

Kalah dalam kontestasi politik bukanlah aib. Dalam demokrasi, kemenangan dan kekalahan merupakan bagian dari mekanisme pergantian kekuasaan.

Hari ini seseorang menang, pada kesempatan lain ia mungkin kalah. Itulah konsekuensi dari kompetisi yang melibatkan pilihan rakyat.

Yang perlu dipertanyakan bukan semata-mata mengapa seseorang kalah, melainkan apa yang ia lakukan setelah kekalahan itu.

Apakah ia melakukan evaluasi? Memperbaiki organisasi? Menyiapkan gagasan yang lebih baik? Mendengarkan kembali suara masyarakat? Atau justru menghabiskan waktu untuk terus menelusuri kesalahan lawan, berharap kekalahan dapat berubah melalui pengulangan perdebatan?

BACA JUGA:Saya Tidak Lulus SMA (Seri 4-Habis)

Dalam politik, menerima hasil bukan berarti menyerah pada ketidakadilan. Jika terdapat bukti pelanggaran, ada jalur hukum dan mekanisme konstitusional yang harus ditempuh.

Namun, ketika proses yang sah telah memberikan keputusan, kedewasaan politik menuntut kita untuk bergerak maju sambil tetap menjalankan fungsi pengawasan secara proporsional.

Sebab, bangsa tidak bisa terus-menerus hidup dalam suasana kampanye. Rakyat tidak bisa setiap hari dipaksa memilih antara dua kubu yang saling mencurigai. Ada kehidupan nyata yang harus dijalani, ada keluarga yang harus dinafkahi, ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Rakyat membutuhkan pemimpin dan warga negara yang mampu mengubah persaingan menjadi gagasan, bukan mengubah perbedaan menjadi permusuhan berkepanjangan.

Kita boleh berbeda pilihan politik, tetapi jangan sampai kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Kita boleh tidak menyukai seorang tokoh, tetapi ketidaksukaan bukanlah bukti kesalahan.

BACA JUGA:Saya Tidak Lulus SMA (Seri 3)

Kita boleh mengkritik Jokowi, Prabowo, atau siapa pun yang memegang kekuasaan, tetapi ukuran kritik seharusnya tetap sama: fakta, argumentasi, etika, dan kepentingan publik.

Kategori :

Terkait

Senin 19-10-2026,09:01 WIB

Sibuk Menoleh, Lupa Melangkah