BACA JUGA:Judi: Menang yang Kalah
Jangan Sampai Masa Lalu Mencuri Masa Depan
Pada akhirnya, move on bukan berarti melupakan seluruh masa lalu. Ia berarti menempatkan masa lalu secara proporsional: sebagai pengalaman, pelajaran, dan bahan evaluasi, bukan sebagai rumah permanen bagi kemarahan.
Kita tetap boleh membicarakan ijazah jika ada fakta dan kepentingan publik yang perlu diperiksa. Kita tetap boleh mengkritik Jokowi atau siapa pun yang pernah dan sedang berkuasa. Kita tetap wajib mengawasi pemerintah yang sedang bekerja.
Tetapi semua itu harus dilakukan dengan niat mencari kejelasan dan memperbaiki keadaan, bukan sekadar mempertahankan prasangka atau memperpanjang pertentangan.
Jangan sampai kita begitu sibuk mengurus halaman belakang kehidupan politik, sampai lupa bahwa halaman depan bangsa ini masih membutuhkan banyak pembenahan.
BACA JUGA:Rahasia Disneyland bukan Istana dan Wahana, Ada 8 mesin di Balik Keajaibannya
Al-Qur’an mengajarkan kita untuk melanjutkan amal setelah satu urusan selesai. Bukan terus-menerus mengunyah kekecewaan, melainkan mengubah kekecewaan menjadi pelajaran.
Bukan memelihara kekalahan, melainkan menemukan cara untuk menjadi lebih baik. Bukan menggantungkan seluruh harapan pada kemenangan politik, melainkan menjadikan pengabdian sebagai jalan untuk memberi manfaat.
Sebab, politik memang penting, tetapi kehidupan jauh lebih luas daripada politik. Kekuasaan bisa berganti, jabatan bisa berakhir, dan tokoh yang hari ini menjadi pusat perhatian suatu hari akan menjadi bagian dari catatan sejarah.
Yang tersisa adalah apa yang telah kita kerjakan untuk sesama.
Maka, jika satu urusan sudah selesai, selesaikanlah dengan dewasa. Jika ada persoalan hukum, tuntaskan melalui hukum. Jika ada kesalahan, koreksilah berdasarkan bukti. Jika mengalami kekalahan, belajarlah darinya.
BACA JUGA:Saya Tidak Lulus SMA (Seri 1)
Sesudah itu, bangkit dan kerjakan sesuatu yang lebih berguna.
Jangan sampai kita kalah dalam Pilpres, lalu menghabiskan bertahun-tahun dengan mengabaikan akal sehat sendiri.
Dan jangan sampai kita merasa sedang membela kebenaran, padahal yang sedang kita pertahankan hanyalah ego yang sulit menerima kenyataan.