Mata Lasik
--
Di kursi belakang mobil Noah ini juga ada satu pemuda Indonesia. Yang dua lagi orang Yaman.
"Anda dari daerah mana?" tanya saya sambil menoleh ke belakang.
"Berau", katanya.
"Berau sebelah mana?"
"Pernah ke Berau?"
"Sering."
"Saya di Berau kota. Tanjung Redeb".
"Sudah berapa tahun di Tarim?"
"Tiga tahun."
"Masih berapa tahun lagi?"
"Belum tahu. Mungkin lima tahun lagi."
"Orang tua kerja apa?"
"Tukang listrik."
"Orang tua ingin Anda cepat pulang atau tidak?"
"Terserah saya."
"Sekarang umur berapa?"
"26 tahun."
Selama tiga tahun di Tarim ia belum pernah pulang ke Indonesia. Pun selama lima tahun ke depan. Kalau pun masih lima tahun lagi berarti umur 31 tahun baru pulang.
"Sepulang kelak ingin jadi apa?"
"Tidak tahu."
Begitu pula penumpang asal Kartasura, Solo, yang di kursi depan. Mereka belum punya rencana jangka panjang. Yang jelas, kata yang di depan maupun yang di belakang, mereka nanti akan menjadi mubaligh. Dakwah. Misionaris. Menyebarkan Islam.
Begitulah umumnya sikap mahasiswa Indonesia yang ada di Tarim. Kelak ingin berdakwah.
"Anda ke Mukalla hanya untuk menemani Bung Salman?" tanya saya --ups tadi lupa menyebut nama yang duduk di depan itu. Namanya Salman. Rambutnya panjang. Topinya topi baseball. Pakai sorban melilit di leher. Tampilannya seperti seorang rocker.
"Bung Salman, Anda suka musik?"
"Tidak. Saya belum pernah mendengarkan musik," katanya.
Yang duduk di belakang itu bernama Saiful. Ternyata ia ke Mukalla juga untuk operasi mata. Juga lasik. Rupanya sudah umum di kalangan mahasiswa Indonesia di Tarim melakukan operasi lasik di Mukalla.
"Berapa biaya lasik di Mukalla?"
"200 dolar dan 80 real Saudi," ujar Salman. "Kira-kira sama dengan Rp 5 juta," tambahnya.
Itu murah. Di Indonesia bisa tiga atau empat kali lipatnya. Untuk bisa bebas kacamata misalnya bisa sampai Rp 40 juta. Bandingkan dengan hanya lima juta di Mukalla.
"Wuih kok murah sekali ya?" reaksi Dini, dokter mata sahabat Disway di Surabaya.
Dia pun menebak mengapa begitu murah: "Bebas pajak ya?" tanyanya. Di Indonesia pun, kata Dini, kalau bebas pajak-pajak juga bisa murah.
"Kenapa tarifnya pakai dua mata uang, dolar Amerika dan real Saudi?" tanya saya kepada si Kartasura.

Si Kartasura di Tarim.--
"Kalau pakai uang Yaman tidak kuat membawanya," ujar Salman setengah bergurau.
Saya paham. Saya pernah kaget di hari pertama di Tarim. Saya tukar uang empat lembaran real Saudi. Saya diberi uang Yaman dua gebok tebal. Saya seperti tiba-tiba jadi jutawan.
Tidak. Sejelek-jelek nilai mata uang Yaman masih lebih kuat dari rupiah. Rp 10.000 sama dengan 1000 uang Yaman. Kalau pun rupiah nanti jadi dihilangkan tiga nol di belakangnya masih sama dengan nilai uang Yaman.
Masalahnya: lembaran terbesar uang Yaman hanyalah 1.000. dengan demikian untuk membawa 200 dolar Amerika perlu membawa karung. "Untuk pembayaran besar seperti operasi atau beli sepeda motor memang pakai dolar atau real Saudi," ujar Salman.
Saat Azan maghrib terdangar, perjalanan Tarim-Mukalla ini sampai ke titik yang mestinya indah: turun tajam dari ketinggian pegunungan. Jalannya pun berkelok mengikuti tebing gunung. Lampu-lampu di Mukalla terlihat jauh di bawah sana. Masih satu jam lagi baru tiba di kota itu.
Mobil Noah ini seperti travel di Indonesia: mengantarkan penumpang ke masing-masing alamat.
Anak Kartasura dan Berau itu turun lebih dulu. Mobil masuk-masuk gang mengantarkan mereka. Sampailah di masjid At-Taqwa di dalam kampung itu. Mereka turun di situ. Lalu mengantar dua penumpang Yaman.
Tinggallah yang terakhir saya dan Amang. Paling jauh. Ke sebuah hotel baru di dekat pelabuhan.
Tapi si Noah masih berhenti sekali lagi. Yakni untuk menurunkan barang yang diikat di atas atap. Rupanya mobil ini juga sekaligus jastip.
Mobilnya sendiri tidak mencerminkan mobil negara miskin. Mobil di Hadramaut umumnya relatif baru. Tidak banyak terlihat mobil tua yang reot.
"Saya lihat banyak mobil bagus-bagus dan baru. Berarti ekonomi sebenarnya baik kan?" tanya saya pada Amang.
"Di sini tidak ada mobil baru. Semua ini mobil bekas dari Dubai. Masih seperti baru. Murah-murah. Bukan karena ekonomi baik tapi karena sangat murah," katanya.
"Di Indonesia satu rumah bisa punya tiga sepeda motor. Di sini satu rumah bisa punya dua mobil dan satu sepeda motor".
Sampai di sini saya masih belum bisa membuka misteri itu: negara miskin tapi mobilnya banyak. Perlu dua hari lagi untuk bisa menjawabnya. Atau balik ke sana untuk tinggal dua bulan --kalau perusuh Disway mengizinkannya.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 29 Maret 2026: Carilah Muka
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
SUJUD DEBU DI HADRAMAUT.. Pak Dahlan memang jago soal urusan "menertawakan" diri sendiri. Kali ini sasarannya adalah wajah. Wajah yang biasanya kita rawat, kita poles, dan sesekali kita pakai untuk "cari muka" di hadapan sesama manusia. Di sebuah masjid kecil di pinggir jalan Tarim menuju Mukalla, harga diri itu rontok. Bukan oleh debat intelektual, tapi oleh debu. Bayangkan, seorang tokoh yang biasa sujud di atas karpet tebal ber-AC, tiba-tiba harus berhadapan dengan lantai keramik yang tertutup tanah. Ada rasa jijik yang mampir. Kaki basah wudu bertemu debu, jadilah jejak lumpur kecil. Tapi di situlah letak humor ilahiahnya. Kita sering merasa tinggi, padahal bahan baku kita ya tanah itu juga. Catatan Harian Dahlan hari ini terasa berbeda. Ringkas, nakal, tapi menukik ke ulu hati. Pak Dahlan mengingatkan bahwa puncak kemuliaan justru ada saat wajah menempel di tempat paling rendah. Itulah satu-satunya momen "cari muka" yang tidak bikin dosa. Di Hadramaut, debu bukan kotoran. Ia adalah cermin yang membersihkan kesombongan. Kalau dahi sudah berani kotor, biasanya hati jadi lebih bersih. Sebuah kontradiksi yang indah. Seindah gunung-gunung meja yang gersang di sepanjang jalan Yaman itu.
Pedro Patran
Saya tudak tahu apakah tulisan Abah DI "gunung meja" itu sama atau beda dengan "plateau" atau dibacanya "plato" Di Wonosobo Jawa Tengan ada daerah Dieng, yang sering disebut Dieng Plateau. Plateau adalah dataran tinggi yang luas seolah sebagai meja, karena di sekitar dataran tinggi tersebut adalah gunung atau bukit seolah sebagai kaki meja daerah Dieng...?
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
TERNYATA, SUJUD DI ATAS DEBU ITU CARA PALING PATEN UNTUK MENCUCI MUKA, DARI SEMUA KESOMBONGAN DUNIAWI KITA.. Pak Dahlan membawa kita kembali ke hakikat tanah. Saya mendadak ingat kisah lama. Dulu, saat mendiang Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz, berkunjung ke Masjid Istiqlal, ada pemandangan yang bikin publik kita heboh. Sang Raja tidak melepas sepatunya saat masuk ke dalam masjid. Rakyat kita yang terbiasa dengan karpet empuk dan lantai mengilap langsung riuh. Padahal, jawabannya sederhana saja: Sejarah dan Fiqih. Rupanya, tradisi di tanah Arab masih menyisakan memori zaman Nabi. Kala itu, masjid benar-benar beralas tanah dan debu. Tanpa keramik, apalagi marmer mahal. Salat memakai alas kaki adalah hal yang lumrah, selama sucinya terjaga. Debu bukan musuh, melainkan kawan sujud yang paling purba. Bagi mereka, masjid adalah bumi yang luas, bukan sekadar etalase kemewahan yang takut terkena noda. Di Hadramaut, Abah mengalami "gegar budaya" yang spiritual. Kaki basah wudu bertemu debu tebal itu seperti pengingat instan. Kita di Indonesia mungkin sudah terlalu manja dengan fasilitas. Kita takut dahi kotor, padahal dari sanalah kita berasal. Pelajaran dari tulisan lak Dahlan ini menohok, yaitu jangan-jangan, semakin bersih lantai masjid kita, semakin sulit hati kita untuk benar-benar merunduk ke bumi. Ternyata, sujud di atas debu itu justru cara paling paten untuk mencuci muka dari segala kesombongan duniawi.
Ahmed Nurjubaedi
Lebih dari 10 tahun lalu, saya pernah baca selebaran waktu mampir sholat di masjid daerah Wiyung. Membahas tentang sujud. Dan lantai masjid atau musholla. Menurut selebaran itu, masjid jaman nabi ya berupa tanah yang dikeraskan. Wong belum ada keramik. Atau semen. Juga tidak pakai sajadah. Jadi bathuk alias jidat ya benar-benar menempel ke tanah saat sujud. Tidak ada batas. Sehelai rambut pun tak boleh. Wong itu tanda pernyataan ndlosor merendahkan diri kita kepada Allah. Lha kok, sekarang sholat kita pakai sajadah tebal. Atau keramik kinclong. Yang sudah diberi lapisan cat. Kita memang pakai kopyah atau iket agar rambut tidak menutupi dahi. Tapi sajadah dan keramik menjadi penghalang antara dahi dan tanah. Tidak pernah dicontohkan Kanjeng Nabi. Itu bid'ah. Sholatnya tidak sah. Itulah kenapa pengikut Syi'ah menggunakan Turbah dari tanah liat. Dasar ilmu agama saya masih level pengikut yang mau gampang dan enaknya saja, saya mengabaikan dan melupakan isi selebaran itu. Tidak pernah tanya ke siapapun untuk mencari jawaban yang tepat. Baru setelah baca tulisan Abah di atas, saya ingat lagi isi selebaran tersebut. Adakah yang berkenan memberi penjelasan? Matur nuwun sanget....
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
SUJUD DAN FILOSOFI TANAH PADAT.. Pak Dahlan membawa kita pada renungan tentang debu di Hadramaut. Saya jadi teringat tradisi saudara-saudara kita dari kalangan Syiah. Meski mereka salat di atas lantai marmer paling mewah atau keramik impor yang mengilap, selalu ada satu benda kecil yang tak boleh ketinggalan. Namanya Turbah. Itu adalah tanah atau debu yang sudah dipadatkan menjadi kepingan kecil. Biasanya, konon, tanahnya diambil dari Karbala. Bagi mereka, sujud itu tidak boleh di atas karpet wol atau kain sintetis. Harus langsung menyentuh bumi. "Ada atau tidak ada tanah di lantai masjid", ya tanah itu yang mereka bawa ke mana-mana dalam saku. Ada semacam humor spiritual di sini. Manusia modern sibuk memoles wajah agar tampak bersih di depan kamera, tapi dalam ibadah, wajah justru harus "kotor" mencium tanah. Di mata Abah, debu di Tarim mungkin terasa mengganggu awalnya. Tapi bagi pencari makna, debu adalah pengingat asal-usul. Mau keramiknya sekelas istana atau masjidnya berpendingin udara, hakikat sujud adalah merendah sedalam-dalamnya. Turbah atau debu jalanan Hadramaut sebenarnya punya pesan serupa. Bahwa di hadapan Sang Pencipta, dahi kita tidak lebih berharga daripada segenggam tanah yang kita pijak setiap hari. Sebuah ironi yang menampar ego kita yang sering kali setinggi langit.
Milyarder Setia
Sering juga waktu sebagai sales canvaser dahulu kala, ketemu berbagai masjid, ada banyak tipe. Mulai yang berkeramik mengkilap sampai yang belum berkeramik. Yang kurasakan justru di masjid yang sederhana lantai masih plasteran kasar digelar tikar, dindingnya kayu, disitulah lebih kurasakan kedamaian dan kekhusyukan. Bahkan sampai sekarang pun. Mungkin penjelasannya ada di tulisan Abah DI pagi ini
Edi Sampana
assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Salam sejahtera untuk perusuh semua. Orang Kal Sel cukup banyak yang sekolah agama ke Yaman. Juga cukup banyak yang sengaja berdiam di Yaman selama beberapa pekan, katanya untuk merasakan suasana hidup disana.
Gregorius Indiarto
Anda sudah tidak muda. Tapi Anda punya tulang lengan, punggung dan leher yang masih kuat. Anda masih bisa menghindari "benturan" keras antara dahi dan lantai saat Anda sujud, baik saat sujud di lantai berdebu atau saat sujud di lantai ber karpet tebal. Ada lho, yang masih relatif muda, tulang punggung, leher dan lengannya bermasalah, sehingga saat sujud tidak dapat mengendalikan "benturan", sehingga menimbulkan bekas menghitam pada dahi. Itu terjadi pada si Mandor tempat saya kerja. Itu cerita Mandor ketika saya tanya; " Kenapa dahinya menghitam? " Sehat selalu untuk kita semua. Met pagi, salam sehat, damai dan bahagia.
heru pujihastono
Alinea terakhir bah tercekat lidah saya ttp jari jemari tak tahan tuk memainkan key board. Bab sujud. Owh... Meletakkan lobus frontalis- fungsi luhur otak- di tanah. Menangislah iblis Krn anak Adam sujud kpd Alloh.
djokoLodang
-o-- Selingan Minggu pagi -- Intermeso Pada suatu Minggu pagi seperti seksrsng ini, Doni --yang tinggal di apartemen bersama istri dan anak berusia 9 tahun-- ingin sekali menghabiskan waktu berdua saja dengan istrinya. Boleh dong, sekali-sekali. Mumpung hari libur, pagi-pagi tidak harus jalan-jalan bersama anak, seperti biasanya. Nanti siang pun masih bisa, pikir sang Ayah. Tapi, bagaimana dengan si anak yang masih belia itu? Setelah memutar otak sebentar, terpikirlah bahwa satu-satunya cara adalah dengan menyuruhnya keluar ke balkon dan melaporkan semua aktivitas di lingkungan sekitar. Anak laki-laki itu mulai berkomentar saat orang tuanya bersiap-siap menjalankan aktivitas mereka. "Ada mobil yang diderek dari tempat parkir," katanya. "Ambulans baru saja lewat." Beberapa saat berlalu. "Sepertinya keluarga pak Rono kedatangan tamu," serunya. "Temanku Maman sedang mengendarai sepeda baru, ....lalu. ... lalu... apa itu, ya? ...nampaknya pak Marno sedang bermesraan di kamar...." Ibu dan Ayah langsung terbangun di tempat tidur, dan beranjak keluar. "Bagaimana kau tahu itu?" tanya sang ayah yang terkejut. "Anak mereka juga sedang berdiri di balkon," jawab putranya. -0--
Sugi
walaupun belum pernah ke luar negeri, membaca tulisan abah terasa seperti ikut kesana, merasakan suka dukanya, merasakan nilai spiritualnya, merasakan kebesaran-Nya. Semoga perjalanan abah, meski katanya hanya mengisi waktu luang yang kosong, selalu diberi aman, lancar, dan selamat. aamiin.
balagak nia
Saya pun siap terguncang guncang di jalan selama lima jam, kata abah DI. Hal yg sama kami sekeluarga alami lebaran kemarin jalan2 ke Lampung. Di kota Bandar Lampung banyak jalan berlubang dan kalau malam tidak ada lampu jalan. Dari Krui melalui Taman Nasional Bukit Barisan sampai Kota Agung jalannya Ok, Perjalanan dari Kota Agung menuju Bakauheni oleh gmap dilewatkan jalan berlubang dan gelap selama 3jam sebelum masuk pintu tol di Branti. Dulu pernah diviralkan oleh mahasiswa asal Lampung yg kuliah di Ostrali, kirain Lampung berbenah ternyata tidak, jangankan luar kota dalam kota ibukota propinsi pun jalan berlobang. Semoga pejabat Lampung membaca Disway, dan membenahi jalan2 di sana.
MULIYANTO KRISTA
Kalimat penutupnya maknanya dalem banget. Sedalem cintaku padanyi.
Er Gham 2
Semua kesombongan dan kepongahan, rasa bangga, akan terus bersemayam dalam kepala. Ego sedang diberi makan. Pujian dan kekaguman dari orang lain, validasi diri, terus memberi makan ego. Egonya perlu dipecahkan. Lima kali sehari. Pusat ego di kepala harus ditundukkan. Serendah rendahnya. Diratakan dengan ketinggian kaki. Orang sombong di dunia ini akan menolak untuk meletakan kepalanya setinggi kaki. Mungkin ada kesombongan juga saat aaya menulis ini. Biar dianggap hebat. Cerdas. Ada pengakuan dari orang lain. Ego sedang diberi makan saat menulis ini. Biarlah, nanti dihancurkan saat sujud di waktu zuhur.
Nimas Mumtazah
Kalimat penutup, memberi pelajaran pada diri. Ego itu sunyi, berisiknya luar biasa.
Sadewa 19
Saya pernah sholat di sebuah Mushala yg kotor dan berdebu. Persis seperti pengalaman Pak Dahlan. Tidak ada karpet, muka langsung menempel di ubin yg penuh debu. Saat itu waktu magrib, sambil menunggu Imam datang, Muazin memimpin sholawatan. Sekitar 5 menit kami ikut sholawatan. Imam pun akhirnya datang. Muazin kemudian iqamah tanda shalat akan segera dimulai. "Lurus, rapatkan shaf", kata sang Imam lirih. Tepat pada saat imam takbir "Allahu Akbar", seekor tikus dari barisan makmum berlari ke arah Imam. Tikus itu masuk ke dalam sarung sang Imam. Imampun menjerit kesakitan. Jamaahpun panik. Tebakan saya, sang Imam tadi hanya pakai celana dalam, karena nggak berani melepas sarung. Tikus berhasil ditangkap, setelah tangan Imam memegang tikus yg ada di dalam sarung itu. Persis di pangkal pahanya. Setelah itu kita pun lanjut sholat berjamaah. Jamaah sholat magrib itu masih tertawa geli dan sulit melupakan peristiwa itu. Kalau kita mau sholat saja diminta berwudhu, bersuci, berarti tempat sholat juga seharusnya bersih dan suci.
Jo Neka
Jangankan wajah ganteng pak DI..Hati yang mahal sekali..Itupun dari debu tanah.Harusnya JIJIK itu di taruh pada tempat yang benar.Jijik pada perilaku sombong.Jijik pada perbuatan culas dan curang.Jijik pada perilaku korup.Aihh maaf saya telanjur menasihati seorang penganut tarekat..Oh tidak.ini untuk diri saya sendiri.
Leong Putu
Dari tanah akan kembali ke tanah dalam kesunyian. Apa yang patut kita pertahankan?
kambing hitam
Cari muka sama tuhan mau jadi apa?mending disini bisa dapat komisaris.
doni wj
Dan.... Justru debu itulah salah satu dari unsur yg boleh digunakan untuk bersuci. Terutama yg menempel di dinding. Namun. Begitu lebarnya jurang yg telah kita tumbuhkan. Sadar atau tidak sadar. Rasional maupun irasional. Dengan debu itu. Sehingga hal yg suci bisa berubah menjadi menjijikan. Apakah itu konstruksi berpikir yg didorong oleh nilai atau kepentingan tertentu? Ataukah memang berkembang dengan alami? Menyatukan dua hal yg baik belum tentu hasilnya akan baik. Debu itu suci Air itu suci Namun debu bercampur air? ............?
Sumartan
.. Untuk menghilangkan kebosanan saya menjawil penumpang di kursi depan. saya tahu ia orang indonesia." .. kasian Abah tak dikenal, terlalu. sehat selalu Abah DI.
Beny Arifin
Ada sajadah yang kalau dilipat bisa sekecil gantungan kunci pak. Beli online ga sampai 100rb. Berguna kalau kita sedang safar dan tidak ketemu tempat yang proper buat sholat.
Beny Arifin
Toyota Noah tidak mirip Inova dong pak. Dia boxy lebih mirip sama Toyota Voxy. Atau Nissan Serena, atau Honda Step Wagon.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 75
Silahkan login untuk berkomentar